LOCK DOWN

LOCK DOWN
Part 8. Kenapa Dia Harus Sekeren Itu?!


__ADS_3

"Apa kabar, Cha?" sapa Endo dengan senyum ramah menghias bibir. "Akhirnya kita bertemu lagi setelah lima tahun berlalu," lanjutnya sembari berjalan mendekat.


Echa terdiam tanpa kata. Masih mencerna kenyataan dan fakta apa yang dijumpainya kali ini.


"Ah, tidak. Terlalu lama jika kukatakan lima tahun, sedangkan baru beberapa hari yang lalu tanpa sengaja kita bertemu." Endo kembali bersuara.


Endo berdiri tepat di hadapan Echa. Mata birunya liar menjelajah tiap sisi wajah cantik yang masih berdiri kaku menatap ke arahnya.


"Dan kau menghindariku." Endo kembali bermonolog.


Gadis cantik itu mengerjabkan mata bulatnya beberapa kali, ada rasa bersalah di sana, mengingat peristiwa beberapa hari yang lalu di acara pembukaan restoran baru milik Lucas.


"Disan, katakan pada Novera untuk segera menyiapkan pertemuanku dengan PT. Maju Mundur dua jam lagi."


Suara Endo telah membuyarkan lamunan singkat Echa. Dipandangnya kembali bule bermata biru itu masih dengan tanpa kata.


Disan beringsut, beranjak pergi meninggalkan pasangan yang pernah terlibat hubungan asmara itu untuk temu kangen berdua. Ia pun langsung berlalu kembali ke ruangannya sendiri. Tanpa menemui Novera lebih dulu tentunya. Memangnya pengusaha mana yang dengan konyolnya memberi nama Maju Mundur untuk perusahaannya sendiri?


"Dasar Endo, tak bisa kah kau membuat nama perusahaan yang lebih masuk akal, meskipun hanya fiktif belaka?" gumam Disan dalam hati.


Seperginya Disan, Endo melangkah pelan melewati Echa yang masih terpaku dalam diam di tempatnya.


"Duduklah." Endo mempersilakan Echa setelah dirinya sendiri duduk di kursi kebesarannya.


Echa pun melangkah pelan, menuruti apa kata atasannya itu. Walaupun dengan berat hati, dihenyakkan juga pantatnya pada kursi yang ditunjuk Endo.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Endo setelah Echa tampak duduk dengan nyaman di hadapannya. Kini keduanya duduk saling berhadapan, terpisah oleh meja kerja.


"Baik," jawab Echa singkat.


"Bagaimana dengan Dicky?"


"Baik juga."


"Lantas bagaimana dengan Mama Nida?" Endo masih dengan sabar mencoba menjalin komunikasi dengan gadis di hadapannya.


"Hei, dia itu mamaku," sahut Echa kesal. "Bukan mamamu."


Endo tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya berhasil juga membuat gadis itu bersuara dengan ekspresi selain acuh dan cuek.


"Hei, ayolah ... jangan bersikap semenyebalkan itu," keluh Endo sembari melempar senyum hangatnya. "Sekarang aku ini adalah bosmu."


Ya, laki-laki itu mulai memanfaatkan kekuasaannya. Sedangkan Echa hanya bisa memandangnya dengan wajah masam, menyadarai bahwa pemilik perusahaan ini bukan Aldo, melainkan Endo. Lebih dari itu, Disan telah mengatur pertemuan mereka berdua kali ini.


"Sial!" rutuk Echa dalam hati.


"Aku tak menyangka bisa bertemu denganmu di kota ini. Terlebih di perusahaan ini. Benar-benar suatu kebetulan yang menyenangkan," ucap Endo dengan senyum merekah di bibir.


"Tapi aku tidak," sahut Echa acuh.


"Woah ... masih galak seperti dulu ya," komentar Endo jahil.


Ya, laki-laki itu memang telah memutuskan akan memakai segala cara agar bisa berlama-lama bersama gadis di hadapannya. Walaupun harus dengan cara menjadi sosok yang meneyebalkan sekalipun.


"Aku sudah berubah. Tidak lagi seperti dulu."


"Ya, bisa kulihat," sahut Endo. "Kau tidak lagi kekanakan padaku seperti dulu."


Mulut Echa terkatup rapat mendengar kenyataan yang terungkap dari mulut Endo.


"Dulu ... kau pasti akan langsung meneluarkan sifat manjamu setiap kali bertemu denganku. Hah, aku bahkan harus meluangkan banyak waktu untuk mendengarkan cerita dan celoteh-celotehmu."


Seketika wajah Echa memerah menahan malu. Bagaimana akan mengelak dan menyanggah jika semua itu memang benar adanya?


"Sudahlah, tidak perlu mengungkit-ngungkit masa lalu. Itu bukan hal yang penting," tukas Echa sembari mati-matian menyembunyikan wajah merahnya. "Sekarang katakan padaku untuk apa aku dipanggil kesini," lanjutnya ketus.


"Untuk apa? Tentu saja untuk melaksanakan tugas yang kuberikan. Kau ini kan bawahanku," sahut Endo.


"Cepat katakan, apa tugasku sekarang?"


"Tugasmu sekarang adalah menemaniku mengenang masa lalu kita.


"Hah, dasar tidak berguna!" rutuk Echa mulai kesal kembali. "Begini saja, kembalikan aku ke posisiku semula. Aku akan bekerja dengan baik. Aku akan berusa memberikan yang terbaik untuk perusahaan ini. Biarkan aku membantu Pak Samuel. Lagi pula aku juga sudah terlanjur nyaman bekerja di bawah pengawasannya," jelas Echa panjang kaki lebar.


"Kau menyukainya?"


"Tentu saja aku menyukainya. Lagi pula aku benar-benar tidak mengerti desk job seorang sekretaris pribadi," Echa kembali membuat alasan.


"Kau menyukai Samuel?" ulang Endo tak percaya.


"Hei, tentu saja tidak!" sanggah Echa cepat. "Maksudku aku menyukai pekerjaan itu!" ralat Echa.

__ADS_1


Endo mengulas senyum manis pada gadis di hadapannya itu.


"Hei, sudahlah. Kau tidak perlu segugup itu," ucap Endo dengan seringai di sudut bibirnya. "Jika memang kau menyukainya ... itu bagus. Dia tampan dan mapan."


"Kau benar, mungkin aku akan mulai mendekatinya. Aku akan memberikan kesempatan pada hatiku untuk jatuh cinta padanya," ucap Echa sekenanya.


Kalimat yang menyebalkan. Namun setidaknya Endo jadi tahu bahwa saat ini status gadis itu sedang sendiri.


"Dan sebelum semua itu terjadi, akulah yang akan membuatmu jatuh cinta lagi padaku," sumbar Endo disertai seringai di sudut bibirnya.


"Hei, jangan mimpi!" hardik Echa langsung. "Kau memang pernah menjadi kekasihku. Tapi aku tidak akan mungkin mengulangi kebodohanku untuk yang kedua kali."


Endo tersenyum, kemudian berdiri dari duduknya.


"Baiklah, kau boleh keluar. Tentang apa saja yang harus dan tidak boleh kau lakukan, tanyakan saja pada Novera. Dia akan menjelaskan semuanya padamu," ucap Endo.


Echa pun segera beranjak dari tempat duduknya dan berbalik untuk secepatnya pergi dari tempat itu.


"Hei, sopanlah sedikit padaku," hardik Endo yang berhasil membuat Echa langsung berdiri kaku di tempatnya. "Jangan mentang-mentang pernah menjadi kekasihku lantas kau bisa seenaknya padaku."


Dengan terpaksa Echa kembali berbalik menghadap ke arah atasannya.


"Baik, Pak," ucap Echa sembari berusaha mengangguk sesopan mungkin.


"Bagus," puji Endo disertai senyuman jahil. "Jangan lupa sampaikan pada Novera, hari ini dia terlihat sangat cantik dengan blazer birunya itu."


Echa tak menyahut, hanya kedua tangannya saja terkepal erat, kemudian kembali berbalik dan segera melangkah pergi


"Hei, kenapa kau cemberut begitu?" tanya Novera begitu Echa duduk di balik meja kerjanya


"Kak Endo," sahut Echa. "Sungguh menyebalkan!"


"Kak Endo?" Kening Novera mengernyit bingung.


"Eh?" Echa segera mennyadari ucapanya barusan. "Kak Endo?" Dia bertanya balik.


"Tadi kudengar kau emanggilnya dengan sebutan Kakak," jelas Novera.


"Kau pikir kami sedekat itu? Ayolah, jangan bercanda. Bagaimana mungkin aku menyebut nama atasanku seperti itu?" lanjutnya. "Pak Endo, bukan Kak Endo," ralat Echa penuh penekanan.


"Owh ... tadinya kupikir kalian memiliki hubunga kerabat atau ... yang lain," ucap Novera santai.


"Bagaimana mungkin? Jika aku ini memang kerabatnya, saat ini aku tidak akan mungkin berada di sini," sanggah Echa masih berusaha menahan kesal.


"Tentu saja saat ini aku sedang jalan-jalan keliling dunia jika memang kakakku sekaya itu."


Novera mendelik jengah ke arah Echa yang membalas dengan tatapan kesalnya. Sedetik kemudian, tanpa aba-aba keduanya tertawa terbahak-bahak hingga tak sadar bahwa suara mereka telah mengganggu stabilitas di seantero lantai yang biasanya tenang, bahkan cenderung lengang itu.


Tiba-tiba tawa keduanya terhenti. Meteka segera menunduk, pura-pura sibuk dengan pekerjaan masing-masing dalam diam. Hening. Hanya suara ketukan sepatu beradu dengan granit yang terdengar menggema di seluruh penjuru ruangan.


"Ehem ...!" Terdengar suara deheman yang begitu berat. Endo terus melangkahkan kakinya menuju lift dengan gaya penuh wibawa.


"Berani sekali kalian membicarakanku di belakangku," ucap Endo sambil melewati meja kedua sekretaris pribadinya, tanpa menoleh, apa lagi berhenti. Kakinya terus melangkah menuju lift yang tampak dari tempat kedua sekretarisnya duduk dalam diam.


"Hah, dasar baperan!" sungut Echa setelah lift benar-benar tertutup dan bergerak turun membawa sang bos turut di dalamnya.


Novera tersenyum simpul sebelum akhirnya mengernyit heran dengan sikap Echa barusan. Terlalu berani untuk ukuran sekedar seorang sekretaris kepada atasannya.


___


"Dia ... tidak banyak yang berubah dari dirinya. Dia tetap ramah seperti dulu."


Echa tengah duduk sendirian di kantin perusahaan.


"Tetap humoris ... murah senyum ... dan tidak mudah terpancing emosi walaupun aku sudah dengan sengaja berulah di hadapannya."


Tangan kanan Echa terus bergerak, mengaduk-aduk mie goreng pesanannya dengan asal, sembari menatap kosong ke sembarang arah.


"Jangan-jangan dia itu robot," gumamnya konyol. "Robot yang memang diprogram untuk terus berbuat baik dan beramah-tamah kepada siapa pun, kapan pun, dan di mana pun."


Echa memutar-mutar garpunya di atas piring, hingga tercipta pintalan kecil mie di ujung garpu.


"Lima tahun tidak bertemu, seharusnya ada yang berbeda dari dirinya. Apanya?"


Mimik wajah Echa menunjukkan ekspresi seseorang yang sedang berpikir keras. Sesaat kemudian tiba-tiba saja kedua mata bulat Echa berbinar.


"Ah, iya benar! Wajahnya sedikit berbeda. Rahangya jadi terlihat lebih tegas. Ada jambang tipis juga di pipi dan dagunya. Ah, sejak kapan ya dia berjambang?" tanya Echa pada dirinya sendiri. "Alisnya, hidungnya, matanya ... lebih tegas. "Dia tampak lebih dewasa ... dan tampan," simpul Echa akhirnya.


Tiba-tiba saja Echa tersadar dari khayalannya, kemudian menatap tajam ke arah mie goreng yang sudah awut-awutan.


Tangan kirinya terulur untuk meraih ponsel pintar dari saku kemeja putih. Disentuhnya ikon foto pada layar. Seketika itu juga tampaklah siluet wajah lelah pada layar. Ditatapnya pantulan dirinya itu sekilas.

__ADS_1


"Dia semakin tampan. Sedangkan aku? Aku masih sedekil ini. Hah, benar-benar perubahan yang tidak selaras?" rutuk Echa tidak jelas.


Dengan kasar diletakkannya benda tipis itu di atas meja.


"Aaa ...! Menyebalkan! Kenapa dia harus sekeren itu?!" teriak Echa sembari memasukkan suapan pertamanya ke dalam mulut.


"Hei, kau ini kenapa?" tanya Dion yang tiba-tiba saja sudah muncul dengan segelas es teh manis di tangan kiri.


Laki-laki itu langsung mengambil duduk di hadapan Echa.


"Ada masalah di hari pertama dengan atasan baru?"


"Ah, tidak, Yon," sanggah Echa. "Kurasa hanya lelah saja."


Tangan kiri Dion terulur meraih piring mie goreng yang baru termakan satu suapan. Sementara tangan kanannya menyodorkan sepiring gado-gado komplit tepat di hadapan Echa.


Tanpa aba-aba Dion memakan mie goreng itu dengan lahap.


"Hei, apa yang kau lakukan?" tanya Echa dengan mata membulat bingung.


"Terlalu banyak makan mie tidak baik untuk kesehatan," sahut Dion kembali menyuap satu sendok mie lagi ke dalam mulut. "Makanlah," lanjutnya dengan mata melirik ke arah piring gado-gado yang masih utuh. "Sayuran sangat bagus untuk kesehatan dan stamina tubuhmu."


"Tapi ...,"


"Hei, coba saja dulu," sahut Dion cepat, sengaja memotong kalimat yang akan diucapkan gadis cantik di hadapannya itu.


Tiba-tiba saja ingatan Echa melayang ke masa lima tahun yang silam. Saat itu dirinya tengah terjebak hujan lebat bersama Endo setelah seharian jalan-jalan dan melihat Festival Lampion di pusat kota. Akhirnya mereka pun berteduh di sebuah warung makan sederhana, berniat sekalian mengisi perut yang telah keroncongan.


"Kak Endo makan di tempat seperti ini?" tanya Echa waktu itu.


"Kenapa? Ada yang salah?"


"Tidak."


"Lantas?" tanya Endo bingung. "Kau tidak suka?"


Echa diam tak menyahut.


"Kau tidak suka?" ulang Endo. "Kita akan tetap makan di sini, Cha," ucap Endo kemudian. "Karena Kak Endo-nya Echa yang ganteng ini sedang lapar. Kalau harus mencari restoran yang lain dulu, takutnya kau akan berakhir dengan menangis menanggung malu."


"Menanggung malu?" ulang Echa bingung.


"Akan muncul berita di TV, seorang pria tampan meninggal secara tragis dalam pangkuan kekasihnya karena kelaparan."


"Hah, mati kelaparan padahal punya mobil semewah itu?" tukas Echa tak percaya.


"Tragis bukan?" sahut Endo dengan mimik wajah didramatisir. "Dan benar-benar membuat malu."


"Hallah, bisa-bisanya Kak Endo saja itu." Echa mencela bertepatan dengan pelayan yang datang mengantar makanan mereka.


"Silakan dinikmati, Mister," ucap pelayan cantik itu sembari tersenyum ramah. Sang pelayan pun segera berlalu setelah mendapat ucapan terimaksih dari sang mister.


"Kenapa hanya Kak Endo saja yang diberi senyum dan ucapan selamat menikmati?" sungut Echa pada Endo.


"Karena Echa tidak pesan makanan," sahut Endo sekenanya. "Coba, Cha," ucap Endo kemudian, sengaja mengalihkan pembicaraan. "Enak loh."


"Echa tidak suka gado-gado, Kak."


"Sayuran sangat bagus untuk kesehatan, Cha," ucap Endo sembari memasukkan satu suapan ke dalam mulutnya sendiri. "Echa harus makan sayur setiap hari.


" Kalau tidak suka, ya tetap tidak suka," sahut Echa ketus.


"Coba saja dulu," bujuk Endo. "Benar-benar enak."


"Ya sudah barang tentu enak, yang menyajikan juga cewek cantik."


Endo tersenyum menyadari kekasihnya tengah dilanda cemburu.


"Astagah ... hanya karena senyum dan ucapan selamat makan saja kekasihku ini bisa jadi cemburu selucu ini?"


"Enak saja! Echa bukan cemburu! Bukan lucu juga!" sungut Echa


"Terus apa dong?" goda Endo di tengah kunyahannya.


"Echa cuma ... eh, kok enak," komentar Echa spontan saat satu suapan gado-gado mendarat di mulutnya.


Endo diam tak menyahut. Hanya tangan kanannya kembali terulur menyuapi ratu hatinya disertai senyum hangat seperti biasanya. Sementara Echa asyik mengunyah sambil terus berceloteh tentang acara jalan-jalan yang telah mereka lewati berdua, mengabaikan paramusaji cantik yang terus saja mencuri pandang ke arah kekasihnya.


Tak terasa dua piring gado-gado tandas ke perut keduanya. Tapi mereka tetap harus bertahan di warung tersebut bersama pengunjung yang lain, sebab hujan masih turun cukup lebat. Bahkan Echa masih ingat betul, saat itu ia terus menggenggam tangan laki-laki pujaannya sepanjang berteduh di warung makan itu sembari ngobrol untuk mengisi kekosongan waktu dengan ditemani segelas teh manis.


Yang menjadi pertanyaan Echa saat ini adalah, "Kenapa waktu itu Kak Endo tidak langsung mengajak pulang setelah selesai makan, dan lebih memilih berteduh? Padahal dia membawa mobil. Kenapa coba?"

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2