
Sore itu, suasana sangat tenang dan sepi, meskipun Echa yakin di lantai basement dan depan gedung kantornya pasti sangat ramai para karyawan berdesakan ingin segera melesat meninggalkan gedung ini setelah seharian lelah bekerja.
Echa mengetuk-ngetukkan jari telunjuk kirinya di atas meja kerja, sementara tangan kanan masih menempel pada mouse hitam yang biasa digunakannya.
"Kau belum selesai?" tanya Novera yang sedang membongkar isi dari dompet kosmetiknya di atas meja.
"Sudah," sahut Echa sembari menggerakkan mouse malas-malasan. "Tapi Pak Endo memintaku untuk tetap di sini sampai beliau ke luar." Echa melirik jarum jam di pergelangan tangannya. "Kau sendiri, kenapa belum pulang juga?"
"Aku masih menunggu Anthoni menjemputku. Baru saja dia mengabari, katanya akan sedikit terlambat."
"Oh ...." Echa hanya ber-oh-ria tanpa minat. Jarinya masih terus bergerak menanam deretan bunga matahari dan tanaman tanaman lain untuk menyerang kawanan zombie di layar laptop.
"Ya sudah, aku akan menemanimu di sini saja," ucap Novera sembari merapikan riasan wajahnya. "Hei, aku tak menyangka ternyata kau memiliki hubungan istimewa dengan Pak Endo," bisik Novera disertai seringai jahil dengan tangan kanan memegang lipstik.
"Apa maksudmu?" tanya Echa sambil lalu.
"Sudahlah, jangan pura-pura tak mengerti apa yang kumaksud," bisik Novera lagi. Sebuah seringai tercetak jelas di kedua sudut bibirnya.
Echa kembali menegakkan posisi duduknya, kemudian menekan tombol pause sebelum beringsut menghadap ke arah Novera.
"Apakah dia yang menceritakannya padamu?" tanya Echa akhirnya.
"Kau pikir siapa lagi?" Novera balik bertanya tanpa menoleh ke arah Echa, sibuk menatap pantulan alisnya di dalam cermin kecil.
"Ah, Kak Endo sialan!" umpat Echa dengan kedua alis hampir tertaut. "Kupikir ini akan menjadi rahasia antara kami berdua saja. Tapi ternyata Pak Rudi dan Pak Disan tahu. Malah sekarang kau pun juga tahu," lanjutnya kesal.
"Ceritakan padaku," bujuk Novera tanpa memperdulikan ekspresi wajah Echa.
"Apanya yang diceritakan?" Echa memutar bola matanya jengah.
"Ayolah ... kau paham apa yang kumaksud," bujuk Novera lagi. "Dan sayangnya aku penasaran." Novera mengerling genit ke arah gadis cantik di sebelahnya itu.
"Apa lagi yang membuatmu penasaran?" tanya Echa malas-malasan. "Bukankah Kak Endo sudah menceritakan semuanya?"
"Siapa tahu naskah kalian berdua beda cerita," sahut Novera sekenanya.
Echa menghela nafas berat, menatap menerawang ke sembarang arah. Ingatannya bergulir ke masa lima tahun yang silam. Saat pertama kali menginjakkan kaki di sebuah bar, secara kebetulan ia bertemu dengan sosok Endo Devon Atmaja.
Echa pikir, yang diperbolehkan masuk ke dalam tempat itu hanyalah orang dewasa, kecuali dia dan teman-temannya saja yang waktu itu bisa dibilang berhasil masuk dengan cara ilegal. Oleh sebab itu Echa memanggil Endo dengan sebutan Om. Tak disangka ternyata usia Endo yang saat itu mengenakan setelan jas hitam hanya terpaut lima atau enam tahun lebih tua dari Echa. Ya, memang terkadang penampilan bisa menipu.
Semakin sering bertemu, semakin sering berbincang, dan semakin sering jalan bersama, membuat keduanya lebih mengenal satu sama lain. Tak mengherankan benih cinta mulai tumbuh di hati keduanya.
"Ya, dulu kami memang saling mencintai." Echa memulai ceritanya. "Dia yang mengajarkanku arti hidup sebenarnya. Dia yang memahamkanku untuk apa aku lahir ke dunia. Dia yang mengubah hidupku menjadi lebih baik. Bahkan dia juga yang membantuku untuk mendapatkan kedua orang tuaku kembali. Jika bukan karenanya, mungkin saat ini hidupku sudah tak tentu arah."
"Sepertinya Pak Endo meninggalkan arti yang begitu mendalam di hatimu," gumam Novera. "Menurutmu Pak Endo serius denganmu?"
"Dia bahkan telah membelikan rumah untukku." Echa tersenyum geli mengingat masa-masa itu. "Rumah bertema Hello Kitty," lanjut Echa. "Padahal waktu itu aku masih SMA. Masih jauh dari pernikahan dan rumah tangga."
"Lalu kenapa kalian berpisah?" Novera mulai serius menyimak cerita yang meluncur dari mulut rekan kerjanya itu.
Raut wajah Echa berubah kecewa.
"Dia selingkuh," jawab Echa dengan gumaman.
"Benarkah?" tanya Novera dengan mimik wajah terheran-heran. "Sulit dipercaya," komentarnya. "Setahuku Pak Endo tipe laki-laki setia."
"Silahkan membelanya," sahut Echa dengan wajah muram. "Tapi begitulah kenyataannya."
Entah mengapa ada gelenyar aneh yang merambat ke dalam hati gadis berambut sepunggung itu. Tapi kali ini gelenyar itu seolah meninggalkan tusukan-tusukan kecil di dalam hati. Walaupun hanya kecil, namun cukup terasa perih juga.
"Bagaimana dengan hatimu?" tanya Novera.
"Tentu saja hatiku remuk melihat dia dengan perempuan lain," jawab Echa dengan wajah murung sekaligus kesal.
"Maksudku perasaanmu," ralat Novera. "Bagaiman perasaanmu pada Pak Endo waktu itu?"
"Aku sangat mencintainya," jawab Echa jujur. "Bahkan bisa dibilang aku tergila-gila padanya," lanjutnya. "Perhatiannya, kasih sayangnya, kesabarannya, semuanya benar-benar membuatku mabuk," lanjutnya lagi. "Sampai-sampai tak pernah terpikir olehku bahwa dia akan melukaiku dengan cara serendah itu."
"Hah, dasar budak cinta," komentar Novera dengan seringai menyebalkan. "Jika menilik dari ceritamu tadi bisa kusimpulkan Pak Endo sangat mencintaimu. Tidak semua laki-laki mau melakukan hal manis seperti itu."
"Hal manis?" tanya Echa tak mengerti.
"Rumah Hello Kitty," jawab Novera, mencoba menjelaskan. "Aku yakin Pak Endo sama sekali tak menyukai Hello Kitty. Tapi nyatanya beliau mau melakukan semua itu untukmu," lanjutnya. "Hal yang menggelikan menurutku, tapi kau harus tahu bahwa beliau melakukannya dengan tulus dan memang karena benar-benar menginginkanmu."
__ADS_1
Echa terdiam, mencoba mencerna kalimat panjang yang keluar dari mulut Novera.
"Jika Pak Endo begitu mencintaimu dengan setulus itu, seharusnya beliau tidak akan mungkin menghianatimu." Kening Novera kembali terkernyit, tampak serius mencoba menganalisa. "Apa kau sudah meminta penjelasan darinya?"
"Untuk apa?" tanya Echa dengan wajah tertunduk. "Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, mereka berciuman."
"Ah, itu dia masalahnya." Novera menjentikkan jarinya dengan mata berbinar.
"Apa?" tanya Echa bingung.
"Kau tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Bisa saja kan itu hanya salah paham."
"Salah paham bagaimana lagi jika aku sudah jelas-jelas melihatnya sendiri?"
"Bisa saja kejadian sebenarnya tidak seperti apa yang kau lihat. Ah kau ini, makanya sering-sering nonton drama di televisi, agar kau lebih paham," hardik Novera. "Banyak sekali trik-trik murahan yang biasa digunakan oleh para pelakor."
"Lalu bertahan dan memaafkannya? Hah, dari pada mempertahankan laki-laki seperti dia, lebih baik aku menjalin hubungan dengan yang lain saja," kilah Echa.
"Apa kau langsung menjalin hubungan dengan laki-laki lain setelah putus darinya?"
"Ya. Aku memutuskan untuk melepasnya dan menjalani hubungan dengan teman sekolahku."
"Ah, sudah kuduga." Novera kembali menjentikkan jarinya.
"Apa?"
"Aku curiga, jangan-jangan kau lah yang berselingkuh," tuding Novera.
"Hei, apa-apaan ini?" hardik Echa tak terima.
"Ya. Kau menduakan cintamu untuknya dengan teman sekolahmu itu," sahut Novera. "Buktinya kau bisa semudah itu melepasnya, melupakannya dan menggantikannya saat itu juga."
Echa terdiam, mencerna analisa Novera. Sepertinya ucapan Novera barusan memang telah mengganggu pikirannya.
"Tapi aku bisa memaklumi," ucap Novera lagi. "Namanya juga remaja. Masih labil," lanjutnya. "Mungkin memang Pak Endo yang salah meletakkan cintanya," lanjutnya lagi dengan santai. "Seharusnya pada wanita dewasa yang matang, bukan pada remaja labil sepertimu."
Echa menatap lekat ke arah Novera yang tengah memainkan kotak bedaknya dengan santai. Ucapan Novera benar-benar telah menohok hati dan pikirannya.
"Mulai sekarang aku tidak perlu menerka-nerka lagi tentang hubungan kalian berdua." Novera kembali bersuara.
"Apa Kak Endo selalu menceritakan apa yang terjadi di antara kami kepadamu?" tanya Echa dengan ekspresi tak percaya. "Termasuk libur dua hariku di apartemen Kak Endo kemarin?" lanjutnya. "Dasar laki-laki bermulut ember!"
"Hei, siapa bilang? Pak Endo tidak pernah bercerita apa pun padaku," sahut Novera santai.
"Apa maksudmu?" tanya Echa bingung.
"Kau pikir sedekat apa hubungan kami?" Novera balik bertanya.
"Aku belum paham dengan apa yang kau maksud."
"Beliau atasan dan aku bawahan. Beliau bos dan aku hanya sekretaris. Kami memang dekat, tapi hanya kedekatan secara prifesional. Beliau tak pernah bercerita tentang hal-hal pribadi."
"Benarkah?"
"Iya. Termasuk tentang hal ini, aku baru saja tahu dari mulutmu," jawab Novera santai.
"Apa maksudmu? Tadi kau bilang sudah tahu dari Kak Endo."
"Siapa yang berkata seperti itu? Kau sendiri yang berasumsi begitu," sanggah Novera dengan mimik wajah senang. "Termasuk di mana kau berada selama dua hari ijin libur kemarin." Sebuah seringai kemenangan muncul di bibir merah Novera.
"Novera ...! Kau menyebalkan!" teriak Echa sembari bangkit dari duduknya, berusaha mencekik leher jenjang Novera.
"Hahahaha ...!" Novera tergelak melihat wajah kesal Echa yang merasa telah dibodohi oleh rekan kerja seniornya itu.
"Kau tahu? Kau sangat menyebalkan, Nov!" teriak Echa lagi sembari mengejar langkah kaki Novera yang berusaha menghindar dari jangakauan tangannya.
"Hahahaha ...! Ya, sangat menyebalkan. Sampai-sampai kau dengan begitu senang hati menceritakan semuanya padaku. " Akhirnya aku tahu bahwa kau memang memiliki hati untuknya."
"Apa maksudmu?" Langkah kaki Echa terhenti.
"Kau mencintai Pak Endo."
"Hei, jaga bicaramu, Novera!" Langkah kaki Echa kembali terayun berusaha mencapai Novera yang terus menghindar.
__ADS_1
"Aku memang akan menjaga bicaraku, karena kini aku tahu kau mencintainya."
"Ya Tuhan, sejak kapan kantorku menjadi arena bermain seperti ini?!"
Tiba-tiba saja Endo telah berdiri di tengah pintu ruangannya dengan wajah tersirat emosi.
"Sejak saya tahu ada yang sedang jatuh cinta, Pak," seru Novera.
Baru kali ini Novera berani menjawab bosnya yang sedang tidak berada dalam mood bagus itu dengan cengiran menyebalkan dalam pandangan Echa.
Sesaat Endo terdiam, teringat bahwa semalam ia telah menyatakan isi hatinya pada salah satu sekretaris pribadinya.
"Jangan-jangan gadis absurd itu sudah menceritakannya pada Novera. Sial!" rutuk Endo dalam hati.
"Siapa mencintai siapa?" tanya Endo akhirnya dengan wajah sok cool, dibuat setenang mungkin.
Mendengar pertanyaan Endo, Echa bergeming dengan kedua mata bulatnya melotot sempurna. Sesaat kemudian ia pun melirik ke arah Novera, berharap sang sekretaris senior itu tidak akan mengucapkan hal-hal memalukan lagi kepada bosnya.
"Echa mencintai Pak Endo," ucap Novera tanpa beban.
Echa terkesiap mendengar ucapan Novera yang begitu terus terang. Tanpa sadar kedua tangannya meremas ujung kemeja dengan gelisah. Sementara Endo bergeming di tempatnya memandang lurus ke arah Echa.
"Ehem ...!" Endo berdehem untuk menetralkan suaranya yang sempat menghilang beberapa saat. "Kemasi barang-barang kalian, hari sudah hampir petang."
Kedua sekretaris pribadi itu pun melangkah canggung ke meja masing-masing.
Dengan cekatan Novera segera meraih peralatan kosmetiknya dan mengemas menjadi satu ke dalam dompet besar. Sementara Echa bergerak dalam diam mematikan laptop dan melepas kabel mouse dari soketnya. Gerakannya tampak begitu canggung, bahkan tak sekali pun ia berani mendongak memandang ke arah Endo yang kini berdiri tepat di depan mejanya.
"Ayo." Suara Endo kembali terdengar saat kedua wanita itu telah selesai dengan aktifitas beres-beresnya.
Endo segera melangkah menuju lift diikuti dua sekretaris cantik yang berjalan mengekor dalam diam di belakangnya.
"Maaf, Pak. Saya duluan, ya. Anthoni sudah menunggu di depan." Novera berpamit sopan pada Endo tepat saat pintu lift terbuka di lantai bawah "Yuk, Cha."
"Ya," jawab Echa singkat.
Sesaat kemudian keduanya menangkap keberadaan Disan yang tengah bangkit dari posisi duduknya, kemudian berjalan mendekat.
"Ada apa?" tanya Endo.
"Ada masalah dengan kucing betinamu," jawab Disan singkat, sembari melirik ke arah Echa.
"Doni sudah menunggu di depan. Kau tunggu di mobil, aku segera menyusul," perintah Endo dengan wajah serius.
Echa segera beranjak tanpa satupun kalimat terucap dari bibirnya. Tatapan mata Endo mengikuti langkah gadis itu yang berjalan pelan menuju pintu ke luar. Tepat di depan pintu, langkah Echa terhenti saat seorang laki-laki memanggil namanya.
"Baru mau pulang juga?" tanya Samuel sembari memandang ke sekeliling yang sudah tampak sepi karena jam pulang kantor memang sudah lewat hampir tiga jam yang lalu.
"Iya," jawab Echa singkat. "Kau sendiri kenapa masih belum pulang?"
"Tadi ada beberapa hal yang harus kuselesaikan terlebih dahulu," jawab Samuel.
"Kita bicarakan nanti saja di rumah," ucap Endo pada Disan, tanpa mengalihkan pandangannya dari Echa. "Bereskan laki-laki itu! Aku sudah terlalu lama bersabar," lanjutnya dengan intonasi dingin.
Disan mengangguk, kemudian mengambil ponsel dari dalam saku celana dan membuat panggilan.
"Sepertinya kau butuh tumpangan." Suara Samuel kembali terdengar di telinga Endo. "Tidak perlu repot-repot memesan taksi, kau pulang bersamaku saja," lanjutnya.
"Dia akan pulang bersamaku." Tiba-tiba Endo sudah berdiri di sebelah Echa dengan aura penuh wibawanya.
"Pak Endo," sapa Samuel. "Benarkah?" Samuel melirik ke arah Echa dengan senyuman. "Hmmm ... saya memang benar-benar kurang beruntung."
"Kami duluan," pamit Endo hanya sekedar sebagai basa-basi.
"Ya, tentu. Selamat jalan," jawab Samuel. "Hati-hati, Cha," lanjutnya.
Echa diam tak menyahut. Hanya kepalanya saja yang sedikit mengangguk.
"Ayo," ucap Endo sembari menggamit pergelangan tangan kanan Echa, kemudian merangkulkan tangan kirinya ke pinggang gadis itu. Ingin menunjukkan pada Samuel bahwa gadis cantik bermata bulat itu adalah miliknya.
Keduanya berjalan ke luar beriringan menuju mobil sport biru milik Endo yang telah terparkir di halaman gedung. Sementara Disan tampak berjalan pelan melewati Samuel yang tengah menatap pias ke arah Endo yang membukakan pintu untuk Echa dan membantu gadis itu merapikan anak rambutnya yang berantakan sebelum masuk ke dalam mobil.
BERSAMBUNG ...
__ADS_1