LOCK DOWN

LOCK DOWN
Part 4. Aku tak Memerlukannya!


__ADS_3

Endo duduk terpekur di tepi tempat tidur, masih asyik dengan koleksi foto gadis bermata bulat di ponselnya.


"Tok .... Tok .... Tok ...!"


Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.


"Endo, apa kau sudah bangun? Hari sudah siang."


Terdengar suara lembut Rosella dari balik pintu.


"Boleh kah aku masuk?" Rosella kembali bersuara saat tak ada sahutan dari pemilik kamar.


Endo beranjak dari duduknya, kemudian segera melangkah menuju pintu keluar. Ya, dia memang tak pernah suka jika ada orang lain yang masuk ke dalam kamar pribadinya.


"Ada apa?" tanya Endo setelah keluar dan kembali menutup pintu kamar.


Gadis cantik itu menjawab pertanyaan Endo dengan senyuman.


"Bagus tidak?" tanya Rosella sembari memamerkan baju yang dipakainya.


Mini dress kuning tanpa lengan dengan panjang di atas lutut yang berhias renda susun di setiap ujungnya. Tampak sangat indah, karena dress itu mampu menunjukkan lekuk tubuh Rosella yang sempurna.


Sembari melipat kedua tangan, bersedekap di depan dada, Endo menatap sejenak apa yang ditunjukkan oleh gadis cantik di hadapannya itu.


"Bagus," puji Endo akhirnya.


"Kau suka?" tanya Rosella dengan kedua pipi merona.


Endo hanya tersenyum menikmati pemandangan di hadapannya, tanpa kata.


"Tadi kau bilang memasak untukku, bukan?" Endo sengaja bertanya tanpa menjawab pertanyaan Rosella.


"Iya," jawab Rosella dengan binar di matanya.


"Baiklah, siapkan makan siang untukku. Aku akan turun satu jam lagi," ucap Endo santai.


Tanpa menunggu jawaban Rosella, Endo segera kembali masuk ke dalam kamar dan menghilang di balik pintu.


Satu jam kemudian, wangi aroma maskulin tercium saat Endo menuruni anak tangga dengan setelan jas navy membalut tubuh tegapnya. Rambutnya pun disisir rapi. Sungguh tampak mempesona bagi gadis mana pun yang melihatnya. Tak terkecuali Rosella.


"Kau sudah turun?" sambut Rosella dengan senyum manisnya seperti biasa. "Ayo cepatlah, makanannya keburu dingin."


"Ya," sahut Endo dengan senyum hangat tercetak di bibir.


Langkah Endo terhenti saat ekor matanya menangkap keberadaan Disan di dalam rumahnya. Pria berlesung pipi itu sedang duduk tenang pada ujung sofa dekat tangga. Kedua tangan tengah sibuk mengetikkan sesuatu pada laptop di hadapannya. Sementara di atas meja terdapat sepiring rainbow cake dan segelas es teh manis buatan Rosella.


"Disan, kau masih di sini?" sapa Endo.


Disan mendongak ke arah Endo yang masih berjalan menuruni tangga. Dibetulkannya letak kaca mata dengan telunjuk kiri sebelum membalas sapaan pemilik rumah.


"Ya, aku sedang menunggumu."


Disan melirik ke arah Rosella, hanya dalam hitungan detik. Namun hal itu tak luput dari pandangan Endo.


"Kembali ke kantor bersamaku? Baiklah. Tapi aku akan makan siang dulu. Rose sudah menyiapkannya untukku."


"Tentu. Terserah kau saja."


Endo segera mengambil tempat di meja makan. Sementara Rosella menyiapkan air putih dan jus jeruk di atas meja.


"Hei, kenapa kau tetap duduk disitu?" hardik Endo. "Ayo, kita makan bertiga."


Disan membuka mulut untuk menolak. Namun belum sempat bersuara, Endo telah mendahuluinya.


"Setidaknya hargailah hasil jerih payah Rose," ucap Endo yang berhasil membuat Disan turut duduk bersama di meja makan, walaupun dengan terpaksa.


Rosella meletakkan nasi dan lauk ke dalam piring Endo.


"Hmm ... aromanya lezat sekali."


"Ya, cicipilah. Semoga kau suka." Rosella tersenyum hangat sembari meletakkan menu di atas piringnya sendiri.


"Kau tidak mengambilkan untuk Disan juga?" tanya Endo mengingatkan.


Sejenak Rosella terdiam, merasa tak nyaman karena telah mengabaikan Disan.

__ADS_1


"Maafkan aku," ucap Rosella sembari meletakkan nasi dan lauk di atas piring Disan. "Silahkan ... silahkan menikmati."


Tak seperti biasanya, kali ini Rosella menghabiskan makan siangnya dalam diam. Biasanya dia selalu berceloteh dan menceritakan apa pun yang dilakukannya di rumah ini seharian. Mungkin dia merasa canggung karena keberadaan orang lain di meja makan kali ini. Endo bukannya tak membaca perubahan itu. Namun dia bersikap biasa saja, seolah tak ada yang berbeda dari biasanya.


Tiga puluh menit kemudian, Endo tampak telah siap dengan tas kerja di tangan. Dilangkahkan kaki panjangnya menuju pintu depan, diiringi oleh langkah ringan Rosella dan Disan di sampingnya.


Kaki panjang Disan terus terayun menuju tempat dimana mobilnya terparkir. Sementara Rosella mengikuti langkah Endo yang terhenti di teras depan.


"Aku pergi dulu," pamit Endo. "Jaga dirimu baik-baik," pesannya sembari menepuk pelan pundak Rosella.


"Tentu," sahut Rosella dengan senyum manisnya.


"Jika ada apa-apa kau telepon saja aku," pesan Endo lagi. "Kau bisa menggunakan telepon di ruang depan."


"Ya, tentu saja," sahut Rosella tepat saat mobil yang dikendarai Disan berhenti de depan mereka berdua.


"Disan, tolong kau belikan ponsel untuk Rosella."


"Ok," sahut Disan singkat.


"Agar kau lebih mudah menghubungiku." Endo menjelaskan pada Rosella.


"Iya, aku tahu," sahut Rosella cepat dengan mata berbinar. Tanpa aba-aba, Rosella mengecup pipi Endo yang mulai ditumbuhi jambang tipis. "Terimakasih, Endo. Kau baik sekali padaku."


Endo mengernyit terkejut dengan keberanian gadis di hadapannya. Hanya sesaat, kemudian melempar senyum hangat seperti biasanya.


Sementara di balik kemudi, Disan memandang ke arah gadis yang tampak merona di samping Endo dengan tatapan tajam.


"Aku pergi dulu," ucap Endo sembari melangkahkan kaki menuju mobil yang telah Disan siapkan.


Mobil pun segera bergerak pelan meninggalkan halaman rumah berdominasi cat warna putih salju itu. Jendela tertutup rapat setelah mobil berhasil melewati pintu gerbang. Laju mobil berubah menjadi lebih cepat, bahkan di atas rata-rata.


"Ada sesuatu yang perlu kudengar?"


Suara Endo memecah keheningan setelah sepuluh menit keduanya duduk dalam diam.


"Tentang penyusup yang masuk ke dalam rumahmu tempo hari ... kau benar, bukan Paola pelakunya," jawab Disan dengan pandangan tetap fokus ke depan. "Dia telah berjanji tidak akan mengusikmu lagi, dan yang kutahu adalah kata-kata perempuan ini bisa dipegang."


Endo diam tak berkokentar. Sebagai pertanda bahwa ia masih menginginkan laporan yang lebih lengkap.


"Sepertinya ada pihak yang ingin menjatuhkan usahamu dengan cara curang. Mereka bahkan telah menanam beberapa mata-mata di perusahaan. Aku telah mendapatkan mereka semua. Penyerangan tempo hari memang bertujuan untuk mengambil berkas penting dari ruang kerja di rumahmu, karena mereka telah mencarinya di kantormu, tapi tidak mendapatkan apa-apa. Dengan kata lain, mereka mengincar proyek hunianmu di Nusa Tenggara. Mereka memang telah lama menginginkannya, namun justru kau yang mendapatkannya," lapor Disan panjang lebar.


Endo menerimanya dengan tangan kanan. Diperhatikannya gambar tiga sosok di dalam foto itu. Rosella berdiri di ujung paling kiri dalam rangkulan pria bersetelan jas rapi di tengah-tengah. Sementara di sebelah kanannya lagi berdiri seorang pria dengan seletan jas hitam dan tongkat di tangan kanan.


Endo tak menyangka gadis itu bisa tampak begitu cantik dan dewasa dengan gaun hijau tosca dan rambut bergelombang yang tergerai hitam berkilau. Berbeda dengan yang dilihatnya selama ini. Rambut pirang lurus dengan baju rumahan seadanya.


Endo menghela nafas, kemudian menyalakan sebatang rokok. Dengan sigap Disan menekan tombol hingga kaca jendela bergerak turun perlahan.


Lima menit kemudian mereka telah tiba di gedung perkantoran. Endo dan Disan berjalan beriringan penuh wibawa menuju lift khusus pemilik perusahaan itu.


"Biarkan saja mereka terus bergerak," putus Endo saat bilik lift bergerak naik lantai demi lantai. "Terus awasi!" lanjutnya.


Pintu lift terbuka, Endo segera melangkah keluar beriringan dengan Disan di sebelah kanannya.


Langkah keduanya terayun pelan menyusuri lantai granit menuju ruangan nomor 1. Di lantai itu memang hanya ada satu ruangan saja, yaitu ruangan pemilik perusahaan.


"Selamat siang, Pak Endo." Novera, sang sekretaris pribadi, buru-buru menyapa begitu melihat kemunculan atasannya. "Selamat siang, Pak Disan."


"Siang, Nov."


Endo menjawab sembari menghentikan langkah tepat di depan meja Novera. Sementara Disan hanya membalas dengan senyuman sembari mengangguk, turut menghentikan langkah sama seperti bosnya.


"Ada yang ingin kau sampaikan padaku?" tanya Endo kemudian.


"Di dalam ada Pak Rudi sedang menunggu."


"Sudah lama?"


"Tepat satu jam, Pak," jawab Novera setelah melirik arloji di pergelangan tangan kirinya.


"Celakalah aku," rutuk Endo pelan.


"Kenapa, Pak?" Novera mengernyitkan kening, tampak bingung.


"Dia pasti akan menyemprotku habis-habisan karena membiarkannya menunggu lama."

__ADS_1


"Ah, Bapak. Memang biasanya Pak Rudi seperti itu juga kan?"


Novera memang sudah paham betul bagaimana sikap serta kebiasaan Rudi dan kedua orang yang tengah berdiri di hadapannya itu.


"Maka dari itu," sahut Endo dengan wajah kecut. "Heran, sebenarnya di sini siapa bosnya?" gumam Endo sembari beranjak meninggalkan Novera yang tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"Hai, Dude," sapa Endo begitu memasuki ruang kerjanya. "Bagaimana harimu? Pasti sangat menyenangkan. Hari pertama kembali menginjakkan kaki di kantor ini."


Endo berjalan mendekat, kemudian menjabat erat tangan Rudi. Diikuti Disan yang turut menyambut kehadiran Rudi tanpa kata-kata.


"Apa-apaan kau ini?" protes Rudi yang merasa tak nyaman dengan perlakuan Endo yang mendadak aneh. "Sudah, tidak perlu berlebihan. Tidak perlu sok manis padaku."


"Jadi ... hari ini tadi Mia memperbolehkanmu keluar?"


Endo bertanya tanpa menggubris protes yang diajukan Rudi. Pertanyaan yang benar-benar membuat Rudi merasa jatuh di hadapan Disan.


"Katakan pada Mia, besok aku akan mengirim mesin cuci baru untuknya," ucap Endo lagi.


"Kau tidak ...."


"Ah, sudahlah. Tidak perlu sungkan seperti itu," potong Endo cepat. "Mia adalah kakak ipar yang sangat baik padaku," lanjutnya. "Sekarang katakan padaku, kau membawa kabar apa."


Rudi menghela nafas sekejab, sebelum kembali mengeluarkan suara.


"Selama lima jam ini aku sudah mengumpulkan informasi mengenai gadis itu," lapor Rudi pada bosnya.


"Kenapa kau harus membutuhkan waktu begitu lama?" ejek Endo, sengaja ingin membuat Rudi kesal. "Bukankah selama ini dia berada di bawah pengawasanmu?"


"Siapa yang dulu melarangku untuk menjaganya?" Rudi balik bertanya. "Bahkan berkata ingin melupakannya?"


Bukan Rudi yang menjadi kesal, namun justru Endo yang merasa situasi ini berbalik menyerang dirinya. Sungguh sangat menyebalkan.


"Kau pikir, memangnya untuk apa aku mengawasi orang yang jelas-jelas ingin disingkirkan dan dilupakan?" tanya Rudi.


"Hah, benar-benar!" umpat Endo dalam gumaman. "Pandai sekali kau bermain kata!"


"Tapi sebenarnya selama ini aku memang mengawasinya, untuk memastikan bahwa dia baik-baik saja," ucap Rudi tanpa memperdulikan umpatan Endo. "Setelah dia menempuh bangku kuliah di Solo ... kupikir pantauan untuknya tidak diperlukan lagi."


"Apa? Jadi dia kuliah di Solo?" tanya Endo dengan mata terbelalak tak percaya.


"Hei, jangan bilang bahwa kau tak tahu sama sekali," tambah Rudi tepat sasaran. "Ya Tuhan, kekasih macam apa kau ini?" hardik Rudi menyudutkan.


"Hei, dia hanya mantanku."


"Mantan yang tak pernah bisa kau lupakan," ralat Rudi, lagi-lagi tepat. "Itu salahmu sendiri, mengapa kau berlagak tidak ingin tahu apa pun tentang dirinya, sampai-sampai hampir empat tahun dia berada di dekatmu pun, kau tak mengetahuinya."


Rudi beralih dari kursi di depan meja kerja Endo menuju sofa empuk di sudut ruangan.


"Kupikir dia sudah menjadi milikmu. Namun kuyakin perkiraanku salah saat aku tahu bahwa dia bersama Luke. Jadi kukira kau memang sudah tidak berminat lagi padanya."


"Luke ...?" ulang Endo dengan mimik wajah tak percaya.


Sedetik kemudian, entah mengapa kedua tangan Endo terkepal.


Bagaimana mungkin fakta sebesar itu tak disadarinya? Bahkan dia melihat gadis itu di tengah pesta yang diadakan oleh Lucas, dan semalaman dia bergadang bersama laki-laki itu.


"Semua informasi tentangnya ada di sini," ucap Rudi membuyarkan lamunan singkat Endo.


Rudi merogoh map berwarna kuning dari balik jasnya, kemudian melemparnya ke atas meja.


"Informasi? Memangnya siapa yang menyuruhmu mencari informasi tentang dirinya?" hardik Endo kesal. "Benar-benar membuang waktu!"


"Terserah kau saja," sahut Rudi tanpa minat.


Laki-laki itu memang sedang malas menanggapi kekonyolan Endo. Entahlah, Rudi menjadi sangat sensitif semenjak pertemuan terakhirnya dengan Endo pagi-pagi tadi.


"Baiklah, aku akan kembali ke ruanganku. Masih banyak hal yang harus kuselesaikan," pamitnya. "Disan, semoga kau selalu diberi kesehatan. Butuh stamina yang luar biasa ekstra agar bisa meladeni semua kemauan dan perintah orang tidak waras yang satu ini."


"Hei, aku mendengarnya!" seru Endo semakin kesal.


Rudi segera beranjak dan menghilang di balik pintu, sementara Disan hanya mengulum senyum mengingat pesan yang dilontarkan Rudi barusan.


Ya, memorinya masih ingat betul bagaimana repotnya dia saat bosnya itu tengah jatuh cinta pada seorang siswi SMA lima tahun yang lalu. Namun itu belum seberapa, lebih repot lagi saat bosnya itu patah hati dan memilih bersikap sok pahlawan dengan merelakan gadis yang dicintainya untuk laki-laki lain. Hah, memang dasar pecundang!


"Disan, singkirkan berkas itu! Buang ke tempat sampah! Aku tak memerlukannya!" seru Endo penuh dengan intonasi perintah di setiap kalimatnya. "Biarkan saja dia bersama Lukas. Aku tak peduli."

__ADS_1


Tanpa banyak kata, Disan segera mendekat untuk meraih map kuning yang diberikan oleh Rudi beberapa saat yang lalu. Alih-alih membuang, Disan justru menyimpannya. Menyelipkan di antara tumpukan berkas di meja Endo. Laki-laki itu yakin, suatu saat nanti dia pasti akan dibuat repot oleh bosnya untuk mencari keberadaan berkas yang sudah terdaftar menjadi sampah buangan itu lagi. Tak ada salahnya bukan jika Disan mengantisipasi segala kemungkinan sejak dini?


BERSAMBUNG ...


__ADS_2