
Seluruh pasang mata di lantai lobi tertuju ke satu titik, yaitu arah pintu masuk. Tampak tiga sekawan masuk dan berjalan beriringan menuju lift khusus petinggi perusahaan dengan penuh wibawa. Endo telah kembali dari jam istirahat siangnya, berjalan beriringan dengan Rudi di sebelah kanan, dan Disan di sebelah kiri. Langkah tegap dengan dada membusung dan tatapan kharismatik terpancar dari tiga pasang netra mereka.
"Selamat siang, Pak," sapa beberapa karyawan.
"Ya, selamat siang," jawab Endo.
Seperti biasa, Endo membalas sapaan para karyawan dengan senyum ramah menghias bibir. Sedangkan Rudi hanya melirik sekilas dengan acuh tanpa merasa harus repot-repot mengeluarkan suara. Bukankah sudah terwakili oleh suara dan senyum ramah Endo? Begitu mungkin dalam pikirannya.
Sementara Disan menanggapinya cukup hanya dengan sedikit mengangguk. Itu pun sudah termasuk respon yang bisa dibilang sangat menyenangkan. Karena biasanya pria satu ini hanya berjalan tenang dengan pandangan fokus ke depan tanpa menghiraukan kanan kirinya, apa lagi hanya untuk sekedar beramah-tamah seperti yang Endo lakukan.
"Bagaimana istirahat siangnya, Pak?" tanya salah seorang karyawan cantik dengan mata coklat dan alis tebal bagai ulat bulu tepat di depan pintu lift untuk karyawan, memang bersebelahan dengan lift khusus para petinggi perusahaan.
Mata Disan memicing, heran ada karyawan yang seberani itu menayakan hal semacam ini pada atasannya.
"Pintu lift sudah terbuka. Silahkan." Justru Disan yang menyahut sembari melirik ke arah pintu lift karyawan yang sudah terbuka lebar, dengan sorot dingin dibalik kaca mata minusnya.
Seketika suasana pun menjadi canggung. Para karyawan berebut untuk segera masuk ke dalam bilik lift, menghindari tatapan menghajar dari petinggi perusahaan yang tak pernah kedapatan tersenyum itu.
Rudi masih dengan ekspresi yang sama. Laki-laki bertubuh tegap itu bersiap melangkah ke dalam bilik lift dalam diam dan acuh, kemudian sibuk menatap layar ponsel di tangan kanan.
Sementara Endo hanya menoleh, kemudian melempar senyum hangat kepada mereka. Kali ini tanpa satu kata pun meluncur dari mulutnya.
Saat daun pintu lift karyawan bergerak merapat, tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara teriakan.
"Hei, tunggu! Tunggu ... tunggu ...! Tunggu aku!"
Seluruh pasang mata tertuju pada asal suara, termasuk ketiga sekawan fenomenal itu. Hah, bahkan Rudi yang acuh pun turut terdongak dari layar ponselnya karena penasaran dengan gangguan kecil itu, meskipun hanya dalam hitungan detik. Tampak seorang gadis cantik berlari dari arah pintu masuk menuju lift yang hampir tertutup.
Beruntung, salah salah satu dari penumpang bilik lift berbaik hati. Ia dengan cepat bergerak menjorokkan kaki kanannya hingga pintu lift tertahan.
"Hah, syukurlah," gumam gadis bersetelan putih hitam itu masih ngos-ngosan sembari melangkahkan kaki, masuk ke dalam bilik lift. "Terimakasih, Dion," lanjut gadis itu sebelum pintu lift benar-benar tertutup, bertepatan dengan pintu lift khusus petinggi perusahaan yang juga turut tertutup.
"Itu tadi ...," ucap Endo tertahan dengan ujung telunjuk kanan menunjuk ke pintu lift. "Itu tadi Echa, bukan?" lanjutnya dengan ekspresi bingung tak habis pikir.
Setelah tiga detik, tak satu pun dari kedua orang di sisinya yang melontarakan suara.
"Hei!" Endo menyikut pinggang Rudi dengan kesal.
"Apa?" tanya Rudi tak suka, merasa aktifitasnya terganggu.
"Itu tadi Echa?" ulang Endo.
"Sepertinya iya," sahut Rudi dengan wajah tanpa dosa. Tangan kanannya tergerak untuk kembali menyimpan gawai ke dalam saku celana bahan yang dikenakannya.
"Sepertinya kau bilang?" ulang Endo bingung. "Apa maksudmu?"
"Aku tidak melihatnya," jawab Rudi santai. "Jika kau melihatnya seperti gadis itu, berarti itu memang dia."
"Hei, apa-apaan ini?" sahut Endo tak suka dengan jawaban ambigu yang nyaris tak pernah terlontar yang mulut Rudi.
"Hei, ada apa denganmu?" Rudi tampak mukai kesal. "Gadis itu memang sedang magang di sini. Kalau kau melihatnya hilir mudik di sini, bukankah itu adalah hal yang wajar?" cerocosnya tanpa jeda.
"Apa kau bilang?" Endo bertanya, masih tidak paham. Terlihat dari kerutan yang timbul di antara kedua alisnya.
"Hei, jangan bilang kau belum membaca berkas yang kuberikan tempo hari." Rudi melempar pertanyaan yang mengacu pada penuduhan.
Endo terdiam, tak tahu harus bagaimana membalas kata-kata Rudi barusan. Jangankan dibaca, bahkan ia telah menyuruh Disan untuk membuang berkas itu.
"Hah, payah!" rutuk Rudi bertepatan dengan pintu lift yang terbuka, karena ia tahu apa yang dituduhkannya barusan memang benar-benar terjadi. Tanpa menghiraukan ekspresi kesal Endo, Rudi melangkah ke luar meninggalkan bilik lift menuju ruang kerjanya.
Sementara Disan memutuskan untuk tetap menyertai sang bos hingga tiba di ruangannya. Karena ia tahu bahwa saat ini kehadirannya akan sangat dibutuhkan di sana.
__ADS_1
Hingga pintu lift terbuka di lantai paling atas, Endo hanya diam tanpa bicara. Kaki panjang itu terayun cepat menuju ruang pribadinya.
"Selamat siang, Pak," sapa Novera.
"Ya," sahut Endo singkat. Bahkan sapaan Novera pun hanya dijawabnya sambil lalu saja.
"Aku berada satu gedung dengannya dan bahkan aku tak mengetahinya?!" rutuk Endo begitu kedua kakinya telah berada di dalam ruangan.
Disan diam, tak menjawab. Hanya tangan kokohnya saja yang bergerak, terulur menutup pintu hingga terdengar suara 'klik'.
"Sudah berapa lama dia di sini?" gumam Endo pelan. Lebih tepatnya bertanya pada dirinya sendiri.
"Satu bulan," sahut Disan sembari menghenyakkan pantatnya di atas sofa, mempersiapkan amunisi. Siapa tahu saja bosnya yang nyentrik ini akan memberikan perintah atau tugas yang tidak masuk akal padanya.
"Satu bulan? Dan kau tidak memberitahukannya padaku?" tanya Endo mulai kesal.
"Untuk apa?" tanya Disan dalam hati.
"Tentu saja aku ingin membalaskan sakit hatiku padanya!" seru Endo, seolah ia dapat mendengar isi hati Disan.
"Ya Tuhan, lalu kemana kata-kata yang kau ucapkan tempo hari bahwa kau tidak peduli walau dia kini bersama Lucas?!" rutuk Disan masih dalam hati.
Endo berkacak pinggang membelakangi Disan yang masih duduk tenang di tempatnya.
"Mana berkas yang pernah diberikan Rudi dulu itu?" tanya Endo.
Lah, bukannya dia sendiri yang beri perintah buat buang berkasnya ke tempat sampah, ya? Tuh kan, beneran ngerepotin kan dia.
Menyadari kekonyolannya, Endo berbalik, kemudian memandang kesal bercampur malu pada Disan.
"Apa?!" tanya Endo sembari melengos membuang muka. Malu total. "Kau membuangnya?" tanyanya dengan intonasi naik, menyembunyikan rasa malunya. "Cari ke tempat pembuangan di perusahaan ini. Jika tidak ada, cari ke Tempat Pembuangan Sementara. Kalau perlu cari juga di Tempat Pembuangan Akhir!" cerocos Endo tanpa jeda.
Ya, meminta salinan berkas pada Rudi adalah satu-satunya hal yang harus dihindrinya saat ini. Jadi, inilah cara yang paling masuk akal menurut Endo. Melampiaskan kekesalan dan rasa malunya pada Disan. Setidaknya ia yakin bahwa Disan akan menutup mulutnya rapat-rapat mengenai hal ini.
Setelah yakin bosnya telah puas dengan dialog tunggalnya dan kehabisan amunisi untuk berdebat dan menyalahkan, Disan segera bangkit. Kaki panjangnya melangkah pelan menuju meja kerja bosnya itu. Sebuah map kuning diambilnya dari tumpukan berkas di atas meja. Kemudian diserahkannya pada Endo.
"Kau sudah mendapatkannya?" komentar Endo sembari menerima berkas dari tangan Disan , sebelum bawahannya itu sempat bersuara. Jangan lupakan binar di kedua matanya. "Bagus, ternyata kau memiliki link dengan Dinas Pekerjaan Umum juga, ya?"
Kening Disan berkerut, kemudian dua indera di balik kaca mata itu terpicing. Tak menyangka bosnya bisa senorak dan sekonyol itu.
Endo mengambil posisi tak jauh dari tempat di mana Disan telah duduk beberapa saat yang lalu. Kedua mata birunya fokus menatap beberapa lembar kertas print out di tangan.
"Dia ditempatkan di departemen mana?" tanya Endo tiba-tiba.
"Membantu Samuel di bagian HRD," sahut Disan singkat.
"Bagaimana kinerjanya?" tanya Endo antusias.
"Bagus. Dia tipe gadis yang cepat belajar," sahut Disan. "Tak ada ruginya jika kau merekrutnya sebagai karyawan tetap setelah dia selesai magang nanti."
" Merekrutnya?" Sontak Endo tergelak. "Untuk apa? Agar hidupnya terjamin dengan gaji besar dari perusahaanku?" lanjutnya di sela gelak tawa. "Hah, yang benar saja."
"Memangnya kenapa?" sahut Disan tenang. "Kau menaruh dendam padanya?" tembak laki-laki berlesung pipi itu tepat sasaran.
"Tidak. Aku bukan laki-laki seperti itu," sanggah Endo cepat.
Hei, lalu siapa tadi yang bilang ingin melampiaskan sakit hatinya pada gadis itu?
___
Echa berjalan pelan dari pintu masuk menuju lift. Seperti biasa, atasan putih dengan rok hitam melekat rapi di tubuh mungilnya. Bukan hand bag ataupun tas kerja yang ia bawa, melainkan ransel hitam yang tergendong nyaman di punggungnya. Rambut hitamnya tampak berwarna pirang kali ini. Membuat wajah gadis duapuluh dua tahun itu terlihat semakin cantik dan segar.
__ADS_1
"Hai," sapa seorang laki-laki yang tiba-tiba saja mencolek pundak dan tampak berjalan di sisi kanannya.
"Hai, Dion," sahut Echa seramah mungkin.
"Kemarin kau kemana saja? Kenapa sampai jam pulang kantor kau tak juga kembali? Ponselmu pun juga tidak aktif," tanya Dion penasaran.
"Waktu jam makan siang kemarin aku pergi ke kampus," jawab gadis itu sembari menyamai langkah laki-laki di sampingnya.
"Kenapa kau tidak memberitahuku?" sahut Dion cepat. "Setidaknya aku bisa mengantarmu. Tidak perlu memakan banyak waktu hingga kau harus bolos kerja seperti itu kan, Cha."
Sesaat Echa memicingkan mata bulatnya, sembari meringis canggung. Merasa tidak enak.
"Maaf, aku hanya tak ingin merepotkanmu," sahut Echa kemudian.
"Hei, apanya yang repot? Aku malah senang melakukannya. Besok-besok lagi jangan seperti itu. Bilang padaku kalau ada perlu apa-apa. Aku akan membantumu. Jangan sungkan."
Dion terus berbicara sembari melangkahkan kaki panjangnya.
"Iya, aku tahu," sahut Echa masih merasa tak nyaman. "Lagi pula kemarin Mila memberitahukan padaku secara mendadak. Tanpa pikir panjang aku langsung pergi begitu saja setelah meminta izin pada Pak Samuel."
"Memangnya ada perlu apa di kampus?" tanya Dion sembari menghentikan langkahnya.
"Konsultasi skripsi. Kebetulan dosen pembimbingnya datang. Dari pada ditunda-tunda, aku pikir lebih baik segera bertemu dengan beliau saja," sahut Echa turut berhenti di hadapan Dion.
"Oh ...." Dion manggut-manggut, sebagai tanda bahwa ia bisa menerima alasan Echa. "Tapi tetap saja merepotkan jika kau harus naik taksi atau angkutan umum yang lain."
"Iya, iya. Lain kali aku akan memintamu menajadi sopirku," putus Echa yang mulai jengah dengan topik pembicaraan mereka.
"Aku akan mengantarmu dengan senang hati," sahut diob sambil menarik pergelangan tangan gadis di sampingnya, melangkah masuk ke dalam bilik lift.
Sementara tidak jauh dari tempat itu, dua pasang netra biru dan hitam tengah mengamati kedekatan mereka berdua dalam diam. Sang pemilik netra biru memandang tajam hingga pintu lift kembali tertutup dengan kedua tangan mengepal erat. Sementara rekannya tampak berdiri dengan tenang sembari memperhatikan gerak geri dan gestur sang bos di sebelahnya.
Setelah pintu lift khusus karyawan tertutup, keduanya pun segera melangkah menuju lift khusus petinggi perusahaan. Hanya dalam hitungan detik, pintu lift terbuka. Keduanya segera masuk dan naik ke lantai paling atas dalam diam.
Novera segera berdiri dari duduknya saat melihat sang bos baru saja masuk dan tengah berjalan cepat menuju ruangannya.
"Selamat pagi, Pak," sapa Novera.
"Hmm ...," sahut Endo dan Disan hampir bersamaan."
Lihat, kan? Bahkan sapaan Novera pun hanya ditanggapi dengan acuh sambil lalu oleh laki-laki dengan tatapan teduh yang lebih sering mengumbar senyum itu.
"Pindahkan dia ke sini," perintah Endo penuh kejutan setelah pintu ruangannya kembali tertutup rapat. "Aku ingin dia menjadi sekretaris pribadiku," lanjutnya.
Disan menatap tak percaya pada keputusan bosnya yang terdengar sinting itu.
"Kau berani menganggapku sinting?" tanya Endo, lagi-lagi bagai dewa yang tahu apa isi hati Disan.
"Tapi dia memang sudah ditempatkan di sana sejak satu bulan yang lalu," protes Disan. "Dia hanyalah mahasiswa magang. Dari segi pengalaman, kurasa sangat jauh dari kata cukup. Oleh sebab itu, tidak selayaknya dia mendampingimu sebagai sekretaris pribadi. Lagi pula kau sudah memiliki Novera sebagai sekretaris pribadi Kulihat kinerjanya sangat bagus. Aku tak pernah melihat ada sedikitpun cacat pada hasil kerjanya," lanjut Disan panjang kali lebar.
"Akhir-akhir ini tugas Novera semakin banyak dan menumpuk. Aku khawatir dia kuwalahan, kelelahan dan akhirnya dropp," sahut Endo. "Bukankah itu akan membawa akibat buruk pada perusahaanku juga?"
"Tidak semudah itu," sanggah Disan dengan sabar. "Membuatnya sepandai dan seahli Novera dalam pekerjaannya, bukanlah semudah membalikkan telapak tangan," lanjutnya.
"Bukankah kau bilang dia tipe gadis yang cepat belajar?" tukas Endo tak mau kalah. "Jadi kurasa permintaanku ini bukan masalah bagimu," lanjutnya.
"Dia memang cepat belajar, tapi tetap saja belum berpengalaman dalam menghandle segala macam urusan harian berkaitan dengan kantormu," sanggah Disan tetap dengan ekspresi tenang dan ekstra sabar.
"Aku tak mau tahu, bereskan semua ini. Aku mau mulai besok pagi dia sudah duduk satu lantai denganku," putus Endo akhirnya. "Jika tidak, kau akan kupecat!"
"Demi Neptunus dan warga Bikinni Bottom, katakan saja bahwa saat ini kau sedang cemburu, Bos!" rutuk Disan dalam hati, dengan ekspresi wajah tetap tenang.
__ADS_1
"Hei, hati-hati dengan pikiranmu itu! Jangan pernah kau mengira bahwa aku masih menaruh hati padanya dan sedang cemburu!" hardik Endo, lagi-lagi bagai cenayang.
BERSAMBUNG ...