
Pukul dua dini hari, Endo keluar kamar dengan setelan kasual. Kaos hitam, levis hitam dan dipadu dengan jaket baseball biru melekat sempurna di tubuh tegapnya. Langkah lebarnya tampak terburu-buru menuruni anak tangga, kemudian berjalan ke luar rumah menuju mobil yang terparkir di sudut halaman. Tanpa membuang waktu segera dikendarai mobil kesayangannya dan bergegas memacu dengan kecepatan tinggi setelah ke luar melewati pintu gerbang setinggi dua meter itu.
Sepuluh menit kemudian, mobil memasuki basement sebuah hotel berbintang. Tanpa membuang waktu, Endo segera memarkir mobilnya, turun dan berjalan menuju lift. Tak membutuhkan waktu lama, ia telah keluar dari bilik lift di lantai empat. Dengan langkah lebar diayunkan kaki panjangnya menuju kamar 4301. Begitu sampai di depan pintu, tangan kanannya terulur menekan tombol putih di daun pintu. Lima detik kemudian pintu terbuka.
Seorang wanita cantik berbalut dress merah semi transparan membukakan pintu dengan senyum manis menghias bibir seperti biasanya. Wanita itu memegang gelas kaca berisi cairan bening di tangan kiri. Sementara tangan kanannya segera terulur menarik mesra lengan kiri Endo dengan lembut agar segera turut masuk ke dalam kamar.
"Lama sekali." Wanita itu mulai bersuara setelah pintu kembali terkunci rapat. "Kemana saja?" Kini senyum di bibirnya mulai pudar.
"Maaf, Gabby. Ada sedikit urusan yang harus kuselesaikan," sahut Endo sembari menerima gelas yang disodorkan padanya. Sudut bibirnya tertarik ke atas saat mendapati bekas lipstik berbentuk bibir di tepian mulut gelas yang dipegangnya. Diletakkannya gelas bening itu di atas meja.
"Aku menunggu cukup lama," cicit Gabby dengan wajah masam. "Jika bukan kau, sudah kutinggalkan kamar ini sejak satu jam yang lalu, lanjutnya.
"Maaf," sahut Endo sembari mengusap pipi halus Gabby dengan lembut.
Gabby diam tak menyahut. Hanya tangannya bergerak dengan cekatan membantu Endo melepas jaket yang membalut tubuh tegapnya. Sesaat tangan itu terhenti dengan mata terpejam saat wangi maskulin terasa menguar menelusup ke dalam indera penciumannya.
"Aku membawa sesuatu untukmu," bisik Endo di telinga Gabby, setelah wanita itu selesai dengan aktifitasnya.
"Apa?" tanya Gabby penasaran. Dilemparkannya jaket dalam genggamannya ke atas tempat tidur king size secara asal-asalan.
Endo melangkah pelan menjauhi wanita cantik berlipstik merah itu, kemudian menghenyakkan pantat dengan nyaman di sofa pada sudut ruangan. Tangan kanan laki-laki itu terulur menyodorkan kotak persegi pada Gabby yang telah turut duduk merapat di sisinya.
"Coklat?" tanya Gabby dengan kening berkerut saat menerima hadiah dari laki-laki yang telah dinantinya sejak satu jam yang lalu. "Kau pikir aku remaja labil yang sedang dimabuk cinta?" tanya Gabby lagi tak habis pikir. "Aku lebih menyukai uangmu dari pada coklat ini," sungut Gabby, namun entah mengapa tetap terlihat cantik di mata Endo.
Endo tersenyum geli menikmati wajah kesal wanita di sisinya itu. Entahlah, apa pun yang dilakukan dan diucapkan wanita itu padanya tak pernah bisa membuat laki-laki berwajah bule itu marah.
"Hahaha ... kau sungguh menggemaskan." Tawa Endo berderai. Dibelainya rambut wanita yang tengah dudu di sisinya itu dengan lembut.
Gabby beranjak dari duduknya, berjalan ke arah lemari kecil tak jauh dari sofa. Diambilnya satu botol gelap dan satu gelas kaca yang sama persis dengan miliknya, kemudian berjalan pelan kembali menghampiri Endo.
"Kenapa baru sekarang kau menanyakannya?" tanya Gabby sembari menuangkan cairan bening ke dalam gelas. "Kau terlalu lamban," lanjutnya lagi sembari menyodorkan gelas berisi separuh minuman itu pada laki-laki di hadapannya.
Endo menerima gelas itu tanpa menyahut ucapan Gabby.
"Bagaimana jika ternyata dia bertujuan untuk membunuhmu?" Gabby kembali berucap dengan wajah kesal. "Kau pasti sudah lewat saat ini!"
"Kau mengkhawatirkanku?" tanya Endo dengan seringai di bibir.
"Bukan kau, tapi pundi-pundi uangku yang kukhawatirkan," sahut Gabby sembari meraih gelasnya sendiri, kemudian kembali mengisinya dengan cairan dari botol yang sama.
"Kenapa kau begitu jujur padaku? Menyebalkan!" sungut Endo. "Kau telah menyakiti hatiku yang terdalam!" lanjutnya dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat.
Gabby diam tak menyahut. Hanya tatapan jengah yang dihunuskannya secara terang-terangan. Tak ada lagi senyum serta gaya lembut dan elegan yang biasa ditunjukkan pada setiap tamunya. Namun tak ayal, wanita itu segera kembali duduk merapat di sisi Endo.
"Disan sudah menyelidiki semuanya sejak awal. Namun entah mengapa aku ingin mendengarnya sendiri dari mulutmu."
"Katakan saja bahwa kau memang ingin berkencan denganku," sahut Gabby sekenanya.
Endo kembali tersenyum geli dengan ucapan wanita yang sebaya dengan dirinya itu.
"Apa yang ingin kau tahu?" tanya Gabby kemudian, setelah menyesap minumannya.
"Semua yang kau tahu," sahut Endo sembari memainkan gelas yang dipegangnya di tangan kanan.
"Malam itu dia datang bersama seorang laki-laki." Gabby memulai ceritanya. "Sepertinya laki-laki itu adalah ayah tirinya."
Endo diam tak berkomentar. Hanya tangan kanannya yang masih terus memainkan gelas minumannya perlahan.
"Aku tak begitu yakin, tapi dia mengaku sebagai ayahnya. Kau pikir ayah macam apa yang tega menjual anaknya sendiri?"
Perlahan Endo menyesap minumannya dalam diam. Perhatiannya tetap fokus pada ucapan dan gestur yang ditunjukkan oleh wanita cantik di sisinya itu.
"Paola membayarnya dengan harga mahal."
__ADS_1
Dengan gerakan pelan Gabby kembali menyesap minumannya, sembari menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulut Endo. Sementara tangan laki-laki itu bergerak, meletakkan gelasnya di atas meja.
"Seratus juta."
Gabby kembali berucap setelah menunggu beberapa saat dan yang ditunggu tetap diam tak bersuara.
"Kau heran mengapa dia semahal itu?" tanya Gabby, yang sebetulnya tak membutuhkan jawaban dari laki-laki bermata biru itu.
"Cantik, mulus, dan masih bersegel," ucap Gabby. "Memangnya apa lagi?"
Tangan Gabby terulur. Tangan dengan jari-jari bercat kuku merah itu meraih kotak coklat yang tergeletak di atas meja. Sementara tangan Endo mengambil alih gelas milik Gabby dan meletakkannya bersisian dengan gelasnya sendiri.
"Maka tak heran jika kau harus menebusnya dengan angka yang begitu tinggi," gumam Gabby sembari membuka bungkus coklat dengan jemari lentiknya. "Kudengar laki-laki itu mendapatkan akses dari Anton."
Gabby menyuapkan satu bulatan coklat ke dalam mulutnya.
"Lalu malam itu, apa yang sebenarnya terjadi?" Akhirnya Endo angkat bicara.
"Dia mencoba kabur saat harus melayani tamu pertamanya," jawab Gabby sembari mengulum, kemudian mengunyah pelan coklat yang melumer di mulutnya.
"Dan kau ikut repot-repot mengejarnya?" tanya Endo dengan seringai di bibir.
"Kau tahu sendiri bukan, saat ini aku adalah anak kesayangan Paola," sahut Gabby. "Aku harus bisa menjilat dan membuatnya senang jika ingin tetap bertahan di sisinya," lanjutnya. "Tapi aku curiga, sepertinya ada seseorang yang sengaja menempatkannya di rumahmu. Aku merasa ...."
Tiba-tiba Gabby menghentikan ucapannya, kemudian memandang Endo dengan tatapan heran.
"Kenapa enak sekali?" tanya Gabby akhirnya. "Di mana kau membelinya?"
"Tidak jauh dari sini," jawab Endo. Aku mendapatkannya dengan harga diskon saat membeli rokok di mini market tadi," lanjutnya enteng.
"Apa?! Hanya sekotak coklat, dan itu pun dengan harga diskon?" Kedua mata Gabby terbelalak kesal. "Hah, kau sungguh menyebalkan! Pantas saja tak ada satu pun wanita yang mau denganmu! Dasar laki-laki menyebalkan!"
Tawa laki-laki berwajah bule itu kembali berderai mendapati Gabby yang mengumpat kesal karena tak dianggap spesial oleh seorang Endo Devon Atmaja.
___
Pukul satu dini hari, Endo memacu mobilnya di tengah jalanan sepi dengan kecepatan tinggi. Di kejauhan tampak olehnya dua buah mobil berhenti di tepi jalan. Beberapa orang turun dari dalam mobil, kemudian berpencar ke segala arah.
"Paola," gumam Endo tanpa mengurangi, apa lagi menghentikan laju mobilnya.
Mobil Endo terus berjalan dengan kecepatan tinggi meninggalkan Paola dan beberapa anak buahnya yang sepertinya tengah mencari-cari sesuatu di sekitar tempat yang dilaluinya itu.
"Ciiit ...!" Bunyi decitan rem terdengar cukup kencang saat mobil Endo berhenti mendadak di tengah perjalanan. Mata sipit laki-laki dua puluh delapan tahun itu membulat sempurna saat dilihatnya seorang gadis menghadang laju mobilnya di tengah jalan. Tanpa berkata apa pun gadis itu langsung melompat masuk ke dalam mobil kap terbuka yang dikendarai Endo.
"Ayo cepat jalan!" bentak wanita itu saat Endo tak juga menjalankan mobilnya. Ada intonasi takut dan cemas terselip di sana.
Endo segera tancap gas tanpa menyahut sepatah kata pun. Diliriknya wanita yang tengah duduk di jok sebelahnya itu. Cantik, satu kata yang terucap dalam benak Endo. Dandanannya tak begitu tebal, sehingga tak mampu menyembunyikan wajah pucat pasinya saat itu. Namun tetap saja, gurat kecantikan tergambar jelas di wajahnya. Endo menduga tak sedikit laki-laki yang tertarik pada gadis itu. Ditambah lagi, mini dress berpotongan rendah yang hanya mampu menutupi tak lebih dari separuh pahanya itu, pasti dapat membuat para laki-laki hidung belang ingin segera memilikinya.
"Ciiit ...!" Bunyi decitan rem kembali terdengar.
Endo kembali menginjak rem secara mendadak saat tiba-tiba saja dua mobil hitam berhenti di tengaj jalan menghalangi laju mobilnya.
Beberapa orang turun dari dalam mobil, berjalan mendekat mengitari mobil Endo. Seorang wanita bergaun hitam dengan dandanan glamor turun belakangan. Sebatang rokok terjepit sempurna di antara jari tengah dan telunjuk kiri. Menilik dari lekuk tubuh dan wajahnya, wanita itu masih berusia kisaran empat puluhan tahun. Namun siapa sangka jika sebenarnya usia wanita itu telah mencapai kepala lima.
"Paola," gumam Endo pura-pura terkejut dengan keberadaan wanita itu. "Ada apa ini?"
"Dia anakku," seru Paola sembari berjalan mendekat. "Aku telah mencarinya sedari tadi," lanjutnya.
Endo diam tak menyahut. Hanya melirik gadis yang tengah duduk di sebelahnya dengan ekor matanya. Gadis itu tampak pucat pasi dan gelisah di sisinya.
"Terimakasih kau telah menjaganya untukku," ucap Paola lagi dengan senyum di bibir. "Ayo, sayang, kita pulang," ucapnya ditujukan pada gadis di sebelah Endo.
Endo hendak turun dari mobil, namun diurungkan niatnya saat tiba-tiba terasa tangan lembut namun dingin milik gadis di sebelahnya menggenggam erat tangan kokohnya.
__ADS_1
"Aku mohon, tolong aku, Tuan," bisik wanita itu dengan suara bergetar.
Perlahan Endo mengurai genggaman gadis itu.
"Dia anakmu?" tanya Endo sembari turun dari mobil. "Aku menginginkannya," lanjutnya sembari berjalan mendekat dengan senyum tenang menghias bibir.
"Aku memasang harga yang tinggi untuknya," sahut Paola sembari mengepulkan asap rokok dari mulutnya ke sembarang arah.
Tak ingin berlama-lama, tanpa banyak kata Endo segera mengeluarkan ponselnya. Disentuh dan diketuknya layar benda pipih itu beberapa kali.
"Kuharap sebanding dengan permainannya nanti," ucap Endo dengan seringai di sudut bibirnya sembari mengulurkan ponselnya kepada Paola.
Sebuah senyuman muncul di bibir merah Paola. Diraihnya benda pipih itu dari tangan Endo. Sesaat kemudian segera dikembalikannya ponsel itu setelah mengetik beberapa digit angka pada layar. Tanpa berpikir ulang, Endo langsung mengetuk ikon sent.
"Dia kini menjadi milikmu sepenuhnya," ucap Paola dengan seringai menghias bibir. "Ingat, sayang," seru Paola pada gadis yang masih duduk ketakutan di dalam mobil Endo. "Ini belum termasuk hutang-hutang ayahmu padaku."
Tatapan Paola beralih pada Endo yang hanya berdiri diam sembari mengulas semyum di bibir.
"Semoga harimu menyenangkan bersamanya," ucap Paola dengan seringai puas pada Endo. "Selamat bersenang-senang," lanjut wanita itu sebelum berbalik dan beranjak masuk ke dalam mobil diikuti oleh seluruh anak buahnya.
Tanpa membuang waktu, Endo segera kembali ke dalam mobil.
"Terimakasih, Tuan," ucap gadis itu masih dengan wajah pucat pasi. "Terimakasih banyak," ucapnya lagi. "Saya berjanji akan mengganti uang Anda."
"Aku butuh sebuah nama," sahut Endo. "Bagaimana aku harus memanggilmu?" tanya Endo semnari menyalakan sebatang rokok.
"Rosella," jawab gadis itu cepat. "Nama saya Rosella, Tuan."
"Baiklah, Rose." Sesaat Endo menghela nafas pelan. "Panggil aku Endo."
"Baik, Tuan Endo."
"Tanpa tuan," ralat Endo cepat.
"Baiklah ... Endo."
"Kemana aku harus mengantarmu?" tanya Endo to the point.
"Saya tinggal di pinggiran kota," jawab Rosella dengan wajah tertunduk.
"Baiklah, aku akan mengantarmu."
"Di sana ada ayah tiri saya," sahut Rosella cepat.
"Lantas?" tanya Endo singkat.
"Saya tidak ingin pulang. Saya takut ayah akan menyiksa saya lagi."
Endo sedikit beringsut dari duduknya, menatap gadis itu secara intens dari ujung rambut hingga ujung kaki. Baru disadarinya gadis itu melarikan diri tanpa alas kaki.
"Lalu kemana aku harus mengantarmu?"
Bukan menjawab, gadis itu justru turut beringsut membetulkan posisi duduknya. Kedua tangannya sibuk menaraik-narik ujung dress saat menyadari lebih dari separuh pahanya terekspos di hadapan laki-laki yang baru saja menolongnya.
"Entahlah," cicit gadis itu akhirnya dengan suara parau.
"Kau membuatku bingung," ucap Endo tanpa mengubah posisinya.
"Baiklah, biarkan saya turun di sini saja, Tuan."
"Dan membiarkanmu kembali pada keadaan tak aman?" tanya Endo dengan wajah serius. "Kurasa tidak," lanjutnya sembari melepas jas yang melekat di tubuhnya. Dinyalakannya mesin mobil setelah memakaikan jas itu ke tubuh Rosella. Saat itu juga, mobil segera melesat meninggalkan jalanan sepi.
Tak ada percakapan lagi di antara keduanya. Endo lebih memilih menikmati racikan tembakau dan nikotin di tangan kirinya. Sementara gadis itu, sesekali melirik dalam diam ke arah laki-laki yang tengah mengemudikan mobil dengan gesit. Hanya deru mesin mobil yang menembus dinginnya angin malam menjadi backsound perjalanan mereka.
__ADS_1
Flashback off
BERSAMBUNG ...