
"Apa?!"
Kedua mata bulat Echa membulat benar-benar bulat sempurna.
"Kenapa mendadak sekali, Pak Samuel?" tanya Echa masih tak percaya dengan pendengarannya.
"Ya, aku baru saja mendapatkan informasi itu pagi ini," sahut Samuel apa adanya.
"Apakah saya telah berbuat sesuatu yang salah?" tanya Echa dengan ekspresi bingung.
"Entahlah, mereka tidak mengatakan apa-apa." Samuel menjawab singkat.
Tangan kokoh laki-laki tigapuluh tahun itu terulur, menepuk pundak gadis remaja di hadapannya dengan hangat.
"Sebaiknya kau segera ke sana saja, agar kau segera tahu juga," saran Samuel bijak.
"Selama satu bulan magang di kantor ini, sepertinya aku sudah berusaha memberikan yang terbaik," gumam Echa pada dirinya sendiri. Ia masih tak habis pikir. "Aku tak pernah sekali pun merugikan perusahaan ini," gumam Echa lagi.
"Hei, jangan berlebihan," ucap Samuel disertai dengan senyuman lembut. "Pak Disan tidak seseram yang kalian kira. Tak seperti gosip yang beredar di seantero kantor ini," lanjut Samuel menenangkan.
Ya, suasana mencekam pada salah satu ruangan khusus di sudut kanan lorong itu memang sudah menjadi rahasia umum bagi seluruh karyawan. Oleh sebab itu, mereka lebih memilih untuk menghindari kemungkinan bertemu, apa lagi bermasalah dengan penghuni ruangan tersebut.
Memangnya siapa yang mau berurusan dengan atasan yang dingin, galak dan perfeksionis seperti itu? Tak terkecuali Echa. Selama ini ia berusaha melaksanakan desk job-nya sebaik mungkin, salah satunya adalah untuk menghindari ruangan pesakitan itu.
Namun pagi ini, tiba-tiba saja Samuel memberitahukan bahwa ia mendapat panggilan dan harus segera menghadap kepada sang tangan kanan bos besar di ruangan keramat itu.
"Kau takut?" tanya Samuel membuyarkan lamunan singkat Echa.
"Tidak, Pak. Hanya saja ... saya bingung," jawab Echa. "Saya sedang menerka-nerka kira-kira kesalahan apa yang sudah saya perbuat.
"Semakin cepat kau menghadap, maka akan semakin cepat pula kau tahu," sahut Samuel dengan senyum hangatnya.
"Ya, Bapak benar," gumam Echa.
"Ayo, cepatlah kau ke sana!" perintah Samuel akhirnya.
"Baiklah, Pak," sahut Echa seketika itu juga.
Tangan Echa bergerak cepat untuk merapikan baju dan rambut dengan ala kadarnya. Ketika dirasa sudah rapi dan pantas menghadap salah satu petinggi perusahaan itu, ia segera beranjak dari tempatnya berdiri dan berjalan menuju ruangan di sudut kanan ujung lorong.
"Maaf, saya Echa. Apakah Pak Disan ada di ruangannya? Saya mendapat perintah untuk segera menghadap beliau," ucap Echa pada sekretaris cantik yang tengah terpekur dengan pekerjaannya tak jauh dari pintu masuk ruangan Disan.
"Rebecca, ya?"
Sang sekretaris balik bertanya.
"Ya," jawab Echa singkat.
"Kebetulan, Pak Disan sudah menunggu anda sedari tadi," ucap sang sekretaris sembari berdiri dari duduknya. "Mari saya antar ke dalam ruangannya," lanjutnya sambil beranjak menuju pintu yang dimaksud. Sementara Echa hanya mengikuti dari belakang.
"Tok ... tok ... tok ...!" Pintu diketuk perlahan.
"Masuk," terdengar jawaban dari balik pintu.
Sang sekretaris segera membuka pintu, kemudian melangkah masuk, dengan Echa berjalan pelan di sisinya.
"Permisi, Pak. Ibu Rebecca sudah datang."
"Ya. Terimakasih," sahut pemilik ruangan itu singkat.
"Sama-sama, Pak. Saya permisi."
"Hemm."
Reka, sang sekretaris segera berbalik dan berlalu pergi.
Dingin. Itulah kesan pertama yang muncul dalam benak Echa. Gadis remaja itu mencoba menerka bahwa sepertinya laki-laki di hadapannya itu memang tipe yang lebih senang bertindak tanpa banyak bicara. Tapi bukankah laki-laki yang nerpenampilanseperti ini justru malah berbahaya?
Tampan. Itulah kesan kedua yang merayap ke dalam pikiran Echa. Eh?
"Selamat pagi, Pak," sapa Echa setelah Reka pergi dan pintu kembali tertutup rapat, menyisakan ketegangan di dalam ruangan beraroma maskulin itu.
"Ya, pagi," sahut Disan sembari membetulkan letak kaca matanya.
"Pak Samuel mengatakan bahwa anda meminta saya untuk menghadap pagi ini," ucap Echa canggung.
"Benar," sahut Disan seramah mungkin. Walaupun yang terdengar tetaplah suara dingin dan hembusan nafas datarnya yang menyapa indera pendengaran gadis di hadapannya itu.
"Jadi ... apakah saya telah melakukan kesalahan selama magang di perusahaan ini, Pak?" tanya Echa hati-hati.
"Ya, ada sesuatau hal pada dirimu yang.telah memancing kemarahan pemilik perusahaan ini," sahut Disan dalam hati.
__ADS_1
"Begini, Ibu Rebecca." Akhirnya Disan akan meluncurkan kalimat yang mungkin bisa dibilang panjang. "Selama satu bulan ini kami telah memperhatikan, menilai serta mempertimbangkan cara dan hasil kerja anda selama bergabung dengan perusahaan ini. Pada intinya, kami merasa puas dengan kinerja anda selama satu bulan ini. Untuk itu kami bermaksud untuk memindahkan ruang kerja anda."
"Maksudnya ... saya diberhentikan dari program magang ini, Pak?" potong Echa cemas.
Dimas menatap kesal pada gadis di hadapannya yang ternayata banyak bicara itu. Terlebih lagi, dia telah berani memotong ucapan atasannya.
"Anda tahu siapa pemilik perusahaan ini?" tanya Disan akhirnya.
"Bapak Aldo Helmi Atmaja," sahut Echa cepat.
Sebelah mata di balik kaca mata minus Disan terpicing sesaat mendengar jawaban yang keluar dari mulut gadis di hadapannya itu.
"Mulai hari ini anda akan membantu merekap dan mengurus seluruh jadwal dan kepentingan pemilik perusahaan selama di kantor ini sebagai sekretaris pribadi," ucap Disan tegas.
"Apa?" tanya Echa tak percaya. "Tapi saya hanya karyawan magang, Pak," lanjut Echa tak habis pikir. "Bagaimana bisa saya mendapatkan kepercayaan untuk posisi sepenting itu di perusahaan ini?"
"Selamat, ya," jawab Disan tidak nyambung. Sama sekali tidak relevan dengan pertanyaan yang baru saja Echa lontarkan. "Anda bisa langsung mengemas dan memindahkan barang-barang anda setelah keluar dari ruangan saya."
"Tapi, Pak ...."
"Pergunakan kesempatan ini sebaik mungkin, Ibu Rebecca," potong Disan cepat. Boleh lah kalau dia yang memotong ucapan orang lain.
Echa terdiam, masih menatap tak percaya pada ucapan laki-laki berwibawa di hadapannya itu.
"Saya sangat berharap anda bisa tetap bekerja di perusahaan ini setelah selesai magang nanti," lanjutnya sembari mengulurkan tangan untuk bersalaman.
Akhirnya dengan terpaksa Echa menyambut tangan kokoh yang terulur itu, dan menerima keputusan sepihak yang disampaikan oleh laki-laki berkaca mata di hadapannya itu dengan senang hati. Meskipun masih ada banyak hal yang mengganjal di dalam pikirannya.
"Baik, Pak." Hanya kata-kata itu lah yang mampu terucap dari bibir mungil Echa.
"Segera kemasi barang-barang anda," perintah Disan. "Saya sendiri yang akan mengantar ke ruangan kerja anda yang baru."
"Baik, Pak. Saya permisi."
Echa pamit undur diri dan segera kembali ke ruangannya untuk mengemasi barang-barang yang akan dibawanya.
"Bagaimana, Cha?"
Tiba-tiba saja Samuel sudah berdiri di belakang Echa.
"Saya ditempatkan di bagian lain, Pak Samuel," jawab Echa sembari menghentikan aktifitasnya, kemudian mendongak ke arah Samuel demi kesopanan.
"Sekretaris pribadi, Pak," jawab Echa singkat dengan kedua tangan kembali bergerak untuk melanjutkan aktifitasnya yang sempat tertunda.
"Sekretaris pribadi?" ulang Samuel. "Bukankah sudah ada Reka?" lanjutnya sembari mengernyitkan kening, bingung.
"Reka?" ulang Echa tanpa menoleh, dengan kedua tangan tetap sibuk mengemas barang-barangnya ke dalam box. "Apakah yang Bapak maksud adalah wanita dengan rambut bercat merah itu?"
"Benar," sahut Samuel.
"Posisi sekretaris yang dimandatkan kepada saya bukanlah untuk Pak Disan, melainkan untuk Pak Aldo," ralat Echa.
"Pak Aldo?" ulang Samuel. "Yang benar?" tanya Samuel lagi dengan mata terpicing tak percaya.
"Iya, Pak," sahut Echa singkat.
Sejenak Samuel terdiam. Beberapa saat kemudian ia tampak mengusap wajah perlahan, kemudian beringsut ke depan Echa.
"Di sini atau pun di sana, sama saja," ucap Samuel akhirnya. "Kau boleh menelponku kapan saja, jika ada kesulitan. Aku akan dengan senang hati membantumu."
"Tentu, Pak," sahut Echa dengan binar bahagia.
"Ya sudah, aku pergi dulu. Ada beberapa hal yang harus kuselesaikan," pamit Samuel sembari menepuk pundak Echa dengan hangat.
"Baik, Pak. Terimakasih."
Lima menit kemudian, Echa terlihat telah selesai dengan boxnya saat Dion datang menghampiri.
"Hei, kenapa kau mengemas barang-barangmu?" tanya Dion bingung. Ada sedikit rasa cemas terpancar dari kedua mata coklatnya.
"Aku dipindah tempat, Yon," jawab Echa. "Menjadi sekretaris pribadi Pak Aldo," lanjutnya sebelum Dion melempar pertanyaannya.
"Apa? Jadi kau tidak satu ruangan lagi denganku?"
"Ya, begitu lah," sahut Echa. "Bahkan beda lantai."
"Padahal aku sudah terlanjur suka denganmu," gumam Dion lirih.
"Eh?"
Mendengar gumaman Dion, spontan Echa memicingkan mata bulatnya, yang justru malah terlihat lucu dan menggemaskan. Setidaknya begitulah kira-kira yang Dion pikirkan.
__ADS_1
"Maksudku ... aku merasa nyaman magang bersamamu," ralat Dion dengan suara canggung.
"Ya, aku tahu." Echa melempar senyum penuh arti. "Tenanglah ... bukankah kita masih satu gedung? Berarti kita masih bisa bertemu."
Dion diam tak menyahut. Ada rasa kecewa dan kehilangan terpancar dari kedua sorot matanya.
"Bisakah anda lebih cepat sedikit?"
Tiba-tiba suara dingin dengan wajah datar itu hadir di antara mereka, membuat suasana menjadi canggung seketika.
"Saya sudah selesai, Pak," sahut Echa berusaha mencairkan suasana, sadar bahwa kecanggungan itu disebabkan oleh dirinya.
Tanpa banyak kata Disan meraih box di tangan Echa kemudian berbalik dan segera beranjak meninggalkan tempat itu menuju lift diikuti oleh Echa yang melangkah sembari melambaikan tangannya sekilas pada Dion.
"Maaf, Pak. Boxnya biar saya saja yang membawa," ucap Echa canggung.
Disan diam tak menyahut, hanya kaki panjangnya yang terus saja melangkah dengan pandangan lurus ke depan, sementara box yang dimaksud Echa terapit diantara dada dan lengan kirinya.
"Baiklah, maaf telah merepotkan anda, Pak." Echa kembali bermonolog saat mengikuti Disan melangkah masuk ke dalam bilik lift khusus para petinggi perusahaan. Tanpa berlama-lama, pintu lift pun segera tertutup dan bergerak stabil menuju lantai yang mereka tuju.
Sesaat kemudian lift berhenti di lantai teratas gedung. Disan segera melangkahkan kakinya keluar dan langsung menuju satu-satunya ruangan di lantai itu.
"Selamat pagi, Pak," sapa Novera.
"Hmm," sahut Disan seperti biasa. Namun kali ini laki-laki berkaca mata itu sengaja menghentikan langkahnya di depan meja Novera.
"Ini adalah Novera," ucap Disan pada Echa. "Sekretaris pribadi," lanjutnya sembari meletakkan box milik Echa pada meja kosong di sebelah Novera.
"Hai, salam kenal," sapa Novera ramah. "Kau pasti Rebecca, bukan? Aku Novera. Senang berkenalan denganmu," lanjutnya sembari mengulurkan tangan kanan.
Echa turut mengulurkan tangan kanannya, menyambut jabatan hangat dari tangan lembut Novera.
"Memangnya boleh hanya memanggil nama saja?" tanya Echa sembari memandang Disan dan Novera bergantian. "Sebenarnya saya lebih senang dipanggil Echa saja," lanjutnya.
Disan memandang intens pada gadis bersetelan putih hitam itu.
"Terserah kau saja," sahut Disan sambil lalu, sementara Novera hanya tersenyum dengan kepolosan gadis di hadapannya itu.
"Yang di sebelah ini adalah mejamu. Bersisian denganku," ucap Novera.
Echa segera berjalan menuju meja barunya.
"Jika sudah ada dirimu, lalu kenapa memintaku untuk menjadi sekretaris pribadi juga?" gumam Echa pelan, nyaris tak terdengar
"Apakah dia ada di tempat?" tanya Disan pada Novera tanpa memperdulikan gumaman Echa barusan.
"Iya. Beliau memang sedang menunggu kedatangan anda dan Ibu Rebecca ... maksud saya Echa."
"Bagus," ucap Disan sembari membetulkan letak kaca matanya dengan telunjuk kanan. "Ayo, aku akan menemanimu masuk ke dalam."
"Baik, Pak."
Keduanya pun berjalan beriringan menuju pintu ruangan yang dimaksud.
"Tok ... tok ... tok ...!"
Disan mengetuk pintu dengan tangan kirinya.
"Masuk."
Terdengar suara seorang laki-laki dari dalam. Disan pun segera membuka pintu dan melangkah masuk diikuti oleh langkah calon sekretaris baru untuk bosnya itu.
Pandangan Echa tertuju pada meja kerja di tengah ruangan. Beberapa map tersusun rapi di sana. Di atas meja juga terdapat laptop yang sedang menyala, pertanda bahwa benda tersebut tengah digunakan oleh pemiliknya. Namun kursi di balik meja itu kosong. Dimana pemilik ruangan ini?
Echa memaksakan kedua mata bulatnya untuk merayap, mencari keberadaan sang bos yang akan menjadi atasannya mulai hari ini. Akhirnya kedua netra bening itu menemukan apa yang tengah dicarinya. Sosok bertubuh tinggi dan tegap itu tengah berdiri di depan jendela, menatap ke luar dengan sebatang rokok terjepit di antara jari tengah dan telunjuk kiri.
"Sepertinya aku sangat familiar dengan gestur itu," gumam Echa dalam hati. "Ah, perasaanku saja mungkin."
"Aku telah membawanya ke sini," ucap Disan memecah keheningan, dengan pandangan tak lepas dari bosnya.
Echa berusaha mempersembahkan penampilan dan wajah secerah mungkin, agar sang bos merasa nyaman atas kehadirannya. Selain dari pada itu, agar Disan juga tidak berubah pikiran dengan penilaian terhadap dirinya yang sempat terucap beberapa saat yang lalu.
"Bagus," sahut Endo sembari membuang sisa rokoknya ke luar jendela, kemudian segera berbalik, menatap gadis yang tengah berdiri di sisi Disan.
Sejenak, tatapan Endo terpaku pada sosok di samping Disan. Tak sekalipun mata birunya berkedip karena tak ingin melewatkan pemandangan indah di hadapannya. Di mata Endo, gadis itu tampak begitu cantik dengan rambut pirangnya yang digulung menyatu dan dicepol rapi pada bagian belakang. Poni tipis yang menghias kening, membuat gadis itu tampak cantik dan menggemaskan secara bersamaan. Jangan lupakan, setelan putih hitam yang melekat rapi di tubuhnya. Ya, memang seperti itu lah aturan di perusahaan ini. Mahasiswa magang dan karyawan yang masih menjalani masa training harus mengenakan setelan kerja kemeja putih dan bawahan hitam.
Sementara tak berbeda jauh dengan dirinya, gadis itu pun tengah menatap lekat ke arah Endo tanpa berkedip, dengan kedua mata dan mulut membulat sempurna. Terlihat lucu sekali. Eh? Apakah barusan Endo mengatakan bahwa gadis itu terlihat lucu? Ralat, terlihat norak sekali. Begitulah seru Endo dalam hati.
"Kau," gumam Echa dengan suara tercekat. "Bagaimana mungkin?"
BERSAMBUNG ...
__ADS_1