
Masih di dalam walk in closet, Echa berdiri mematut diri di depan cermin. Inner tanpa lengan warna hitam sebatas paha dipadu dengan blazer hijau pastel membuat wajah cantiknya tampak segar dan ceria.
Ya, semalam Endo sempat mengatakan bahwa mulai hari ini Echa tak lagi harus menggunakan setelan putih hitam sebagaimana seharusnya karyawan magang berpakaian. Sebetulnya hal itu dikarenakan Endo sendiri yang tak terpikir untuk memilihkan setelan semacam itu saat membelikan empat paperbag penuh baju waktu di mall tempo hari.
Masih fokus menatap ke arah cermin, Echa menyapukan lipstik warna soft pink ke bibir sebagai sentuhan terakhir pagi yang cerah. Ia tak menyangka, warna pilihan Endo itu bisa tampak begitu manis di bibir mungilnya.
"Sip!" gumam Echa dengan senyum puas terpantul pada cermin.
Kaki telanjang gadis itu terayun ke salah satu sudut ruangan. Tangan kanannya terulur, menggeser pintu sebuah lemari kaca. Diambilnya salah satu dari lima pasang heels di antara puluhan pasang sepatu berpotongan maskulin di dalam lemari.
Echa segera memakai heels yang diambilnya, kemudian bergegas ke luar kamar, tanpa mau berepot-repot kembali mematut sepatunya di depan cermin.
Lengkap sudah. Apa yang dikenakannya mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki adalah pemberian Endo yang dibelikannya di mall dua hari yang lalu. Kalau bukan itu, memangnya Echa harus memakai baju apa ke kantor? Ia bahkan datang ke apartemen Endo hanya dengan satu setel baju yang saat itu melekat di tubuhnya, yang mana baju itu telah sobek akibat peristiwa di pesta Lisa tempo hari.
Setelah menyambar tas kerja berwarna hitam, senada dengan setelan kerjanya hari ini, Echa bergegas melangkah ke luar dan turun menuju meja makan untuk sarapan pagi.
"Selamat pagi, Nona," sapa Anna yang tengah menyiapkan jus lemon untuk menemani sarapan kali ini.
"Ya, selamat pagi, Anna," sahut Echa sembari meletakkan tasnya di kursi kosong. "Kak Endo mana?"
"Tuan masih di kamar, Nona. Beliau belum turun," jawab Anna sopan.
"Benarkah?" Echa mendongak ke atas, pandangan matanya tertuju pada pintu kamar Endo yang masih tertutup rapat. "Atau jangan-jangan dia masih tidur," gumamnya sembari meletakkan kembali segelas susu yang belum sempat diminumnya.
Belum sempat menyentuh sarapannya, Echa segera bangkit dan kembali menaiki tangga menuju kamar Endo yang berada satu lantai dengan kamarnya sendiri.
"Kak ... Kak Endo," panggil Echa dari depan pintu kamar. "Kakak sudah bangun?"
Dipanggil dan diketuknya beberapa kali pintu kamar Endo, namun hasilnya nihil. Akhirnya Echa pun memutuskan untuk membuka pintu bercat putih di hadapannya itu.
"Ya Tuhan ...."
Echa berseru saat melihat laki-laki yang dipanggilnya itu masih terbaring di atas tempat tidur dengan mata terpejam.
"Bangun, Kak. Sudah siang!"
Echa berjalan dengan langkah lebar menghampiri tempat tidur Endo.
"Kak, bangun. Sudah siang."
Echa menggoyang tubuh Endo beberapa kali agar laki-laki itu segera terjaga.
"Hah, apa-apaan kau ini, Cha?!" keluh Endo yang merasa terganggu.
"Bangun, Kak. Sudah siang. Kakak harus pergi ke kantor."
"Hah, apa kau tak tahu bahwa ini adalah hari patah hati sedunia?" sahut Endo kesal. "Pergilah. Aku ingin bermalas-malasan."
"Bukankah Kakak ada meeting penting pagi ini? Bangunlah." Tangan Echa terulur menyingkap selimut yang menutupi tubuh Endo.
Mendapat perlakuan seperti ini, Endo memicingkan matanya malas pada Echa. Ditelitinya penampilan gadis itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Beberapa detik kemudian Endo menarik pergelangan tangan Echa hingga tubuh gadis itu tersentak dan jatuh terhempas ke tubuhnya yang masih berbaring di atas tempat tidur.
"Kak Endo, apa-apaan ini. Lepaskan aku!" teriak Echa saat laki-laki itu malah mendekap tubuh mungilnya.
Bukannya melepaskan, Endo justru mendekap tubuh yang telah bersetelan rapi itu dengan lebih erat. Tak dihiraukannya teriakan-teriakan protes yang meluncur dari bibir mungil itu.
"Kak Endo, lepas!" Echa terus memberontak berusaha melepaskan diri.
Tak berapa lama, dekapan Endo pun terlepas. Echa segera bangkit dan menjauh dari jangkauan laki-laki menyebalkan yang justru malah tersenyum puas itu.
"Kak Endo, apa-apaan ini?" protes Echa dengan wajah kesal. "Baju Echa jadi kusut kan?!"
Dengan buru-buru, ditariknya inner hitam yang yang sempat tertarik naik hingga menampilkan paha mulusnya akibat ulah usil Endo.
"Siapa suruh memakai baju itu ke kantor," sahut Endo tanpa beban.
"Hei, bukankah Kak Endo sendiri yang memilihkannya untukku?" sahut Echa tak terima.
"Hei!" Endo mengikuti ucapan Echa. "Seperti itulah nanti yang akan terjadi kalau kau tetap mengenakan baju sependek itu ke tempat kerja," lanjutnya tanpa dosa.
Masih dengan wajah kesal, Echa melirik inner hitamnya yang hanya sebatas paha. Benar juga yang dikatakan bosnya itu. Bukan tidak mungkin baju itu akan kembali terangkat ke atas saat ia melakukan berbagai macam aktifitas di kantor, mengingat pekerjaannya tidak hanya melulu duduk di balik meja.
"Untuk apa kemarin dibeli jika memang tidak bisa dipakai seperti ini?" hardik Echa sembari membuang muka kesal sekaligus malu.
__ADS_1
"Karena aku ingin kau mengenakannya hanya di hadapanku," sahut Endo sembari bangkit dari tempat tidur.
"Tapi tidak perlu memakai cara bar-bar seperti ini juga, kan?!" hardik Echa dengan kedua alis hampir tertaut. "Kak Endo bisa langsung memberi tahu dengan cara baik-baik!"
"Bukankah ini adalah cara terbaik yang pernah ada?" Endo ngeloyor pergi masuk ke kamar mandi, meninggalkan Echa yang masih kesal dengan perlakuan Endo yang seenaknya sendiri itu.
"Apa-apaan itu! Dia pikir aku ini gadis macam apa. Seenaknya saja main peluk dan cium!" rutuk Echa sepanjang jalan menuju ke kamarnya sendiri.
Setiba di kamar Echa langsung masuk ke walk in closet dan memilih-milih setelan baju di dalam lemari. Tak membutuhkan waktu lama, ia pun menjatuhkan pilihan pada kemeja lengan panjang putih dengan garis vertikal hitam dan celana bahan warna navy blue.
Tanpa membuang waktu dan tanpa repot-repot mematut diri di depan cermin, Echa segera melesat menuju lantai bawah.
"Kak Endo belum turun?" tanya Echa dengan tangan kiri sibuk membetulkan lengan kemeja kanan.
"Belum, Nona." Anna menjawab sopan. "Anda mau sarapan dengan apa, Nona?"
"Roti saja," jawab Echa. "Selai kacang."
"Baik, akan saya ambilkan."
"Tidak perlu. Biar aku saja," tolak Echa dengan kedua tangan terulur mengambil roti tawar dan selai yang dimaksud, kemudian menghabiskannya dalam diam.
"Ayo, Cha. Kita hampir terlambat." Tiba-tiba saja Endo sudah berdiri di samping Echa sembari menyahut gelas susu milik Echa dan meminumnya hingga tandas.
"Tapi Kak Endo belum sarapan." Echa mengingatkan sebelum meminum jus lemonnya.
"Nanti di kantor saja," tukas Endo cepat. "Ada rapat penting pagi ini. Aku tak mau ketinggalan. Ayo!"
Endo berjalan lebih dahulu menuju mobil yang telah siap di halaman depan dengan tergesa, diikuti Echa yang turut mengekor di belakangnya.
"Jalan!" perintah Endo pada Doni setelah Echa turut duduk di kursi penumpang bersamanya.
Mobil segera melaju dengan kecepatan sedang, menembus jalan raya yang dipadati oleh remaja berseragam sekolah dan orang dewasa bersetelan kerja.
Setibanya di depan gedung kantor, begitu mobil berhenti Endo segera membuka pintu untuk segera ke luar. Namun belum sempat kaki panjangnya berpijak pada tanah, tangan lembut Echa menghentikan gerakannya.
"Kak Endo jangan lupa sarapan." Echa mengingatkan dengan tangan kanan menepuk pundak Endo pelan.
Seketika Endo mengurungkan niatnya untuk turun dari mobil, kemudian menoleh pada gadis yang masih duduk pada posisi semula. Dengan satu gerakan diciumnya bibir gadis cantik itu secepat kilat.
"Dasar mesum ...!" teriak Echa dengan tangan kanan terayun menampar pipi laki-laki di hadapannya itu. Namun belum sempat menyentuh pipi, Endo sudah terlanjur melompat ke luar dari mobil dan cepat-cepat menutup pintu.
"Kak Endo ...!" Echa pun segera menyusul turun dengan wajah merah menyala. Kini ia tampak berkacak pinggang dengan mulut siap mengucapkan kata-kata umpatan untuk bosnya yang mesum itu.
"Cha, kau baik-baik saja?" tanya Feri yang terkejut melihat Echa ke luar dari mobil bosnya dengan wajah penuh amarah.
Seketika Echa bergeming, berusaha menyembunyikan dan meredakan amarahnya pagi ini. Sementara Endo melirik dengan ekor matanya sembari menyeringai licik. Ia tahu bahwa Echa tidak akan mungkin berani melakukan sesuatu yang bisa menunjukkan kedekatan hubungan mereka berdua.
"Ya, aku baik-baik saja," jawab Echa dengan sisa-sisa rasa kesalnya.
"Jemput aku nanti sore saja," pesan Endo pada Doni yang menjawab dengan anggukan patuh, kemudian segera pergi sembari menahan geli di wajah datarnya.
Tanpa membuang waktu Endo segera melangkah pergi meninggalkan Echa dan Feri yang entah sedang memperdebatkan apa.
"Dua hari tidak masuk kantor, kemana saja?" tanya Feri. "Aku curiga."
"Curiga kenapa?" tanya Echa acuh.
"Dua hari kau tak masuk kerja, dua hari juga Pak Endo tidak datang ke kantor. Lalu sekarang kalian datang bersama dalam satu mobil."
"Apa maksudmu?" Kekesalan Echa kembali naik.
"Hahahaha ... tidak biasanya juga kau segalak ini," sahut Feri dengan derai tawa. "Kalian punya hubungan khusus?"
"Pertanyaan tidak penting! Dasar kurang kerjaan!" rutuk Echa sembari melangkah pergi meminggalkan Feri yang masih tertawa geli.
"Hai, Cha. Sudah baikan?" Tiba-tiba saja Samuel sudah berjalan beriringan dengan langkah Echa.
"Hai, Sam," sahut Echa dengan senyum di bibir. Entah mengapa tiba-tiba saja rasa kesalnya pada Endo lenyap begitu saja.
"Sudah baikan?" tanya Samuel lagi.
"Baikan?" Echa balik bertanya.
__ADS_1
"Kemarin aku mencarimu. Mereka bilang kau tidak masuk kerja karena sedang tidak enak badan." Samuel menggamit tangan kiri Echa.
Echa sengaja terus berjalan menuju lift untuk karyawan.
"Ah, iya. Kau benar, Sam," sahut Echa canggung. "Tapi sekarang sudah baikan."
"Akhir pekan besok aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Apakah kau ada waktu?" tanya Samuel penuh harap.
"Tentu Sam," sahut Echa sembari mengacuhkan Endo yang menatapnya tajam dari depan pintu lift. "Memangnya kau ingin mengajakku kemana, Sam?"
Echa kembali bersuara tepat disaat Endo melangkahkan kaki masuk ke dalam lift khusus untuk para petinggi perusahaan.
"Kenapa mereka terlihat begitu dekat?" tanya Endo tanpa menoleh.
"Mereka memang sudah akrab sejak hari pertama bertemu di perusahaan ini," sahut Disan.
"Hei, apa-apaan itu? Apa yang dilakukan laki-laki itu?" gumam Endo dengan kedua alis hampir tertaut, sementara tatapan tetap tertuju ke satu arah. "Dia menggenggam tangan?"
"Tidak, hanya mengelus-elus saja," sahut Disan tenang.
"Mungkin akan berakhir dengan janjian kencan untuk akhir pekan." Rudi sengaja menambahi.
"Hah, berani sekali dia!" hardik Endo.
"Kenapa harus takut?" tanya Rudi dengan intonasi acuh.
"Sudah kukatakan padanya, bahwa dia tidak boleh menggerai rambutnya selain di depanku," tukas Endo cepat.
Mata sipit Rudi terpicing mendengar kalimat konyol yang Endo ucapkan.
"Hah, akhirnya terealisasi juga pengeluaran peraturan konyol itu," gumam Rudi dalam hati.
Rudi memandang malas ke arah Endo.
"Mungkin dia akan berkencan dengan rambut diikat, disanggul, atau diapa saja," ucap Rudi kemudian. "Bukankah dandanan seperti itu sah-sah saja untuk acara makan malam romantis berdua?" tambahnya dengan wajah dibuat seserius mungkin.
"Aku sudah melarangnya tersenyum di depan orang selain aku," ucap Endo makin konyol. "Bukankah dia tidak akan mungkin berkencan dengan wajah cemberut?"
"Peraturan macam apa itu?" tanya Rudi tak habis pikir.
Ingin rasanya tertawa lebar, namun ditahannya karena khawatir dianggap dosa oleh orang nomor satu di perusahaan itu.
"Ya Tuhan, beginikah rasanya ingin tertawa, tapi takut dosa?" gumam Rudi dalam hati.
"Apa dia kekasihmu?" tanya Rudi kemudian.
"Bukan."
"Apa kau mencintainya?"
"Tentu saja tidak!"
"Lalu kenapa kau bersikap seperti itu?"
"Seperti itu bagaimana maksudmu?"
"Sadarkah kau, kau mulai posesif padanya?"
"Itu bukan posesif, hanya membatasi," sanggah Endo cepat.
"Sama saja bukan? Lagi pula kenapa kau harus repot-repot membatasi, sedangkan dia bukan siapa-siapamu."
"Sudah kukatakan dari awal bukan, aku hanya ingin membuat perhitungan dengannya."
"Atas apa?" tanya Rudi dengan sudut bibir terangkat. Sementara Disan hanya diam bergeming di sisi Endo.
"Dia telah menduakanku dengan si Asia itu," sahut Endo pelan, namun terdengar jelas intonasi kesal di sana.
"Hahaha ...!" Rudi tertawa lebar. "Dasar konyol. Kau yang waktu itu tidak mau mempertahankannya," lanjutnya. "Lagi pula yang dia tahu kau lah yang telah mendua," lanjutnya lagi. "Salahmu juga, waktu itu memutuskan untuk diam dan tidak menjelaskan apa pun padanya."
Endo diam menahan kesal atas ucapan Rudi. Namun sebagian kecil dari dirinya membenarkan itu. Ya, dulu memang dia mengira Echa hanyalah sosok yang sekedar singgah sekejab dalam hatinya saja. Apa lagi gadis itu masih di bangku SMU, masa-masa labil yang mudah terbuai dengan cinta monyet ala remaja.
"Kenapa?" tanya Rudi dengan seringai mengejek. "Baru menyadari bahwa kau sebenarnya sangat mencintainya?" lanjutnya. "Begini, mungkin dulu kau belum begitu serius dengannya karena menganggap dia hanyalah gadis remaja yang masih labil dan tidak seharusnya kau menancapkan cintamu padanya dengan begitu kuat. Tapi setelah lima tahun berlalu, kau lihat sendiri, bukan? Kau tidak bisa lepas dari bayangannya."
__ADS_1
BERSAMBUNG ...