LOCK DOWN

LOCK DOWN
Part 20. Ayo Kita Berkencan


__ADS_3

"Katakan padaku." Suara Endo kembali terdengar. "Apakah kau masih mencintaiku?" tanya Endo. "Jika iya, maka aku akan memberikan seluruh cintaku padamu," lanjutnya. "Sama seperti dulu."


Endo menatap lekat wajah cantik yang hanya bergeming di hadapannya. Perlahan tangan kanannya terulur mengusap pipi halus itu dengan lembut. Gadis itu tampak diam menikmati sentuhan tangan kokoh di kulit halusnya. Wajah cantik yang berbingkai rambut panjang, benar-benar membuat Endo mulai menjadi gila.


"Katakan kau mencintaiku, aku berjanji akan memberikan lebih dari semua ini," bisik Endo sembari mendekatkan wajahnya ke arah Echa. Tangan kirinya pun turut meremas lembut jemari Echa dalam genggamannya.


Echa terdiam dengan kedua mata membulat dan mulut tercekat, tak menyangka Endo akan mengucapkan kata-kata itu.


"Diammu kuanggap iya," bisik Endo lagi, kemudian menekan tengkuk Echa dengan tangan kanannya bersiap mencium bibir gadis itu.


"Apa-apaan ini?" hardik Echa dengan telapak tangan kanan menempel tepat di mulut Endo.


Tangan itu lah yang memisahkan bibir Endo dengan bibir ranum Echa. Setipis itu jarak keduanya.


"Pergi dari kamar Echa!" lanjutnya sembari mendorong tubuh Endo sekuat tenaga.


Kedua mata Endo terbelalak mendapati keberanian gadis bermata bulat itu mendorong tubuhnya dengan begitu kuat, bahkan hingga terjengkang.


"Sedikit saja, Cha," rayu Endo seraya kembali ke posisi semula.


"Keluar!" teriak Echa, menjauh dari Endo menuju ke tempat tidur.


"Anggap saja sebagai ucapan terimakasih karena aku telah menolongmu." Endo masih mencoba peruntungan.


"Keluar Echa bilang!" teriak Echa sembari melemparkan seluruh bantal ke arah Endo yang terus loncat sana loncat sini menghindari serangan serampangan darinya.


Echa semakin geram mendapati Endo yang masih saja enggan ke luar dari dalam kamarnya. Dihampirinya laki-laki berwajah bule itu, kemudian didorong dengan paksa menuju pintu ke luar.


"Awas ya, berani macam-macam lagi!" ancam Echa sembari menunjuk hidung Endo disertai dengan mata bulat yang berkilat penuh rasa kesal.


Echa menunjuk kedua matanya sendiri dengan jari tengah dan telunjuk. Kemudian beralih mengarahkan kedua jarinya itu dengan kasar ke arah kedua mata laki-laki di hadapannya.


Endo terkejut dengan ulah Echa, lalu sedikit memundurkan kepalanya agar tak terkena colokan kedua jari bercat kuku merah itu.


Perlahan Echa menurunkan jari ke arah lehernya sendiri. Dengan jari telunjuk, ditirukannya adegan menggorok leher sembari mengucap, "Kekk!"


Secara refleks, kedua tangan Endo langsung terangkat memegang leher dengan ekspresi menahan ngeri.


Tanpa aba-aba, Echa langsung menutup pintu dengan kencang. Menyisakan Endo yang masih berdiri bergeming di tempatnya dengan mulut dan kedua mata membulat karena terkejut.


Sesaat kemudian Endo tersenyum geli sembari menggelengkan kepala.


"Gadis ini ... memang benar-benar menggemaskan," gumam Endo, masih berdiri memandang pintu yang telah tertutup.


Sesaat kemudian Endo teringat kembali bagaimana Echa melancarkan ancamannya barusan. Tanpa sadar, perlahan tangan kanan Endo terangkat. Diarahkannya telunjuk kanan ke leher bagian kiri, kemudian ditarik ke arah kanan sembari mengucap, "Kekk!"


Seketika Endo bergidik ngeri dengan ulahnya sendiri, kemudian buru-buru berbalik sembari mengusap leher dengan kedua tangan. Ia pun melangkah menjauh meninggalkan *k*amarnya yang kini bukan lagi miliknya.


___


"Apakah dia membuat ulah?" tanya Endo sembari mengambil dua kaleng soft drink dari lemari pendingin.


"Tidak, Tuan," sahut Anna. "Nona Echa hanya turun tiga kali. Yang pertama untuk menanyakan keberadaan Anda. Yang kedua untuk mengambil minum dan meminta cemilan, walaupun sepertinya itu hanya alasan karena saya sudah mengantar minuman dan cemilan ke dalam kamarnya."


Endo tersenyum. Ia tahu bahwa itu hanyalah alasan, gadis itu sebenarnya sedang mencari keberadaannya.


"Apa yang kau katakan tentangku?"


"Anda sedang sibuk di ruang kerja," jawab Anna singkat.


"Ada lagi?"


"Nona Echa bertanya siapa tamu Anda, apakah Tuan Disan? Saya katakan iya."


"Lalu yang ketiga?"


"Nona Echa turun untuk menunggu kurir pengantar beberapa kaset DVD yang dipesannya secara online."


Endo melirik arloji di pergelangan tangan kanannya. Pukul sepuluh lewat tigapuluh menit.


"Ya sudah, kau kembali lah bekerja," perintah Endo kemudian.


"Baik," jawab Anna singkat, lalu buru-buru undur diri.


"Baru dua jam tak bersamaku dia sudah mulai merasa bosan?" gumam Endo narsis, kemudian melangkah pelan menuju kamar Echa dengan dua kaleng soft drink di tangan


"Kenapa seharian kau tak ke luar kamar? Memangnya apa yang kau lakukan hingga membuatmu betah berada di dalam sini?" Endo masuk ke dalam kamar berdominasi warna hitam itu tanpa permisi.


Tatapan mata Endo langsung tertuju pada sesosok gadis yang tengah sesenggukan di atas sofa.

__ADS_1


"Hei, kau kenapa?" tanya Endo yang entah kenapa jadi mendadak panik. "Ada apa denganmu?"tanyanya lagi.


Endo melangkah cepat menghampiri Echa dengan kaki panjangnya. Diletakkannya secara sembarangan dua kaleng soft drink yang tadi dibawanya. Ia pun langsung duduk di samping gadis itu dengan tatapan tak lepas dari wajah yang sembab akibat menangis.


"Apa yang terjadi?" tanya Endo tak sabar.


Kedua tangan kokoh laki-laki itu terulur menangkup dua pipi yang basah oleh linangan air mata itu. Tatapan matanya masih sama, tak lepas barang sejenak pun dari wajah sedih di hadapannya.


"Sayang, katakan ada apa?" Intonasi bicara Endo sedikit melembut, meskipun masih tampak jelas adanya kecemasan di sana.


Perlahan tangan kanan Echa terangkat, sembari menunjuk lurus ke depan. Ke arah layar kaca yang menempel di dinding kamar. Endo turut menoleh, memandang ke arah yang sama.


"Televisi?" tanya Endo bingung. "Apa maksudnya?" lanjutnya dengan kening berkerut.


"Itu, Kak ... si Kim Tan sudah menyiapkan apartemen sederhana untuk mereka berdua. Bahkan dia rela melepas hak warisnya untuk kakak tirinya. Tapi En Sang malah pergi meninggalkan dia, meninggalkan cintanya, meninggalkan kebahagiaannya karena diancam oleh ayah Kim Tan. Hiks!" Echa kembali terisak.


"Film?" tanya Endo beberapa saat kemudian setelah berhasil mencerna ucapan Echa yang begitu panjang.


"Padahal dia ganteng loh. Kasihan kan dia, Kak?" sahut Echa.


"Jadi kau menangis karena film?" tanya Endo tak habis pikir.


Echa diam tak menyahut, masih larut dengan emosi kesedihannya. Pandangan Endo beralih ke meja di sampingnya. Di sana terdapat beberapa DVD drama korea berbagai genre.


"Dari mana kau dapatkan ini semua?" tanya Endo curiga. Karena seingatnya dirinya tidak pernah menyukai tontonan seperti itu. Bahkan sampai hari ini pun tak ada perubahan pada seleranya terhadap film.


"Anna yang membelikannya," jawab Echa sembari menghapus air matanya dengan tisu.


"Apa?" tanya Endo tak percaya.


Laki-laki berwajah bule itu kembali teringat dengan laporan yang Anna sampaikan beberapa menit yang lalu. Ya, hanya dengan melihat Echa menangis saja sudah bisa membuat ia melupakan segalanya.


"Anna benar-benar keterlaluan. Memangnya tidak ada film yang lebih bagus dari ini semua? Yang tidak perlu mendatangkan air mata di adegannya!"


"Hei, Kak Endo jangan marah padanya. Echa yang menginginkan semua ini." Echa cepat-cepat menyahut. "Tadi Echa memesannya secara online. Saat kurir datang mengantarkan belanjaan, Anna yang membayarnya karena Echa tidak punya uang. Jadi tolong nanti Kakak ganti uangnya Anna."


"Jadi baru saja aku cemas dan panik karena laki-laki di film itu?" gumam Endo tak menggubris ucapan Echa barusan.


"Kim Tan, Kak," ralat Echa tanpa dosa. "Namanya Kim Tan," ulangnya lagi.


"Kim Tan, Kim Khadarsian, atau Kim siapa pun itu, saat ini dia telah membuatku ingin mencekik leher gorila!" seru Endo gemas bercampur kesal.


"Ya Tuhan, Echa ...!" teriak Endo benar-benar kesal.


Kembali ditangkupnya kedua pipi mulus yang sudah tak basah lagi itu. Tanpa aba-aba langsung diciumnya bibir gadis di hadapannya itu.


"Jika kau masih mencoba membuatku cemas dan panik lagi, maka ini lah yang akan kau dapatkan," bisik Endo di telinga Echa.


Sedetik kemudian Endo pun bangkit dari posisinya dan langsung pergi meninggalkan Echa yang masih terbengong mencerna apa yang baru saja terjadi pada dirinya.


Endo keluar dari kamar itu sambil mengusap bibir. Ada seringai jahil namun puas tergambar jelas di sana.


"Satu," gumam Endo. "Dua." Endo terus melangkah. "Tiga."


"Kak Endo brengsek ...!" Tiba-tiba terdengar suara umpatan dari dalam kamar tepat setelah hitungan ketiga.


Endo terbahak-bahak sambil terus melangkah menjauh.


"Ya Tuhan, sepertinya aku akan berangsur gila," gumam Endo masih sambil tertawa terbahak-bahak.


___


"Kenapa kau tidak juga turun? Aku bisa mati kelaparan karena menunggumu terlalu lama."


Endo mengomel sembari membuka pintu dan langsung melangkah masuk ke dalam kamar.


"Ya Tuhan, tidak bisa kah kau mengganti bajumu itu?" tanya Endo.


"Memangnya ada apa dengan baju ini?" tanya Echa bingung."


"Kau tak sadar? Bajumu itu tidak menutup pahamu dengan sempurna!"


"Ya Tuhan, Kak Endo ...," sahut Echa kesal. "Di sini ada orang-orang kepercayaan Kak Endo yang menjaga keamanan apartemen ini," lanjutnya. "Ini adalah apartemen Kak Endo. Memangnya siapa orang gila yang berani membuat masalah di sini?" tanya Echa tak habis pikir dengan kecemasan Endo yang dirasanya berlebihan.


"Tentu saja orang gila itu adalah aku," geram Endo dalam hati.


"Tunggu di sini, jangan kemana-mana," perintah Endo akhirnya.


"Mau kemana?" tanya Echa saat dilihatnya laki-laki itu berjalan tergesa-gesa ke luar kamar.

__ADS_1


Endo tak menjawab, namun kakinya terus melangkah menuruni anak tangga, mencari keberadaan Anna. Semenit kemudian, ia telah kembali menaiki anak tangga menuju kamar Echa.


"Ini, pakailah," perintah Endo sembari mengulurkan paperbag kuning ke arah Echa.


"Apa ini?" tanya Echa. Tangan kanannya terulur meraih apa yang Endo sodorkan.


"Dasar perempuan, selalu saja begitu," gerutu Endo sembari melengos, membuang pandangan matanya ke sembarang arah. "Apa susahnya membuka dan melihat sendiri apa isinya?" lanjutnya.


"Apa susahnya tinggal menjawab saja isi dari paperbag ini?" balas Echa tak mau kalah. "Dari pada berceramah panjang lebar seperti itu? Membuang-buang waktu!" lanjutnya yang tak sadar juga telah membuang waktu.


Tangan Echa mulai bergerak memeriksa apa yang Endo berikan padanya.


"Celana?" gumam Echa, kemudian mendongak memandang ke arah Endo. "Hei, singkirkan wajah galak Kak Endo itu dari hadapan Echa. Kak Endo ingin Echa mati ketakutan di sini?" hardik Echa galak. Sengaja untuk menyembunyikan kegugupan yang tiba-tiba menjalar.


Ya, saat mendongak memandang ke arah Endo, Echa mendapati laki-laki itu tengah menatap lekat ke arah wajahnya. Pandangan mereka sempat bertemu, membuat Echa seketika merasakan kegugupan luar biasa yang tiba-tiba menyerang begitu saja.


Echa melangkah masuk ke dalam kamar mandi dengan paperbag yang Endo berikan di tangan kanan. Sementara Endo masih betah berdiri di tempatnya.


"Jangan mengintip!" teriak Echa dari balik pintu kamar mandi.


"Astagah, memangnya apa yang menarik dari dirimu?" Endo balas berteriak.


Tak terdengar sahutan dari dalam kamar mandi.


"Aku bahkan sudah pernah melihat semua itu, Cha," gumam Endo sembari menggaruk tengkuknya sendiri yang tak gatal.


"Bagaimana, Kak?" tanya Echa yang tiba-tiba saja sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Lumayan," jawab Endo sekenanya.


"Hei, lihat dulu! Baru berkomentar," hardik Echa kesal.


Endo pun menoleh. Tampak kaos hitam miliknya menjadi baju dengan size kedodoran membalut tubuh gadis itu. Sementara kaki yang tadi terekspos kini telah tertutup oleh legging hitam yang melekat sempurna.


Sesaat kemudian sebuah senyuman terulas di kedua bibirnya, teringat masa lima tahun yang lalu saat gadis yang kini ditatapnya itu lebih nyaman berpenampilan tomboy dibanding feminin. Namun ia mau memaksakan diri untuk mengenakan dress, heels dan make up tipis demi seorang Endo, laki-laki yang sangat dicintainya.


Ya, Endo Devon Atmaja memang pernah merajai hati gadis itu. Menjadi satu-satunya pangeran yang memiliki hatinya, dan bukan hal mustahil untuk menjadi tambatan selama-lamanya juga.


Perlahan kaki panjang Endo melangkah mendekat masih dengan senyum tersungging di bibir. Sementara sorot mata sebiru lautnya menatap lembut ke arah dua mata bulat milik gadis cantik di hadapannya.


"Kau tahu? Kau cantik sekali," puji Endo tulus.


Echa tersenyum canggung dengan semburat merah di pipi.


"Kak Endo," panggil Echa yang entah mengapa terdengar begitu manja di telinga Endo.


"Ya," sahut Endo lembut.


"Echa ingin makan bubur ayam."


"Ok. Biar Anna membuatkannya untukmu."


"Tidak. Echa tak yakin rasanya bisa sama dengan yang waktu itu," tolak Echa cepat.


"Percayalah, rasa bubur ayam buatan Anna tidak kalah dengan yang waktu itu."


"Ya Tuhan, kenapa kau begitu menyebalkan, Kak Endo?" gerutu Echa.


"Hahaha ...." Endo justru tertawa mendengar gerutuan Echa. "Ya sudah, ayo kita berkencan," ucap Endo akhirnya.


Seketika mata Echa tampak berbinar senang. Jangan lupakan rona merah yang turut menghias pipinya.


Endo tersenyum geli melihat wajah Echa yang tampak begitu lucu di matanya. Diraihnya sebuah topi pet hitam pada standing hanger di samping pintu kamar mandi. Dipakaikannya topi itu di kepala Echa.


"Ayo," ucap Endo sembari merangkul pundak Echa, mengajaknya segera ke luar kamar. "Aku sudah sangat lapar. Lama sekali tadi aku menunggumu."


"Maaf, Echa tadi ketiduran."


Endo tersenyum lembut sembari memandang gadis dalam rangkulan yang hanya setinggi dagunya itu.


"Anna ...!" panggil Endo begitu menginjakkan kaki di ruang makan.


"Ya, Tuan." Anna datang dengan cepat.


"Bereskan ini semua," perintah Endo setelah menatap hidangan makan siang yang telah tertata rapi di atas meja. "Ajak Ringgo makan di sini," lanjutnya. "Aku dan Echa akan berkencan," lanjutnya lagi dengan senyum menghias di bibir.


"Baik, Tuan," jawab Anna singkat.


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2