LOCK DOWN

LOCK DOWN
Part 10. Hari yang Melelahkan 2


__ADS_3

"Ternyata kau sudah kembali?" Tiba-tiba terdengar suara Rudi di ambang pintu.


"Tidak bisa kah kau mengetuk pintu sebelum masuk?" Endo balik bertanya. "Bagaimana jika aku sedang melakukan sesuatu dengannya?" Endo menunjuk ke arah Echa dengan ujung dagunya.


Mata Echa memicing tajam ke arah Endo. Berusaha menunjukkan bahwa ia tak suka dengan kelakaran bosnya itu.


"Ada sesuatu yang harus kubicarakan denganmu," sahut Rudi tanpa mengindahkan ucapan Endo sebelumnya. "Tentang Rosella."


"Sudah, sana cepat buatkan kopinya," perintah Endo pada Echa, sebelum kembali fokus kepada Rudi.


Echa pun segera berlalu tanpa permisi terlebih dahulu. Tidak sampai lima menit, Echa telah kembali dengan kopi hitam buatannya.


"Ini kopinya, Pak." Echa meletakkan dua cangkir kopi di meja.


"Ya, terimakasih," ucap Endo singkat.


"Untukku juga ada?" tanya Rudi sembari melirik cangkir kopi yang lain. "Terimakasih, Cha," lanjutnya sembari mengerling jenaka ke arah Echa.


"Hei, sejak kapan kalian menjadi begitu akrab?" hardik Endo sembari meraih cangkir kopinya kemudian menyesapnya perlahan.


"Sama-sama, Pak Rudi," sahut Echa sebelum terdengar teriakan dari mulut Endo.


"Hei, apa-apaan ini?!" seru Endo dengan kedua mata membulat sempurna. "Pahit sekali!"


"Apa?" tanya Echa dengan wajah terkejut dan bingung.


"Kau ingin membunuhku, ya?!"


"Tidak, Pak. Saya sudah memasukkan gula ke dalam cangkirnya. Sungguh!" sahut Echa panik.


"Tapi buktinya kopi ini pahit!"


Rudi meraih cangkir kopi miliknya, kemudian menyesapnya perlahan.


"Tidak ada yang salah dengan kopi ini," gumam Rudi pelan, nyaris tanpa suara.


"Maaf, Pak. Kopinya saya ganti dengan yang baru saja kalau begitu," usul Echa sembari melangkah hendak mengambil cangkir milik Endo.


"Tidak usah," cegah Endo buru-buru. "Tidak perlu."


Echa berdiri dengan wajah penuh kebingungan. Sementara Endo mengalihkan pandangannya ke arah rak buku di belakang meja kerjanya.


"Buku-buku itu ... susun ulang dan kembalikan seperti semula," perintah Endo.


"Apa, Pak?" tanya Echa dengan ekspresi kesal dan bingung bercampur menjadi satu. "Baru saja Bapak bilang apa?" ulang Echa.


Endo dan Rudi menoleh bersamaan, memandang bingung ke arah Echa.


"Tadi Bapak menyuruh saya menyusun ulang buku-buku itu. Sekarang Bapak suruh saya mengembalikan susunannya lagi seperti sebelumnya?" tanya Echa, berusaha dibuat sehalus mungkin, namun tetap terdengar nada kesal yang kentara di sana.


"Ya. Tadinya kupikir suasana yang baru akan membuat ruangan ini tampak fresh. Tapi baru kusadarai bahwa ternyata aku ini orangnya monoton dan tidak begitu menyukai perubahan," sahut Endo santai.


"Kalau memang hanya ingin dikembalikan seperti semula lagi, lantas untuk apa tadi saya repot-repot mengobrak-abrik dan menyusun seperti mau Bapak?" protes Echa lantang. "Sesuai urutan warna pelangi yang Bapak minta? Konyol!"


"Hei, sudahlah, Cha. Kau istirahat saja dulu," ucap Rudi menengahi sebelum Endo sempat kembali membuka suara. "Sudah waktunya makan siang."


Echa menatap kesal kepada Endo, sebelum kemudian beralih memandang ke arah Rudi. Setidaknya kali ini Rudi telah datang sebagai dewa penolong baginya.


"Baik, Pak Rudi," ucap Echa akhirnya. "Terimakasih."


"Jangan lupa," seru Rudi mengingatkan. "Segera bereskan buku-buku itu setelah kau selesai istirahat makan siang."


Mendengar ucapan Rudi, Echa hanya bisa menarik nafasnya kasar dengan kedua tangan terkepal erat di kedua sisi tubuhnya.


"Kalian ternyata sama saja," gumam Echa kesal sembari berjalan ke luar tanpa berpamitan sama sekali.


Sepuluh menit kemudian, gadis cantik itu telah tampak asyik bergabung dengan teman-teman sesama karyawan bersetelan putih hitam yang lain di kantin perusahaan. Ya, hanya pada saat-saat seperti inilah mereka bisa sejenak melupakan kepenatan tugas-tugas sebagai karyawan magang.


"Kalian pulang jam berapa semalam?" tanya Echa di sela kunyahannya.


"Semalam kau tidak bergabung dengan kami, kau pasti menyesal," sahut Ajeng.


"Memangnya apa yang sudah kulewatkan?"


"Andi, semalam dia melamar Terry," sahut Dian antusias.


"Hah? Benarkah?" tanya Echa heboh. "Wah, kali ini aku benar-benar menyesal tidak bergabung bersama kalian," lanjutnya. "Selamat ya, honey." Echa memeluk Terry dengan penuh suka cita.


"Kalian ini benar-benar ya," sahut Netta. "Magang baru selesai tiga bulan lagi, ujian pun juga di depan mata. Belum lagi skripsi yang harus segera kalian selesaikan. Ini lagi, malah main lamar-lamaran," lanjut Netta yang memang lebih dewasa, baik secara umur maupun cara berpikir dibanding yang lainnya.


"Ayolah Netta, apa salahnya kita bersenang-senang," sahut Echa sembari memutar bola matanya jengah. "Berikan ucapan selamat kepada teman kita ini."

__ADS_1


"Jangan hanya selamat saja. Kamu sendiri kapan akan memperkenalkan pasanganmu pada kami?" sahut Terry setelah mengurai pelukannya dari Echa.


"Aku?" Echa balik bertanya. "Tenang saja, nanti juga ada," lanjutnya sekenanya.


"Dari dulu selalu begitu," tukas Dian. "Bukankah banyak laki-laki yang menyukaimu? Pilihlah salah satu. Aku yakin jodohmu adalah salah satu di antara mereka."


"Ya Tuhan, Dian ... kau pikir memilih jodoh semudah membeli durian? Dicium, dibayar, lalu dibawa pulang begitu saja?"


"Memilih jodoh memang semudah itu, Cha," sahut Ajeng yang baru saja menyelesaikan suapan terakhirnya. "Kau saja yang terlalu mempersulit diri sendiri."


"Jangan dengarkan ucapan orang-orang gila ini, Cha," sahut Netta. "Memilih jodoh itu untuk menikah. Sedangkan menikah itu untuk sekali seumur hidup. Jadi memang harus benar-benar selektif betul."


"Nanti malam kita pesta!" seru Ajeng tak mengindahkan ucapan Netta. "Harus dirayakan!" lanjutnya. "Iya kan, Cha?"


"Harus dong, harus!" sahut Echa heboh, demi keluar dari pembahasan mengenai dirinya.


"Dasar kalian ini, selalu saja begitu jika orang tua bicara," gumam Netta sembari geleng-geleng melihat kelakuan teman-temannya.


"Dasar perempuan, kenapa kalian senang sekali merayakan sesuatu," komentar Andi yang menyadari bahwa isi dompetnya akan terkuras malam ini.


"Dasar laki-laki, kenapa kalian tampak sirik sekali jika kaum kami merasa bahagia," timpal Ajeng tak mau kalah.


Echa tertawa lebar mendapati Andi yang hanya bisa manyun di tempatnya.


"Hei, kalian mau kemana? Rapat kita belum usai," seru Dian saat melihat Echa, Terry dan Andi beranjak dari duduknya.


"Aku pusing mendengar hingar-bingar suara sumbang kalian," sahut Andi sembari melangkah pergi dengan menggamit pergelangan tangan Terry.


"Ada tugas dari Pak Endo yang harus segera kuselesaikan," sahut Echa akhirnya karena mendapati seluruh pasang mata teman-temannya mengarah kepadanya. "Atau aku harus lembur dan tidak bisa bergabung dengan kalian lagi malam ini."


Echa pun segera berlalu tanpa menunggu komentar dari teman-temannya lebih lanjut, langsung menuju mejanya di lantai paling atas.


"Kenapa kau tampak begitu lesu?" tanya Novera begitu Echa duduk di kursinya.


"Aku memang sedang lelah, Nov," sahut Echa tanpa semangat. Disandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Lelah kenapa?"


"Lelah meladeni bos yang menyebalkan itu," gumam Echa sembari memejamkan matanya.


"Apa Endo ada di ruangannya, Nov?" tanya Rudi yang tiba-tiba saja sudah berdiri di depan meja Novera.


"Tidak, Pak. Beliau belum kembali. Mungkin beliau masih menyelesaikan makan siangnya," jawab Novera sopan.


Perhatian Rudi teralih pada sekretaris cantik bersetelan putih hitam itu.


"Mengerjai?" tanya Rudi tak paham.


"Kau tahu bukan seberapa banyak buku yang tersusun di belakang kursi kerjanya itu, Nov?" Echa masih menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. "Dia menyuruhku menyusun ulang buku-buku itu."


"Ok, mungkin susunan buku-buku itu sudah terlalu berantakan," sahut Rudi mulai menaruh perhatian. "Lalu masalahnya di mana?"


"Dia menyuruhku menyusunnya berdasarakan warna," sahut Echa tanpa minat, masih dengan kedua mata terpejam. "Warna pelangi," lanjutnya. "Dan kau tahu artinya apa? Artinya adalah aku harus membongkar semua buku itu dan memastikan warna merah berada pada urutan paling atas, sedangkan warna ungu berada di urutan paling bawah."


"Well, tugas paling konyol sepanjang aku menjabat sebagai sekretaris pribadinya," komentar Novera sembari tertawa geli.


"Dan itu bukan akhir dari segalanya," sahut Echa sembari menahan kesal, masih dengan mata terpejam.


"Apa lagi?" tanya Novera penasaran.


"Setelah tiga jam aku berjibaku dengan tugas konyol itu, kau tahu apa yang dilakukannya?"


"Hei, tentu saja tidak, Echa manis," sahut Novera gemas.


"Biar kuberitahu," sahut Echa mulai tampak menahan kesal. "Sekarang dia menyuruhku membongkar lagi susunan buku-buku itu dan mengembalikannya ke posisi seperti semula sesuai barcode."


"Hahahaha ... terbayang olehku bagaimana kesalnya kau padanya." Tiba-tiba saja Rudi tertawa terbahak-bahak, hingga Echa terpaksa harus membuka matanya untuk memastikan siapa yang tengah mengumbar tawa.


"Bagus, Pak. Tertawalah di atas penderitaanku," sungut Echa semakin kesal. "Tadinya kupikir Bapak hadir sebagai dewa penolong bagiku, tapi ternyata Bapak sama saja dengannya," rutuk Echa menahan kesal.


"Apakah kalian membicarakanku?" Tiba-tiba saja Endo sudah berdiri di samping Rudi.


"Ah, tidak, Pak," elak Novera masih berusaha menyembunyikan tawa lebarnya.


"Tidak, Pak," elak Echa dengan wajah kesalnya. "Kami hanya sedang membicarakan atasan menyebalkan yang sangat senang melihat bawahannya menderita. Andai saja nilaiku tidak bergantung padanya, ingin rasanya aku mencekiknya saat ini juga."


"Wow ...." Kedua mata Rudi membulat mendengar ucapan Echa yang dinilai terlalu berani.


"Kalian bertiga cari mati ya?" sahut Endo.


"Bukan kami. Tapi hanya dia," sanggah Rudi sembari menunjuk ke arah Echa.

__ADS_1


"Eh?" Mata Echa melotot ke arah Rudi yang memasang wajah sok polos.


"Kau!" Endo menatap ke arah Echa. "Masuk ke dalam ruanganku dan segera selesaikan pekerjaanmu!"


Endo segera beranjak menuju ruangannya.


"Banyak-banyaklah belajar dari Rudi, Cha. Dia sangat pandai menjilat," ucap Endo kemudian sambil terus berjalan.


"Apakah itu sebuah pujian?" teriak Rudi yang masih berdiri di depan meja Novera. "Apakah aku patut berbangga hati?" tanyanya lagi sembari beranjak menyusul langkah Endo yang juga diikuti oleh Echa dengan langkah gontainya.


___


"Bagaimana pekerjaanmu hari ini?" tanya Dion dengan sedikit berteriak, melawan dentuman musik yang dimainkan oleh DJ.


"Kacau!" sahut Echa sembari menyesap minumannya.


Kini penampilannya tak serapi siang tadi lagi. Rambutnya yang bercat pirang dibiarkan tergerai jatuh begitu saja. Sementara lengan kemejanya telah digulung hingga di atas siku.


"Kenapa? Kau salah membuat laporan?" tanya Dion lagi.


"Lebih menyebalkan dari pada itu."


"Kau ini bercanda atau apa? Memangnya hal menyebalkan apa yang bisa terjadi selama kau berada satu ruangan bersama si tampan nomor satu di perusahaan tempat kita magang?" Ajeng turut menimpali.


"Tampan kau bilang?" Echa balik bertanya. "Andai saja bisa, aku ingin bertukar posisi saja dengan dirimu."


"Ya. Andaikan bisa, aku rela melakukan apa saja agar bisa dekat dengannya," sahut Ajeng.


"Ya ... ya ... ya. Beranganlah dan ucapkan saja kata-kata itu sepuasmu, sebelum hal itu benar-benar terjadi dan kau menyesalinya," sungut Echa kesal.


Dion hanya tertawa mendapati rasa kesal yangbterpancar jelas di wajah Echa.


"Hei, ada apa denganmu? Kenapa kau tampak begitu membencinya?" tukas Ajeng dengan senyum jahilnya. "Hati-hati, cinta dan benci itu jaraknya sungguh sangat tipis."


"Aku membencinya? Sangat! Tapi kalau cinta ... Ya Tuhan, aku masih cukup waras untuk jatuh cinta pada laki-laki seperti dia," hardik Echa


"Laki-laki seperti apa maksudmu?"


"Pemain wanita," sahut Echa sembari menunjuk ke salah satu arah dengan dagunya.


Serempak Dion, Andi, Terry, Ajeng, Netta dan Dian pun menoleh ke arah yang dimaksud Echa. Tampak Endo tengah asyik bercengkrama dengan seorang wanita di salah satu meja pada sudut ruangan.


"Namanya juga laki-laki tampan, Cha. Wajar kalau dikelilingi perempuan cantik," ucap Ajeng masih dengan tatapan memuja. "Bukan berarti dia itu pemain wanita."


"Hah, terserah kau saja," sahut Echa tanpa minat, kemudian menyesap minumannya dan turut larut ke dalam hingar-bingar alunan musik yang dimainkan oleh DJ.


Sesekali Echa melirik ke arah sudut ruangan dimana Endo tengah asyik bercengkrama dengan wanita di sisinya. Sepertinya Endo memang tak menyadari kehadirannya. Diedarkan pandangannya menyapu seluruh ruangan. Tampak Andi, Terry, dan Ajeng tengah asyik melantai. Sementara Dion, Netta, dan Dian lebih memilih menikmati minuman dan cemilan dari meja mereka saja. Semua asyik menikmati pesta perayaan lamaran Andi dan Terry, tertawa lepas melupakan permasalahan yang mereka hadapi seharian.


Echa kembali melirik ke meja yang ditempati Endo. Namun laki-laki itu sudah tidak ada lagi di sana. Disapukan pandangannya ke seluruh ruangan. Nihil.


"Dia sudah pergi." Tiba-tiba sebuah suara tepat di telinga mengagetkan pendengarannya.


Echa menoleh. Didapatainya Rudi masih dengan setelan jas navy, sama seperti yang dikenakannya tadi siang.


"Siapa yang Bapak maksud?" tanya Echa menutupi keterkejutannya.


"Aku tahu sedari tadi kau terus memperhatikan Endo," sahut Rudi santai. "Kenapa? Kau penasaran dengan wanita yang bersamanya?"


"Aku?" Echa bertanya balik.


"Iya," jawab Rudi singkat.


"Untuk apa aku cemburu?"


Rudi tertawa mendengar pertanyaan Echa. Adakah yang menyebutkan bahwa gadis cantik itu tengah cemburu?


"Tidak?" Rudi balik bertanya.


"Tidak sama sekali," jawab Echa penuh penekanan.


Rudi kembali tertawa mendapati sikap berlebihan Echa, kemudian mengulang menyesap minumannya perlahan.


"Sudahlah, Pak. Berhentilah menjodoh-jodohkan aku dengannya. Kami memang memiliki kenangan di masa lalu, tapi bukan berarti aku berminat untuk menjalin hubungan lagi dengannya. Semuanya hanya masa lalu, dan di masa sekarang ini kebetulan saja kami dipertemukan dengan keadaan dia sebagai atasanku. Hanya itu saja."


Mata Rudi memicing ke arah Echa.


"Untuk apa kau menjelaskan semua itu padaku?" tanya Rudi acuh.


Kedua mata Echa membulat mendengar pertanyaan Rudi. Benar juga, untuk apa membahas hal itu dengan Rudi?


"Segeralah pulang. Jangan pulang terlalu larut. Kau butuh mengumpulkan amunisi untuk menghadapinya esok hari." Rudi beranjak dari duduknya setelah mengucapkan beberapa kalimat. "Dan satu lagi, jangan pernah kau menggerai rambutmu di depannya."

__ADS_1


Rudi segera berlalu, meninggalkan Echa yang terbengong tak mengerti maksud dari ucapannya, menyusul beberapa temannya ya tengah asyik melantai.


BERSAMBUNG ...


__ADS_2