
"Rose ...." Echa kembali berucap. "Echa mendengarnya dari mulut Kak Endo sendiri yang mengucapkan nama itu," lanjutnya.
Wajah Echa tertunduk lemah, tak kuasa menatap wajah terkejut Endo. Dari riak wajah yang Endo perlihatkan, gadis itu mulai meraba bahwa memang ada sesutau di antara laki-laki itu dengan seseorang bernama Rose.
Rose adalah sosok penting di dalam hati Endo. Begitulah kesimpulan yang Rcha tarik. Namun beberapa saat kemudian Echa memberanikan diri untuk mendongak, saat tak juga didengarnya sedikit pun suara dari laki-laki yang pernah mengisi hatinya itu. Kedua mata bulat Echa menatap sendu netra sebiru laut di hadapannya.
Lima detik kemudian, tak jelas apa yang terjadi, tiba-tiba Endo tertawa terbahak-bahak. Menyisakan Echa yang tertegun bingung di tempatnya.
"Rose ... Jadi kau cemburu pada Rose?" ucap Endo di sela tawanya.
Echa masih bergeming pada tempat semula, semakin bingung.
"Kau cemburu pada Rose?" ucap Endo lagi sembari berusaha menyudahi tawanya.
"Jadi ... Rose adalah nama kucing yang dititipkan Leni padaku," ucap Endo lagi setelah derai tawanya mereda.
"Kucing?" ulang Echa.
"Ya. Kucing."
"Leni? Siapa lagi itu?" tanya Echa penuh selidik.
"Tenang, sayang. Dia bukan kekasihku."
Terselip seringai geli di sudut bibir Endo. Ya, laki-laki itu memang benar-benar menikmati moment ini. Moment di mana gadis menggemaskannya itu menunjukkan rasa cemburunya dengan terang-terangan. Memangnya peristiwa apa lagi yang bisa lebih membahagiakan selain ini?
"Leni adalah kakak iparku." Endo kembali mulai menjelaskan. "Mereka berdua sedang berlibur ke Bali selama tiga minggu," lanjutnya. "Karena khawatir tidak terawat, mereka menitipkan Rose padaku."
"Di mana dia sekarang?" tanya Echa penasaran.
"Ada di apartemen bersama Ringgo," jawab Endo.
"Apartemen?" ulang Echa.
"Iya, sayang," jawab Endo gemas. "Jadi begini ... Di sini aku memiliki satu rumah dan dua apartemen." Endo mulai menjelaskan. "Satu apartemen kubiarkan kosong. Sementara apartemen yang ini jarang kukunjungi, tapi Anna tinggal di sini untuk menjaga dan merawatnya dengan baik. Sedangkan aku lebih sering pulang ke rumah karena jaraknya lebih dekat dari kantor."
"Lalu kenapa Kak Endo membawaku ke sini, bukan ke rumah saja?"
"Karena jarak dari tempat pestanya Lisa kemarin lebih dekat jika langsung ke sini. Toh perlengkapan di apartemen ini lengkap juga. Malah ada Anna yang bisa membantuku merawatmu."
"Lalu bagaimana dengan kucing itu?" Echa terus bertanya.
"Bukankah sudah kukatakan, ada Ringgo di sana."
Tangan Endo terulur meraih kedua tangan lembut di atas pangkuan gadis berbandana telinga kucing itu.
"Tidak. Kak Endo bohong," tukas Echa cepat.
"Bohong?" ulang Endo dengan kedua bola mata berputar jenaka.
"Tadi Echa dengar sendiri, Kak Endo berbicara dengannya di telepon," sanggah Echa. "Sejak kapan kucing bisa bicara?"
"Tadi Ringgo yang video call sambil membawa Rose, mengatakan bahwa belakangan Rose tampak gelisah dan selalu menyelinap tidur di dalam kamarku. Mungkin dia merindukanku." Endo mencoba bersabar, kembali menjelaskan pada gadis menngemaskan itu.
"Kakak tidak bohong?" Kedua bola mata Echa bergerak liar, mencoba mencari sorot yang meyakinkan dari mata Endo.
"Jika mau, aku akan mengenalkannya padamu," janji Endo.
"Benarkah?"
"Iya, sayang," sahut Endo sembari mencubit kedua pipi Echa dengan gemas. "Sudahlah, lupakan tentang Rose dan mari bicara tentang kita."
Echa diam tak menjawab. Hanya wajahnya yang menunjukkan ketidakpuasan atas penjelasan Endo.
"Jadi ... kau cemburu pada Rose?" tembak Endo dengan seringai menggoda.
"Apa?" tanya Echa yang masih belum ngeh.
"Ayolah, jujur saja. Kau cemburu karena kau kira ada wanita lain di hatiku?" Endo kembali menyeringai.
Echa diam tak menjawab. Namun pikirannya justru bergerak liar memikirkan ucapan Endo barusan.
__ADS_1
"Aku cemburu?" gumam Echa dalam hati. "Ya Tuhan, apa-apaan ini? Dia benar, kenapa aku harus marah hanya karena Rose? Apa benar aku cemburu?"
Echa tersentak ketika dirasakan kecupan basah menyentuh keningnya dengan lembut. Endo telah mengecup keningnya. Ya, ia tahu betul itu, bahkan rasa basah itu masih membekas di sana. Mendadak gelenyar aneh merambat dan berputar-putar di dalam benak gadis itu, diikuti dengan debaran jantung yang semakin kencang.
Perlahan Echa mendongak, memandang wajah Endo yang kini berubah lembut dan begitu menawan arah pandangannya. Tak ada lagi seringai jahil di sana. Hanya ada tatapan mesra yang semakin dalam dari kedua netra biru laki-laki itu.
Sama halnya dengan Echa, degub jantung Endo pun semakin menggila ketika Echa balas meremas genggaman jemarinya dengan lembut. Perlahan wajah Endo mendekat, berusaha mengunci pandangan Echa dengan sorot matanya yang teduh dan menenggelamkan. Pelan-pelan tangan kanan Endo bergerak, mengusap lembut sebelah pipi gadis yang diam terbuai di hadapannya.
Tanpa Echa sadari tangan kokoh itu bergerak pelan menekan tengkuknya yang tertutup geraian rambut panjang bersamaan dengan benda kenyal yang menyapu bibir mungilnya. Dalam sekejab mata, keduanya pun hanyut terbawa buaian pikiran dan perasaan masing-masing.
Langit yang cerah, tanpa gumpalan awan sedikit pun menambah kesan romantis pada malam itu. Bulan dan bintang yang menyembul malu-malu mengintip lewat celah tirai putih penutup dinding kaca menjadi saksi hangatnya perasaan kedua insan anak manusia yang tengah dimabuk asmara.
"Aaargh ...! Shit!" Tiba-tiba Endo menghentikan ciuman dan mengumpat dalam geramannya.
Ia pun buru-buru bangkit dan melangkah cepat menuju kamar mandi. Meninggalkan Echa yang diam bagai orang ling-lung dengan jemari kanan menyentuh bibirnya sendiri. Masih terasa lembab dan basah. Bahkan ia pun bisa melihat bibirnya yang bengkak dari pantulan dinding kaca di sebelah kanan tempat tidur.
Sejenak kemudian kesadaran Echa mulai kembali ke tempat yang seharusnya. Ia justru bingung memikirkan mengapa ia tadi hanya diam dan pasrah begitu saja. Harusnya dia menolak dan mendorong Endo jauh-jauh dari hadapannya. Lebih mengherankan lagi, kenapa tiba-tiba saja Endo terburu-buru pergi ke kamar mandi? Ada apa dengannya? Apakah dia baik-baik saja?
Limabelas menit kemudian, Endo keluar dari pintu kamar mandi. Memandang Echa yang membalas dengan tatapan entah.
Perlahan langkah kaki Endo terayun diwarnai keraguan, kembali duduk di sisi Echa dalam diam. Seketika rasa canggung merayap, mewarnai suasana malam itu. Entah mengapa debaran yang tadi telah mereda kini kembali hadir, bahkan semakin kencang dan menggila.
"Maaf ... maafkan aku," ucap Endo lirih. "Aku tak bermaksud untuk kurang ajar padamu," lanjutnya canggung.
Echa diam menunduk dengan kebingungannya tak tahu harus menjawab apa. Di satu sisi ia kesal karena dicium oleh laki-laki yang tak ada hubungan asmara dengannya. Namun di sisi lain, tak bisa dipungkiri bahwa ia juga senang dengan apa yang Endo lakukan barusan. Bahkan bisa dibilang dia pun juga menikmatinya.
"Aku ... Aku terbawa nafsu sesaat." Endo berkata lirih penuh penyesalan. "Entah mengapa belakangan ini aku merasa ada yang tak beres dengan diriku."
"Kak Endo sakit?" Echa kembali mendongak dengan riak cemas di wajah mulusnya.
"Hanya jika sedang bersamamu saja," sahut Endo apa adanya.
"Apa? Jadi Kak Endo sedang sakit dan Echa yang jadi penyebabnya?" tanya Echa dengan kedua mata melotot bingung.
"Entahlah," sahut Endo dengan tatapan tertuju pada pemilik dua mata bulat itu. "Jantungku sering berdebar jika di dekatmu. Terkadang hatiku pun juga bagai tersengat listrik jika bersamamu."
Tangan kanan Echa bergerak memegang dadanya sendiri.
"Dan parahnya ... malam ini aku malah sampai hampir lepas kontrol." Endo kembali bersuara.
Echa kembali menatap mata Endo lekat-lekat. Tampak jelas rasa sesal menggelayut di netra sebiru laut milik laki-laki berwajah bule itu. Namun Echa lebih memilih diam, karena tak tahu harus memberi tanggapan seperti apa.
Keduanya saling diam selama beberapa menit, membuat rasa canggung semakin terasa di antara keduanya.
"Lalu tadi ...," Echa memberanikan diri bertanya setelah mereka lama saling terdiam. "Kenapa Kak Endo buru-buru ke kamar mandi?"
Sontak Endo memicingkan mata mendengar pertanyaan Echa yang begitu polos. Kedua netranya bergerak liar ke sekeliling ruangan. Digaruknya kepala yang sebetulnya tak gatal. Ia bingung, tak tahu harus menjawab dengan kalimat bagaimana pada gadis itu.
"Apa penyakit Kak Endo kambuh?" tanya Echa tiba-tiba.
"Ya, begitulah," jawab Endo dengan senyum geli namun canggung di bibirnya.
"Sebenarnya Kak Endo sakit apa?" Pertanyaan di luar rencana. Endo hampir gelagapan mendengar apa yang Echa tanyakan. Endo sendiri pun tak tahu bagaimana dia harus menamakan apa yang dirasakannya saat ini.
"Mmm ... Sepertinya tadi aku melihatmu memilih beberapa kaset DVD." Endo mencoba mengalihkan pembicaraan. "Film apa saja?"
Tanpa bersuara, Echa berdiri dari tempatnya, kemudian melangkah menuju nakas. Diambilnya shoping bag kecil warna merah yang berisi beberapa kaset DVD.
"Tidak banyak sebetulnya," ucap Echa dengan kedua tangan sibuk mengeluarkan isi dari dalam shoping bag.
"Angel and Demons?" Endo mengernyit. "Film lama."
"Ya. Selama ini Echa hanya dengar dan baca sinopsisnya saja. Kemarin sempat lihat Da Vinci Code. Jadi penasaran dengan karya Dan Brown yang lain."
"Kita tonton malam ini?" tawar Endo.
"Boleh," sahut Echa cepat.
"Baiklah, aku akan membuatkan posisi yang nyaman untukmu."
Endo segera bangkit, menyingsingkan kedua lengan bajunya hingga siku, sebelum berjalan menuju sofa. Digesernya set sofa hingga menyisakan ruangan yang luas di depan pesawat televisi.
__ADS_1
"Sudah, kau duduk saja," cegah Endo saat Echa mendekat ingin membantu.
Setelah selesai, Endo kembali berjalan menghampiri Echa.
"Naik," perintah Endo sembari menunjuk ke tempat tidur dengan ujung dagunya.
Tanpa berkomentar Echa segera naik dan duduk bersila di tengah-tengah kasur. Melihat hal itu, dengan segera Endo menggeser dan mendorong tempat tidur hingga berubah posisi menjadi berada tepat di depan pesawat televisi.
"Bagaimana?" Endo meminta pendapat.
"Seharusnya Kak Endo memanggil Doni atau yang lain saja untuk melakukan ini semua," saran Echa tulus.
"Dan membiarkan mereka masuk ke dalam kamarmu, kemudian melihatmu berpiyama seperti ini?" tanya Endo. "Big no!" lanjutnya dengan wajah serius.
Mendengar ucapan Endo, spontan Echa tertawa. Kedua kakinya bergerak untuk turun dari tempat tidur.
"No ... no ... no!" cegah Endo cepat. "Tidak. Kau tetap lah si situ saja. Biar aku yang membereskannya."
Endo segera melangkah dan berkutat dengan remot DVD player untuk beberapa saat. Tak berapa lama, layar pesawat televisi menyala, menampilkan tayangan film yang telah mereka pilih.
Endo menyusul naik ke atas tempat tidur, memposisikan tubuhnya bersandar pada dinding kamar.
"Begini lebih nyaman, Cha," ucap Endo dengan kedua tangan sibuk membetulkan letak satu bantal di belakang punggungnya. "Kemarilah."
Echa mendekat, turut mengambil posisi yang sama dengan Endo.
"Hahaha ... merapatlah kemari," perintah Endo sembari tertawa kecil.
Echa hanya menanggapinya dengan cengiran sebelum beringsut merapat.
"Nah, kalau begini kan lebih nyaman, Cha. Lihat gambarnya dari sini juga terlihat lebih jelas."
"Dari posisi Echa yang tadi juga terlihat jelas, Kak."
"Adduh, Echa ... Kenapa kau polos sekali? Aku menyuruhmu mendekat supaya nanti kalau hantunya muncul, kau tidak perlu menjerit ketakutan karena ada aku di sisimu."
(Halleh, modus, Ndo! Sejak kapan Angel and Deamons ada tokoh hantunya?)
Echa lebih memilih diam, karena memang sedang tidak memiliki amunisi untuk berdebat dengan laki-laki yang tengah merangkul pundaknya dengan hangat itu. Atau jangan-jangan Echa diam karena sibuk menata debaran jantungnya yang kembali menggila?
Tangan kanan Endo bergerak, menggenggam lembut jemari Echa dia atas pangkuan. Sementara tangan kiri asyik membelai kepala Echa yang bersandar di bahunya. Benar-benar posisi yang sangat Endo sukai.
"Kau mengantuk?" tanya Endo di sela belaiannya setelah sepuluh menit pemutaran film.
"Tidak, Kak," sahut Echa dengan pandangan mata lurus ke layar televisi.
"Sepertinya kau lelah," tukas Endo lembut. "Sebaiknya kau tidur saja jika memang sudah mengantuk."
"Tidak, Kak," sanggah Echa serius dengan intonasi jengah.
Lima menit kemudian, kepala Echa telah terkulai lemah di dada kiri Endo dengan mata terpejam. Hembusan nafas yang teratur terdengar dari hidung mancungnya.
"Tidak mengantuk dia bilang ...." Endo melirik ke arah Echa dengan senyum geli di bibir. Tangan kirinya masih terus membelai kepala gadis yang tertidur di dadanya itu dengan lembut. Bagai tak rela kehilangan moment romantis itu dari dalam hidupnya.
Tiga puluh menit kemudian, Endo beringsut dari posisinya. Ia turun perlahan dari kasur agar tak membangunkan si putri tidur. Kembali diulurkan tangan kokohnya untuk membetulkan posisi gadis berambut sepunggung itu agar lebih nyaman dalam tidurnya.
"Bermimpilah sayang," bisik Endo tepat di telinga Echa. "Mimpi yang indah. Mimpi tentang kita," bisiknya lagi. "Aku berjanji akan mewujudkan semua mimpi-mimpi itu untukmu, sayang."
Diusapnya pipi kiri gadis itu dengan lembut. Bagi Endo, gadis itu tetap saja terlihat cantik meski sedang tertidur sekali pun. Justru pada saat-saat seperti ini lah dia bisa menikmati kecantikan gadis itu dengan puas tanpa gangguan sang pemilik wajah.
Kepala Endo kembali menjorok, hingga wajah keduanya begitu dekat. Dikecupnya kening gadis itu dengan penuh kelembutan. Kali ini ia mendapat merespon. Echa menggeliat tak nyaman dengan ganguan kecil itu. Masih dengan mata terpejam, kedua alis gadis itu merapat dengan bibir mengerucut lucu, yang justru mengundang riak tersiksa di wajah Endo.
"Demi Tuhan, mengapa kau begitu menggemaskan, sayang? Sial, aku sudah tak kuat lagi. Aku bisa gila jika terus seprti ini!"
Endo mengusap kasar wajahnya sendiri.
"Baiklah, tidurlah yang nyenyak, sayang," bisik Endo dengan tangan kiri membelai lembut kepala Echa. "Aku akan kembali ke kamarku. Aku tak ingin terjadi sesuatu yang kuinginkan saat ini, yang justru akan membuatku menyesal di kemudian hari."
Endo memberi kecupan sekilas di kening Echa, kemudian segera beranjak ke luar. Ia tampak pergi meninggalkan kamar berdominasi warna hitam itu dengan tergesa-gesa.
BERSAMBUNG ...
__ADS_1