
Hari merangkak siang. Matahari mulai meninggi hampir berada tepat di atas kepala. Suasana rumah mewah bernuansa klasik itu tampak begitu sepi dan lengang. Tiga orang penjaga terbaring tak sadarkan diri di beberapa tempat tersembunyi. Sedangkan empat orang asisten rumah tangga sedang sibuk di dapur dan bangunan rumah bagian belakang, yang tentu saja aktivitas mereka tidak akan terdengar hingga ruang tengah, apa lagi ruang depan.
Seorang laki-laki yang tak lain adalah pemilik rumah, tengah terlibat pembicaraan yang tampak serius dengan seorang tamu. Entah seserius apa pembicaraan mereka hingga harus dibicarakan di dalam kamar tidur pemilik rumah. Endo memutuskan untuk mendengarkan apa yang keduanya bicarakan di tempat seperti itu.
"Apa maksudmu?" Tampak Rendi duduk tenang di bibir tempat tidur.
"Kau mungkin bisa mempermainkan Carlos dan Bayu, tapi tidak denganku," jawab Rosella.
"Hei, apa yang kau bicarakan, Sella? Aku semakin tidak mengerti."
"Tidak, Ren. Tidak. Aku tidak akan mundur," jawab Rosella yakin.
"Tapi keadaan saat ini sedang tidak berpihak padamu, Sella." Rendi tetap dengan sabar berusaha membujuk Rosella.
"Aku sudah membicarakannya dengan Bayu. Dia mendukungku," ucap Rosella.
Rendi tertawa mendengar ucapan Rosella barusan.
"Si tol*l itu? Tentu saja dia akan mendukung apa pun keputusan dan keinginanmu karena dia hanyalah budak cinta yang bod*h," sahut Rendi sinis. "Budak cinta yang akan berusaha keras untuk selalu menjadi pahlawan di matamu," lanjutnya. "Budak cinta yang hanya kau manfaatkan sebagai pemuas nafsumu."
"Jaga bicaramu, Rendi! Kau pikir wanita macam apa aku ini?!" seru Rosella tak terima.
"Memangnya wanita macam apa kau ini? Hah?" tanya Rendi santai dengan seringai di bibir. "Kau mengakuinya sebagai kekasihmu hanya di saat kau membutuhkan campur tangannya saja. Hanya disaat kau membutuhkan keset atau pun kambing hitam atas masalah-masalah yang telah kau perbuat."
Rosella tak menjawab, namun wajah ayunya kini tampak tegang dan memerah penuh emosi.
"Di saat kau mengucap janji saling setia dengannya, di saat dia mendukungmu sepenuh hati ... kau juga menikmati malam panas bersamaku." Rendi kembali bersuara dengan seringai meremehkan.
"Jaga ucapanmu, Rendi! Jangan kurang ajar!" teriak Rosella mulai emosi.
"Kenapa? Kau tak terima? Tak terima karena aku telah menjelekkannya? Atau karena aku telah merendahkanmu?"
Rosella diam tak membantah. Namun tampak jelas semburat tak terima di wajah cantiknya.
"Dan anak yang kau kandung itu ...." Rendi kembali bersuara, tak mengindahkan peringatan Rosella. Ia sengaja menggantung ucapannya di udara.
"Bagaimana kau tahu bahwa aku sedang hamil?" tanya Rosella dengan mimik wajah terkejut.
"Tentu saja aku tahu, Sella. Aku selalu tahu tentang semua hal," seringai Rendi. "Termasuk tentang dirimu. Aku bahkan tahu betul apa yang akan kau rencanakan pada janin itu."
Rosella diam tak menyahut, hanya riak tegang dan cemas penuh emosi saja yang tergambar pada wajah cantiknya.
"Aku tidak akan setuju, Sella. Aku tidak akan membiarkan anak itu kau manfaatkan sebagai jembatan untuk mendapatkan Endo!" ucap Rendi dengan tatapan tajam ke arah kedua mata bening Rosella. Membuat wanita yang masih tegak berdiri itu sempat bergidik ngeri walau hanya sesaat.
"Kenapa?" Akhirnya Rosella memberanikan diri bertanya.
"Karena janin yang tumbuh di dalam perutmu itu adalah anakku," jawab Rendi tenang.
"Jangan bermimpi, Rendi. Jangan berhayal terlalu tinggi," sanggah Rosella cepat. "Ini adalah anaknya Endo. Anak kandung Endo."
"Aku bahkan tahu kau tak pernah tidur dengannya," potong Rendi cepat.
Rosella diam tak menyahut. Ia lebih memilih untuk melangkah ke arah sofa karena tiba-tiba saja merasa pusing dan sedikit mual. Wanita itu segera duduk senyaman mungkin di sana.
"Sebaiknya kau lupakan saja dia. Walau bagaimanapun aku harus mengeluarkanmu dari rumah itu dan dari kehidupannya," ucap Rendi kembali melembut.
"Aku tidak mau."
Spontan Rendi mendongak mendengar penolakan tegas Rosella. Ia pun berdiri, kemudian melangkah pelan menghampiri wanita cantik itu.
"Sebenarnya apa yang kau sukai darinya?" tanya Rendi lembut sembari mengusap pelan sebelah pipi Rosella dengan tangan kokohnya. "Kau bahkan tahu betul bahwa apa yang dia punya, aku pun bisa memilikinya."
Rendi membelai lembut kepala wanita yang tengah hamil muda itu dengan penuh kelembutan. Tampak jelas bahwa ada cinta di sana. Perlahan disapunya bibir merah itu dengan penuh perasaan. Sesaat suasana mendadak menjadi lengang, keduanya sungguh menikmati cara pelepasan rindu yang romantis itu.
"Aku bisa memberikan apa pun yang kau inginkan," bisik Rendi setelah bibir keduanya terlepas dari pagutan masing-masing. "Apa pun."
__ADS_1
Dua tangan Rendi menangkup kedua pipi Rosella yang mulus tanpa cacat sedikitpun. Digerakkan tangan kanannya untuk merapikan anak rambut Rosella yang menjadi sedikit berantakan akibat sentuhan-sentuhannya beberapa saat yang lalu.
Kedua tangan Rosella terulur, kemudian melingkar manja di leher Rendi. Dengan sengaja ia mencondongkan wajah sembari menekan tengkuk Rendi agar lebih mendekat dan menunduk. Diberikannya sebuah ciuman panjang pada bibir laki-laki berkumis tipis itu.
"Aku sudah melangkah sejauh ini, Ren," ucap Rosella di akhir ciumannya, yang lebih mirip sebagai bisikan lirih. "Semua sudah kepalang tanggung. Aku tidak akan mundur."
Rendi terdiam mendengar ucapan Rosella. Wajah lembutnya tampak berubah mengeras dengan kedua tangan terkepal erat di kedua sisi. Perlahan ia bangkit dari posisi duduknya di samping wanita itu.
"Sekali lagi kuperingatkan padamu, Sella. Sudahi semua permainan ini. Kau hanya perlu berada di sisiku. Itu saja." Rendi kembali angkat bicara setelah keduanya saling diam dalam beberapa saat.
"Kau sendiri yang menyuruh kami untuk masuk ke dalam kehidupan Endo. Kenapa sekarang kau juga yang berkeras memaksaku untuk meninggalkannya?"
"Tapi aku tidak menyuruhmu untuk jatuh cinta padanya, brengsek!" jawab Rendi cepat dengan suara meninggi dan tatapan tajam tertuju pada wanita yang masih duduk di sudut sofa itu.
Rosella terkesiap. Ia terkejut, tak menyangka laki-laki yang selalu lembut dan royal padanya itu bisa bersikap begitu kasar.
"Memangnya apa urusannya denganmu?" sahut Rosella sembari bangkit berdiri. "Kau pernah menjadi kekasihku. Tapi bukan berarti kau berhak mengatur hidupku."
"Hentikan omong kosongmu itu, Sella! Tentu saja aku berhak, karena kau adalah milikku. Kau dan bayimu itu adalah milikku."
"Ya Tuhan, mengertilah, Ren," tukas Rosella kesal. "Bangun dan terimalah kenyataan bahwa Endo lah ayah dari anak ini," lanjutnya sembari menunjuk ke arah perutnya sendiri. "Bukan kau."
"Aku adalah ayah dari bayi yang kau kandung itu," sahut Rendi. "Apa pun yang terjadi aku tidak akan pernah memberikannya pada orang lain. Aku tidak akan membiarkanmu memanfaatkannya untuk menjerat Endo."
"Kenapa? Bukankah kehancuran Endo adalah satu-satunya hal yang kau inginkan?" tanya Rosella. "Dengan aku menyelinap masuk ke dalam kehidupannya, akan lebih mudah bagiku untuk menghancurkannya. Kau tahu? Saat ini dia sedang meratapi pernikahannya yang terancam akan gagal. Dalam kerapuhan seperti ini akan lebih mudah bagiku untuk mengendalikan dan menghancurkannya."
"Jika kalimatmu itu kau ucapakan pada Bayu, maka dia akan percaya dan dengan senang hati mendukungmu. Tapi tidak denganku."
"Apa maksudmu?"
"Kau salah jika mengira bahwa kehancuran Endo adalah hal terbesar yang kuinginkan. Karena pada kenyataannya ada hal lain yang kuinginkan di dalam hidupku," jawab Rendi. "Kau lah hal terbesar itu, Sella."
"Hentikan omong kosongmu, Rendi," hardik Rosella.
"Aku tahu, kau mencintainya, bukan?" Rendi menatap tajam ke arah Rosella. "Hah, brengsek! Bahkan hanya dengan melontarkan pertanyaan seperti ini pun sudah cukup membuat hatiku kesal dan terasa sakit," umpatnya tajam.
"Tentu saja salah!" bentak Rendi spontan. "Dia adalah targetmu. Artinya dia adalah musuhmu," lanjutnya. "Bagaimana mungkin kau jatuh cinta pada musuhmu sendiri!"
"Aku bahkan hanya manusia biasa yang tak bisa memilih pada siapa aku akan jatuh cinta," sahut Rosella dengan suara parau.
Keduanya terdiam untuk beberapa saat.
"Baiklah, aku keluar dari permainan ini." Akhirnya Rosella kembali bersuara dengan tenang. "Tapi aku tetap akan berada di sisi Endo dengan atau tanpa paksaan."
"Dan aku akan menggunakan hakku sebagai ayah dari janin yang kau kandung itu," sahut Rendi tak kalah tenang.
"Apa kau sudah gila?!" teriak Rosella frustasi. "Tidak, Ren! Tidak!"
"Jangan melewati batas, Rosella!" Rendi membalas dengan bentakan.
"Memangnya kenapa?" tanya Rosella menantang. "Memangnya kenapa jika dia memang bukan ayah dari bayi ini? Memangnya kenapa jika kau adalah ayah dari bayi ini? Memangnya kenapa jika aku lebih memilih dia untuk menjadi ayah dari bayi ini?"
"Kau benar-benar keterlaluan, Rosella!"
"Lakukan apa pun yang kau mau," sahut Rosella. "Aku akan tetap mempertahankan anak ini untuk memiliki Endo. Aku pun juga tidak akan membiarkanmu merasuki pikiran Endo dan juga anak ini kelak."
Rosella langsung melenggang pergi setelah menyelesaikan kalimatnya. Sementara Endo keluar dari persembunyiannya setelah yakin wanita itu benar-benar ke luar dari rumah itu.
"Wow, benar-benar adegan yang mengesankan," komentar Endo begitu sampai di hadapan Rendi.
Mendengar suara yang asing di rumah itu, Rendi segera mendongak, memandang ke arah pemilik suara.
"Kau?" Raut bingung sekaligus terkejut menghias wajah Rendi. "Bagaimana kau bisa berada di sini?"
"Tentu saja bisa," jawab Endo dengan begitu santai. Bahkan ia menyunggingkan senyum hangat di kedua bibir dengan kedua tangan tersimpan di dalam saku celana. "Tiga orang penjagamu sedang bersantai memejamkan mata.
__ADS_1
"Sedang apa kau di sini?"
"Aku? Aku tadi hanya sedang mengikuti wanita yang mengaku sedang mengandung anakku saja," jawab Endo apa adanya. "Sejujurnya aku tak tahu bahwa kau memiliki rumah di sini," lanjutnya. "Atau jangan-jangan hanya kau dan wanita itu saja yang tahu?"
Rendi diam tak menjawab, hanya menatap malas saja ke arah tamu tak diundang yang kini tengah berdiri di hadapannya.
"Selama ini hanya ada nama Carlos dan Bayu yang muncul di ponselnya. Tapi entah kenapa hari ini tadi ada satu nama baru yang muncul. Mungkin aku memang sedang beruntung," ucap Endo. "Sweetbear. Sungguh nama aneh yang membuatku penasaran dan merasa harus menyelidikinya. Tak kusangka penyelidikanku berakhir padamu."
Rendi menarik nafas ringan, kemudian kembali mengjembuskannya dengan kasar.
"Tadinya kupikir janin dalam perutnya itu adalah anak Bayu. Tapi ternyata aku salah besar. Dia benar-benar menyimpanmu dengan sangat rapi. Sialan!"
Rendi tetap diam tak menanggapi.
"Kenapa kau diam? Kau sedang pusing memikirkan kenyataan bahwa kau akan kehilangan anakmu?"
Endo beringsut pelan, kemudian melangkah pelan menuju sofa.
"Jelas-jelas kaulah ayah dari bayi itu. Tapi dia menginginkan aku yang menjadi ayahnya. Hah, bear-benar konyol wanita itu."
Endo kembali berucap setelah duduk dengan nyaman di sudut sofa, tempat di mana Rosella menghenyakkan pantatnya beberapa saat yang lalu.
"Solusinya mudah. Bersaksilah untukku. Setidaknya kau telah berusaha untuk mempertahankan anakmu dan juga wanita yang kau cintai."
Mendengar ucapan Endo, spontan Rendi menoleh. Dengan ekspres kesal bercampur heran ia kembali menatap laki-laki yang kini tengah duduk santai dengan ponsel di tangan kiri.
"Kenapa? Kau heran bagaimana aku bisa tahu perasaanmu padanya? Aku tahu kau telah menyimpan perasaanmu itu padanya semenjak di bangku SMA. Bukankah dia itu adik kelas kita dulu? Dia masih duduk di kelas satu saat kita sudah di kelas tiga."
"Kau mengenalnya?"
"Dulu rambutnya selalu diekor kuda dengan poni tipis menutup alis. Tak kusangka dia tumbuh menjadi wanita secantik itu," gumam Endo tanpa beban. Kesua netranya bergerak memandang ke sembarang arah.
"Kau mengetahuinya?"
"Dulu aku berusaha untuk mengetahui apa pun tentang teman-temanku. Aku berusaha untuk memahami perasaan mereka. Karena anak yatim piyatu ini benar-benar sudah menganggap mereka sebagai saudara dan keluarga. Sedangkan kau adalah temanku, dan kau adalah saudaraku."
Rendi diam tak menyahut.
"Maaf, aku baru menyadarinya saat awal smester kedua. Kulihat kau sering kali kedapatan mencuri pandang padanya. Bahkan tak jarang aku melihatmu yang tengah menatapnya tanpa berkedip.
Perlahan wajah kesal dan bingungnya berubah pias.
"Kudengar kalian justru semakin dekat setelah hari kelulusan itu. Kemudian kalian menjalin hubungan serius saat kau masih menjadi mahasiswa smester kedua dan dia masih kelas dua SMA. Apa aku benar?"
"Kau memperhatikan semuanya?" tanya Rendi tak percaya.
"Tentu saja. Bukankah kau adalah teman sekaligus saudaraku?"
Endo masih duduk tenang dengan senyum di bibir. Sementara Rendi tampak mulai gelisah dalam posisi tetap berdiri.
"Hah. Aku benar-benar tak percaya, ternyata kaulah jawaban untuk pernikahanku yang hampir dibatalkan ini. Dan lebih tak percaya lagi ternyata kaulah dalang di balik peristiwa penyerangan-penyerapan terhadap diriku selama ini."
Seketika tubuh Rendi menegang. Riak rasa bersalah tergambar jelas di wajahnya.
"Maafkan aku, Endo. Aku ...." Rendi tak kuasa melanjutkan ucapannya.
"Mendengar permintaan maafmu, aku yakin saat ini kau telah menyadari kesalahan yang telah kau lakukan."
Endo bangkit dari duduknya, kemudian berjalan perlahan menghampiri Rendi yang tengah tertunduk.
"Tapi aku tak ingin tahu kenapa kau melakukan semua ini padaku. Sakit sekali rasanya ketika kita menerima penghianatan dari orang yang kita percaya, dan akan terasa semakin sakit ketika kita mengetahui alasan dia melakukannya."
Endo berucap tepat di hadapan Rendi.
"Bersaksilah untukku, setidaknya kau telah melakukan sesuatu untuk mempertahankan dan melindungi orang-orang yang kau cintai. Selain itu kau pun tetap bisa menjadi Sweetbear-nya. Walau tanpa kesaksianmu pun aku sudah bisa membuktikannya sendiri," ucap Endo sembari memperlihatkan video rekaman pada ponselnya. "Dan aku tidak akan mengungkit penghianatanmu padaku."
__ADS_1
Setelah menyelesaikan kalimat terakhirnya Endo segera berbalik dan bergegas pergi meninggalkan ruangan itu tanpa pamit.
BERSAMBUNG ...