LOCK DOWN

LOCK DOWN
Part 28. Kita Masih Saling Mencintai


__ADS_3

"Sudah, cukup sampai di sini saja." Echa memaksakan diri untuk mendongak saat mesin mobil berhenti menyala, meskipun tak berhasil. Ia masih merasa malu dan canggung pada atasannya itu.


"Aku akan mengantarmu sampai aparatemen," tukas Endo, kemudian segera turun dan berjalan memutar agar bisa membukakan pintu untuk ratu hatinya.


"Tidak perlu, Kak. Echa bisa sendiri," tolak Echa.


"Tapi aku harus memastikan kau tiba di apartemenmu dengan selamat." Endo kembali menutup pintu setelah Echa turun.


"Tempat ini aman dan Echa baik-baik saja." Echa tetap bersikeras.


Endo menatap ke arah Echa dengan mata menyipit. Bingung dengan sikap aneh gadis di hadapannya itu yang tak seperti biasanya.


"Aha, Rinto!" Mata Echa berbinar dengan telunjuk kanan mengarah ke orang yang dimaksud ketika melihat keberadaan Rinto di pintu masuk. "Biar Rinto saja yang mengantar Echa ke atas."


Mendengar namanya disebut, Rinto segera berjalan mendekat.


"Ada apa, Tuan dan ... Echa? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Rinto setelah mengetahui bahwa yang menyebut namanya tadi adalah Echa.


"Rinto yang akan mengantarku ke atas dan memastikan aku masuk ke dalam apartemen dengan aman," ucap Echa pada Endo tanpa menjawab pertanyaan satpam apartemen itu.


"Tidak, dia laki-laki," tolak Endo tegas.


"Ya Tuhan, dia petugas keamanan di sini. Tidak kah Kakak bisa melihat seragam yang dikenakannya?" Echa mulai kesal dengan sikap Endo.


"Ehem ...!" Rinto berdehem karena merasa jengah dengan perdebatan absurd dua orang yang tidak menganggap keberadaannya sama sekali itu.


"Begini saja." Rinto mencoba menengahi. "Bagaimana jika Tuan mengantarkannya sampai di depan pintu apartemen?"


Rinto memandang ke arah Endo, meminta persetujuan. Secepat kilat tangan kiri Rinto terangkat saat Echa hendak menolak usulannya.


"Hanya sampai depan pintu, Cha. Tidak lebih."


Kali ini pandangan Rinto beralih pada Echa yang memasang wajah masam.


"Hei, kemana tas punggung jelekmu itu?" tanya Rinto tiba-tiba saat dilihatnya sebuah handbag hitam berada dalam genggaman erat tangan kanan gadis itu.


"Ehem ...!" Endo berdehem, memandang tak suka pada satpam yang sepertinya memang akrab dengan sekretaris cantiknya itu.


"Oh, maaf," ucap Rinto spontan saat menyadari aura tak bersahabat yang terpancar dari laki-laki yang mengantar gadis yang pernah hadir dalam mimpinya itu. "Silahkan segera selesaikan urusan kalian. Hati-hati, lift-nya sering bergerak naik sendiri setelah kau tekan tombolnya," lanjutnya canggung.


Mau tak mau, akhirnya Echa berjalan masuk menuju lift diikuti Endo yang berjalan penuh wibawa di sampingnya.


Lift bergerak pelan, kemudian berhenti di lantai yang Echa maksud. Beberapa orang melangkah ke luar, begitu juga dengan Echa yang diikuti langkah tegas Endo.


Dengan langkah pelan Echa berjalan menuju unit tempat ia tinggal selama ini.


"Echa sudah sampai. Kak Endo bisa pulang dengan tenang sekarang." Echa baru kembali bersuara begitu sampai di depan pintu apartemennya.


"Kau tidak mengundangku untuk masuk?" tanya Endo dengan senyum penuh harap.


"Ayolah Kak Endo, jangan menyiksaku," keluh Echa mulai frustasi.


Endo memandang tak mengerti pada gadis yang masih bersetelan kerja itu. Namun tak satu kata pun juga yang keluar dari mulutnya. Ia lebih memilih menunggu gadis itu yang berinisiatif untuk menjelaskan.


"Ok, ok. Baiklah," ucap Echa akhirnya, karena tak tahan dengan cara laki-laki itu memandang tepat ke arah kedua matanya. "Echa masih sangat malu karena hal konyol yang Novera ucapkan tadi," ucap Echa akhirnya. Echa tidak mau terjebak dalam kecanggungan dan rasa tidak nyaman lebih panjang lagi jika Kak Endo lebih lama berada di sini," ucap Echa pelan, tak lagi terdengar kesal. "Kecanggungan di dalam mobil selama perjalanan pulang tadi saja sudah cukup menyiksaku."


Endo tersenyum mendengar ucapan gadis cantik di hadapannya itu. Ia baru tahu jika apa yang terjadi sepulang kantor tadi benar-benar mengganggu pikiran gadis itu.


"Jadi selama di mobil tadi dia hanya pura-pura tidur? Dasar bodoh," gumam Endo dalam hati.


Lagi-lagi Endo tersenyum, sebelum kembali berucap.


"Dan kau pun tahu bahwa aku sangat pandai mencairkan suasana."

__ADS_1


"Ayolah, Kak Endo. Pergilah." Echa kembali tampak frustasi. "Terimakasih Kakak sudah mengantar Echa sampai di apartemen dengan selamat," usir Echa dengan kata-kata sehalus mungkin.


"Hah, menyebalkan. Kau mengusirku dengan begitu kasar."


Endo memasang wajah masam, pura-pura kesal. Namun beberapa detik kemudian laki-laki berparas bule itu kembali tersenyum.


"Ya sudah, aku pergi."


Kaki Endo maju selangkah. Dikecupnya kening gadis itu sekilas.


"Jaga dirimu baik-baik."


Dengan langkah cepat Endo pergi meninggalkan Echa yang masih berdiri di depan pintu. Gadis itu pun baru bisa menghela nafas lega setelah memastikan bahwa Endo telah turun menuju lantai bawah dengan lift di ujung lorong.


Sedari apartemen Echa, Endo langsung melesat pulang ke rumah yang telah beberapa hari tak diinjaknya. Setelah dua puluh menit perjalanan, mobil sport biru Endo melaju pelan melewati pintu gerbang menuju pekarangan rumah mewahnya yang bergaya minimalis. Pintu gerbang besi setinggi dua meter itu kembali tertutup rapat seperti sedia kala setelah sebuah mobil sport hitam masuk dan turut mengekor di belakang mobil Endo.


Endo memarkir mobilnya bersebelahan dengan fortuner putih milik Disan. Ya, laki-laki berkaca mata itu memang telah menunggunya sejak dua jam yang lalu.


"Kau baru pulang?" tanya Rudi yang baru saja turun dari mobil bersama Mia.


"Ya," jawab Endo sembari menutup pintu mobil. "Tadi aku harus mengantar Echa terlebih dahulu."


"Kami sedang jalan-jalan menikmati udara sore," ucap Rudi sembari berjalan menggamit tangan kana istrinya. "Mia memaksaku untuk berkunjung kemari."


Endo tersenyum, kemudian melangkah pelan menghampiri perempuan yang tengah berbadan dua itu.


"Ayo, masuklah. Di luar dingin." Endo merangkul bahu Mia dengan penuh kasih sayang, menuntunnya untuk masuk ke dalam rumah.


"Menyebalkan sekali, harus melihat istriku dirangkul laki-laki lain. Aku merasa seperti pecundang di sini," gerutu Rudi.


Mendengar suara Rudi, Mia pun menoleh ke belakang, kemudian tersenyum manis ke arah suaminya. Benar-benar senyuman yang bisa meluluhkan hati Rudi, hingga ia lupa pada apa yang baru saja diucapkan.


Dengan langkah tergesa, ketiganya melangkah masuk ke dalam rumah dan mendapati Disan tengah duduk tenang pada sofa di bawah tangga.


"Di mana dia?" tanya Endo saat kedua netranya tak dapat menangkap keberadaan Rosella. Biasanya wanita itu akan langsung ke luar begitu mendengar suara mesin mobil Endo.


Endo meletakkan tas kerjanya pada sofa di hadapan Disan, kemudian turut menghenyakkan pantatnya di sana. Sementara Mia lebih memilih duduk bersebelahan dengan suaminya.


"Sepertinya dia tak mengira jika hari ini kau pulang ke mari." Telunjuk kiri Disan terulur, membetulkan letak kaca matanya.


"Kemana?" tanya Endo singkat.


"Dari sini dia langsung ke apartemen Bayu. Sampai sekarang belum beralih," lapor Disan.


"Apa tidak sebaiknya kau usir saja dia?" Rudi turut berpendapat.


"Aku masih penasaran, untuk siapa sebenarnya dia bekerja," sahut Endo dengan wajah serius.


"Tapi sekarang kau sedang menjalin hubungan dengan sekretarismu itu," sanggah Rudi. "Bukan tidak mungkin, dia akan mengacaukan kisah asmaramu."


"Kisah asmara ...," gumam Endo pelan.


Endo berdiri menuju lemari pendingin kecil tak jauh dari tempat di mana Disan tengah duduk dengan santai. Dikeluarkannya satu kaleng soft drink untuk dirinya sendiri dan satu kotak jus jeruk yang langsung diulurkan kepada Mia.


"Aku telah menyatakan perasaanku padanya," ucap Endo setelah meyesap soft drink-nya pelan-pelan.


"Berarti malam ini kita berpesta?" tanya Rudi antusias.


Seketika wajah Endo berubah pias mendengar pertanyaan Rudi.


___


Pukul sembilan malam, Endo baru saja selesai mandi setelah ketiga tamu pentingnya undur diri. Mereka memang buru-buru pergi karena menurut Disan biasanya tak lama lagi Rosella akan segera pulang.

__ADS_1


Endo berjalan pelan mengambil ponsel di atas nakas, kemudian menuju tempat tidur yang hingga kini masih berada tepat di depan pesawat televisi. Dihenyakkan pantatnya di bibir kasur dengan tangan berkutat pada gawai yang dibawanya.


Setelah selesai dengan beberapa surat yang masuk ke dalam email-nya, Endo kembali bangkit, berjalan menuju dinding kaca yang memisahkannya langsung dengan udara bebas. Tanpa mau berepot-repot menyibak tirai, diarahkan pandangan kedua matanya menuju ke jalan raya. Dari sela-sela tirai tampak jelas jalanan itu sangat ramai dipadati oleh berbagai jenis kendaraan yang berlalu lalang.


Sesaat kemudian, sebuah mobil sedan putih tampak berhenti di sudut pagar rumahnya yang tertutup rapat itu. Seorang laki-laki turun dari kursi pengemudi, kemudian berjalan memutari kap mobil untuk membuka pintu di sisi sebelahnya. Seorang wanita yang Endo kenal sebagai Rosella turun dengan setelan kasual membalut tubuh langsingnya. Keduanya saling berciuman untuk beberapa saat, sebelum Rosella melangkahkan kaki menjauh.


Tak berapa lama, seorang penjaga membuka pintu gerbang, memberikan akses kepada Rosella agar bisa masuk ke dalam kawasan rumah milik pemuda berwajah bule itu. Gadis berusia kepala dua itu berjalan pelan melewati halaman yang kosong karena mobil Endo telah masuk ke dalam garasi.


Endo membuka pintu balkon kamarnya tepat setelah Rosella melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah. Langkah kaki laki-laki itu terhenti tepat di depan pagar balkon. Ditariknya satu helaan nafas dalam-dalam, menikmati segarnya udara malam itu.


Tatapan Endo menerawang jauh ke angkasa luas. Memandang ribuan bintang yang bertaburan menghias langit cerah. Ditambah dengan rembulan yang bersinar terang, membuat keindahan malam itu tampak sungguh sempurna.


Ingatan Endo bergulir ke masa beberapa hari yang lalu, saat dirinya menghabiskan malam indah bersama Echa di bawah gugusan bintang yang bersinar benderang di sebuah lapangan terbuka.


Hanya sebuah ciuman singkat, namun ternyata mampu menguasai benak laki-laki itu, bahkan hingga detik ini.


Saat itu Endo menempelkan keningnya sendiri di kening Echa sembari menangkup lembut pipi gadis itu dengan kedua tangan kokohnya.


"Aku merindukanmu, sayang. Selama lima tahun aku hidup dalam kegelisahan. Aku bagai orang bodoh dan tol*l menjalani hari-hari sepiku. Baru kusadari bahwa semua itu karena dirimu," bisik Endo malam itu.


"Apa maksud Kak Endo?" tanya Echa gugup.


Kepala Endo bergerak pelan. Dijauhkan keningnya dari kening Echa yang kini tampak terkernyit. Tangan Endo masih pada posisi yang sama, menangkup lembut wajah cantik di depan matanya itu dengan penuh kelembutan.


"Sepertinya aku memang harus menekan egoku ke tempat terendah untuk mengakui bahwa aku masih mencintaimu. Aku ingin kita bersama lagi. Kita buka lembaran baru. Kita mulai semuanya dari awal. Aku mencintaimu Rebecca ..."


Perlahan kedua tangan Echa terulur, meraih dua telapak lebar milik Endo yang tengah menangkup kedua pipinya. Digenggamnya tangan kokoh itu erat-erat kemudian menunduk lemah.


"Maaf, Kak. Echa tidak bisa." Ada intonasi berat di sana.


"Apa maksudmu?" tanya Endo dengan mata menyipit tak percaya. "Apa yang baru saja kudengar tadi?"


Endo buru-buru mengurai genggaman Echa pada kedua tangannya. Kembali ditangkupnya kedua pipi gadis itu, dan dipaksanya agar terdongak menatap wajah tegasnya.


"Kenapa kau bicara seperti itu ketika aku yakin kau juga mencintaiku?" Endo kembali bersuara. "Aku mencintaimu dan aku tahu kau pun juga masih menyimpan hati padaku."


"Tidak, Kak. Tidak. Aku tidak bisa."


Echa memaksakan wajahnya tetap terdongak, menatap ekspresi terkejut dan bingung yang terlukis di wajah Endo. Perlahan diuraikannya tangan kokoh laki-laki bermata biru itu dari kedua pipinya.


"Jangan gunakan Samuel atau yang lain sebagai alasanmu," ucap Endo lagi. "Karena aku tahu tak ada satu pun dari mereka yang bisa membuat hatimu tertarik."


Endo menatap nanar kedua mata bulat di hadapannya yang menyiratkan berbagai rasa. Ia melihat kebimbangan, rasa sakit, rasa tak rela, bahkan gejolak kerinduan dan cinta yang bergelaura hebat di sana. Entahlah.


"Katakan, apa yang harus kulakukan untuk membuktikan ketulusan cintaku padamu," bujuk Endo.


"Maaf, Kak. Echa tidak siap terluka untuk kedua kalinya," sahut Echa pelan dan lirih.


"Apa maksudmu?" tanya Endo bingung.


Sedetik kemudian mata Endo membulat, memahami maksud dari ucapan gadis itu.


"Ya Tuhan, sayang ... itu semua sudah lama berlalu. Dan kejadian sebenarnya tidak seperti yang kau lihat, apa lagi yang kau pikirkan. Sungguh bukan seperti itu."


Echa diam tak menjawab, hanya kedua matanya saja yang tampak berair, mewakili perasaannya saat ini.


"Seperti yang dulu pernah kukatakan padamu, Magda hanyalah masa laluku. Sedangkan kau ... kau adalah cintaku, masa depanku. Waktu itu dia datang hanya untuk ...,"


"Sudahlah, Kak," potong Echa. "Echa melihat dengan mata kepala Echa sendiri."


"Tapi itu tidak seperti yang kau lihat, sayang. Itu tidak benar." Endo bersikeras, mencoba meyakinkan gadis yang mulai tampak sembab oleh air mata itu.


"Sudahlah, tidak usah membahas tentang itu lagi. Apa pun keadaannya Echa tetap tidak bisa, Kak."

__ADS_1


"Apa yang kau maksud dengan semua ini, Cha?" tanya Endo mulai frustasi. "Kau tahu betul bahwa kau sangat mencintaimu. Sebaliknya, aku pun yakin kau masih mencintaiku, dan mungkin cintamu kini telah tumbuh semakin bersemi. Kita saling mencintai," lanjutnya. "Lalu kenapa? Kenapa kau tega menyiksa perasaanku dan perasaanmu sendiri? Kenapa kau sendiri tega memisahkan cinta kita?"


BERSAMBUNG ...


__ADS_2