
Hari masih pagi, namun mentari sudah bersinar cukup terang. Endo melajukan mobilnya dengan kecepatan di bawah rata-rata. Merayapi jalan beraspal, tumpah ruah bersama sesama pemakai jalan.
Mau bagaimana lagi, saat ini adalah jam siswa berangkat ke sekolah, berbarengan dengan para karyawan pabrik dan kantoran juga sudah mulai berhamburan menuju tempat kerja masing-masing. Maka tak mengherankan jika kondisi jalan pun semakin crowded.
Endo melirik arloji di tangan kanannya. Pukul enam lewat limapuluh menit. Ia yang biasanya menghindari jam-jam seperti ini, terpaksa harus turut berjibaku di tengah derasnya arus lalu lintas, sebab dia memang sedang dalam perjalanan pulang dari rumah Rudi.
Sepuluh menit yang lalu, laki-laki berwajah bule itu bertolak dari kediaman tangan kanan kepercayaannya untuk sekedar melakukan hal yang tidak penting. Ya, begitulah yang ada dalam benak Rudi saat itu.
"Hanya untuk menyampaikan info seperti itu saja. Mengapa harus datang kesini?" sungut Rudi setelah kepergian bosnya. "Apa dia tidak tahu bagaimana cara menggunakan ponsel?"
Hah, sudahlah. Memangnya dia bisa apa?
"Terserah kau saja, Endo. Di sini kaulah bosnya," ucap Rudi akhirnya.
Pukul delapan lewat sepuluh menit, Endo mengayunkan kaki panjangnya ke dalam rumah setelah memarkir dengan rapi mobilnya di dalam garasi.
"Endo." Terdengar suara lembut Rosella saat Endo melangkah menuju lemari pendingin.
Endo menoleh ke asal suara, memastikan di mana Rosella berada.
"Hai," sahut Endo sedetik kemudian sembari membuka pintu lemari pendingin.
"Kau baru pulang?"
Rosella melangkah mendekat sembari menyunggingkan senyum manis di bibir penuhnya.
"Iya," sahut Endo dengan tubuh masih menghadap ke lemari pendingin.
"Kau menikmati pestanya?" tanya Rosella dari belakang Endo.
"Begitulah," jawab Endo singkat, sembari berbalik menghadap Rosella.
"Bahkan kau pun mengikuti acara pestanya hingga pagi," komentar Rosella.
"Kau tahu sendiri bukan bagaimana jika pria-pria seperti kami ini bertemu dengan kawan lama," ucap Endo setelah menenggak separuh botol air mineral.
"Ya, kalian pasti mengobrol hingga lupa waktu."
Endo tersenyum sekilas menanggapi kalimat yang dilontarkan Rosella.
"Apakah semalam kau menungguku pulang?" tanya Endo kemudian.
"Aku bahkan tidak tidur hingga pagi menjelang," sahut Rosella dengan wajah sedikit masam.
"Ah, maaf. Seharusnya aku memberitahukanmu agar tidak menungguku," sahut Endo tanpa menunjukkan ekspresi menyesal. Dia pikir ucapan maaf sudah cukup mewakili segalanya.
Sedikit kecewa, namun Rosella segera mengubah mimik wajahnya agar tampak biasa saja.
"Kau tidak pergi ke kantor?" tanya Rosella sembari melirik jam dinding tak jauh dari lemari pendingin.
"Tidak. Rasanya aku lelah sekali," jawab Endo kemudian menghabiskan air mineralnya hingga tandas.
Tangan Rosella bergerak untuk mengambil alih botol kosong dari tangan Endo, kemudian dilemparkannya ke dalam keranjang sampah di sudut ruangan.
"Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu," ucap Rosella dengan suara lembutnya.
"Nanti saja, aku ingin segera tidur," sahut Endo.
Tampak guratan kecewa di wajah Rosella. Ia pun berusaha menyembunyikannya serapi mungkin. Namun terlambat, Endo sudah terlanjur melihatnya.
"Kulihat kau hanya memakai baju itu-itu saja," komentar Endo mengalihkan pembicaraan.
Ya, semenjak tinggal di sini, Anna hanya membelikan tiga setel baju ganti untuk Rosella, karena dia pikir gadis cantik itu hanya tinggal beberapa hari dan akan segera pergi dari rumah ini.
"Belilah beberapa potong baju dan apa pun yang kau suka," ucap Endo sembari menyerahkan kartu kredit tanpa batas.
"Tapi ...."
"Sudahlah, buatlah dirimu senang," potong Endo cepat. "Aku akan menyuruh Disan untuk menemanimu, jika anak buah Paola yang kau takutkan."
Senyum cerah terbit di antara kedua bibir Rosella.
"Baiklah, terimakasih."
__ADS_1
Diamatinya kartu yang diberikan Endo untuk beberapa saat, sebelum kemudian dimasukkannya ke dalam saku celana. Tangan Rosella terulur meraih dasi yang terikat longgar dan berantakan di leher Endo.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Endo sedikit terkejut atas keberanian gadis di hadapannya itu.
"Biarkan aku membantumu melepaskannya." Rosella menjelaskannya dengan senyum manis di bibir.
Endo membiarkan tangan lincah Rosella melepas dasi dan jas yang telah tampak kusut di tubuhnya.
"Lagi pula aku sangat lelah pagi ini," gumam Endo.
"Apakah termasuk celananya juga?" tanya Rosella sembari menyampirkan jas dan dasi di pergelangan tangan kirinya.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri," tolak Endo, kemudian bergegas pergi meninggalkan Rosella yang tengah tersenyum tipis di tempatnya.
Setiba di kamar, Endo langsung masuk ke dalam kamar mandi. Rasa penat dan lelah setelah seharian bekerja dan dilanjut bergadang semalaman membuatnya ingin segera mandi dan menjatuhkan diri di atas kasur empuk di dalam kamar.
___
"Lama tak bertemu, bagaimana kabarmu?" tanya Endo sembari melempar senyum teduh menenangkan seperti biasanya.
"Seperti yang Kak Endo lihat, Echa baik-baik saja." Echa menghenyakkan pantat di bangku taman. "Bagaimana dengan Kak Endo sendiri?"
"Aku?" Endo menghela nafas pelan. "Tak sebaik yang terlihat," lanjutnya.
"Apa maksud Kak Endo?" tanya Echa sembari menatap laki-laki yang masih berdiri di hadapannya. Wajah cantiknya mengisyaratkan rasa bingung dan penasaran.
"Hari-hariku selalu diwarnai dengan bayanganmu. Malam-malamku pun selalu dipenuhi dengan mimpi-mimpi tentang dirimu," ucap Endo. "Menyebalkan sekali," lanjutnya.
"Menyebalkan?" Echa mengernyit bingung. "Apakah Kakak terganggu dengan mimpi-mimpi itu?" tanyanya lagi dengan mimik wajah bersalah.
Endo melangkah mendekat, kemudian turut duduk di samping gadis bermata bulat itu.
"Sebenarnya ... tidak juga sih. Aku justru senang bisa selalu melihat wajahmu, walau hanya dalam mimpi."
Echa tergelak mendengar jawaban polos dari laki-laki di sampingnya itu.
"Apanya yang lucu?" Wajah Endo menyiratkan rasa kesal yang kentara.
"Bilang menyebalkan, tapi bilang senang juga," timpal Echa masih sambil menahan tawa.
"Sudahlah, Kak. Akui saja, Kakak memang sudah tergila-gila padaku."
"Iya, aku melalui hari-hariku dengan berat tanpa kehadiranmu."
Endo mengulurkan tangan kokohnya untuk membelai kepala gadis cantik di sisinya itu. Sejak dulu Endo selalu tertarik untuk mengusap rambut lembut itu dengan telapak tangannya.
"Tuh kan, benar ...." Echa kembali tergelak.
Entah mengapa, Endo merasa gadis dari masa lalunya itu, kini lebih berani menggoda dan menjahilinya seperti itu. Mungkin itu bukti bahwa lima tahun perpisahan, bukanlah waktu yang sebentar.
"Terserah kau mau berkata apa," ucap Endo sembari meraih kedua tangan Echa. "Mulai sekarang jangan pernah lagi kau meninggalkanku." Endo benar-benar mati-matian membuang jauh-jauh egonya. "Hidupku benar-benar tak berarti tanpamu," lanjutnya.
Echa tersenyum manis sembari menatap lekat laki-laki berwajah bule di hadapannya.
"Iya, Kak. Echa janji, tidak akan meninggalkan Kak Endo."
Perlahan senyum cerah dan bahagia pun menyembul dari kedua bibir Endo. Perlahan dikecupnya kedua punggung tangan gadis pujaannya itu. Kecupan pun beralih pada kedua pipi, kemudian berpindah pada bibir yang pernah disentuhnya terakhir kali lima tahun yang lalu.
Ya, bibir itu lah yang kemudian membuatnya terus teringat pada gadis itu dan benar-benar sulit untuk melepaskannya. Walaupun pada akhirnya dia memang harus merelakan gadisnya dengan laki-laki lain demi kebahagiaan orang yang dicintainya.
"Yakinlah, kau akan berpisah dengannya dan kembali padaku. Karena sejatinya kau adalah milikku. Cintamu hanyalah milikku," sumbar Endo kala itu, walau hanya di dalam hati.
"Namun, hatiku terluka saat harus melepaskanmu seperti ini. Aku ingin melupakanmu. Benar-benar melupakanmu," ratap Endo kala itu. "Sial! Ternyata patah hati sesakit ini!"
Ingin melupakan demi menyembuhkan luka menganga. Setidaknya seperti itulah rencana Endo lima tahun yang lalu. Namun kenyataannya selama lima tahun ke belakang, tak pernah sehari pun wajah gadis itu hilang dari pikirannya. Justru sosok itu semakin sering hadir di siang dan di waktu tidurnya.
"Namun semua kesengsaraan itu telah terbayar lunas sekarang. Karena kini kau telah kembali ke sisiku. Kau telah kembali kepada pemilikmu," bisik Endo di sela ciumannya.
But I'm a bad liar, bad liar
Now you know
Now you know
__ADS_1
That I'm a bad liar, bad liar
Now you know, you're free to go
Tiba-tiba Bad Liar milik Imagine Dragron terdengar melengking memenuhi indera dengar Endo.
Laki-laki berpostur tinggi tegap itu pun segera terjaga dan membuka kedua matanya karena terkejut. Namun sedetik kemudian matanya kembali terpejam dan mengerjab beberapa kali untuk menyesuaikan indera penglihatnya pada sorot mentari yang menerobos masuk ke dalam kamar dengan angkuhnya.
Sesaat kemudian tubuhnya telah beralih pada posisi terduduk di atas kasur. Sementara ponsel yang tadi meraung-raung kini telah kembali diam.
"Sial! Hanya mimpi," gumam Endo sembari meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas. Dua panggilan terabaikan dari Rudi ternotifikasi di sana.
Diabaikannya panggilan tak terjawab dari tangan kanannya itu. Ibu jari kanannya kembali bergerak, menyentuh dan mengetuk layar ponsel beberapa kali.
Sesaat kemudian gerakan itu terhenti, pandangan matanya pun turut terhenti. Seketika tubuhnya mematung dengan pandangan mengarah pada layar ponsel dalam genggaman. Seorang gadis cantik dengan kaos merah dan bibir merekah tergambar jelas pada layar benda tipis tersebut.
Ibu jari Endo kembali bergerak, menggeser layar hingga tampilannya berubah pada foto berikutnya. Masih gadis yang sama, namun jari-jari pada kedua tangannya terlihat menekan kedua pipi, hingga si gadis tampak begitu lucu. Atau menggemaskan, kalau menurut bahasa Endo.
"Lima tahun telah berlalu ... aku bahkan belum bisa melupakanmu. Kau terus saja hadir dalam mimpi-mimpiku," gumam Endo.
Layar ponsel menunjukkan gambar selanjutnya. Masih gadis yang sama, tampak tertawa lebar walau tengah terkungkung di dalam troli belanja. Tanpa sadar sudut bibir Endo terangkat ke atas, turut merasakan ekspresi bahagia gadis di dalam foto itu.
Foto yang diambil dengan ponsel Endo lima tahun yang lalu. Saat itu Endo memang sengaja meluangkan waktu seharian penuh untuk menemani gadis pujaannya. Keduanya pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli berbagai macam perlengkapan dan perabotan untuk mengisi 'Rumah Hello Kitty mereka'. Dengan iseng Endo mengangkat dan menurunkan kekasihnya itu di atas trolly belanja. Bukannya marah, gadis itu malah tertawa lebar dibuatnya.
Sesampainya di rumah, ketika barang belanjaan dibongkar, kalian bisa menebak apa saja isinya? Ya, kalian benar. Tas belanjaan Echa dipenuhi dengan berbagai macam pernak-pernik dan asesoris girly yang didominasi warna pink dan karakter Hello Kitty.
Melihat hal itu, Endo hanya bisa geleng-geleng kepala sembari tersenyum geli. Memangnya barang belanjaan macam apa yang kau harapkan dari anak SMA seperti dia, Endo? Taplak meja, sprei, hiasan dinding, perabot dapur, pembersih porselin,dan lain-lainnya tidak akan mungkin masuk dalam daftar belanja gadis ini.
"Apa kabarmu, sayang?" bisik Endo pelan. "Lima tahun ... waktu yang cukup lama. Seharusnya kau tumbuh semakin cantik sekarang," lanjutnya sembari tersenyum kecil. "Dan ternyata kau tumbuh lebih cepat dari yang kubayangkan."
Endo menghela nafas berat, kemudian kembali menggeser layar ponsel untuk menampilkan gambar berikutnya. Foto gadis yang sama dengan piyama tidur dan bandana kelinci di kepala.
Kenangan Endo kembali ke masa lima tahun lalu. Saat itu ia meminta pada kekasihnya agar langsung mengirimkan foto terbaru esok pagi. Tak disangka begitu bangun tidur gadis itu langsung mengambil gambar dan mengirimkannya begitu saja.
"Hah, aku meyesal telah menyuruhnya melakukan hal ini," geram Endo waktu itu.
"Kenapa? Apakah berfoto dan mengirimkannya padamu telah membuatnya menderita?" tanya Rudi bingung.
"Melihat foto naturalnya seperti ini, rasanya aku benar-benar ingin segera menikahinya saja!" sahut Endo sembari melempar ponsel, kesal pada dirinya sendiri.
"Ya sudah, nikahi saja dia. Apa susahnya?" sahut Rudi sekenanya.
"Dia masih sekolah."
"Dia bisa ikut home schooling saja. Jadi dia tetap mendapatkan pendidikan meskipun harus repot berperan sebagai istrimu juga," sahut Rudi. "Dan aku yakin pasti dia akan sangat kerepotan dan kelelahan nantinya."
"Ah, tidak akan. Ada pelayan di rumah ini. Tidak masalah bagiku jika harus menambah beberapa pelayan lagi."
"Aku tak yakin."
"Apa maksudmu?"
"Kau pikir aku tak tahu siapa dirimu?" tanya Rudi dengan sebelah alis terangkat ke atas. "Kau hanya pura-pura sok dewasa saja di depanya. Jika dia sudah menjadi istrimu, aku yakin kau akan menjadi manusia paling manja dan paling menyebalkan yang pernah dikenalnya."
"Hei, tak bisa kah kau berhenti memujiku seperti itu?" sungut Endo waktu itu.
Endo tersenyum mengenang perdebatannya dengan Rudi waktu itu. Atau lebih tepatnya bahan yang diperdebatkan lah yang membuatnya tersenyum.
Ibu jari Endo kembali bergerak, menampilkan foto seorang gadis dengan seragam putih abu-abu yang tengah berpose centil dengan jenaka. Gadis itu sendiri yang mengambil gambar langsung dengan ponsel Endo.
"Di save ya, Kak. Jangan dihapus."
"Harus?"
"Iya, lah. Anggep aja ini sebagai satpam di ponsel Kak Endo."
"Kenapa gitu?"
"Biar nggak ada cewek yang berani mampir ke ponsel Kak Endo. Kalau berani telpon sama chat buat ngerayu atau pedekate, nanti pasti dihempas cantik sama tuh satpam ponsel."
Sektika Endo tergelak mendengar penuturan gadis SMA itu. Gadis polos itu memang pandai sekali membuat Endo tertawa bahagia hanya dengan satu atau dua kalimat yang diucapkannya saja.
Endo kembali tersenyum mengingat kenangan indahnya bersama gadis di masa lalunya.
__ADS_1
"Sebentar lagi ... sebentar lagi kau akan berada dalam genggamanku."
BERSAMBUNG ...