
Endo menghentikan mobil sportnya tepat di depan pintu masuk sebuah restoran mewah.
"Selamat malam, Tuan Endo," sapa petugas berseragam merah hitam itu dengan ramah.
Endo yang masih duduk di dalam mobil dengan kap terbuka menoleh, melempar sebuah senyum hangat.
"Selamat malam, Rob," sahut Endo setelah melirik name tag petugas itu.
"Malam yang cerah." Rob kembali bersuara sembari membukakan pintu mobil untuk Endo dengan sigap.
Endo segera turun dari mobil tanpa menjawab.
"Tidak biasanya Anda berkunjung selarut ini." Rob kembali berbasa-basi, setelah melirik jam dinding besar di dalam restoran yang menunjukkan pukul sepuluh lewat limabelas menit. Ya, saat ini memang sudah terlalu larut untuk ukuran jam makan malam.
Laki-laki dua puluhan tahun itu pun berjalan memutari kap mobil guna membukakan pintu untuk wanita yang datang bersama Endo.
"Pasangan Anda cantik sekali, Tuan," puji Rob sembari melempar senyum sopan kepada wanita yang tengah melangkahkan kakinya turun dari mobil.
Endo melirik ke arah wanita cantik bergaun hijau selutut yang tengah berjalan mendekat ke arahnya itu, kemudian melempar sebuah kerlingan menggoda padanya. Wanita itu pun menundukkan pandangannya sembari tersenyum tersipu .
Pandangan Endo beralih pada Rob. Tanpa kata, dilemparkan kunci mobilnya kepada remaja itu.
"Semoga malam Anda menyenangkan, Nona." Rob kembali berucap sopan setelah menangkap kunci mobil Endo dengan sempurna. Setelah Endo dan pasangannya berlalu, ia pun buru-buru memindahkan mobil sport biru itu ke tempat seharusnya.
Endo melangkah pelan. Sementara gadis di sisinya segera menelusupkan tangan kanannya ke sela lengan kiri Endo dengan mesra.
"Endo," panggil gadis itu dengan berbisik sembari berjalan pelan menyamai langkah laki-laki yang digelayutinya.
"Ya, Rose," sahut Endo lembut.
"Kenapa kita kesini?" tanya Rosella masih dengan berbisik.
"Untuk makan tentu saja," jawab Endo sembari mengernyitkan keningnya.
"Maksudku bukankah ini sudah terlalu larut untuk makan malam?" Rosella kembali bertanya.
"Kenapa? Kau takut gemuk?" tanya Endo dengan senyum mengejek.
Rosella diam tak menyahut. Kesal sendiri dengan Endo yang mulai tampak senang menjahilinya.
"Tadi Disan menjemputmu di rumah dan langsung mengantarmu padaku, bukan? Kau pasti belum sempat makan," ucap Endo kemudian sembari menarik salah satu kursi untuk Rosella. "Tadi pun kulihat kau hanya minum beberapa teguk saja."
"Terlalu berisik di sana," sahut Rosella sembari membetulkan duduknya. "Aku tak bisa menikmati suasananya," lanjutnya.
"Maaf, ada sesuatu yang harus kami bicarakan di sana tadi," sahut Endo sembari menghenyakkan pantatnya dengan nyaman.
Seorang pelayan datang mendekat. Menyerahkan daftar menu kepada keduanya.
"Kau ingin makan apa?" tanya Rosella.
"Samakan denganmu saja," jawab Endo.
Rosella berbicara sebentar dengan pelayan. Tak lama kemudian pelayan pergi setelah mencatat pesanan Rosella.
"Maaf, aku telah mengganggu waktumu," ucap Rosella. "Aku merasa bosan dan suntuk berada di rumah terus sepanjang hari. Kupikir kau sedang senggang, makanya aku ingin kau mengajakku keluar."
"Tidak apa-apa, lagi pula tadi sudah ada Rudi dan Disan yang menggantikanku di sana," sahut Endo disertai senyum hangat. "Jika memang bosan, kau jalan-jalan saja ke luar. Disan bisa menemani kapan pun kau mau."
"Tapi aku ingin bersamamu saja," sahut Rosella. "Aku kurang nyaman dengan Disan."
Endo tersenyum mendengar ucapan Rosella.
"Dia memang seperti itu," ujar Endo kemudian. "Jarang tersenyum. Tapi percayalah, kau akan selalu aman bila di dekatnya," lanjutnya menjelaskan.
"Dua bulan sudah kita tinggal bersama. Aku ingin lebih mengenalmu," ucap Rosella tanpa minat membahas apapun tentang Disan. "Akhir pekan ini, apakah kau ada waktu? Aku ingin jalan-jalan denganmu," lanjut Rosella lagi bertepatan dengan pelayan yang datang untuk menghidangkan menu yang mereka pesan.
"Kemana?" tanya Endo. "Ada tempat yang ingin kau kunjungi?"
"Kemana saja," sahut Rosella. "Asal bisa menghirup udara di luar sana."
"Baiklah, sesuai apa yang kau mau, Rose," sahut Endo disertai senyum menawan di bibir.
Rosella memandang lekat laki-laki di hadapannya. Tampak senyum puas tersungging di antara bibir merahnya.
"Silakan, Tuan dan Nyonya. Selamat menikmati." Suara pelayan membuyarkan lamunan Rosella yang sempat berkelana beberapa detik.
"Terimakasih," ucap Rosella yang dijawab dengan anggukan disertai senyum sopan dari mulut sang pelayan sebelum pergi meninggalkan keduanya untuk menikmati menu yang mereka pesan.
Rosella mulai menikmati suapan pertamanya ketika tiba-tiba saja ponsel Endo berbunyi.
"Disan," ucap Endo menjelaskan pada Rosella siapa yang tengah menelepon. "Sebentar ya, sepertinya penting."
Segera digesernya ikon telepon berwarna hijau setelah Rosella mengangguk mempersilakan.
"Ya, halo."
" ... "
"Benar."
" ... "
"Tentu saja."
" ... "
__ADS_1
"Ya, kau siapkan saja semuanya."
Endo mengakhiri percakapannya, kemudian segera kembali fokus pada makanannya dan Rosella yang menatap penuh rasa penasaran.
"Ada klien yang mengajak bertemu malam ini." Endo berupaya menjawab rasa penasaran Rosella.
Mendadak raut wajah Rosella berubah. Tampak sekali bahwa ia tengah kesal dan kecewa.
"Malam-malam begini?" tanya Rosella memperjelas, setelah melirik jam dinding besar di sisi kirinya.
"Mau bagaimana lagi? Dia hanya ada waktu malam ini saja. Sedangkan kerja sama ini sangat penting bagiku."
"Baiklah, segera kita selesaikan makan malam ini. Aku akan pulang dengan taksi saja."
Laki-laki berwajah bule itu mengalihkan perhatian dari hidangan yang tengah disantap kepada Rosella yang menatapnya dengan raut wajah masam. Dilemparkannya sebuah senyuman penuh arti.
"Tapi aku ingin menikmati makan malam ini dengan tenang bersamamu," ujar Endo yang mengetahui bahwa Rosella tengah kesal.
Digenggamnya jemari gadis di hadapannya itu dengan lembut.
"Dan aku tidak akan membiarkan orang lain mengantarkanmu pulang. Karena kau akan pulang bersamaku."
Seulas senyum menyembul di antara kedua bibir penuh Rosella.
"Kau pandai sekali membuat hati wanita berbunga-bunga," ucap Rosella sembari membalas genggaman tangan Endo.
"Apakah artinya saat ini hatimu sedang berbunga-bunga karenaku?" goda Endo.
"Ah, kau benar-benar menyebalkan," sungut Rosella menyembunyikan semburat merah di pipinya.
"Dan kau menyukainya," sahut Endo masih terus menggoda.
"Ah sudahlah, jangan terus menggodaku. Aku bisa tersedak karenamu," kilah Rosella.
Endo tertawa mendapati pipi Rosella yang semakin memerah. Namun tawa itu mendadak sirna saat tanpa sengaja ekor matanya menangkap kebaradaan Lucas di salah satu meja bersama seorang wanita.
"Habiskan makanmu, aku ke toilet dulu sebentar," ucap Endo lembut. Ia pun segera beranjak dari duduknya tanpa menunggu jawaban dari Rosella.
"Endo, kau kah itu?" tiba-tiba saja terdengar suara seseorang menyapa. "Ah benar, ternyata kau."
"Luke," sahut Endo sembari menghampiri Lucas. "Kau masih di sini?"
"Kebetulan lewat saja," sahut Lucas. "Aku sudah lama tidak mengecek restoranku ini," lanjutnya. "Tadi Vero mengeluh lapar, kebetulan kami sedang di dekat-dekat sini. Jadi kupikir tak ada salahnya memanjakan perutnya dengan menu andalan di restoranku ini."
"Vero?" tanya Endo dengan mata terpicing.
"Kekasihku," sahut Lucas. "Biar kukenalkan," lanjutnya. "Sayang, kemarilah."
Seorang gadis berambut ikal dengan gaun kuning selutut mendekat.
"Selamat malam, Tuan Endo. Senang berkenalan dengan Anda." Vero mengulurkan tangan kanannya dengan senyum ramah tersungging di bibir.
"Panggil saja Endo, sepertinya kita seumuran," sahut Endo sembari menjabat tangan lembut Vero. "Jadi kalian sering membicarakanku?" tanya Endo berbasa-basi. "Kuharap bukan cerita buruk tentang diriku," lanjutnya.
"Bukan. Hanya reputasimu dalam mempermainkan wanita saja," sahut Lucas santai.
"Oh, tidak. Berarti aku sudah memiliki nilai minus di mata wanita cantik ini," tukas Endo dengan wajah kesal yang disambut penuh derai tawa oleh Vero.
"Tidak," sahut Vero disela tawanya. "Kata Luke kau adalah salah satu teman dekatnya yang luar biasa karena telah menuai kesuksesan di usia muda. Padahal kau adalah seorang yatim piyatu."
"Apakah aku patut berbangga diri?"
"Kurasa begitu, karena tidak semua orang bisa berada di posisimu saat ini," sahut Vero.
"Ah, sudahlah, sayang. Jangan terlalu dekat dengannya," ucap Lucas menengahi.
"Kenapa memangnya?"
"Yang sudah-sudah kekasihku selalu berpaling padanya," sahut Lucas sekenanya. "Aku tak mau hal yang sama menimpa padamu."
"Hei, yang benar saja," sahut Vero sembari mencubit pinggang Lukas manja yang kemudian disambut dengan rangkulan hangat dari laki-laki berwajah Asia itu.
"Sudah, ayo kita pergi," sahut Lucas. "Aku duluan," pamitnya pada Endo. "Selamat menikmati malammu."
"Tentu," sahut Endo.
"Senang bertemu denganmu, Endo," pamit Vero.
"Aku juga," sahut Endo. "Aku tak sabar menunggu pertemuan kita berikutnya."
"Kau memang laki-laki yang menyenangkan." Vero tersenyum manis kemudian melangkah pergi bergelayut manja pada lengan kiri Lucas.
"Gadis itu kekasihmu," gumam Endo dengan rahang mengeras. "Jadi benar kau hanya menjadikan Echa mainan," gumam Endo lagi dengan kedua tangan terkepal erat. "Brengsek!"
Endo segera beranjak dari tempatnya, berjalan kembali ke meja dimana ia telah meninggalkan Rosella.
"Kau sudah selesai?" tanya Endo.
"Sudah," sahut Rosella. "Kau kemana saja? Lama sekali."
"Maaf, aku bertemu dengan teman lama. Tadi kami ngobrol dulu sebentar," jawab Endo. "Ayo kita pergi," lanjutnya sembari meletakkan beberapa lembar uang di meja, kemudian mengulurkan tangannya membantu Rosella berdiri.
Gadis itu pun segera berdiri, kemudian menelusupkan tangan kanannya di sela lengan kiri Endo. Keduanya berjalan beriringan meninggalkan meja tempat mereka makan sebelumnya.
"Kita langsung pulang?" tanya Rosella setelah keduanya duduk nyaman di dalam mobil.
__ADS_1
"Kau ingin kemana?" Endo balik bertanya sembari menyalakan sebatang rokok. Diliriknya arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanan. "Baru pukul duabelas."
"Baru pukul duabelas kau bilang?" ulang Rosella. "Sementara kau masih harus bertemu dengan klienmu itu," lanjutnya.
"Lantas?" tanya Endo santai sembari menghembuskan kepulan asap rokok dari mulutnya.
"Pukul berapa kalian akan bertemu?" tanya Rosella.
"Semua tergantung dirimu."
"Apa maksudmu?" Rosella mengerjabkan matanya tak mengerti.
"Setelah aku mengantarmu pulang dengan selamat, barulah kami bisa bertemu."
"Jadi aku mengganggu acara pertemuan kalian?"
"Bukan begitu, Rose," sanggah Endo.
"Lantas?"
"Seistimewa itulah dirimu," sahut Endo sembari melempar senyum manisnya.
"Apa maksudnya?" Rosella semakin tak mengerti.
"Aku lebih memprioritaskan dirimu," jawab Endo. "Aku lebih mementingkan keselamatanmu," lanjutnya. "Jika kau menginginkanku bersamamu sampai pagi, maka itulah yang akan terjadi malam ini."
"Bagaimana dengan klienmu?" tanya Rosella.
"Maka besok pagi lah kami baru akan bertemu," jawab Endo sekenanya.
"Bagaimana jika dia keberatan?" kejar Rosella.
"Maka aku tidak akan pernah keberatan jika harus kehilangan kerja sama dengan dirinya," jawab Endo santai sembari menggenggam jemari kanan Rosella.
"Seistimewa itu kah diriku?"
"Tentu saja," sahut Endo bersungguh-sungguh.
"Baiklah, kita pulang saja," putus Rosella akhirnya. "Tapi janji, akhir pekanmu besok adalah milikku."
"Sesuai keinginanmu, Rose," sahut Endo dengan senyum mengembang kemudian segera menyalakan mesin, dan mobil melesat pergi dengan kecepatan sedang.
Hanya butuh waktu sepuluh menit, mobil Endo telah memasuki pintu gerbang rumahnya.
Tepat di depan pos jaga mobil Endo berhenti.
"Apakah ada masalah?" tanya Endo pada Ringgo yang tengah berdiri di depan pos jaga bersama dua orang anak buahnya.
"Tidak ada, semua terkendali dengan baik," sahut Ringgo.
"Bagus," sahut Endo kemudian kembali melajukan mobilnya.
Mobil kembali berhenti tepat di sudut halaman.
"Kau ikut turun?" tanya Rosella setelah Endo mematikan mesin mobilnya.
"Tentu saja," sahut Endo. "Aku harus memastikan kau masuk ke dalam kamarmu dengan aman," sahut Endo sekenanya. Namun tak urung berhasil membuat Rosella tersenyum bahagia.
Endo segera turun dari mobil, kemudian berjalan memutari kap depan guna membukakan pintu untuk Rosella.
"Terimakasih," ucap Rosella dengan kedua pipi memerah.
Endo mengulurkan tangan kanannya, membantu Rosella turun dari mobil, kemudian mereka pun berjalan beriringan masuk ke dalam rumah.
"Maaf, aku tak bisa memberikan kenangan indah untuk malam ini," ucap Endo di sela langkah kecilnya.
"Tidak," sanggah Rosella cepat. "Malam ini begitu indah," ucap Rosella lagi sembari berjalan menuju kamarnya yang hanya terpisah satu ruangan dari kamar Endo. "Terimakasih."
"Kau senang?"
"Ya, aku sangat senang," jawab Rosella.
"Kau bahagia?"
"Sangat bahagia," jawab Rosella sembari menoleh ke arah laki-laki yang berjalan pelan di sisinya.
"Kau tahu? Kau terlihat sangat cantik sekali saat sedang bahagia seperti ini," puji Endo tulus. "Apa lagi jika sedang tersipu malu," lanjutnya mulai menggoda.
"Sudahlah, gombalanmu tidak akan mempan padaku," sahut Rosella sembari menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar. Dipandangnya laki-laki yang turut berdiri di hadapannya itu. Senyum malu-malu tersembul di antara kedua bibir penuhnya.
"Benarkah?" tanya Endo sembari melemparkan senyum menawan seperti biasanya. "Kupikir kau telah jatuh dalam pesonaku," lanjutnya sembari memainkan anak rambut gadis cantik itu dengan jemari kanannya.
"Mana berani aku melakukannya," gumam Rosella pelan.
"Kenapa?" tanya Endo dengan berbisik.
Perlahan tangan kiri Endo terulur. Diusapnya pipi kanan gadis di hadapannya itu dengan lembut.
"Kau terlalu tinggi untuk kugapai," sahut Rosella sembari memandang kedua manik mata sebiru lautan di hadapannya tanpa berkedip.
Endo balas menatap kedua netra bening di hadapannya. Perlahan ditelusupkan tangan kanannya ke tengkuk Rosella. Sementara sang gadis hanya terdiam menikmati perlakuan lembut Endo malam itu.
"Sadarkah kau begitu cantik, Rose ...," gumam Endo sebelum memagut dan menikmati bibir penuh di hadapannya.
Tanpa sadar kedua tangan Rosella terulur melingkar di leher Endo. Kedua matanya pun terpejam turut menikmati indahnya suasana di rumah mewah berlantai dua malam itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG ...