LOCK DOWN

LOCK DOWN
Part 33. Rencana Rosella


__ADS_3

"Tunggu! Tunggu, Bay!" Mendadak Rosella berseru, membuat Bayu melambatkan laju mobilnya. "Putar balik, Bay. Putar balik!"


"Ada apa, sayang?" tanya Bayu bingung.


"Ayo, lakukan saja perintahku."


Tanpa banyak bicara lagi, Bayu melaksanakan perintah wanita yang dicintainya itu dengan patuh.


"Pelan-pelan saja." Rosella kembali bersuara. "Bay, bukankah itu Endo?" tanya Rosella sesaat kemudian.


"Mana?" Bayu balik bertanya dengan kedua tangan tetap setia pada roda kemudi.


"Itu." Rosella mengarahkan telunjuk kanannya ke arah salah satu warung tenda di pinggir jalan.


"Kau benar. Sedang apa dia di sini?" gumam Bayu turut penasaran.


"Lebih dekat lagi, Bay."


Bayu memarkirkan mobilnya tak jauh dari warung tenda, kemudian memastikan bahwa seluruh kaca jendela mobil tertutup rapat.


"Sepertinya dia bersama seorang gadis," ucap Bayu kemudian.


"Seorang gadis?" Rossella bergumam, mengulang ucapan Bayu.


Dalam pandangan Rosella tampak Endo berjalan tenang menuju mobil yang terparkir tepat di depan mobil yang ditumpanginya.


"Iya, kau benar. Sialan!" Seketika wajah Rosella menunjukkan emosi dan rasa kesal.


"Hei, kenapa kau mengumpat?"


"Ah, tidak kenapa-kenapa," kilah Rosella cepat.


"Kau kesal?" tanya Bayu. "Kau kesal karena dia memiliki kekasih?"


"Seharusnya dia hanya menyukaiku, agar aku lebih mudah mengeruk hartanya." Rosella beralasan dengan gugup.


"Apa kubilang? Kita mundur saja. Sejujurnya aku tak yakin rencana kita akan berhasil." Bayu kembali bersuara.


"Bicara apa kau ini? Kita sudah melangkah sejauh ini. Sudah, diamlah!" Wajah Rosella tampak semakin kesal dibuatnya.


"Kau benar-benar tak ingin makan?" Samar-samar terdengar percakapan Endo dengan gadis yang memilih menunggunya di dalam mobil itu.


"Tidak, Kak. Echa benar-benar kenyang. Tadi begitu banyak makanan yang masuk ke perut Echa." Echa beralasan. "Echa menemani Kak Endo saja, ya."


Endo tersenyum, kemudian turut masuk ke dalam mobil.


"Bagaimana acara party kalian tadi?" tanya Endo sesaat setelah atap mobil bergerak terbuka, menampilkan sepasang muda mudi yang tengah duduk bersebelahan.


"Seru, Kak. Benar-benar menyenangkan. Senang sekali rasanya bisa bertemu dan berkumpul lagi dengan mereka."


"Lima tahun?" Endo tersenyum manis.


"Iya, benar. Lima tahun," gumam Echa pelan, kemudian menghela nafas berat. "Tapi sayang, besok mereka harus pulang dan kembali ke kesibukan masing-masing."


Kedua mata bening Echa tampak sedikit berembun. Di satu sisi ia sangat senang bisa bertemu dengan teman-temannya lagi. Namun di sisi lain, ia pun menjadi sedih karena harus kembali berpisah dengan sosok-sosok yang sudah saling menganggap seperti saudara sendiri itu.


Endo merangkul pundak kekasihnya erat-erat. Dikecupnya puncak kepala gadis berambut sepunggung itu dengan lembut.


"Bagaimana dengan wisudamu besok lusa?" Endo berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


"Semuanya sudah beres, Kak. Tinggal menunggu hari H saja."


"Baguslah. Aku sudah tak sabar ingin melihat kekasihku ini mengenakan toga." Endo kembali mengecup puncak kepala Echa. "Kau pasti terlihat cantik sekali, sayang."


Echa tersenyum dengan hati menghangat saat Endo menggenggam lembut kedua tangannya.


"Apakah kedua orang tuamu akan hadir?" tanya Endo kemudian.


"Ya, Kak Dicky juga berjanji akan datang," jawab Echa.


"Baguslah. Berarti besok aku bisa langsung melamarmu saja pada mereka."


"Apa? Melamar Echa?" Tampak rasa tak suka terlukis di wajah cantik gadis bermbut sepunggung itu.


"Iya. Kenapa? Apa kau tak mau?" tanya Endo saat mendapati riak tak suka pada wajah Echa.


"Kak Endo akan melamar saat kedua orang tua Echa datang ke mari untuk menghadiri upacara wisuda Echa?"


"Iya. Apa kau tidak mau?"


"Ya Tuhan, Kak Endo ...!" Echa menghela nafas kesal. "Setidaknya hargailah kami. Datanglah ke rumah untuk melamar Echa. Bukan di tempat antah berantah seperti ini."


Seketika Endo langsung tersenyum cerah, kemudian buru-buru memeluk kekasihnya itu dengan sayang.


"Terimakasih, ya, Kak," ucap Echa tulus sesaat setelah Endo melepaskan pelukannya.


"Apanya?"


"Berkat nilai magang yang Kakak berikan, semuanya menjadi lebih mudah."


"Kau memang berhak mendapatkan nilai bagus atas hasil kerjamu yang memuaskan." Endo menimpali. "Kau cepat belajar, pandai dan cekatan dalam bekerja."


"Kakak memuji Echa?"


"Kau tidak suka?"

__ADS_1


"Bukan begitu. Biasanya hanya kata cantik, manis, dan menggemaskan yang Kak Endo berikan."


"Lalu?"


"Echa tidak menyangka, ternyata Kak Endo bisa juga memuji dengan kata-kata lain."


"Hah, kau ini menyebalkan sekali!" tukas Endo sembari mencubit hidung mancung milik kekasihnya itu. "Apa kau senang, Nyonya Endo?"


"Sangat senang," sahut Echa singkat kemudian tergelak mendengar sebutan Nyonya Endo untuknya.


"Lagi pula yang memberikan nilai itu adalah Novera, bukan aku." Endo kembali bersuara.


"Kenapa begitu?" tanya Echa, bertepatan dengan seorang pemuda yang datang dengan nampan berisi sepiring nasi goreng dan dua gelas es teh manis. "Bukankah Echa bekerja di bawah perintah Kak Endo?"


"Karena Novera yang lebih tahu bagaimana proses belajarmu selama di kantor." Endo menimpali.


"Silahkan dinikmati, Mister," ucap pemuda pemilik warung tenda setelah selesai menyajikan pesanan Endo.


"Ya," sahut Endo singkat.


"Terimakasih," Echa turut berucap.


"Sama-sama. Mari ...." Pemuda itu pun berlalu, kembali masuk ke dalam warung.


"Berarti seharusnya kemarin-kemarin Echa bersikap baik pada Novera, bukan pada Kak Endo."


"Jadi selama ini kau merasa sudah bersikap baik padaku?"


"Tentu saja. Memangnya Kakak pikir sekretaris mana yang bisa tahan dengan sikap Kak Endo itu?"


"Sikap seperti apa maksudmu?" Endo mulai memasang wajah masam.


"Galak," sahut Echa sembari menyuapkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulut Endo. "Suka seenaknya sendiri, jahil, usil, dan jahat sekali padaku."


"Aku jahat padamu? Hei, yang ada aku sangat mencintaimu," protes Endo setelah menelan makanannya.


"Kak Endo ingat bagaimana teganya menyuruhku mengobrak-abrik dan menata kembali buku-buku di dalam ruangan Kak Endo waktu itu?" Rasa kesal tersirat jelas di wajah cantik gadis itu.


"Hahaha ...!" Endo tak menjawab. Hanya menanggapi dengan gelak tawa.


"Apa Kakak tahu bahwa Echa menghabiskan lebih dari setengah hari kerja untuk membereskannya?"


"Dan apa kau tahu?" Endo buru-buru menimpali. "Kau terlihat sangat lucu waktu itu. Hatimu kesal ingin marah, tapi harus tetap menjaga senyum manismu di hadapanku. Hahaha ...."


"Jika bukan karena nilai magang, Echa tak sudi melakukannya."


"Asal kau tahu, sebenarnya aku ingin memberikan nilai D padamu."


"D?" ulang Echa dengan dua alis hampir tertaut.


"Ya. Agar kau mengulang magangmu di sini lagi tahun depan. Hahaha ...!"


"Jika kau mengulang lagi, bukankah itu berarti aku akan bertemu denganmu lagi?"


Endo menyuapkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulutnya sendiri. Sementara Echa diam tak menyahut.


"Tapi Novera protes padaku. Dia marah-marah atas nilai yang telah kuberikan padamu. Aku sampai bingung, sebenarnya aku atau dia yang jadi bosnya?"


Tangan kanan Endo kembali bergerak. Disuapkannya satu sendok nasi ke dalam mulut Echa yang tanpa sadar juga menerima suapan itu.


"Kau tahu dia bilang apa?" Endo kembali bersuara, lalu berdehem, bersiap menirukan suara dan gaya bicara Novera.


"Jika Bapak menyukainya, bukan begini caranya. Dasar kampungan!"


Seketika tawa Echa meledak mendengar ucapan Endo.


"Dia mengatai Kak Endo kampungan? Hahahaha ...!" Echa kembali terbahak-bahak. "Ya Tuhan, dia benar sekali dan berani sekali. Hahahaha ...!"


Tawa Echa semakin pecah. Ia bahkan tak menghiraukan para mengunjung warung dan pejalan kaki yang menatap aneh ke arahnya.


"Hah, Novera ada-ada saja," ucap Echa setelah tawanya mulai mereda. "Ternyata dia baik juga padaku. Padahal sering membuatku kesal juga."


"Benarkah? Berani sekali dia membuat kesal Nyonya Endo."


"Bukankah Kakak juga sama saja?" hardik Echa tak terima.


"Itu berbeda, Cha. Justru hanya akulah yang boleh melakukan hal seperti itu padamu, karena kau adalah milikku."


Tangan Endo bergerak kembali menyuapi Echa.


"Hah, dasar menyebalkan! Kalian berdua sama saja," hardik Echa di sela kunyahannya. "Tapi baiklah, besok aku akan berterimakasih pada Novera. Walau bagaimanapun dia telah banyak membantu dan membimbingku selama ini."


Endo tersenyum mendengar ucapan tulus Echa.


"Dan ... terimakasih, Kak. Kakak telah dengan sabar membimbingku selama magang." Echa kembali bersuara.


"Hanya itu saja?"


"Mmm ... terimakasih karena Kakak mencintaiku."


Endo tersenyum, menatap lekat-lekat kedua mata bulat di hadapannya. Dikecupnya kening gadis itu dengan lembut sebelum mengacak puncak kepala yang terbingkai dengan rambut yang sengaja dibuat bergelombang itu dengan gemas.


Echa membalas Endo dengan memberikan kecupan di kedua pipi.


"Aku ingin lebih dari sekedar pipi ...," rengek Endo seperti anak kecil.

__ADS_1


"Ih ... Kak Endo apa-apaan sih!" hardik Echa sembari mencubit pinggang Endo untuk menutupi kedua pipinya yang mulai bersemburat merah.


"Aw! Hahahaha ...!"


Endo tertawa lebar mendapati reaksi lucu pada pipi gadis itu. Sementara Echa terus mencubiti pinggang dan lengan Endo tanpa ampun.


Sesaat kemudian Endo kembali menyerahkan piring kepada Echa ketika tiba-tiba saja ponsel di dalam saku celananya berbunyi. Diperiksanya benda pipih itu. Satu pesan masuk ke aplikasi percakapan.


"Siapa?" tanya Echa penasaran. "Ada apa?" tanyanya lagi beberapa saat setelah lama menunggu dan Endo tak juga menjawab pertanyaan.


"Aldo. Dia memintaku datang ke apartemennya malam ini."


"Lalu?"


"Aku sedang bersamamu," jawab Endo sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Echa, kemudian cepat-cepat mengabadikannya dengan kamera ponsel.


"Untuk apa?"


"Entahlah, aku tak tahu," jawab Endo singkat.


"Maksud Echa foto itu tadi. Kenapa tiba-tiba Kak Endo mengambil gambar begitu saja?"


"Untuk kukirimkan pada Aldo. Supaya dia percaya jika aku sedang bersamamu."


"Tapi tadi kan Echa belum siap, Kak. Bagaimana jika Echa terlihat buruk?"


"Ya Tuhan, Echa. Sudah kukatakan bukan, kau selalu terlihat cantik dalam keadaan dan kondisi apa pun, sayang."


Endo mencubit kedua pipi Echa dengan gemas.


"Lagi pula, sebenarnya ada apa denganmu? Biasanya juga kau tidak perduli dengan wajah ataupun penampilanmu."


"Iya. Tapi kan ini beda, Kak. Kali ini fotonya dikirim ke Kak Aldo," kilah Echa cepat.


Endo memicingkan mata, mulai jengah dengan tingkah absurd kekasihnya.


"Bagaimana jika nanti Kak Aldo memandang buruk pada Echa, lalu tidak menyetujui hubungan kita?"


"Hahahaha ...!" Sontak gelak tawa Endo lepas begitu saja. "Ya Tuhan, kenapa kekasihku begitu lucu dan menggemaskan? Hahahaha ...."


Masih sambil berusaha meredakan tawa, tangan Endo terulur meraih ponsel di atas dashboard.


"Lihat saja sendiri bila kau tak percaya." Endo menunjukkkan foto hasil bidikannya pada Echa. "Cantik, bukan?"


"Ah, iya. Kita terlihat begitu serasi." Echa berseru ceria.


Endo turut mengamati foto yang disebut serasi oleh kekasihnya itu. Namun tiba-tiba saja perhatiannya terpaku pada background gambar. Tampak dua orang duduk di dalam mobil. Tak begitu jelas karena lampu di dalam mobil tersebut tidak menyala. Namun Endo tahu betul siapa kedua orang itu.


Sementara itu Rosella dan Bayu terus mengamati gerak gerik laki-laki berparas bule dan pasangannya itu dalam diam.


"Jadi gadis itu yang bernama Echa? Bukankah dia adalah sekretaris pribadinya Endo? Oh ... aku paham sekarang."


Bayu diam tak menanggapi gumaman Rosella. Namun perhatiannya tetap fokus pada kekasihnya itu.


"Hah, brengsek!" Rosella kembali bersuara. Mengumpat dengan kedua mata menatap kesal pada pasangan yang tengah asyik bercengkerama tak jauh dari tempatnya itu.


"Ada apa denganmu, sayang?" tanya Bayu bingung.


"Sudah, Bay. Kita pergi saja." Rosella memberikan komando.


"Kita langsung ke apartemen?" tawar Bayu.


"Tidak, Bay. Kau langsung antar aku kembali ke rumah Endo saja."


"Tapi urusan kita belum selesai, sayang," sanggah Bayu cepat.


"Kita lanjutkan besok saja, Bay. Lagi pula ini sudah malam. Aku tak mau jika nanti Endo sampai di apartemen lebih dulu dari pada aku." Rosella beralasan.


"Baiklah, terserah kau saja."


Akhirnya Bayu mengalah. Dihidupkannya mesin mobil, lalu segera bertolak meninggalkan tempat di mana Endo masih asyik menikmati malam bersama Echa.


Sesampainya di rumah, Rosella langsung masuk ke dalam kamar. Ia tak berminat sama sekali untuk melalui makan malamnya sendirian tanpa kehadiran Endo di meja makan.


"Brengsek!" maki Rosella dengan kedua tangan terkepal erat. "Jadi Endo benar-benar telah memiliki kekasih? Sialan!"


Rosella melempar tas di tangannya dengan sembarangan, hingga hampir mengenai vas bunga di atas nakas.


"Selama lebih dari tiga bulan aku mencoba mendekati dan merayunya siang dan malam, tak membuahkan apapun. Dia, gadis tak berguna itu justru dengan mudahnya mendapatkan hati Endo? Dasar brengsek!"


Rosella melempar heels kirinya ke sembarang tempat, disusul dengan heels kanan.


"Tidak. Aku tidak akan diam saja. Aku tidak akan pergi dari tempat ini tanpa membawa hasil apapun. Aku tidak akan membiarkan hatinya dimiliki oleh wanita lain!"


Rosella melangkah pelan menuju pintu balkon. Dibukanya pintu itu lebar-lebar, kemudian melangkah ke luar, memandang ke arah pintu gerbang setinggi dua meter yang dilewatinya bebrapa saat yang lalu.


"Aku harus melakukan sesuatu. Aku harus memisahkan mereka berdua. Belum terlambat. Endo, hatiku kini adalah milikmu, maka hatimu pun juga harus menjadi milikku."


Wajah Rosella tampak berpikir keras sembari bergumam, "Tapi bagaimana caranya? Bagaimana cara memisahkan mereka berdua?"


Perlahan Rosella membalik badannya hingga menghadap pintu balkon, kemudian menyandarkan tubuh lelahnya pada pagar balkon.


"Endo belum pernah membawa gadis itu ke rumah ini. Itu berarti ...."


Sebuah senyuman licik tercetak di antara dua bibir wanita cantik itu. Ia pun kembali berbalik menghadap ke pekarangan rumah mewah itu, kemudian mendongak, menatap lekat ke arah rembulan yang malam itu bersinar sungguh sangat terang.

__ADS_1


"Bahkan rembulan pun berpihak padaku."


BERSAMBUNG ...


__ADS_2