LOCK DOWN

LOCK DOWN
Part 32. Malam Ini adalah Milikmu


__ADS_3

Dua netra sebiru laut memandang tak senang ke arah dua remaja yang tengah berpelukan erat tak jauh dari tempatnya berdiri. Tatapan lembutnya berubah sangat tajam dan sungguh mengerikan. Wajah tampannya pun mendadak menjadi menakutkan dengan bibir terkatup erat dan rahang tegas yang tampak mengeras.


Saat Endo menatap tajam ke arah Echa dan Ello yang tengah berpelukan melepas rindu, yang lain justru menatap ngeri ke arah laki-laki berparas bule itu. Mereka menerka-nerka apa yang akan dilakukannya di detik berikutnya.


"Kau kemana saja, Mar? Aku tak pernah mendengar kabar darimu."


Sontak Tesha menepuk jidatnya sendiri mendengar dialog yang diucapkan sahabat karibnya itu.


Pelukan keduanya pun terurai. Ello diam tak menjawab, hanya kedua netranya saja menatap lekat dua bola mata bulat milik gadis cantik yang pernah mengisi relung hatinya.


"Ya Tuhan, lama sekali kita tidak bertemu tanpa kabar sama sekali. Aku sangat merindukanmu." Terdengar lagi suara Echa yang tengah menampilkan wajah polosnya, membuat Tesha mendelik kesal, kemudian kembali menatap ngeri ke arah Endo.


"Ya, kau benar. Lama tidak bertemu, kau terlihat semakin cantik saja."


Tangan kanan Ello terulur, mengusap pipi Echa dengan lembut sembari melemparkan seulas senyum manis yang dulu hanya terkembang untuk gadis di hadapannya itu. Sedetik kemudian ia melirik ke arah Endo yang tengah mati-matian berusaha menekan gejolak di dalam hatinya. Ya, ternyata laki-laki berwajah Asia itu memang sengaja ingin memancing emosi Endo.


Mengikuti arah lirikan mata Ello, Echa mendapati wajah gelap Endo yang tertuju pada laki-laki yang telah dipeluknya beberapa saat yang lalu. Seketika ia pun menyadari kebodohan terkonyol yang baru saja diperbuatnya. Sedetik kemudian diuraikan genggaman tangan kanannya dari tangan kiri Ello.


"Semuanya sudah menunggumu," ucap Echa sedikit canggung. "Ayo, kita berkumpul dengan yang lainnya."


Ello, Echa, dan Gilang. Ketiganya berjalan beriringan menuju teras rumah yang mendadak terasa sepi akibat adegan live beberapa saat yang lalu itu.


"Apa kabar, Bos? Wah, lama tak bertemu, semakin gagah saja kau terlihat." Acong yang pertama kali membuka suara, berusaha mencairkan kecanggungan yang telah tercipta. Keduanya pun saling berjabat tangan dan berangkulan ala laki-laki untuk melepas rindu.


"Sulit sekali menghubungi kalian. Kalian mengganti nomor ponsel?" Gantian Alex urun suara kemudian melakukan hal yang sama dengan Acong.


"Sombong sekali. Memangnya sudah sesukses apa kalian berdua?" Ismet turut nimbrung.


Ello diam tak menjawab, hanya seulas senyum saja dilemparkannya sembari menjabat tangan teman-temannya yang telah lama tak bertemu.


"Apa-apaan ini?" Tiba-tiba terdengar teriakan kencang dari mulut Tesha. "Menjauh dariku!" Tesha mendorong tubuh tegap Gilang.


"Aku hanya ingin melepas rindu denganmu saja, bukankah kita sudah lama tidak bertemu?" seru Gilang dengan kedua tangan terangkat ke atas, menghindari amukan lebih parah dari kedua tangan Tesha.


"Iya, tapi tidak perlu peluk-peluk seperti itu!" hardik Tesha tak terima.


"Jika Ello boleh memelukmu, kenapa aku tidak boleh?" protes Gilang sembari berkacak pinggang.


"Karena Ello tampan, sedangkan kau?" sahut Tesha sembari mencibir. "Ya Tuhan, bagaimana bisa manusia ini datang ke mari dengan penampilan dekil seperti ini?!" cibir Tesha terang-terangan, meskipun dalam hatinya pun juga mengakui bahwa laki-laki yang telah kurang ajar main peluk beberapa saat yang lalu itu memang terlihat semakin tampan dan menarik dari pada sebelumnya.


Semua yang ada di teras pun tertawa mendapati Tesha yang mulai kesal hanya karena berjumpa dengan Gilang. Ya, mereka berdua memang tak pernah akur sedari dulu.


"Hei, sudah-sudah. Jangan bertengkar terus." Wina datang menginterupsi dengan beberapa toples kue di tangan ditemani Rika, kekasih Alex yang tengah membawa nampan berisi beberapa gelas es doger. "Lihat, es dan kue-kue ini aku sendiri yang membuat. Harus kalian habiskan. Jika tidak, aku akan membuat perhitungan dengan kalian semua!"


Semua kembali tertawa mendengar ancaman Wina dan segera menyerbu kue dan es doger yang melambai-lambai minta segera ditenggak habis. Suasana pun jadi mulai ramai kembali. Mereka saling berkelakar dan bertukar cerita tentang perjalanan dan pengalaman masing-masing selama lima tahun terpisah. Namun ada juga yang lebih senang membahas kenangan-kenangan konyol mereka sewaktu masih bersama di bangku SMA dulu.


Sementara Tesha buru-buru menggamit tangan Echa, menariknya ke dalam rumah. Langkah keduanya terhenti tepat di depan pintu dapur.


"Maaf, Cha." Tesha menggenggam erat kedua tangan Echa. "Sebenarnya aku yang telah melakukan semua ini. Aku sengaja mengundang Ello sebagai kejutan untukmu. Aku tidak tahu jika kau masih menjalin hubungan dengan Kak Endo. Sungguh," lanjutnya dengan tatapan penuh rasa bersalah.


"Iya, kami baru jadian tiga hari yang lalu."


"Benarkah? Kupikir ...."


"Iya," potong Echa. "Ternyata Kak Endo adalah pemilik perusahaan tempatku praktek magang."


"Lalu kalian semakin dekat, jatuh cinta lagi, dan jadian lagi?" tebak Tesha penuh antusias.


"Mau bagaimana lagi, aku kasih mencintainya," sahut Echa jujur.


"Hah, syukurlah kau memperoleh kebahagiaanmu di sini. Eh, tapi masalah tentang Ello tadi bagaimana?"


"Mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi."


"Sepertinya tadi Kak Endo terlihat tak senang. Bagaimana jika dia benar-benar marah padamu?"


"Jika begitu ... matilah aku," sahut Echa sekenanya.


"Hah, kau ini, kenapa santai sekali?"


"Tenang saja, aku selalu punya cara untuk meluluhkan hati dan amarahnya."


"Hah, terserah kau saja. Yang jelas aku sudah minta maaf dan mengakui semuanya."


"Sudahlah, ayo kita bantu Wina di dapur." Echa menggamit pergelangan kanan Tesha. "Ngomong-ngomong bagaimana kau bisa mengundang Marimar datang kemari?"


"Bisnis ayahnya yang berkantor di sini mengalami kemunduran dan membutuhkan perhatian khusus," sahut Tesha. "Maka dari itu sekarang keluarga Ello tinggal di kota ini."

__ADS_1


"Oh, begitu ...."


"Iya, Ismet yang memberitahukannya padaku." Keduanya pun berjalan bergandengan menuju dapur.


Sementara itu Ello tampak beringsut dari tempatnya berdiri setelah puas bersendau gurau dengan teman-temannya. Kedua kakinya melangkah pelan menghampiri Endo yang tengah berkelakar seru dengan Tara dan Selfi, kekasih Ismet.


"Hei, Bro!" sapa Ello dengan wajah datar.


Endo, Tara, dan Selfi menoleh ke asal suara. Setelah mengetahui siapa yang datang, Tara segera menggamit tangan Selfi, mengajaknya untuk pergi menjauh, memberi ruang pada kedua laki-laki itu.


Endo tetap duduk tenang, melempar senyum sekilas sebelum menjawab sapaan Ello.


"Hei."


"Kulihat hidupmu begitu menyenangkan." Ello mengambil duduk di samping Endo sembari menghisap sebatang rokok yang terselip di antara jari tengah dan telunjuk kirinya.


"Ya, begitu berwarna," sahut Endo sekenanya. "Ada kasus yang harus kau selesaikan di sini?"


Seketika gerakan Ello terhenti. Menatap curiga ke arah Endo.


"Kau tahu?"


"Tentu saja aku tahu," sahut Endo santai sembari menyalakan sebatang rokok. "Kasus apa kali ini? Pembunuhan?"


"Ya. Semua bukti mengarah padanya. Hanya saja ... aku kehilangan jejak."


"Hah, pekerjaan yang menjengkelkan jika begitu."


"Hai ... hai ... hai ...!" Tiba-tiba terdengar suara kencang milik Echa.


Seluruh pasang mata tertuju pada gadis itu, tak terkecuali Endo dan Ello.


"Semua bahan dan peralatan sudah siap. Malam ini kita akan pesta barbeque," seru Echa yang disambut dengan antusias oleh teman-temannya.


"Aku tak menyangka kau punya nyali juga untuk mendekatinya lagi." Ello kembali bersuara, masih dengan pandangan mata tertuju pada Echa yang tengah sibuk menata segala keperluan pesta malamnya di halaman berumput.


"Dia kosong, aku kosong. Kami saling mencintai. Lalu masalahnya di mana?"


"Lima tahun aku berusaha melupakannya."


"Aku tak tertarik untuk membayangkan betapa menderitanya dirimu," sahut Endo.


Endo menoleh, menatap tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Dengan alasan tak bisa melupakanmu." Ello melanjutkan kalimat yang sengaja ia gantungkan.


Endo kembali menoleh, mencari kebohongan dari gerak gerik dan sorot mata laki-laki di sebelahnya itu ... dan ia tak menemukannya.


"Ya sudah, aku pergi." Ello bangkit dari posisi duduknya. "Aku tak ingin orang lain mengira kita adalah teman." Laki-laki berwajah asia itu segera berlalu, meninggalkan Endo yang terdiam dengan mulut tercekat.


Tak berapa lama, Echa datang dengan segelas es lemon di tangan kanan, menghampiri Endo yang tampak sibuk dengan ponselnya.


"Kak ...." Echa membuka suara selembut mungkin.


"Ya?" Endo mendongak. Mengalihkan perhatiannya dari gawai yang masih tergenggam di tangan kiri. Netra bening Echa menangkap wajah laki-laki itu tampak masam dan tegang menahan kesal. Echa paham, semua itu memang akibat ulah konyolnya beberapa waktu yang lalu.


"Mmm ...." Echa tampak ragu dan canggung. "Hehehe ...."


Gadis itu nyengir tak jelas memamerkan deretan gigi putihnya dengan dua bola mata bulat jenaka. Gestur yang selalu bisa membuat Endo mendesis gemas.


Tepat sekali. Laki-laki itu benar-benar luluh. Wajahnya kini perlahan melunak dan tak lagi masam.


"Ada apa?" tanya Endo lembut. Diselipkan gawainya ke dalam kantong celana sebelah kiri. Sementara tangan kanan terulur meraih minuman yang Echa bawa. Disesapnya sedikit kemudian diletakkan di atas meja. "Katakan, ada apa?"


Echa meraih kedua tangan Endo. Digenggamnya dengan lembut jemari dua tangan kokoh itu.


"Mmm ... tentang yang tadi ... Kak Endo marah?" Echa menunduk memandang dua tangan dalam genggamannya.


Endo diam tak menjawab. Ia mulai bisa menebak ke mana arah pembicaraan gadis itu.


"Maaf, Echa tidak bermaksud seperti itu." Dimainkannya jemari-jemari kokoh itu untuk mengusir kegugupan yang tiba-tiba menyerang. "Echa hanya ... hanya apa ya?" Kegugupan kembali menyerang.


Endo masih diam, menahan gejolak di dalam hatinya.


"Kakak tahu kan kami semua sudah lama tidak bertemu. Echa sangat merindukan mereka, termasuk Ello juga."


Echa sengaja menghentikan ucapannya, kemudian melirik ragu ke arah wajah kekasihnya. Tampak ekspresi yang tak nyaman di sana.

__ADS_1


"Ya, memang Echa akui, tadi Echa terlalu berlebihan. Tapi itu karena Echa tidak menyangka akan bertemu dengannya juga di sini."


Bagai anak kucing yang kedapatan mencuri ikan asin, Echa terus memainkan jari-jemari Endo untuk mengusir kegugupan dan rasa bersalah yang semakin melanda.


"Maaf, Kak. Echa tidak bermasuk membuat Kakak kesal, apa lagi menyakiti hati Kakak." Suara Echa terdengar lirih dan penuh sesal.


"Hah, brengsek!" umpat Endo tiba-tiba.


Dengan satu gerakan cepat ditariknya kedua tangan dari genggaman Echa, membuat gadis itu terkejut dan semakin menunduk merasa bersalah.


"Kenapa kau pandai sekali membuat hatiku luluh? Hah, situasi macam apa ini. Menjengkelkan!"


Echa mendongak, memandang wajah kesal di hadapannya, kemudian melongo mendapati umpatan-umpatan tak jelas dari mulut kekasihnya itu. Sesaat kemudian Endo memejamkan kedua mata dan menahannya beberapa saat.


"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri," ucap Endo sesaat setelah penglihatannya kembalinl terbuka. "Malam ini adalah milikmu. Kalian sudah lama tidak bertemu. Kau boleh bersenang-senang dengan teman-temanmu sepuasnya."


"Benarkah?" sebuah senyuman mulai terbit di antara kedua bibir Echa.


"Tentu saja, sayang."


Echa tersenyum senang, hingga tanpa sadar mengecup pipi Endo, kemudian melompat jejingkrakan seperti anak kecil di hadapan Endo, mengundang kedua bibir laki-laki itu untuk tersenyum geli.


"Tantang yang tadi ...." Tiba-tiba Echa teringat dengan kesalahan yang telah ia lakukan, senyum di bibir mungilnya pun memudar. "Echa sungguh minta maaf, Kak."


"Sudahlah," sahut Endo. "Aku sudah memperkirakannya sejak awal. Itu hanya uforia atas kebahagiaanmu yang telah sangat lama tak bertemu ... dan aku bisa memahaminya," lanjutnya. "Walaupun ternyata tak semudah kelihatannya. Sialan!"


Endo kembali merutuki dirinya yang tak bisa benar-benar memadamkan api cemburu. Namun di sisi lain, ia pun tahu bahwa cinta yang dimiliki gadis cantik di hadapannya itu hanyalah untuknya seorang.


"Echa sangat mencintai Kak Endo." Kedua tangan Echa kembali terulur meraih dua tangan kekasihnya. "Hanya Kak Endo yang ada di hati Echa. Hati Echa hanya milik Kak Endo.


"Iya, aku tahu," sahut Endo dengan seringai di bibir. "Bahkan semua yang ada padamu adalah milikku." Endo menyeringai sambil menatap bibir mungil berwarna soft pink di hadapannya itu.


Spontan Echa melepas genggaman pada jemari Endo dan buru-buru menutup bibir dengan kedua telapak tangannya.


Melihat bibir indah yang telah tertutup rapat, masih dengan seringai di bibir, arah pandangan Endo turun ke bawah.


"Ih, Kak Endo apa-apaan sih?!" hardik Echa yang menyadari arah pandang laki-laki di hadapannya itu.


Endo pun tertawa gemas mendapati kekasihnya yang menjadi kesal dan salah tingkah akibat ulahnya. Bahkan pipi mulus gadis itu pun kini tampak merona merah, membuat Endo semakin gemas saja. Jika tidak sedang berada di tempat seperti ini, mungkin ia telah menyerang bibir mungil itu saking gemasnya.


"Jadi kalian sudah baikan?" Tiba-tiba terdengar suara dari balik punggung Echa. Tesha muncul bersama Wina dengan senyum cerah mereka.


"Kalian?" Kedua mata Echa membulat, menatap ke arah dua sahabatnya. "Kalian menguping ya?"


"Hehehe ...." Dua remaja berambut sebahu itu nyengir tanpa rasa berdosa.


"Kak Endo kan tahu kalau kami ada di sini. Jadi namanya bukan menguping, Cha," ucap Wina membela diri.


"Tapi menyimak." Tesha menambahkan.


"Jadi Kak Endo tahu? Ah, kalian menyebalkan!"


"Kami juga melihat waktu kamu mencium pipi Kak Endo."


"Aaa ...! Menyebalkan!"


"Aku jadi tak bisa mencium bibirmu karena ada mereka berdua. Mana yang lebih meyebalkan? goda Endo dengan seringai di bibir.


"Kak Endo sama saja!"


"Hahaha ...!" Ketiganya pun terbahak-bahak melihat tingkah konyol Echa.


"Aku harus pergi. Ada sesuatu yang harus kubereskan." Endo kembali berbicara setelah tawanya mereda.


"Harus sekarang?" tanya Echa menegaskan.


"Iya, sayang. Harus sekarang," jawab Endo. "Kau bersenang-senanglah di sini. Nikmati kebersamaan kalian. Nanti kau telepon saja jika acaranya sudah selesai, aku akan menjemputmu


"Tapi Echa ...."


"Sudahlah, kau tenang saja." Pandangan Endo beralih pada Tesha dan Wina. "Titip dia, ya. Jaga dia baik-baik. Jangan sampai jadi anak nakal."


"Beres, Kak! Serahkan saja pada Wina! Seperti biasanya."


"Eh?" Echa memandang tak mengerti ke arah Wina. "Seperti biasanya? Apa maksudnya seperti biasanya?"


"Ah, ya Tuhan ... aku lupa, cicak peliharaanku belum kuberi makan," seru Tesha tiba-tiba.

__ADS_1


Wina yang menyadarai kesalahannya langsung balik kanan dan ngeloyor pergi disusul Tesha meninggalkan Echa dengan kedua tangan terkepal erat menahan kesal.


BERSAMBUNG ...


__ADS_2