LOCK DOWN

LOCK DOWN
Part 34. Kau Aktor yang Hebat, Endo


__ADS_3

"Benar-benar hari yang melelahkan," gumam Endo sembari menggeliat meregangkan otot-otot yang terasa kaku setelah berjam-jam terpekur di atas kursi kebesarannya.


Puas dengan olahraga lima detiknya, Endo meraih gagang telepon di atas meja. Ditempelkannya ujung telepon pada telinga.


"Cha, tolong suruh salah satu OB agar membuatkan kopi untukku."


"Ok."


Gagang telepon pun kembali ke tempat semula setelah mendapat jawaban singkat dari seberang sambungan, berganti dengan bolpoint yang diraihnya dengan tangan kanan. Perhatiannya kembali tertuju pada lembaran halaman berkas yang terbuka di depan mata, hingga terdengar suara pintu diketuk beberapa saat kemudian.


"Masuk!"


Pintu pun terbuka, menampilkan Echa dengan setelan kemeja kerja warna tosca dipadu rok hitam selutut. Membuat gadis itu tampak segar dan semakin menarik. Bahkan tadi pagi pun Endo sempat ternganga dan terpesona melihat penampilan kekasihnya hari ini."


Echa masuk dengan langkah pelan menghampiri Endo. Kedua tangannya membawa secangkir teh manis di atas nampan.


"Terimakasih, sayang," ucap Endo sembari meletakkan bolpoint di tangan saat Echa menyajikan secangkir teh manis di atas meja kerjanya.


"Sama-sama, Kak," jawab Echa tulus.


"Bukankah aku meminta kopi?" tanya Endo saat ujung indera pembaunya mendapati aroma teh yang harum dan nikmat menusuk lubang hidungnya.


"Echa lihat hari ini Kak Endo sudah minum kopi terlalu banyak. Jadi Echa pikir Kak Endo sudah tidak butuh kopi lagi untuk hari ini. Bukankah mengkonsumsi kopi berlebihan juga tidak baik untuk kesehatan?"


"Kau benar."


Endo tersenyum mendengar penjelasan Echa. Diseruputnya teh manis buatan sekretaris pribadinya itu bebrapa kali.


"Tapi kenapa malah kau yang membuatkan teh untukku? Kau bisa menyuruh OB saja untuk membuatnya." Endo kembali bersuara.


"Iya. Tadi Echa merasa kasihan sekali pada Kak Endo. Seharian ini begitu banyak pekerjaan yang harus Kakak kerjakan." Echa mengambil duduk di hadapan Endo, terpisahkan oleh meja kerja yang dipenuhi tumpukan file dan berkas-berkas dalam map.


"Kau benar, Cha. Sebenarnya aku sudah mulai merasa lelah juga."


Laki-laki bersetelan jas navy blue itu bangkit dari duduknya, kemudian berjalan cepat ke arah jendela kaca di sudut ruangan.


"Kakak istirahat saja dulu. Pekerjaan ini bisa dilanjutkan lagi nanti." Echa kembali bersuara. Tampak rasa simpatik terlukis jelas di wajah ayunya.


Kedua tangan Endo terulur membuka jendela. Dinyalakannya sebatang rokok, kemudian dihirupnya dalam-dalam sebelum kemudian dihembuskannya kepulan asap ke udara bebas di luar tembok gedung.


"Tidak, Cha. Aku ingin agar pekerjaanku segera selesai supaya bisa cepat-cepat mengantarkanmu pulang. Bukankah kau sudah berjanji untuk mengundangku masuk ke dalam apartemenmu hari ini?"


Echa mengangguk sekaligus melemparkan senyum manisnya.


"Kemarilah." Endo kembali bersuara sembari menoleh ke arah kekasih hatinya.


Dengan patuh Echa berjalan mendekat. Ia berdiri tepat di hadapan Endo, melirik ke arah luar jendela yang sempat menjadi perhatian bosnya itu beberapa saat yang lalu.


Perhatian Echa kembali teralih pada laki-laki yang dicintainya itu saat sebuah kecupan menyentuh keningnya dengan lembut disusul usapan pada pipi kirinya yang terasa begitu hangat.


"Kau tunggulah di luar sebentar. Aku akan segera selesai," perintah Endo lembut.


"Baiklah, Kak," sahut Echa patuh.


"Jangan biarkan satu orang pun masuk untuk menggangguku."


Echa mengangguk penuh pengertian, kemudian segera berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Endo yang kembali larut dengan tumpukan pekerjaannya.


"Apakah beliau masih sibuk?" tanya Novera begitu melihat sosok Echa keluar dari dalam ruangan nomor satu di gedung itu.


"Ya." Echa baru menjawab setelah tiba di meja kerjanya sendiri. "Dan masih banyak."


"Sepertinya Pak Endo akan lembur malam ini," komentar Novera masih dengan jari-jemari asyik menari di atas keyboard.


"Entahlah," sahut Echa. "Tapi Kak Endo memintaku menunggunya sebentar. Jadi mungkin dia tidak akan lembur mapam ini. Kecuali kalau dia membawa tumpukan pekerjaannya itu pulang ke rumah."


"Terkadang aku heran, bagaimana bisa beliau membagi waktunya yang hanya 24 jam dalam sehari itu?" Novera bergumam tak jelas.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" Kedua tangan Echa terulur, mulai merapikan berkas, peralatan dan perlengkapan kerjanya di atas meja dengan cekatan.


"Bekerja, mengurus rumah dan apartemen, mengurus dirinya sendiri, bergaul, bersenang-senang, mendatangi berbagai macam undangan, kemudian masih harus memanjakanmu yang memang benar-benar manja ini." Novera menjawab tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar laptop.


Seketika Echa menghentikan aktifitasnya, namun tetap diam tak menjawab, hanya mendengus kesal mendengar ujung kalimat yang Novera ucapkan.


"Aku semakin heran, bagaimana bisa ada orang yang bisa meladeni sifat galak, manja, dan tulalit akutmu itu." Novera kembali bersuara.


Echa masih diam. Namun kedua tangannya telah kembali melanjutkan apa yang tadi tengah dilakukannya.


"Tapi setelah kupikir-pikir lagi, mungkin hanya Pak Endo yang bisa." Novera kembali bersuara.


"Hah, kau benar-benar menyebalkan," sahut Echa akhirnya. "Aku pun juga bertanya-tanya bagaimana bisa ada orang menyebalkan yang julid seperti dirimu ini."


"Terimakasih atas pujianmu." Novera melirik sesaat ke arah Echa dengan senyum manis tersungging di bibir, kemudian kembali melanjutkan aktifitasnya di depan laptop.


Echa melirik arloji warna silver yang melingkar cantik di pergelangan tangan kiri. Masih tersisa waktu dua puluh menit, padahal seluruh tugas dan pekerjaannya telah selesai. Ia pun memutuskan untuk segera membereskan barang-barang pribadi dan memasukkannya ke dalam tas.


"Ngomong-ngomong bagaimana perkembangan hubungan kalian sekarang?"


"Biasa saja," sahut Echa tanpa minat.


"Biasa saja?" Novera menoleh, bahkan sampai memutar kursi hingga menghadap ke arah sekretaris pribadi bosnya yang lain itu.


"Apakah Endo masih di dalam ruangannya?"


Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang entah sejak kapan telah berada di dalam ruangan itu.


"Endo? Kenapa wanita ini memanggil Kak Endo hanya dengan nama saja tanpa embel-embel apapun?" gumam Echa dalam hati. "Tunggu sebentar, bukankah dia ini sekretaris Pak Disan?"


"Iya, Bu. Pak Endo masih berada di dalam ruangannya." Novera yang juga mengenali wanita itu sebagai sekretaris pribadi Disan segera menjawab dengan sopan. "Tapi beliau sedang tidak ingin diganggu."


"Ada hal penting yang harus kusampaikan padanya," sahut Rosella cepat.


"Maaf, Bu. Tapi Pak Endo sedang tidak bisa diganggu. Ada sesuatu yang membutuhkan konsentrasi penuh ... yang sedang dikerjakannya." Masih dengan sabar Novera memberi pengertian kepada Rosella, walaupun dengan kalimat absurd.


"Sesibuk apa pun Endo tidak akan mungkin menolak kehadiranku," sahut Rosella jumawa.


"Maaf, Bu." Echa ikut turun tangan. "Pak Endo sedang tidak bisa diganggu. Jika memang ada berkas penting yang harus Anda sampaikan, bisa ditinggal saja di meja kami. Nanti akan kami sampaikan kepada beliau."


"Ya Tuhan, bicara apa kalian? Kalian tidak tahu siapa aku?"


Mendengar pertanyaan itu, Echa dan Novera saling berpandangan. Untuk beberapa saat keduanya terdiam, kemudian kembali memandang ke arah Rosella.


"Kalau tidak salah saya pernah beberapa kali melihat Anda berjalan beriringan dengan Pak Disan." Akhirnya Echa bersuara. "Jika tidak salah terka mungkin Anda adalah sekretaris pribadi Pak Disan."


"Ada apa ini? Kenapa kau berada di sini?" Tiba-tiba saja Disan muncul dan sudah berdiri menatap datar ke arah Rosella.


"Tadinya aku ingin langsung pulang dengan taksi." Rosella menjawab sembari menatap canggung ke arah Disan. "Tapi tiba-tiba kepalaku terasa sakit sekali. Lalu kuputuskan untuk mendatangi Endo ke ruangannya."


"Kau ingin kubawa ke rumah sakit?" tawar Disan dengan riak wajah yang tak berubah.


"Ah, tidak. Tidak perlu. Istirahat di rumah saja sudah cukup." Rosella buru-buru menolak.


"Ya sudah, ayo kuantar kau pulang."


Disan berbalik bermaksud segera meninggalkan lantai itu bersama wanita yang disadarinya telah dengan sengaja membuat kekacauan di lantai ini. Namun langkah kakinya tertahan ketika Rosella kembali berbicara.


"Tidak. Kau tidak usah repot-repot," tolak Rosella terus terang. "Aku akan pulang bersama dengan Endo saja."


"Ayolah, jangan membuat masalah. Aku tahu kau sengaja melakukan semua ini."


Masih dengan posisi tubuh membelakangai ketiga wanita di dalam ruangan itu Disan menyahut pelan, hampir hanya berupa bisikan pada Rosella.


"Tadinya aku ingin masuk ke dalam ruangan Endo dan memberitahukannya bahwa aku akan pulang bersama dengannya, tapi dua sekretaria konyol ini malah menahanku di sini." Rosella kembali berucap, pura-pura tak mendengar apa yang dilontarkan oleh laki-laki berkaca mata minus itu.


"Kau akan pulang bersamaku," desis Disan datar sembari berbalik menghadap ke arah Rosella dan menyerang dengan tatapan dingin.

__ADS_1


"Memangnya kenapa jika aku pulang dengan Endo? Bukankah tempat tujuan kami sama?" Rosella terus menyanggah.


"Sama?" Tanpa sadar Echa mengajukan pertanyaan pada wanita bersetelan kerja warna merah itu. "Apa maksudnya dengan kata sama?"


Sontak kepala Disan terdongak, memandang cemas ke arah Echa.


"Ya, tempat tujuan kami berdua bukan cuma searah, tetapi juga sama."


"Sama?" Kali ini Novera yang mengulang kata-kata itu.


"Kami tinggal satu rumah." Rosella kembali bersuara.


Bagai tersetrum aliran listrik. Echa terkejut dengan jawaban terus terang dari wanita di hadapannya itu. Kedua bola mata Echa membulat sempurna dengan tatapan kaku tertuju ke arah Rosella.


"Siapa wanita ini sebenarnya? Kenapa dia memanggil hanya dengan nama saja? Selain itu dia pun juga mengaku tinggal di rumah Kak Endo. Apa mereka bersaudara? Tidak, setahuku Kak Endo hanya memiliki satu orang saudara, itupun laki-laki. Tapi kenapa Kak Endo tidak pernah cerita bahwa di rumahnya juga ada seorang wanita?" gumam Echa dalam hati.


"Ada apa ini? Kenapa kalian berkumpul di sini?"


Tiba-tiba saja Endo muncul dari balik pintu ruangannya. Sontak seluruh pasang mata menatap tegang ke arahnya. Dengan langkah penuh wibawa ia berjalan mendekat.


"Ada apa?" Endo kembali bersuara.


"Sekretaris Pak Disan ingin bertemu dengan Anda, Pak." Echa memutuskan untuk angkat bicara. "Sudah saya katakan bahwa Anda sedang tidak ingin diganggu, tapi dia memaksa untuk masuk ke dalam ruangan Anda," lanjutnya sopan.


"Aku merasa tidak enak badan, Endo. Tadinya aku ingin memesan taksi. Tapi setelah kupikir-pikir, karena kita tinggal satu rumah maka akan lebih nyaman bagiku jika pulang bersamamu saja, mengingat kondisi tubuhku yang sedang tidak sehat ini."


Sesaat sorot mata Endo berubah pekat mendengar kalimat yang diucapkan Rosella. Ia benar-benar tak menyangka Rosella akan mengucapkan kalimat seperti itu.


Manik biru Endo melirik ke arah Echa yang berdiri tepat di sisinya. Tampak jelas sorot mata tajam dan raut penuh emosi terlukis di wajah mungilnya. Seketika ia merasa tenggorokannya begitu kering, hingga sulit untuk sekedar mengucapkan satu kata pun dengan mulutnya.


Kedua tangan Echa bergerak pelan, terlipat berdedekap di depan dada. Tak satu kata keluar dari mulut mungilnya. Bahkan tatapan matanya pun tak teralihkan sama sekali dari kedua netra biru milik kekasihnya.


"Apa benar kalian telah tinggal satu rumah?" Akhirnya mulut Echa terbuka setelah semuanya sempat terdiam untuk beberapa saat.


"Sepertinya aku tak bisa pulang denganmu. Kau pulang bersama Disan saja seperti biasanya," ucap Endo akhirnya tanpa menoleh sedikit pun ke arah Rosella. "Ada beberapa hal penting yang harus kubicarakan dengan Echa."


"Kalian memang benar-benar pasangan yang luar biasa," ucap Echa dengan tatapan sinis ke arah Endo. "Bodohnya aku telah percaya begitu saja padamu."


Pandangan mata Endo tak teralih sama sekali dari dua mata bulat Echa yang tampak sedikit memerah. Ia paham betul bahwa kekasihnya tengah berusaha mati-matian menahan emosi dan tentu saja tak lama lagi akan segera dilampiaskan kepada dirinya.


"Tapi aku sedang sakit, Endo. Tak ada kah sedikit saja rasa simpatimu padaku?"


"Sudahlah, aku tahu kau dalam keadaan baik-baik saja, Rose," sahut Endo cepat.


"Rose?" ulang Echa saat itu juga. "Owh ... jadi dia lah kucing betinamu itu?" Echa mengurai lipatan tangannya dari depan dada. "Bagus! Kau pembuat skenario yang sangat bagus." Bibir gadis itu menunjukkan seringai sinis yang tertuju hanya pada Endo. "Hebat. Kau juga aktor yang sangat hebat!"


Tangan kanan Echa bergerak cepat menyambar tas dari atas meja kemudian bergegas pergi meninggalkan Endo yang sempat tercekat dengan situasi yang tengah menimpanya.


"Cha, tungu, Cha!" Kaki panjang Endo segera terayun mengikuti langkah kaki Echa. "Ini tidak seperti yang kau pikir," lanjutnya terburu-buru.


Echa diam tak menjawab, kedua kakinya terus berjalan menuju lift.


"Cha, berhentilah dulu dan dengarkan penjelasanku!" seru Endo sembari mengikuti Echa dengan langkah panjangnya.


Echa mempercepat ayunan kakinya, menekan tombol lift dan segera masuk ke dalam bilik diikuti Endo yang tak ingin membiarkan Echa berlalu begitu saja. Ia tak ingin peristiwa lima tahun yang lalu terulang lagi kali ini dan memporak-porandakan hati mereka berdua.


"Cha, dengarkan aku dulu. Aku akan menjelaskan semuanya padamu," ucap Endo sembari menggenggam pergelangan tangan kanan Echa dengan erat.


"Lepaskan tanganku dan jangan ikuti aku!" hardik Echa dengan sorot mata tajam ke arah laki-laki di hadapannya itu. "Aku muak denganmu!" lanjutnya sembari menghempaskan cekalan Endo sekeras mungkin, hingga pergelangan tangannya terlepas dari genggaman laki-laki itu.


Kaki Echa beringsut maju. Diselipkannya ujung heels yang dikenakannya diantara dua pintu lift tepat saat pintu itu hampir tertutup.


"Keluar!" usir Echa dengan tatapan dingin.


"Cha ...."


"Kubilang keluar!"

__ADS_1


Endo bergeming, menatap nanar penuh rasa bersalah ke kedua mata kekasihnya yang mulai berembun.


BERSAMBUNG


__ADS_2