
Kening Echa tampak terkernyit meskipun matanya masih terpejam rapat. Sekejab kemudian matanya terpicing, mengerjab beberapa kali sebelum benar-benar terbuka. Ya, sinar matahari yang menerobos masuk melewati celah gorden, telah mengganggu tidurnya dan berhasil memaksanya untuk terbangun pagi ini.
"Dimana ini?" gumam Echa pelan.
Aroma maskulin terasa menyeruak ,mengisi indera penciuman. Aroma yang sangat dikenalinya. Perlahan Echa bangun dari posisi tidur, kemudian menyibak bed cover hitam yang menyelimuti tubuhnya.
Disapukan pandangan matanya ke seluruh ruangan. Asing, benar-benar asing. Baru pertama kali ini Echa berada di dalam kamar ini. Ternyata bukan hanya aroma saja, tetapi nuansa di dalam kamar ini pun terlihat sangat maskulin.
Echa terdiam beberapa saat. Mencoba mengingat-ngingat apa yang terjadi dengannya semalam, hingga bisa terbangun di kamar ini.
"Jangan-jangan ... ini kamar Kak Endo," gumamnya lagi.
Kamar sederhana yang didominasi dengan warna hitam dan putih. Kamar ini cukup luas, meskipun bentuknya memanjang. Tapi jika dibandingkan dengan kamar di apartemennya tentu saja sangat berbeda jauh. Jika di apartemennya, ruangan seluas ini sudah mencakup kamar tidur, kamar mandi, dapur dan ruang tamu yang merangkap ruang belajar. Sedangkan ini ... ruangan seluas ini hanya untuk satu kamar tidur saja.
Perlahan Echa beringsut dari duduknya. Ia memutuskan untuk berdiri meninggalkan kasur empuk yang terbungkus sprei hitam dengan bantal-bantal yang sengaja ditata sebagai headboard.
Langkah kaki Echa terayun pelan ke sebelah kiri tempat tidur, menyibak sebagian dari tirai panjang yang berwarna putih. Di depan matanya kini tampak kaca besar yang memanjang hingga ujung kamar yang tertutup nakas pada bagian bawahnya. Kaca itu memisahkannya dengan udara alam bebas. Dari sana lah sinar mentari pagi menerobos masuk dan membangunkannya dari tidur pulas semalaman. Di luar kaca tampak ujung pohon menyembul bagai guratan di tengah awan. Melihat hal itu, Echa menduga mungkin kamar ini berada di lantai 3 atau 4. Entahlah.
"Aroma ini," gumam Echa pelan. "Ini benar-benar kamar Kak Endo."
Echa kembali berjalan pelan melewati satu sofa besar dan dua sofa kecil yang tertata menghadap meja dan televisi LED yang terpasang di dinding. Setelah sofa, Echa bisa melihat lemari baju besar tiga pintu yang berdiri kokoh tepat di depan pintu balkon.
Echa memutuskan untuk membuka pintu balkon. Seketika sinar mentari pagi mengguyur kulit mulusnya dengan hangat. Tanpa sadar sebuah lengkung tercipta di bibir Echa. Entah mengapa ia merasa hatinya begitu berbunga di pagi yang cerah ini.
Setelah puas bermandi sinar matahari, Echa berbalik, kemudian melangkah meninggalkan balkon dalam keadaan pintu tetap terbuka. Langkah kakinya terhenti di depan lemari baju. Dibukanya pintu lemari, kemudian diambilnya sepotong baju untuk dibawa menuju kamar mandi. Echa memilih untuk mandi air dingin saja agar terasa lebih segar.
Tak butuh waktu lama, ia telah keluar dari kamar mandi dengan wajah dan tubuh segar berbalut baju yang diambilnya tanpa seijin saang pemilik. Tentu saja baju itu tampak sangat longgar dan terlalu panjang di badannya. Bahkan saking besarnya baju bermotif garis horizontal itu mampu menyembunyikan ukuran tubuh menutupi paha mulusnya.
Echa memutuskan untuk keluar dari kamar, karena perutnya mulai berontak minta diisi. Bukankah memang dari kemarin sore ia belum makan? Bahkan di acara pesta semalam pun ia juga belum sempat mencicipi hidangan yang disajikan.
"Kau sudah bangun, sayang?" sapa Endo saat melihat Echa menuruni anak tangga.
Echa tak menyahut, hanya memandangi laki-laki bersetelan kasual itu dalam diam.
"Oh, shit! Tak adakah baju selain itu yang bisa kau pilih dari dalam lemari bajuku?" tanya Endo dengan intonasi mendadak kesal. Kakinya panjangnya melangkah dengan kasar menuju anak tangga.
Echa memandang tak mengerti pada laki-laki yang kini berdiri di hadapannya itu.
"Naik dan ganti bajumu sekarang!" perintah Endo.
"Apa? Naik lagi untuk mengganti baju di saat perutku sudah benar-benar kelaparan seperti ini? Yang benar saja. Demi seluruh kecoa yang ada di dalam rumaha ini, jika ada. Kau benar-benar tak masuk akal, Endo Devon Atmaja!" Echa bermonolog dalam hati.
"Cepat," ulang Endo karena Echa hanya bergeming di hadapannya.
"Tapi aku lapar sekali, Kak Endo ...," rengek Echa yang telah berdiri pada anak tangga terakhir.
"Shit!" umpat Endo lagi saat mendapati wajah polos dan suara manja gadis di hadapannya. Apa lagi gadis itu memanggilnya dengan sebutan 'Kak Endo'. "Meleleh hati Abang, Dek .... Eh?"
"Ringgo, selesaikan pekerjaanmu di belakang!" teriak Endo pada Ringgo yang entah sedang berada dimana. "Jangan biarkan siapa pun masuk!"
Endo kembali memandang Echa dengan wajah menahan kesal yang kentara.
Eh, sudah lima tahun berlalu ternyata Echa masih ingat juga bagaimana cara meluluhkan laki-laki di hadapannya itu, dan terbukti masih tetap ampuh.
"Ayo," ucap Endo sembari menggamit tangan Echa dan membawanya menuju meja makan.
"Kenapa dia semarah itu?" gumam Echa dalam hati setelah duduk saling berhadapan dengan Endo di meja makan.
"Apa ini baju favorit Kak Endo?" tanya Echa akhirnya.
Endo mendongak mendengar pertanyaan yang dilontarkan padanya.
"Bukan," sahut Endo dengan wajah masih tampak kesal.
"Aku hanya meminjamnya saja, Kak. Besok akan kukembalikan setelah di-laundry." Echa kembali bersuara.
"Ambil saja jika kau suka," sahut Endo. "Tapi pakailah celana panjang sebagai bawahannya."
Percakapan mereka terhenti saat seorang wanita cantik berpakaian rapi serba hitam datang untuk menyajikan menu sarapan mereka. Echa memandang lekat ke arah wanita itu seolah mengenalinya, tapi tak yakin betul.
"Iya, dia Anna," ucap Endo seolah mengerti kebingungan Echa.
"Ah, iya. Anna," sahut Echa dengan senyum di bibir. "Bagaimana kabarmu, Anna? Aku tak pernah lupa bagaimana lezatnya kebab buatanmu," lanjut Echa antusias.
"Saya baik-baik saja, Nona. Jika mau, nanti akan saya buatkan kebab spesial untuk Anda."
"Boleh," sahut Echa dengan binar di matanya.
"Baik, Nona. Nanti akan saya buatkan."
"Ayolah, Anna, kau jangan bersikap dan berbicara seformal itu padaku. Aku bukan bosmu. Aku merasa tak nyaman dengan sikapmu yang seperti ini."
__ADS_1
"Tapi Anda memang bos saya, Nona," sahut Anna tetap sopan dan hormat.
Echa melirik ke arah Endo. Dia tahu pasti laki-laki itu lah yang bertanggung jawab atas semua ini.
"Sejak kapan seseorang bisa dianggap sebagai bos jika dia tak pernah mengeluarkan uang untuk menggaji?" tanya Echa mulai kesal.
"Sejak lima tahun yang lalu, Nona," jawab Anna yang justru membuat Echa semakin kesal. Sementara Endo hanya tersenyum geli di tempatnya. "Sejak saya menerima pekerjaan ini," lanjut Anna lagi.
Ya, lima tahun yang lalu Endo terpaksa harus mempekerjakan gadis berambut pendek itu karena terlanjur mengaku pada Echa bahwa ia memiliki asisten bernama Anna. Beruntungnya Endo, Anna memenuhi kriteria yang dibutuhkannya selama ini.
"Maaf, jika tidak ada lagi, saya permisi ke belakang," pamit Anna. "Selamat menikmati sarapannya."
Echa kembali melirik ke arah Endo. Tampak laki-laki itu tengah tersenyum dengan satu alis terangkat ke atas, seperti sedang mengejek. Ya, laki-laki itu memang sengaja berbuat ulah agar Echa merasa kesal dan melupakan apa yang pernah terjadi semalam. Karena sebenarnya Endo tak akan bisa melihat gadis itu bersedih, tertekan, apa lagi sampai menangis seperti tadi malam.
"Cepat, segera habiskan sarapanmu, kau sudah terlambat ke kantor," hardik Endo.
"Ke kantor?" ulang Echa.
"Ya," jawab Endo singkat.
"Untuk apa?" tanya Echa acuh.
"Hei, beraninya kau bicara seperti itu pada bosmu," hardik Endo.
"Jika saat ini aku sedang makan di apartemen bosku, untuk apa aku masih memikirkan berangkat ke kantor?" tanya Echa santai.
"Woah, kau mulai pintar!" puji Endo, namun dengan seringai mengejek.
Echa tak menyahut, hanya menjulurkan lidahnya yang justru membuat Endo merasa gemas.
"Tapi aku serius dengan kata segera habiskan sarapanmu," ucap Endo kemudian. Ia tahu bahwa Echa belum sempat makan dari semalam.
Echa tak menjawab, namun tangannya segera terulur mulai menyuap dan menikmati sarapan buatan Anna.
"Bagaimana tidurmu semalam?"
"Sempurna," sahut Echa singkat.
"Sempurna?"
"Aku tidur pulas sekali semalam."
"Baguslah."
"Ya."
"Tak pernah ada rencana di dalam pikiranku untuk menginap, apa lagi di dalam kamar Kak Endo."
"Hah, dulu kau bahkan pernah mendesah di kamarku," sahut Endo tanpa tedeng aling-aling.
"Itu hanya sebuah kecelakaan di luar rencana," hardik Echa. "Jangan dibahas lagi!" lanjutnya, kemudian buru-buru menunduk menyembunyikan rasa malunya.
Endo menyeringai, menyadari apa yang terjadi pada gadis si hadapannya itu.
"Kenapa Kakak tidak mengantarku pulang saja semalam?"
"Aku tidak tahu di mana rumahmu," jawab Endo santai.
Bohong! Semua informasi mengenai Echa sudah ada di tangan Endo. Apa lagi hanya sekedar tempat tinggalnya, tentu saja ia sudah mengetahuinya di luar kepala.
"Apartemen Kak Endo luas sekali," komentar Echa.
"Dua lantai," sahut Endo songong. "Dan sangat mahal," lanjutnya jumawa.
"Sombong!" hardik Echa dengan bibir mencebik kesal.
Endo diam tak menjawab. Ia hanya tersenyum semakin congkak sambil terus menyelesaikan suapan terakhirnya.
"Kak Endo mau ke kantor?" tanya Echa yang melihat Endo telah menyelesaikan sarapannya.
"Tidak. Aku ingin di rumah saja menemanimu," jawab Endo setelah meneguk segelas air putih hingga tandas.
"Tidak usah sok perhatian," tukas Echa.
"Aku memang perhatian," sahut Endo sembari beranjak pergi meninggalkan Echa yang masih belum selesai makan. "Aku tak ingin kau depresi lalu gantung diri di salah satu kamarku karena peristiwa semalam."
"Tidak usah sok perduli," teriak Echa pada Endo yang sudah menghilang di balik pintu.
"Aku memang perduli," sahut Endo yang juga berteriak.
"Hah, dasar menyebalkan!" rutuk Echa dengan bibir mencebik. "Memangnya aku sebodoh itu?"
__ADS_1
Echa bangkit dari duduknya, kemudian menghabiskan segelas air putih dengan terburu-buru. Selanjutnya, dengan langkah pelan ia menghampiri Endo yang tengah duduk santai menikmati tayangan berita di televisi. Sesaat langkah Echa terhenti. Diperhatikannya laki-laki yang pernah merajai hatinya itu dengan seksama.
Bentuk tubuh proporsional serta wajah tampan dengan garis rahang tegas, bibir tipis, dan hidung mancung, sungguh keiindahan yang sempurna. Seperti hari-hari yang lain, hari ini pun dia tetap saja terlihat tampan meskipun hanya memakai setelan kasual berupa kaos kerah warna oranye dan celana bahan pendek biru muda dengan garis-garis vertikal sebagai motifnya. Ah, dia memang selalu terlihat tampan dalam balutan baju model dan warna apa pun.
"Katakan saja terus terang jika kau tertarik padaku." Tiba-tiba terdengar suara Endo, dengan gaya cueknya tanpa menoleh sedikit pun.
Seketika Echa tersentak, tersadar dari angan-angan tak jelasnya.
"Tak perlu kau menatapku diam-diam seperti itu," lanjut Endo masih tanpa menoleh. Tangannya sibuk mengganti chanel tayangan televisi dengan remot.
Echa melengos, kemudian berjalan pelan menuju tangga, kembali ke dalam 'kamar sementara'-nya. Sebenarnya ia ingin pulang ke apartemennya sendiri. Tapi ia tahu, Endo tidak akan mungkin membiarkannya pergi untuk saat ini.
"Ya sudah lah, nikmati saja fasilitas yang ada," putus Echa sembari menghenyakkan pantat di sofa kamar, menikmati tayangan televisi.
Tak lama berselang, Endo memasuki kamar yang Echa tempati.
"Tak bisa kah Kak Endo mengetuk pintu dulu?" tanya Echa yang merasa kesal karena terkejut.
"Aku tak terbiasa mengetuk pintu kamarku sendiri, sahut Endo sambil membuka pintu lemari.
"Tapi sekarang kamar ini milik Echa," sahut Echa tak mau kalah.
Endo tak lagi menyahut. Ia hanya melirik ke arah Echa, kemudian tersenyum. Entah mengapa ada rasa senang yang menghampiri hatinya saat gadis itu mengklaim bahwa kamar ini adalah miliknya. Terlebih lagi, gadis itu berucap dengan kata-kata dan intonasi manjanya, tanpa aku-kamu lagi. Seperti anak kecil. Hah, benar-benar menggemaskan.
"Kak," panggil Echa pelan, memulai percakapan. Televisi telah dimatikan.
"Hmm," sahut Endo sambil lalu.
"Semalam ... mmm ... Kak Endo yang menolong Echa?" tanya Echa sedikit ragu.
Mendengar pertanyaan Echa, sebelah alis Endo terangkat.
"Tentu saja," sahut Endo songong. "Memangnya siapa lagi?"
"Bagaimana bisa Kak Endo tiba-tiba muncul di sana dan menolong Echa?"
"Apa maksudmu?" tanya Endo tak mengerti.
Endo melangkah mendekat, dengan setelan jas hitam dan kemeja hijau muda di tangan.
"Semalam Echa memang sedang tampil di sana. Lalu bagaimana dengan Kak Endo? Bukankah Kak Endo tidak hadir dalam acara itu? Bagaimana bisa tiba-tiba muncul begitu saja?" tanya Echa bingung. Ya, dia bingung dengan pertanyaannya sendiri.
Endo menyampirkan setelan baju yang telah diambilnya ke punggung sofa, sebelum mengambil posisi duduk tepat di sisi Echa.
"Semalam ... entahlah. Aku merasa seperti mendengar kau memanggil namaku," jawab Endo dengan wajah dibuat seserius mungkin.
Endo menduga Echa tak tahu bahwa semalam Endo pun juga berada di acara yang sama dengan dirinya.
"Ya, sejujurnya waktu itu Echa memang menyebut nama Kak Endo," ucap Echa sedikit ragu. "Entah mengapa hanya nama Kak Endo yang terlintas dalam pikiran Echa."
Sudut bibir Endo terangkat mendengar kata-kata jujur dari mulut gadis di hadapannya.
"Mmm ...." Mimik wajah Endo tampak seperti sedang berpikir. "Mungkin itulah yang dinamakan ikatan batin."
Endo beringsut. Mengambil posisi menghadap ke arah gadis di sisinya itu.
"Ikatan batin?" tanya Echa tak paham.
"Ya. Ikatan antara batinku dengan batinmu. Antara hatiku dengan hatimu," sahut Endo cepat. "Aku curiga, jangan-jangan kita berjodoh."
"Berjodoh?" ulang Echa.
"Iya. Buktinya sedari dulu aku selalu datang saat kau dalam bahaya. Sedangkan kau selalu menyimpan namaku dalam benakmu. Dan memang akan selalu seperti itu, sayang," bisik Endo. "Aku bahkan tahu bahwa bibir ini memang benar-benar kau jaga untukku."
"Apa maksud Kakak?"
"Ciuman kita semalam," jawab Endo. "Kau tegang, ragu, dan malu. Tampak jelas bahwa kau memang tak pernah melakulakukannya," lanjutnya. "Selain dengan diriku."
Echa buru-buru menunduk, menyembunyikan semburat merah di kedua pipinya.
"Hei, kenapa kau menunduk?" bisik Endo sembari menjentikkan dagu Echa hingga wajah gadis itu terdongak. "Kau tampak semakin cantik dengan semburat ini," lanjutnya yang membuat semburat itu semakin kentara.
Echa bergeming pada posisinya, namun hatinya mengakui bahwa apa yang diucapkan Endo adalah benar, hanya laki-laki ini lah yang pernah menyentuh bibirnya.
Endo menatap wajah cantik di hadapannya itu. Menikmati semburat yang muncul di kedua pipi gadis itu akibat dirinya.
"Hah, sial! Kenapa kau begitu menggemaskan?!" rutuk Endo di dalam hati. Mati-matian Endo menahan agar tak kembali ******* bibir ranum itu.
Keduanya terdiam larut dalam pikiran yang berkecamuk di dalam kepala masing-masing.
"Katakan padaku." Suara Endo kembali terdengar parau. "Apakah kau masih mencintaiku?" tanya Endo. "Jika iya, maka aku akan memberikan seluruh cintaku padamu," lanjutnya. "Sama seperti dulu."
__ADS_1
BERSAMBUNG ...