LOCK DOWN

LOCK DOWN
Part 21. Echa Hamil?


__ADS_3

"Sudah puas?" tanya Endo dengan seringai di bibir.


Echa membetulkan letak duduknya dalam diam. Wajah cantiknya tampak tertekuk dan begitu masam. Bagaimana tidak? Acara makan bubur ayam siang ini berlangsung tidak sesuai dengan ekspektasinya.


Siang ini Echa ingin sekali makan bubur ayam yang pernah dinikmatinya bersama Endo tempo hari. Walau bukan restoran ataupun rumah makan besar, namun bubur ayam itu memiliki cita rasa yang luar biasa lezat. Padahal tempatnya pun sangat sederhana, hanya sebuah garasi mobil yang disulap menjadi warung makan. Semacam itu lah kira-kira.


Keinginan untuk kembali menikmati bubur ayam lezat itu membuat Echa rela menahan lapar semenjak dari apartemen Endo. Namun malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Ketika sampai di tempat yang dituju, ternyata tinggal tersisa satu porsi bubur dan satu gelas teh manis.


"Maaf, Mister. Bubur ayamnya tinggal satu porsi," ucap si Nenek pemilik warung dengan mimik wajah sungkan.


Nenek Nonik adalah seorang perempuan berusia lima puluh lima tahun. Beliau tinggal bersama putra bungsunya yang berprofesi sebagai seorang tenaga pengajar. Sebetulnya Fardan, sang putra, berulang kali meminta agar Nenek Nonik banyak beristirahat dan bersenang-senang saja di rumah, tidak perlu merepotkan diri berjualan bubur seperti ini, karena secara finansial, Fardan tidak pernah kekurangan apabila hanya untuk memenuhi kebutuhan ibunya saja.


Namun mau bagaimana lagi, Neni memaksa dengan alasan bosan berdiam diri di rumah. Tak urung, Fardan pun mengizinkan dengan catatan harus ada minimal tiga orang yang membantu berjualan agar ibunya tidak kelelahan dan kesibukan ini benar-benar hanya menjadi sekedar kegiatan pengusir rasa bosan saja. Akhirnya disulap lah garasi tak terpakai itu menjadi tempat berjualan milik Nenek Nonik.


Endo mengetahui cerita itu dari Nenek sendiri. Mereka memang bisa dibilang akrab karena Endo selalu datang berkunjung setiap seminggu sekali, sehingga beliau hafal padanya. Lagi pula, wajah bule seperti Endo pastinya sangat mudah diingat di kawasan itu.


"Nenek, harus berapa kali kuingatkan? Panggil Endo saja," sahut Endo dengan senyum di bibir.


"Iya, Nak Mister Endo," timpal Nenek Nonik. "Aduh, jadi salah kan?"


Endo tertawa pelan mendapati Nenek Nonik yang kesal kepada dirinya sendiri.


"Nona ini kekasih Nak Endo?" tanya Nenek Nonik yang dijawab dengan bola mata Echa yang terbelalak di tempatnya.


"Cantik 'kan, Nek?" tanya Endo dengan senyuman di bibir.


"Iya, cantik sekali," jawab si nenek dengan senyum hangat ke arah Echa. "Siapa namanya, Nak?" tanyanya kemudian.


"Echa, Nek," jawab Echa sopan sembari mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


"Wah, manisnya," pujinya melihat Echa yang begitu lembut dan sopan padanya. "Yang seperti ini, jangan dilepaskan loh, Nak Endo. Susah nyari yang sama."


Endo tersenyum jumawa. Sementara Echa melirik salah tingkah ke arah Endo dengan pipi merona.


"Nak Echa, kalau sudah bosan dan butuh pengganti, Nenek punya anak laki-laki yang tampan. Dia seorang guru. Namanya Fardan."


"Nenek, apa-apaan ini?!" hardik Endo cepat.


Nenek Nonik tertawa renyah mendengar nada protes dari mulut Endo. Sementara Echa turut melempar tawa garing yang dipaksakan.


"Pas Nak Endo datang bersama kekasihnya, malah pas habis juga buburnya. Hah, sayang sekali, ya," ucap nenek, bertepatan dengan datangnya seorang pelayan menyajikan satu porsi bubur ayam dan satu gelas teh manis. "Nah, buburnya sudah datang. Selamat menikmati, ya. Nenek tinggal ke belakang dulu."


"Ok, Nek," sahut Endo sembari meraih mangkok bubur dan langsung disuapkannya ke dalam mulut.


"Buat Echa mana, Kak?" tanya Echa penuh harap.


Endo buru-buru menyendok bubur dan segera disuapkannya ke arah Echa.


"Ih, itu kan sendok bekasnya Kak Endo," komentar Echa sembari bergidik.


"Memangnya kenapa?" tanya Endo polos. "Ya sudah kalau tidak mau." Satu sendok bubur itu pun langsung masuk ke dalam mulut Endo.


Echa menatap aktifitas makan Endo sambil menelan air liur. Bukan hanya membayangkan kelezatannya saja, tetapi juga tersiksa karena perutnya yang sudah sangat lapar.


"Untuk Echa saja, ya, Kak," rengek Echa.


"Enak saja," sahut Endo cepat. "Aku juga lapar," lanjutnya. "Kau sudah mengacaukan jadwal makan siangku," lanjutnya. "Lupa?"


"Apes banget sih gue," keluh Echa dengan gaya bicara remajanya.


Lebih sialnya lagi, Endo benar-benar tak mau mengalah untuk memberikan bubur dan teh itu untuknya. Padahal perutnya sudah benar-benar melilit minta diisi. Akhirnya mau tak mau Echa membuka mulutnya dan pasrah menerima suapan dari Endo dengan satu sendok yang sama.


Endo tersenyum licik di antara aktifitasnya menyuapi Echa. Walaupun pada akhirnya hanya beberapa sendok saja yang masuk ke dalam perutnya dan hampir satu porsi penuh masuk ke dalam perut Echa, tapi dia merasa sangat senang dan puas bisa membuat gadis di hadapannya yang dengan patuh menuruti apa yang diperintahkannya.


Setelah selesai makan, Endo meraih gelas teh manis, meminum sedikit, kemudian menyodorkannya pada Echa.


"Ih, ini kan bekas minumnya Kak Endo." Echa kembali bergidik.


Bukankah makan dengan satu sendok dan minum dari satu gelas yang sama itu sama saja dengan berciuman secara tidak langsung? Begitulah yang ada dalam pikiran Echa.


Lagi-lagi Endo tersenyum licik, mengetahui apa yang ada dalam pikiran gadis itu. Kembali disesapnya teh manis itu dari sisi mulut gelas yang lain.


Echa menoleh ke belakang, celingak-celinguk mencari Nenek Nonik. Lebih baik minum air putih dari pada minum teh manis dari satu gelas yang sama dengan Endo, begitu pikirnya. Namun nihil, tak ada seorang pun di sana.


"Hei, ayolah. Segera minum ini agar perutmu menjadi lebih nyaman," ucap Endo akhirnya. "Asal kau tahu, aku tidak pernah tertarik dengan cara berciuman seperti yang ada di dalam pikiranmu itu. Memangnya apa yang akan kudapatkan hanya dari mencium bekas bibirmu yang menempel di mulut gelas saja?" lanjutnya panjang lebar. "Ya Tuhan, kita bahkan sudah pernah benar-benar berciuman," lanjutnya lagi dengan senyum jahil.


Echa diam tak menjawab, hanya rona merah di pipi yang mewakili apa yang dirasakannya saat ini. Sementara Endo diam menikmati wajah Echa yang justru tampak semakin menggemaskan saat ini. Tiba-tiba seringai licik muncul di sudut bibir Endo.


"Hei, apa kau ingin tahu cara berciuman seperti apa yang ada dalam pikirtanku saat ini? Apa kau lebih tertarik meminumnya langsung dari mulutku saja?"


Endo meraih gelas teh manis di hadapannya, kemudian buru-buru bangkit dan berjalan mendekati gadis cantik yang tampak mulai panik di hadapannya itu.


Dengan sekali gerakan Echa langsung menyambar gelas dari tangan Endo dan segera meminumnya hingga tandas.

__ADS_1


"Astagah ... sebegitu mesumnya kah pikiranmu hingga harus segugup ini membayangkannya?" ledek Endo. "Lagi pula aku tidak akan mungkin melakukannya di tempat umum seperti ini," lanjutnya sambil terus berjalan melewati Echa. Mencari keberadaan Nenek Nonik untuk membayar bubur ayam yang telah dimakannya.


Echa memejamkan kedua matanya rapat-rapat. Kini bukan hanya pipinya saja yang merona, namun seluruh wajahnya memerah menahan malu sekaligus kesal pada bule yang jelas-jelas ia tahu bisa melakukan hal memalukan dalam bentuk apapun, termasuk menciumnya di tengah pasar ikan sekali pun.


Lalu sekarang di sinilah mereka berada. Berakhir dengan duduk tanpa bicara di kursi masing-masing. Echa diam karena masih kesal dengan perlakuan Endo waktu di warung bubur ayam tadi. Sementara Endo diam karena tangannya tengah sibuk mengobrak-abrik isi dalam dashboard kecil di mobil. Entah apa yang sedang dicarinya.


Sesaat kemudian tangan Endo tampak memegang sebungkus biskuit selai kacang. Ternyata itulah yang dicarinya tadi. Diletakkannya biskuit itu di pangkuan Echa.


"Buka," perintah Endo sembari menyalakan mesin mobil, kemudian segera membawa mobilnya ke badan jalan dan memacunya dengan kecepatan sedang.


Mata Endo melirik ke arah Echa. Gadis itu benar-benar membuka bungkus biskuit seperti yang diperintahkannya, walaupun masih dengan wajah cemberut.


"Suapkan padaku," perintah Endo lagi.


Echa merasa enggan melakukan apa yang Endo perintahkan kali ini. Namun ternyata ia lebih enggan untuk berdebat lagi dengan laki-laki yang tengah berkonsentrasi dengan roda setir itu. Akhirnya tangan kanan Echa pun terulur, menyuapkan kepingan biskuit ke mulut Endo.


"Padahal sudah makan bubur, masih saja makan kudapan seperti ini. Memangnya terbuat dari apa perut Kak Endo itu?" gumam Echa pelan.


"Dari mangkuk besar itu tadi, aku hanya kebagian empat sendok saja. Kau telah menghabiskan jatah buburku. Apa kau tidak merasa?" tanya Endo santai.


Echa terkesiap mendengar ucapan Endo barusan. Ia pun kembali mengingat-ingat sesi makan yang sempat membuatnya kesal tadi. Sesaat kemudian Echa pun nyengir menampilkan deretan gigi putihnya setelah menyadari bahwa yang Endo katakan adalah benar.


"Ini, Kak." Echa kembali menyuapkan kepingan biskuit ke mulut Endo dengan cara yang lebih manusiawi, dan dengan senyum manis tentunya.


"Kau makan dengan begitu rakusnya, seperti tak pernah makan selama setahun saja," komentara Endo sembari melirik gadis mungil di sampingnya. "Maksudku lahap." Endo cepat-cepat meralat ucapannya saat melihat pandangan jengah dari mata Echa. "Aku jadi tidak tega."


"Ada minuman tidak, Kak?" tanya Echa.


"Di jok belakang."


Echa memutar topinya hingga pet berada di belakang kepala. Sengaja dilakukannya akan tak terlepas terbawa angin. Ya, mobil tanpa kap milik Endo ini memang kurang bersahabat dalam situasi seperti ini.


Echa berdiri dari tempat duduknya, kemudian dengan mudah berpindah ke jok belakang. Diambilnya beberapa benda yang menurutnya masuk akal untuk kondisi saat ini, lalu segera kembali ke jok depan. Dibukanya satu botol teh oolong lengkap dengam sedotan putih yang ditemukannya di jok belakang tadi. Diulurkan tangannya untuk memudahkan Endo minum.


"Kak Endo menyimpan benda-bemda seperti ini di dalam mobil?" Tangan Echa sibuk membuka bungkus roti yang juga ditemukannya di jok belakang.


"Rosella yang membelinya. Mungkin dia lupa menurunkannya," sahut Endo.


"Rosella?" gumam Echa pelan, nyaris tanpa suara. Entah mengapa ada rasa penasaran yang tak nyaman mendengar Endo menyebut nama itu. Ingin rasanya menanyakan siapa wanita itu. Namun diurungkan niatnya, mengingat di antara mereka tidak ada ikatan apa pun yang memberinya hak untuk bertanya. Tangan echa kembali terulur menyuapi Endo dengan roti keju.


"Kak, di depan berhenti sebentara, ya." Tiba-tiba Echa memberi interuksi.


"Ada apa?" tanya Endo sembari melambatkan laju mobil.


Mobil pun menepi, kemudian memasuki pelataran sebuah ruko kecil. Endo mematikan mesin setelah memarkir mobil di tempat yang teduh. Diraihnya ponsel dan dompet yang tergeletak dia atas dashboard sebelum turun dari mobil.


"Tidak. Kak Endo tunggu di sini saja." Echa menghentikan gerakan Endo saat ingin turun dari mobil.


"Kenapa?" tanya Endo bingung.


"Echa hanya sebentar."


"Lama pun tidak masalah, aku akan menemanimu."


"Ayolah, jangan seperti anak kecil. Kak Endo di sini saja. Lihatlah, banyak gadis cantik berjalan lewat sini. Kak Endo bisa sekalian cuci mata."


"Apa-apaan anak ini," sungut Endo. "Sebenarnya apa yang akan kau lakukan di sana? Hah, ruko itu benar-benar mencurigakan," komentar Endo sembari membidikkan kamera ponselnya ke arah ruko bertepatan dengan Echa yang melompat turun tanpa membuka pintu mobil.


"Bar-bar," komentar Endo dengan mata mendelik.


"Hehehe ...." Echa hanya nyengir kuda sembari melangkah mundur, kemudian berbalik dan melangkah menjauh meninggalkan Endo yang tersenyum geli dengan tingkah polah gadis itu.


Sebenarnya Endo bukannya tak tahu bahwa gadis itu sengaja melompat agar perhatiannya teralihkan. Agar ia tak lagi ngotot untuk mengikuti gadis itu ke ruko. Namun sudahlah, toh Endo bisa mengawasinya dari dalam mobil. Begitu pikirnya.


Lima menit kemudian, sesuai janjinya, Echa telah kembali dengan senyum manis di bibir.


"Cepat sekali," komentar Endo dengan kening terkernyit.


Tanpa banyak cakap, Echa langsung masuk ke dalam mobil, dan Endo segera menginjak pedal gas.


"Sebenarnya apa yang kau lakukan di sana?" Endo menoleh dengan dua tangan tetap setia pada roda kemudi. Tampak rasa penasaran tergambar jelas di raut wajah tegasnya.


"Ponsel Echa rusak." Echa memutuskan untuk menceritakan yang sebenarnya pada Endo, dari pada laki-laki itu keluar tanduk karena penasaran. Begitu pikirnya.


"Terus?"


"Ya Echa kasih ke Wimplak supaya dibetulkan."


"Wimplak?"


"Teman."


"Bagaimana bisa rusak?"

__ADS_1


"Waktu insiden di penampilan terakhir Echa kemarin ... ponsel Echa sempat tertimpa waktu jatuh, karena Echa masukkan ke kantong rok bagian belakang. Kata Wimplak sih tidak begitu parah, tapi harus ditinggal dulu karena ada komponen yang harus diganti." Echa menjelaskan panjang lebar.


"Kenapa harus menunggu begitu lama?" komentar Endo. "Merepotkan sekali," lanjutnya. "Kita beli ponsel baru untukmu," putus Endo kemudian.


"Tidak perlu, Kak. Echa sudah terlanjur nyaman memakai ponsel itu."


"Sudahlah, aku tidak akan jatuh miskin hanya karena membelikanmu ponsel seharga puluhan juta."


"Iya, tapi ponselnya masih bagus. Lagi pula besok sore sudah bisa Echa ambil lagi."


"Kenapa kau bersikeras?" Endo semakin penasaran. Ia tahu betul bahwa membeli ponsel seharga puluhan atau bahkan ratusan juta bukanlah hal yang sulit bagi gadis itu. Namun kenapa gadis itu justru lebih memilih memperbaikinya saja?


"Banyak kenangan tersimpan di ponsel itu, Kak," jawab Echa sembari menunduk dalam. "Ponsel itu pemberian orang yang spesial di hati Echa."


Tangan Endo mencengkeram erat roda setir. Entah mengapa ada rasa kesal yang tiba-tiba datang hanya karena jawaban sederhana seperti itu.


"Orang yang spesial di hati dia bilang?" gerutu Endo dalam hati.


Endo menoleh ke arah Echa yang duduk tenang di sebelahnya. Gadis itu tampak terdiam dengan wajah sendu. Akhirnya Endo pun memutuskan untuk diam, tak mendebat ucapan Echa barusan.


Dua puluh menit kemudian mobil berhenti di lantai basement sebuah mall.


"Kenapa kita kesini?" tanya Echa setelah turun dari mobil.


"Kita beli beberapa potong baju untukmu," jawab Endo sembari melepas topi yang bertengger di kepala Echa dan merapikan rambut panjang yang tampak sedikit kusut karena angin itu.


Keduanya melangkah masuk ke dalam bilik lift menuju lantai 3, tempat dimana outlet-outlet pakaian berada. Mereka berjalan bergandengan layaknya pasangan remaja yang tengah berpacaran, melewati setiap outlet pakaian.


"Kau tidak ingin masuk ke salah satu toko ini?" tanya Endo dengan wajah keheranan, ketika tiba di outlet terakhir.


"Tidak, Kak," jawab Echa singkat.


"Hei, sudah kukatakan bukan, aku ingin membelikanmu baju. Agar kau bisa memakai baju yang terlihat sedikit lebih bagus di tubuhmu, bukan baju kedodoran seperti ini," tukas Endo sembari menatap kaos miliknya yang melekat di tubuh Echa.


"Echa tidak suka belanja, Kak," sanggah Echa. "Echa sangat jarang membeli baju. Bisa dibilang belum tentu setahun sekali Echa beli baju."


"Biar kutebak, baju-baju yang sekarang ada di dalam lemarimu itu, pasti Tante Nida yang mengirimkannya untukmu."


"Bagaimana Kak Endo tahu?"


"Ya Tuhan," keluh Endo dengan wajah tak habis pikir. "Ayolah, Cha ... normallah sedikit."


Endo menggamit pergelangan tangan Echa dan buru-buru menariknya ke salah satu outlet yang menyediakan berbagai macam perlengkapan pakaian wanita. Hanya dalam waktu tigapuluh menit, keduanya telah keluar dari outlet dengan menjinjing empat shopingbag besar di tangan masing-masing.


"Kita kemana lagi?" tanya Echa saat Endo mengajaknya naik ke lantai berikutnya.


Endo tak menjawab, hanya melempar senyum hangatnya saja pada gadis cantik yang berjalan sedikit terseok di sampingnya.


"Baby shop?" gumam Echa. "Kenapa kita ke sini, Kak?" tanya Echa bingung.


"Yang pasti bukan untuk makan bubur ayam," sahut Endo sekenanya.


"Selamat datang di baby shop kami, Ayah dan Bunda. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pramuniaga yang berpakaian serba pink dengan motif Sanrio


"Kami ingin mencari perlengkapan bayi new born," sahut Endo sembari melempar senyum manisnya.


"Oh, tentu saja. Perkenalkan, nama saya Intan. Saya akan membantu Ayah dan Bunda." Sang pramuniaga kembali berucap ramah. "Mari ikut dengan saya."


Endo dan Echa pun menurut saja, mengekor di belakang Intan menuju salah satu sisi toko.


"Hamil berapa bulan, Bunda?" tanya Intan pada Echa.


Echa tergagap mendapat pertanyaan yang baru saja terlontar dari mulut sang pramuniaga cantik.


"Baru satu bulan," sahut Endo tenang.


"Oh, pantaslah badannya masih langsing. Belum terlihat kalau sedang mengandung."


"Ya, begitulah."


"Kalau begitu saya sarankan untuk memilih box bayi warna ini saja, Yah, Bund. Karena kita belum tahu bayinya nanti laki-laki atau perempuan ." Intan berusaha menjelaskan sembari menunjuk box bayi warna biru laut. "Warna ini cocok untuk bayi laki-laki maupun perempuan.


"Ada model yang lain?"


"Tentu saja, Ayah. Mari ikut saya ke sebelah sana."


Echa berdiri terpaku dibuat melongo dengan percakapan dua orang di hadapannya itu. Tanpa sadar tangan kanannya bergerak mengelus perut ratanya yang kini tertutup kaos hitam.


"Siapa juga yang hamil? Huh!" sungut Echa. Namun tiba-tiba mulutnya tercekat, dengan kedua mata membulat sempurna. "Tapi jangan-jangan aku memang hamil? Tadi malam kan aku dan Kak Endo ...."


Seketika mata bulat Echa bergerak liar mencari keberadaan Endo. Tampak jelas adanya kepanikan dan rasa bingung bergelayut di sana.


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2