
"Sebenarnya aku malas bertandang ke rumahmu untuk menagajakmu pergi bersama. Aku lebih memilih menikmati malam ini berdua saja dengan Mia," ucap Rudi setelah menghembuskan kepulan asap rokok. "Tapi Mia ingin ada kau di antara kami malam ini," lanjutnya.
"Aku malas, sahut Endo sekenanya sembari menyalakan rokok.
"Terserah. Tapi kau sendiri yang harus memberikan alasan kepada Mia."
"Aku sedang malas," ulang Endo lagi. "Aku sudah mengatakan pada Lisa bahwa aku tak bisa datang malam ini," lanjutnya. "Mengenai Mia ... aku yakin dia bisa mengerti."
"Hah, teman macam apa kau ini," hardik Rudi dengan wajah serius. "Seharusnya kau senang melihat temanmu berbahagia."
"Iya, aku senang. Tapi bukan berarti aku wajib ikut bersenang-senang," tukas Endo sekenanya.
"Lalu apa yang akan kau lakukan?"
"Rebahan," jawab Endo enteng.
"Dasar pemalas!" hardik Rudi.
"Endo, kau sudah siap?" tiba-tiba terdengar teriakan seorang wanita dari lantai bawah. Ia tengah melangkah pelan menaiki anak tangga menuju kamar Endo di lantai dua.
"Ya, sebentar lagi aku siap!" Endo turut berteriak.
"Cepatlah, nanti keburu malam!" Tiba-tiba saja wanita itu sudah berdiri di belakang Rudi, melongok ke dalam kamar Endo dan menjadi kesal melihat laki-laki itu masih mengenakan kaos oblong dan celana boxer seadanya.
"Iya, duapuluh menit, Mia," sahut Endo.
"Duapuluh menit?" ulang Mia.
Tanpa aba-aba Mia langsung merangsek masuk ke dalam kamar Endo. Didorongnya pemilik kamar itu dengan paksa ke arah pintu kamar mandi.
"Hah, kenapa bukan kau saja yang menyuruhnya bersiap-siap dari tadi?" rutuk Rudi kesal.
Mia menoleh, tersenyum manis, kemudian mengelus lengan kokoh suaminya itu dengan lembut.
"Apa aku boleh mengajak Rosella?" teriak Endo dari dalam walk in closet. "Kasihan dia di rumah terus sepanjang hari," lanjutnya.
"Tak masalah kau mengajak nenekmu sekalipun," sahut Rudi sekenanya.
"Aku sudah mengajaknya," sahut Mia. "Dia sedang bersiap-siap."
"Baguslah."
"Memangnya Rosella itu siapa?" tanya Mia dengan berbisik kepada suaminya.
"Ceritanya panjang. Nanti saja kuceritakan di rumah."
Mia mengangguk setuju. Kaki jenjangnya langsung berjalan menghampiri lemari baju empat pintu di sudut kamar. Dipilih dan disiapkannya baju yang cocok Endo pakai untuk acara malam ini. Setelan jas serba hitam dengan kemeja putih, dipadu dasi hitam motif polkadot putih.
"Kenapa kau begitu perhatian padanya?" protes Rudi sembari melangkah masuk menghampiri istrinya. "Bahkan bajunya pun kau siapkan. Seperti istrinya saja."
"Kau ingin kita segera berangkat atau tidak?" balas Mia cepat. "Aku pun melakukan ini semua juga dengan sepengetahuanmu, bukan sembunyi-sembunyi di belakangmu. Lagi pula kau tahu sendiri, dia itu sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri. Jadi kau tidak memiliki celah untuk menuduhku yang tidak-tidak," ucap Mia panjang lebar dengan kedua tangan tetap bergerak menyiapkan sepatu dan kaos kaki untuk Endo.
Ya, hubungan Mia dan Lisa dengan Endo memang sangat dekat. Mereka sudah seperti saudara. Semua berawal dari rasa kasihan Endo terhadap mereka berdua yang terus semangat menjalani hidup, meskipun tanpa adanya orang tua. Rasa kasihan itu tumbuh menjadi rasa empati dan kebanggaan tersendiri melihat keberhasilan yang mereka capai.
Mia, sang adik, telah memiliki toko buku lumayan besar di kota ini, dan itu telah dimilikinya sejak sebelum menikah dengan Rudi. Sementara Lisa, sang kakak, malam ini akan mengadakan pesta peresmian restoran keduanya.
"Mia, mana bajuku?" Tiba-tiba Endo muncul bertelanjang dada hanya dengan boxer hitam melekat sempurna.
"Apakah istriku jarus membantumu mengenakannya juga?" tanya Rudi dengan wajah tak terima.
"Andai kau tak memata-matai kami di sini, kuyakin iya," sahut Endo enteng.
"Hei, sudahlah. Apa-apaan kalian?" Mia merasa harus menengahi. "Sudahlah sayang, dia hanya bercanda," lanjutnya sembari mengecup pipi Rudi dengan sayang.
Senyum lembut pun muncul di antara kedua bibir Rudi, membalas perlakuan istrinya.
"Pamer!" rutuk Endo dengan mimik wajah kesal. "Menyebalkan!"
"Makanya segeralah menikah!" hardik Rudi.
"Sayang, sudahlah ... jangan menggodanya terus." Mia kembali menengahi.
"Ayo kita pergi," ajak Endo setelah siap dengan penampilan sempurnanya malam ini. Ia pun segera berjalan menelusup di antara Rudi dan Mia yang tengah berdiri berdampingan di depan pintu kamarnya.
"Apa-apaan itu? Dia yang malas pergi, dia juga yang jalan paling depan," rutuk Rudi keki.
Mia menggeleng sembari tersenyum masygul melihat kekonyolan dua sahabat semasa kuliah itu.
Tangan Rudi terulur menutup pintu kamar Endo yang ditinggalkan oleh pemiliknya dalam keadaan masih terbuka. Setelah itu, tanpa membuang waktu segera digamitnya tangan lembut Mia, kemudian berjalan beriringan menyusul Endo.
"Kau sudah siap?" tanya Endo pada Rosella yang telah berdiri anggun di depan pintu kamarnya.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Rosella sembari melenggok bak model di depan kamar.
"You look so beautyful, sweety," puji Endo dengan senyum terulas di kedua bibir.
"Terimakasih," sahut Rosella dengan tawa mengembang.
Dua puluh menit kemudian, keempatnya turun setelah Rudi berhasil memarkir mobil. Mereka langsung berjalan menuju tempat dimana pestanya diadakan.
"Mia ...!" seru Lisa begitu keempatnya melewati pintu masuk yang terbuka lebar. "Aku sangat merindukanmu," lanjutnya.
"Kakak, aku juga merindukanmu."
Keduanya pun berpelukan melepas rindu yang selama ini tertahan karena jarak yang memisahkan mereka.
"Maaf, aku belum sempat berkunjung ke rumahmu," ucap Lisa masih tetap memeluk adik satu-satunya itu. "Aku baru sampai di kota ini tiga hari yang lalu, kemudian sibuk dengan semua persiapan ini."
"Tidak apa-apa, Kakak. Aku mengerti," sahut Mia sembari melepas pelukannya. "Memang seharusnya aku lah yang bertandang ke rumahmu. Tapi aku tidak bisa melakukannya karena ...." Mia membisikkan sesuatu di telinga kakaknya.
"Benarkah? Wah, malam ini aku mendapat kebahagiaan berlipat-lipat," seru Lisa heboh.
__ADS_1
"Tapi ngomong-ngomong, apakah kami terlambat?" tanya Mia kemudian.
"Ya. Kalian terlambat. Pesta sudah dimulai sejak satu jam yang lalu."
"Maaf, kami harus memandikan Endo terlebih dahulu."
"Hei, sudah ... sudah. Lepaskan dia," seru Endo menengahi sembari mendekat. "Jika kau memeluknya terus seperti itu, lantas kapan giliran aku yang mendapat pelukan?"
"Endo? Kau datang?" seru Lisa dengan mata berbinar.
Wanita berusia duapuluh delapan tahun itu pun langsung berhambur ke dalam pelukan Endo.
"Kau bilang tidak akan datang?" tanya Lisa masih dalam pelukan erat Endo. "Kau tahu? Aku sangat kecewa mendengarnya."
"Mia dan Rudi telah membantuku menyelesaikannya. Jadi aku memiliki banyak waktu untuk acaramu," sahut Endo dengan senyum mengembang.
"Rudi ...." Lisa melongokkan kepala ke belakang Endo. Tampak Rudi berdiri dengan setelan jas navy melekat di tubuh tegapnya. Laki-laki itu melempar senyum hangat dari bibir.
"Kakak, apa kabar?" sapa Rudi dengan senyum hangat menghias bibir. "Lama tidak bertemu."
Sebenarnya Rudi dan Lisa seumuran dan sudah saling mengenal jauh sebelum Rudi mengenal Mia. Namun Rudi tak melupakan tata krama untuk memanggil kakak kepada saudara tua istrinya itu.
"Baik, tentu saja," jawab Lisa sembari memberi pelukan keluarga kepada adik iparnya itu. "Bagaimana bisnismu?"
"Lancar, Kak. Tidak ada masalah yang berarti," jawab Rudi.
"Hah, betapa bahagianya hidup kalian. Bisa bangun pagi tanpa beban setiap hari."
"Apanya?" sahut Rudi sembari melirik ke arah Endo. "Dia selalu memberiku masalah setiap hari," lanjutnya yang disambut dengan tawa renyah semuanya.
"Hei, yang ini siapa?" tanya Lisa sembari melangkah, kemudian berdiri tepat di hadapan Rosella.
"Kenalkan, dia Rosella. Rose, kenalkan, ini Lisa, ratu pada pesta malam ini."
Lisa menjabat tangan Rosella sembari tersenyum hangat.
"Jadi dia ...."
"Ya, dia datang bersamaku," sahut Endo cepat.
"Kekasihmu?" goda Lisa.
Mendengar pertanyaan itu, wajah Rosella tertunduk dengan semburat merah menghias kedua pipi.
"Bukan," sanggah Endo. "Dia mana mau dengan laki-laki sepertiku," lanjutnya.
Riak wajah Rosella mendadak berubah mendengar jawaban Endo baru saja.
"Hah, aku sudah terlanjur senang," seru Lisa. "Kupikir kau akan segera melepas masa lajangmu. Tapi ternyata aku harus menelan kekecewaan. Segeralah menikah, atau kau berencana untuk menjadi perjaka tua?"
Semuanya tertawa terbahak mendengar kelakar Lisa, kecuali Rosella tentunya. Gadis itu tampak melemparkan senyum terpaksa yang hanya disadari oleh Endo dan Rudi.
"Suamiku sedang menemui para tamu," sahut Lisa sembari menengok ke dalam. "Ah, itu dia." Lisa menunjuk ke salah satu arah tidak jauh dari live music stage.
"Baiklah, aku akan menemuinya," pamit Endo diikuti dengan Rudi
Kedua laki-laki itu berjalan bersama memasuki ruang utama pesta untuk menemui Delon. Sementara Rosella menemani Mia yang lebih memilih segera mencari tempat duduk karena merasa kelelahan.
Beberapa tamu menikmati makanan dan minuman yang disajikan sembari berkelakar bersama. Sebagian lagi menikmati live music yang dimainkan. Bahkan ada pula yang turut melantai bersama singer-nya.
Telinga Endo menangkap suara yang tak asing di telinga. Diperhatikannya penyanyi yang sedang meliuk sembari menyanyikan sebuah lagu.
.
*Ku kira ku tak kan pernah jatuh cinta lagi
Ternyata ku salah saat bertemu denganmu
O ooo o ooo
Waktu kau bicara, hatiku pun bicara
Mengapa kau buat ku jadi mati gaya
Mendekat salah
Menjauh salah
Bicara salah
Mengapa semua jadi serba salah
Sungguh mati ku jadi
Jatuh cinta padamu
Sungguh ku menyukai
Semua yang ada pada dirimu
Apa kau rasakan hal yang sama denganku
Tak kan ku tolak bila kau ingin denganku
Mendekat salah
Menjauh salah
Bicara salah
Mengapa semua jadi serba salah
__ADS_1
Sungguh mati ku jadi
Jatuh cinta padamu
Sungguh ku menyukai
Semua yang ada pada dirimu
I love I love I love I love I love I love I love, you, you
I love I love I love I love I love I love I love, you, you
I think I'm falling in love with you*
.
"Echa ...," gumam Endo sembari menatap sang penyanyi.
Gadis itu bernyanyi dengan enerjik di atas stage diiringi musik rancak yang mengiringi suara merdunya. Lagu lawas I Love You milik Dewi Sandra teralun dengan beat cepat.
Malam ini ia mengenakan setelan longsleve merah dan rok hitam sebatas paha, dipadu dengan sepatu boot hitam. Rambut panjangnya diikat ekor kuda dengan riasan wajah natural yang membuatnya tampak seperti remaja mungil yang energic, aktif dan smart. Benar-benar terlihat begitu cantik mempesona, sekaligus menggemaskan.
Endo berdiri menikmati suara sekaligus mengamati setiap gerakan yang Echa tunjukkan. Bahkan sesekali tubuhnya turut bergoyang mengikuti irama musik.
"Terpesona dengan penampilannya, Dude?" tanya Rudi tiba-tiba.
"Tidak buruk," jawab Endo ambigu.
Seorang laki-laki maju ke depan meraih tangan Echa, membantunya turun saat gadis itu melangkah menuruni anak tangga dari stage.
"Suaramu merdu sekali, Nona Rebecca. Kenalkan, aku Rendi Rahardian, pemilik salah satu satu hotel mewah di kota sebelah."
Suara seorang laki-laki yang berusaha mendekati Echa, terdengar jelas di telinga Endo. Ia diam di tempat dengan pandangan tetap intens tertuju pada Echa. Sementara gadis itu bergeming, menatap tak senang pada Rendi.
"Jika kau tak keberatan, bagaimana bila kita buat schadule untuk akhir pekan ini?" tawar Rendi mencoba mrngakrabkan diri.
"Tidak, terimakasih," sahut Echa datar sambil melenggang pergi.
Endo tersenyum melihat adegan tak jauh dari tempatnya berdiri itu.
"Oh, dear ... penampilanmu keren sekali." Seorang perempuan menyambut kedatangan Echa. "Kau selalu tampak sempurna di setiap penampilanmu, sayang."
Echa diam tak menyahut. Tangan kanannya menyambar segelas minuman yang disodorkan oleh wanita itu kemudian segera meminumnya.
"Siapa laki-laki tadi? Dia berusaha merayumu? Kurang ajar, apakah dia tak tahu siapa itu Lucas Wiratmaja?" cerocos wanita itu dengan wajah kesal.
"Aku ke toilet dulu, Era. Tolong kau jaga baik-baik gelasku ini," ucap Echa sembari mengembalikan gelas kosong itu ke tangan Era. Ia pun segera melesat pergi tanpa menunggu jawaban Era.
Echa melangkah tergesa-gesa, berusaha menerobos ratusan tamu undangan di ruangan itu. Setelah menemukan apa yang dicarinya, ia pun segera masuk dan menyelesaikan urusannya di toilet.
"Lega rasanya," gumam Echa sambil keluar dari bilik toilet. Dirapikannya kembali tatanan rambut, make up dan bajunya di depan cermin. Tiba-tiba kegiatannya terhenti karena dikejutkan oleh suara seorang laki-laki berpostur tinggi besar yang menyapanya.
"Toilet pria ada di sebelah," ucap Echa datar sembari mengoleskan lipstik baby pink ke bibir mungilnya.
"Tidak, aku tidak sedang ingin berurusan dengan toilet. Aku memang kesini untuk menemuimu," jawab laki-laki itu.
"Katakan, ada apa?" sahut Echa tanpa menoleh. Suaranya terdengar begitu datar.
"Aku hanya ingin berkenalan denganmu, cantik."
"Kau pasti sudah tahu, namaku Rebecca." Echa mulai menangkap gelagat tidak baik mengenai orang itu. "Sekarang cepatlah kau pergi dari sini," usir Echa tanpa mengalihkan pandangannya dari pantulan cermin.
"Kau berani mengusirku?" tanya laki-laki itu tak percaya. "Sudahlah! Jangan jual mahal seperti itu. Aku sudah memperhatikanmu sejak lama. Aku sering kali melihatmu tampil di pesta-pesta mewah seperti ini," jawab laki-laki itu dengan seringaian di bibirnya. "Aku tetarik padamu. Aku hanya ingin berkenalan denganmu," lanjutnya sambil mencoba mengusap pipi Echa.
"Kau sungguh sangat tidak sopan!" bentak Echa sambil berbalik menghadap laki-laki itu dengan tatapan tajam. "Pergi dari hadapanku, atau aku akan ...,"
"Akan apa, cantik?" potong laki-laki itu cepat. "Kau tidak akan bisa keluar dari tempat ini karena ...." Laki-laki itu tidak menyelesaikan ucapannya, namun ia mendekat sembari menunjukkan kunci pintu toilet yang ada pada genggaman tangannya. "Jika ingin keluar kau harus menuruti semua kemauanku. Sekarang mari kita berkenalan dengan cara baik-baik. Setelah itu kau benasenciumku di mana saja."
"In your dream! Dasar brengsek!" umpat Echa yang mulai menujukkan kilatan amarah di matanya.
"Oke, aku masih bisa bersabar. Jika kau tidak mau menciumku, bagaimana kalau aku saja yang menciummu? Atau kita bisa melakukan lebih dari itu," ucap laki-laki itu sambil menarik pundak Echa dan berusaha memeluknya.
"Hei, apa-apaan kau ini?! Menyingkirlah dariku!" bentak Echa seraya meronta dengan kencang.
"Sudah sejak lama aku penasaran denganmu," sahut laki-laki itu.
"Kau pikir wanita macam apa aku ini?!!" bentak Echa lagi dengan suara lantang sambil menyodokkan lututnya tepat di antara dua paha laki-laki itu dengan sekuat tenaga.
"B*j*ng*n!" teriak laki-laki itu menahan sakit yang teramat sangat.
Tak menyia-nyiakan kesempatan, Echa segera melesat secepat mungkin ke arah pintu keluar, kemudian segera dibukanya, namun nihil. Pintu betul-betul terkunci. Digedor-gedornya pintu itu dengan sekuat tenaga.
"Tolong! Tolong aku! Tolong!" teriak Echa sambil terus menggedor puntu.
"Percuma saja, tidak akan ada yang mendengarnya," ucap lakukan-laki itu sambil meringis menahan nyeri. "Mereka semua sedang asyik menikmati pesta. Lagi pula suaramu kalah dengan suara musik."
Echa mengehentikan gerakannya. Benar yang dikatakan laki-laki itu. Apa yang dilakukannya memang percuma. Sedangkan untuk melawan laki-laki itu sendirian adalah hal yang mustahil, karena ia telah merasakan sendiri bagaima kuatnya cengkeraman laki-laki tinggi besar itu saat memeluknya dengan paksa tadi.
"Ayolah, jangan jual mahal seperti itu. Aku sudah banyak bermain dengan wanita sok suci seperti dirimu, tapi nyatanya pada akhirnya mereka akan menyerahkan semuanya padaku." Laki-laki itu itu telah berdiri menghampiri Echa, meskipun sesekali masih tampak meringis menahan sakit. Dijentiknya dagu belah milik Echa dengan lembut.
"Plakkk!!!" sebuah tamparan mendarat di pipi kiri laki-laki itu.
"Jaga bicaramu! Jangan samakan aku dengan wanita-wanitamu itu!"
"Kurang ajar! Berani kau menamparku?!" tiba-tiba pria itu menarik pergelangan tangan Echa.
Echa yang berada dalam posisi tidak siap pun langsung limbung. Dengan kasar laki-laki itu menghempaskan tubuh Echa ke dinding. Laki-laki itu pun buru-buru mendekat dan mengunci kedua pergelangan tangan Echa di atas udara dan segera merangsek maju kembali berusah mencium bibir ranum wanita di depannya itu dengan liar.
"Kak Endo ...!" teriak Echa di sela usahanya menghindari perlakuan kurang ajar laki-laki itu.
BERSAMBUNG ...
__ADS_1