
Rembulan bersinar terang. Seterang hati Endo yang saat ini tengah dilanda bahagia. Selama dalam perjalanan pulang dari hotel tempat kedua orang tua Echa menginap, tak putus-putusnya laki-laki itu menyenandungkan lagu-lagu cinta di dalam mobil. Bahkan hingga kini mobilnya telah masuk garasi pun ia masih terus mendendangkan lagu-lagu kasmaran dari bibirnya.
Endo berjalan pelan menuju dapur masih sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Dilepasnya jas hitam yang masih melekat di tubuh, kemudian ditaruhnya secara asal di sandaran kursi.
"Endo ...." Tiba-tiba terdengar suara dari balik tubuhnya.
"Rose? Sedang apa kau di sini?" tanya Endo heran.
"Maaf, Endo," sahut Rosella dengan wajah tertunduk. "Maaf, tak sepantasnya aku masih berani menunjukkan wajahku di hadapanmu."
"Ada perlu apa?" tanya Endo datar.
"Aku kemari hanya untuk meminta maaf padamu dan mengambil beberapa barangku yang masih tertinggal di sini," jawab Rosella masih dengan wajah tertunduk. "Maaf, tempo hari tanpa sengaja aku telah merusak hubunganmu dengan dia."
"Dengan atau tanpa kata maaf, kau tetap tidak bisa lagi tinggal di sini, Rose," sahut Endo masih dengan intonasi datar. "Di sini bukan lagi tempatmu."
"Aku tahu, Endo. Aku sadar ... kesalahanku tempo hari memang benar-benar fatal. Maafkan aku." Wajah Rosella masih tetap tertunduk.
"Sudahlah, tak usah terlalu kau pikirkan. Diakui atau tidak, kejadian itu justru memberikan keuntungan bagiku. Echa menjadi semakin sayang padaku dan jalanku menuju pelaminan semakin mulus."
Endo mengambil duduk di salah satu kursi kemudian membuka kaleng soft drink dingin di tangannya.
"Hei, bahkan pada saat udara sedingin ini pun kau masih minum soft drink dingin?" hardik Rosella halus.
Endo memicingkan mata, memandang ke arah Rosella yang masih berdiri kaku.
"Kau mau secangkir teh susu hangat? Aku akan membuatkannya untukmu."
Kedua kaki Rosella bergerak pelan menuju tempat di mana kompor di ruangan itu berada.
"Susu. Dulu aku sangat senang meminum susu sebelum tidur. Biasanya tidurku akan sangat pulas setelahnya," ucap Rosella dengan tangan terampil yang terus bergerak menyiapkan teh susu hangat untuk sang tuan rumah.
Sesaat kemudian Rosella berjalan pelan ke arah Endo dan meletakkan dua cangkir minuman buatannya di atas meja.
"Cobalah," ucap Rosella sembari menyodorkan cangkir bagian Endo.
Perlahan Endo menyesap minumannya.
"Lumayan," gumam Endo pelan.
"Waktu begitu cepat berlalu. Tak terasa hampir setengah tahun aku tinggal di tempat ini," ucap Rosella sembari menghenyakkan pantatnya pada kursi di hadapan Endo. "Kini aku harus meninggalkan rumah ini untuk selamanya."
Endo menatap lekat kedua mata indah di hadapannya itu.
"Kau cantik, Rose. Kau juga pandai dan cekatan," ucap Endo setelah kembali menyesap teh susunya.
"Terimakasih atas pujianmu."
Sebuah senyum kecil tercetak di atara bibir penuh milik Rosella.
"Buatlah hidupmu jadi lebih bermanfaat." Endo segera menghabiskan minumannya hingga tandas.
"Aku mengerti," sahut Rosella. "Terimakasih atas perhatianmu."
"Cepat kemasi barang-barangmu. Aku tidak akan menerima alasan apa pun agar kau bisa tidur di salah satu kamar rumah ini lagi." Endo bangkit dari duduknya dan bergegas pergi menuju kamarnya di lantai dua.
"Aku mengerti," gumam Rosella dengan wajah sedih. Ia pun segera bangkit dan turut naik ke lantai dua, tempat di mana kamarnya selama beberapa bulan ini berada.
"Endo ...," panggil Rosella yang tengah berdiri di ujung anak tangga teratas, tepat di saat Endo memegang handle pintu kamarnya.
Endo berbalik. Memandang ke arah Rosella yang sedang melangkah mendekat.
"Aku ingin memelukmu sekali saja. Sebagai ucapan perpisahan," ucap Rosella sembari memeluk Endo tanpa persetujuan pemilik tubuh tegap itu. "Terimakasih atas kebaikan yang selama ini kau berikan padaku."
___
Pagi yang semrawut. Begitulah Echa menyebutnya. Pagi ini Endo menelepon, memberikan kabar bahwa mereka akan terlambat berangkat ke kantor karena hari ini laki-laki hebat itu bangun kesiangan.
"Suka-suka kau saja, karena memang kau lah bosnya. Sedangkan aku ini hannya seorang karyawan yang memiliki setumpuk pekerjaan menanti di tempat kerja. Apa jadinya jika aku berangkat siang seperti yang kau katakan barusan?" sungut Echa dalam hati.
Echa pun memutuskan untuk berangkat ke kantor dengan taksi, mengingat masih begitu banyak pekerjaan yang harus dibereskannya di kantor. Lagi pula, ia juga tak mau dianggap memanfaatkan posisi dan kedekatannya dengan orang nomor satu di perusahaan itu.
"Hah, sial! Sudah buru-buru berangkat tapi tetap saja terlambat," keluh Echa sembari berlari kecil menuju lift khusus petinggi perusahaan.
Begitu masuk bilik lift Echa segera mengambil cermin saku dari dalam handbag hitamnya. Memeriksa penampilannya pagi ini, karena baru beberapa menit yang lalu ia berhasil terlepas dari jejalan sesama penumpang yang berdesak-desakan di dalam bus.
Ya, gadis cantik itu terpaksa berangkat ke kantor dengan mengendarai bus kota karena pengemudi jasa taksi dan ojek online yang biasa ia gunakan kini tengah mengadakan unjuk rasa. Begitulah yang dikatakan Rinto tadi. Entahlah, ia tak begitu paham tentang hal itu.
Echa mengambil compack powder dari dalam tas, kemudian mengaplikasikannya ke permukaann kulit wajah dalam beberapa kali usapan. Setelah itu, diambilnya lipstik warna baby pink untuk merapikan warna bibirnya yang sebenarnya sudah rapi itu.
__ADS_1
Saat sedang asyik dengan lipstik di tangan kanan dan cermin kecil di tangan kiri, tiba-tiba seorang laki-laki dengan setelah jas serba hitam masuk ke dalam bilik lift tepat sesaat sebelum pintu tertutup. Karena terburu-buru tanpa sengaja laki-laki itu menyenggol bahu Echa hingga lipstik pun terlepas dari pegangan.
Echa pun segera berjongkok, memungut lipstik yang terlempar hingga sudut bilik lift.
"Yah ... patah," gumam Echa pelan. "Padahal aku harus menyisihkan sebagian uang tiga kali gajian dulu untuk mendapatkan lipstik ini."
Dipandanginya lipstik yang baru dibelinya seminggu yang lalu. Ia memang sengaja membeli beberapa jenis kosmetik agar tampak menarik di depan Endo.
Perlahan Echa bangkit dari posisi jongkoknya dengan lipstik yang telah patah di tangan kanan. Didongakkan wajah kecewanya ke arah laki-laki yang menyenggol bahunya beberapa saat yang lalu.
"Kak Endo ...," gumam Echa tak percaya.
Laki-laki yang berdiri di sebelahnya hanya menoleh, kemudian melempar senyum menawan seperti biasanya, kemudian kembali memandang lurus ke depan.
"Kak Endo bilang mau ke kantor sehabis jam makan siang ...."
Kedua tangan Echa bergerak memasukkan compact powder ke dalam handbag, sementara lipstik tetap dalam genggaman tangan.
"Kak Endo," panggil Echa sembari menepuk pelan lengan laki-laki di sampingnya itu.
"Iya ... Echa," sahut laki-laki itu sedikit ragu, namun dengan senyum manis tetap menghias bibir.
"Sejak kapan pukul 8.30 sudah masuk waktu jam makan siang?"
"Sejak aku tahu bahwa kau memang begitu cantik."
"Hei, jangan merayu," hardik Echa.
"Tidak. Aku tidak sedang merayu. Bagaimana jika nanti kita makan siang bersama?"
"Echa tidak akan termakan rayuan gombal murahan semacam itu," tukas Echa cepat.
"Rayuan gombal murahan?"
"Iya. Rayuan gombal murahan," ulang Echa dengan penekanan di setiap kata."
"Baiklah, katakan padaku rayuan seperti apa yang tidak gombal dan murahan?"
"Kak Endo pikir hanya dengan memuji kecantikan saja Echa langsung mau makan siang bersama, begitu?" Echa mendengus sebelum meneruskan kata-katanya. "Ayolah, keluarkanlah sedikit modal agar ajakan makan siang itu terdengar istimewa dan spesial."
"Kenapa kau begitu berterus terang? Apa kau tidak khawatir kuanggap sebagai gadis matre?"
Echa menjentikkan telunjuk kanannya di dagu yang tampak halus setelah bercukur, kemudian melangkah ke luar dari bilik lift menuju meja kerjanya. Begitu sampai, Echa langsung melempar lipstik lldalam genggaman tangannya pada tempat sampah yang tersedia.
"Menarik," gumam laki-laki bermata biru laut itu dengan seringai di bibir.
___
"Cepatlah makan. Sepertinya kau sangat lapar?"
"Tentu saja. Echa sangat lapar, Kak. Tadi pagi tidak sempat sarapan," sahut Echa setelah memasukkan satu suapan ke dalam mulut.
"Kenapa tadi tidak bilang jika kau belum sarapan?"
"Kalau Echa bilang belum sarapan, pasti Kak Endo langsung menculik Echa dan memaksa makan seperti biasanya."
"Memangnya kenapa? Apa salahnya seorang laki-laki menghawatirkan gadis yanh dicintainya?"
"Tidak ada yang salah. Hanya saja ... jka kita ke luar untuk sarapan, nanti Echa jadi terlambat masuk kantor." Echa menjelaakan di sela kunyahannya.
"Seperti bekerja pada kompeni saja. Aku ini kan bosmu. Kau boleh melakukan apa saja di kantor ini asal dalam sepengetahuanku. Termasuk bolos dan datang terlambat."
"Itu dia masalahnya. Karena Echa tahu Kak Endo akan begitu, makanya Echa tidak memberitahukannya pada Kak Endo."
"Memberitahukan apa?"
"Bukankah kita sedang membicarakan perihal sarapan?" Echa mendelik kesal. "Hah, menyebalkan."
"Hahaha ...! Kau memang benar-benar menggemaskan."
"Malah tertawa ...," gumam Echa masih sedikit kesal. "Echa sudah selesai, Kak. Ayo kita kembali ke kantor."
"Hei, sebentar. Bahkan makananku pun masih utuh, kau sudah merengek minta kembali ke kantor?"
"Ooh ... Echa pikir Kak Endo memang sengaja tidak memakannya karena sedang tidak berselera," gumam Echa tepat di saat pelayan restoran datang dengan dua mangkuk kecil es krim vanila-strawberry.
"Kau habiskan dulu es krimmu, sementara aku menyantap makan siangku."
"Es krim? Echa tidak pesan es krim, Kak," tukas Echa dengan ekspresi bingung.
__ADS_1
"Aku yang memesankannya untukmu. Sepertinya pekerjaanmu hari ini sedikit melelahkan. Mungkin dua mangkuk es krim bisa membuatmu sedikit lebih fresh."
"Sejak kapan teori semacam itu berlaku?"
"Sejak Endo Devon Atmaja tergila-gila padamu. Sudahlah, jangan banyak bertanya."
"Baiklah, baiklah." Akhirnya Echa pun mengalah dan mulai memakan es krim di hadapannya. "Oh ya, bingkisan dari Kak Endo tadi ... bolehkah Echa buka?"
"Tentu saja, buka lah."
Tangan Echa terulur mengambil paperbag yang ia letakkan pada kursi kosong di sebelahnya. Segera dibuka dan dikeluarkannya isi di dalamnya.
"Kosmetik ...," gumam Echa bingung. "Wah ... lengkap sekali, Kak. Ini semua untuk Echa?" tanya Echa dengan binar antusias di kedua mata bulatnya.
"Ya, tentu saja. Kecuali jika kau mau membagi Endo Devon Atmaja dengan wanita lain."
"Enak saja!" hardik Echa dengan mata melotot garang. "Berani macam-macam?" ancam Echa sembari mengacungkan tinju kanannya. "Tapi ... bukankah ini terlalu banyak, Kak? Harganya pun juga mahal."
"Sudahlah, anggap saja itu sebagai permintaan maafku karena telah membuat lipstikmu patah."
"Begitukah? Kalau begitu, lain kali Kakak putuskan saja kalung Echa ini."
"Hahaha ...! Kau sungguh lucu dan menggemaskan."
"Sedangkan Kak Endo sungguh tampan dan baik hati," puji Echa dengan ekspresi pura-pura tulus.
"Sudahlah, cepat kau rapikan lipstikmu di toilet. Kita segera kembali ke kantor."
"Ok, Kak."
"Pilih warna peach saja."
"Kenapa memangnya?" tanya Echa penasaran.
"Karena aku sedang ingin melihat warna itu di bibirmu."
Echa tersenyum penuh arti, kemudian bergegas melangkah menuju toilet. Dua puluh menit kemudian, keduanya telah berada di dalam lift khusus petinggi perusahaan.
"Kau senang dengan hadiah dariku?"
"Tentu saja, Kak," jawab Echa tepat ketika pintu lift terbuka. "Terlebih lagi Echa sangat senang menghabiskan waktu bersama Kakak," lanjutnya. "Dengan atau tanpa hadiah sekalipun.
"Kau begitu tulus, ceplas-ceplos, dan apa adanya. Kau memang layak untuk dicintai," gumam laki-laki berwajah bule itu sebelum mengacak puncak kepala Echa dengan gemas, kemudian segera beranjak, melangkah meninggalkan bilik lift yang masih tersisa satu gadis cantik di dalamnya.
"Cha, kau ikut ke dalam ruanganku sekarang!"
Tiba-tiba langkah laki-laki itu terhenti tepat di depan pintu ruangannya. Sementara Echa yang baru saja tiba di meja kerja terpaksa harus mengurungkan niatnya untuk menghenyakkan pantat di atas kursi.
"Ayo cepat."
Echa bergegas menghampiri bosnya yang masih setia berdiri di tempat semula. Begitu Echa tiba, laki-laki itu langsung membuka pintu dan mempersilahkan Echa untuk masuk terlebih dahulu.
"Echa, akhirnya kau datang juga. Aku mencari-carimu sejak tadi. Dari mana saja kau sebenarnya? Hanya makan siang saja, mengapa harus selama itu?"
Sontak kedua mata bulat Echa terbelalak dengan mulut turut membulat melihat sosok yang sedang duduk di kursi utama di dalam ruangan itu.
"Kak Endo ...," gumam Echa dengan mata masih melotot tak percaya. "Kak Endo ada di sini?"
"Memangnya di mana aku seharusnya berada?" tanya laki-laki bersetelan jas hitam itu.
"Tapi ... tapi tadi ...," ucap Echa terbata, tak kuasa menyelesaikan kalimatnya.
"Hei, kau kenapa? Seperti melihat setan saja."
"Echa baru saja datang bersama Kak Endo, tapi kenapa Kak Endo sudah ada di dalam sini?"
"Apa maksudmu? Kau baik-baik saja?" Laki-laki bertubuh tegap itu beranjak dari duduknya, kemudian bergegas menghampiri Echa yang tampak sangat menghawatirkan.
"Kau kenapa, Cha?" Tiba-tiba terdengar suara milik seorang laki-laki berparas bule yang baru saja melangkah masuk ke dalam ruangan itu.
Perlahan Echa menoleh ke asal suara. Kedua matanya kembali melotot dengan kedua telapak tangan menutupi mulut saat mendapati sosok Endo bersetelan jas navy yang melangkah mendekat.
"Kau ...," gumam laki-laki bersetelan jas hitam setelah mendongak dan mendapati apa yang baru saja dilihat oleh Echa.
"Kau ...," balas laki-laki itu.
Sementara Echa berusaha beringsut dari tempatnya berdiri, namun justru terhuyung dan hampir terjatuh.
"Apa-apaan ini ...," gumam gadis itu sembari menggeleng memandang ke sembarang arah, kemudian kembali menatap kedua laki-laki itu bergantian tanpa berkedip.
__ADS_1
BERSAMBUNG ...