LOCK DOWN

LOCK DOWN
Part 18. Aku Akan Membersihkannya


__ADS_3

"Kami berencana untuk menetap di sini saja. Tapi hal itu masih butuh waktu, karena pabrik yang di Kebumen belum bisa ku tinggalkan," ucap Delon setelah menyesap minumannya.


"Jadi hanya Kak Lisa saja yang berada di sini?" tanya Rudi.


"Ya, untuk sementara begitu. Aku harus bolak-balik Solo-Kebumen," sahut Delon.


"Semoga saja tahun depan sudah bisa menemani Lisa di sini," sahut Endo.


"Hei, Endo?" Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Endo.


"Ya," sahut Endo sembari menoleh. "Hei, Rendi!" Senyim cerah mengembang di bibir Endo. "Bagaimana kabarmu?"


Endo beringsut beralih pada Rendi. Sementara Delon pergi menyambut beberapa tamunya yang baru datang. Sedangkan Rudi pun juga telah tampak sibuk dengan beberapa kenalannya.


"Aku baik-baik saja. Kau bagaimana?" Rendi balik bertanya.


"Seperti yang kau lihat, aku selalu tampak tampan dan menawan," sahut Endo narsis.


"Ya, sejak dulu kau selalu menjadi incaran para gadis. Menyebalkan," sungut Rendi kesal.


"Hahaha ...." Endo teratawa renyah menanggapi ucapan Rendi. "Bagaimana perkembangan bisnismu? Kudengar bulan lalu kau menggelar pesta peresmian hotel mewahmu di kota sebelah," lanjutnya.


"Ya, kau benar. Maaf aku tak mengundangmu."


Tampak rasa tak nyaman pada riak wajah Rendi.


"Tak masalah," sahut Endo santai. "Uang melimpah, tapi sayang belum punya pendamping," ledek Endo.


"Hah, kau pun sama," hardik Rendi tak mau kalah.


Tawa renyah berderai dari mulut keduanya, mendapati kenyataan bahwa status mereka berdua tak jauh berbeda.


"Sudah ada calon?" tanya Endo.


"Aku sedang berusaha mendekati seorang gadis."


"Benarkah? Siapa gadis beruntung itu?" tanya Endo antusias.


"Rebecca."


"Rebecca?" ulang Endo dengan mata terpicing.


"Ya. Sebenarnya aku sudah lama mengincarnya. Tapi menyebalkan, dia menolakku di pendekatan pertamaku. Sial!" sungut Rendi kesal.


"Hahahaha ...." Endo kembali menanggapi dengan derai tawa.


Ngomong-ngomong tentang Rebecca, di mana dia sekarang? Endo mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Keningnya tampak mengernyit ketika tak menemukan apa yang tengah dicarinya di sepanjang jangkauana matanya.


"Maaf, Ren, kutinggal sebentar. Aku ada sedikit keperluan," pamit Endo. "Nikmatilah pesta malam ini."


"Tak masalah," sahut Rendi pada Endo yang kemudian segera beranjak pergi.


Langkah kaki Endo terhenti di hadapan seorang gadis berambut pirang dengan mini dress warna pink membalut tubuh indahnya.


"Permisi. Maaf, Nona," sapa Endo.


"Ya," sahut gadis itu sembari mendongak ke arah suara yang menyapanya. "Kau? Kau Endo Devon Atmaja?" tanya gadis itu terbata. "Benar, bukan?" Gadis itu kembali memastikan. "Ya Tuhan, aku tidak menyangka bisa bertemu dengan seorang Endo di sini," lanjutnya takjub. "Kenalkan, namaku Era." Gadis itu mengulurkan tangan kanan untuk berjabat tangan.


Endo menyambut jabatan tangan Era dengan senyum ramah.


"Penampilanmu di Smart Magazine keren sekali," puji Era tulus. "Kau tahu? Aku adalah salah satu penggemarmu," lanjutnya dengan binar antusias.


"Terimakasih," sahut Endo seperlunya. "Tapi maaf, Era, aku sedang mencari Rebecca. Apa kau tahu di mana dia sekarang?" tanyanya.


"Tadi dia bilang mau ke toilet," jawab Era. "Tapi kalau dipikir-pikir sudah lama juga dia belum kembali," lanjutnya. "Kau mau kupanggilkan dia ke mari?" tanyanya kemudian.


"Ah, tidak perlu. Biar aku saja yang mencarinya sendiri," tolak Endo. "Terimakasih ya, Era. Senang berkenalan denganmu."


"Tentu," sahut Era masih dengan binar di kedua matanya.


Endo segera berjalan melewati para tamu undangan menuju toilet. Saat tiba di depan pintu toilet, di dengarnya suara gedoran dari dalam toilet wanita.


"Berisik sekali. Kekonyolan apa yang para wanita lakukan di dalam toilet?" gumam Endo sembari melangkah masuk ke dalam toilet pria.


Setelah selesai, ia pun segera ke luar, hendak melangkah kembali bergabung dengan tamu pesta lainnya.


"Kak Endo ...!"

__ADS_1


Seketika langkah Endo terhenti saat tiba-tiba saja ia mendengar seseorang memanggil namanya. Sedangkan yang ia tahu hanya ada satu orang saja yang memanggilnya dengan sebutan seperti itu. Menyadari hal itu, mendadak hatinya diserang rasa cemas luar biasa, di antara rasa ragu apakah itu tadi benar-benar suara Echa, atau hanya halusinasinya saja.


"Kak Endo ...! Tolong aku ...!"


Suara teriakan itu kembali terdengar. Bahkan kini lebih jelas di ruang dengar Endo, dan tentu saja benar-benar mengganggu pikirannya.


Tak mau ambil pusing dan tak ingin dihinggapi kecemasan terus menerus, Endo segera berbalik menuju toilet perempuan. Dibukanya pintu di hadapannya itu dengan kasar, namun usahanya nihil. Pintu itu terkunci rapat.


Endo mundur beberapa langkah guna mengambil ancang-ancang. Akhirnya dengan satu kali hentakan keras dari tubuhnya, pintu itu terbuka. Tampak di depan matanya Echa yang tengah meronta berusaha melepaskan diri dari seorang laki-laki berpostur tinggi besar. Namun laki-laki itu begitu kuat mencengkeram kedua lengan Echa , bahkan hingga baju bagian lengan gadis itu koyak karena terus berontak.


"Kak Endo ...," gumam Echa terkejut. Tampak rasa lega terpancar di kedua mata bulatnya.


Tanpa pikir panjang Endo langsung menarik kasar pundak laki-laki itu, hingga Echa terlepas dari cengkeramannya. Dilayangkannya satu hantaman keras tepat mengenai perut, hingga tersungkur di sudut ruangan.


Mendapat kesempatan untuk lepas, Echa segera lari menghambur ke pelukan Endo.


"Kak Endo ...."


Endo menyambut tubuh mungil itu dengan dekapan erat.


"Kau baik-baik saja?" tanya Endo di sela pelukannya.


"Iya, Kak," sahut Echa lemah.


"Kau diamlah di sini dulu sebentar," perintah Endo.


Endo bergerak menghampiri laki-laki yang tengah tersungkur di sudut toilet. Laki-laki itu bergerak pelan, kemudian berusaha berdiri sembari memegangi bagian perutnya yang masih terasa sakit. Tanpa memberi kesempatan lebih jauh, Endo kembali melayangkan pukulan dan hantaman bertubi-tubi ke wajah laki-laki itu, hingga kembali jatuh tak berdaya.


"Jangan pernah sekali-sekali kau mengganggu milik Endo Devon Atmaja!" Endo memperingatkan sembari menarik pangkal dasi laki-laki itu, kemudian dihempaskannya begitu saja dengan kasar.


Pandangan Endo beralih pada Echa yang berdiri kaku di tempat yang sama dimana ia tinggalkan. Sepertinya gadis itu memang masih syok.


"Cha, kau baik-baik saja?" tanya Endo dengan lembut namun masihpenuh rasa kecemasan.


"Kak Endo ...," gumam Echa kembali berhambur ke pelukan Endo. "Kak Endo, terimakasih," lanjutnya.


Endo membalas pelukan Echa dengan erat. Berusaha menyalurkan ketenangan dan rasa aman kepada gadis itu.


"Kak Endo .... Terimakasih, Kak Endo. Terimakasih."


Echa menyebut nama Endo berulang kali karena rasa terimakasihnya yang begitu dalam. Mungkin dirinya memang akan benar-benar celaka jika Endo tak datang untuk menolong. Mungkin begitulah yang dipikirkannya.


"Sudahlah, sudah," sahut Endo sembari membelai lembut kepala gadis cantik itu. "Sekarang kau aman bersamaku," lanjutnya.


Perlahan Endo mengurai pelukannya. Dipandangnya gadis itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Benar-benar berantakan.


Tangan kanan Endo terulur pelan. Dilepaskannya ikatan pada rambut gadis di hadapannya itu hingga tergerai bebas. Diulurkan juga tangan kirinya perlahan. Dua tangan kokoh itu kini bergerak pelan merapikan rambut yang tergerai di balik punggung dengan lembut.


Mata Endo menyipit saat melihat lengan baju Echa yang koyak. Segera dilepasnya jas hitam yang masih melekat rapi di badan, kemudian buru-buru dipakaikannya di pundak Echa.


Setelah dirasa cukup, Endo merogoh ponsel dari dalam saku celana dan segera membuat panggilan.


"Jemput aku," ucap Endo singkat begitu panggilan tersambung.


Endo menatap sesaat ke arah kedua mata bulat gadis di hadapannya. Ia merasa mata itu tampak begitu sayu dan kacau.


"Ayo," ajak Endo sembari menggamit tangan lemah Echa, kemudian melangkah lebar menerobos para tamu undangan menuju pintu keluar.


Rudi yang melihat hal janggal itu pun langsung mengerti bahwa ada yang tidak beres dengan kedua orang tersebut. Tanpa aba-aba Rudi segera melangkah mendekat.


"Tolong kau urus Rosella. Nanti aku akan meneleponmu," ucap Endo singkat sembari terus berjalan.


Rudi mengangguk sebagai pertanda bahwa ia mengerti.


"Aku telah merusak pintu toilet wanita," tambah Endo, yang membuat Rudi langsung paham dan tahu apa yang harus dilakukan.


Perlahan ia berbalik, kemudian menghilang untuk beberapa saat. Langkah lebar Rudi tertuju ke arah toilet. Tampak olehnya beberapa orang berkerumun di toilet wanita. Ia segera merangsek masuk ke tengah kerumunan. Dikeluarkan ponsel pintar miliknya dari balik saku celana, kemudian diambilnya beberapa gambar dari laki-laki yang tengah tergeletak pingsan si depan bilik toilet paling ujung itu.


Setelah mendapatkan apa yang dicari, Rudi pun segera beranjak pergi meninggalkan kerumuman yang semakin ramai, kembali bergabung dengan tamu undangan yang lain seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Ekor matanya masih dapat menangkap keberadaan Endo dan Echa bersama Lisa.


"Maaf, Lisa, aku harus mengingkari kata-kataku," ucap Endo begitu tiba di hadapan Lisa.


"Apa maksudmu?" tanya Lisa tak mengerti.


Pandangan Lisa beralih pada Echa yang tengah tertunduk lemah di dalam rangkulan hangat Endo.


"Ada sesuatu yang terjadi, dan aku harus segera mengurusnya," jawab Endo cepat.

__ADS_1


Endo semakin mengeratkan rangkulannya. Tampak sekali bahwa ia sangat ingin menjaga dan memastikan keselamatan gadis itu. Melihat hal itu Lisa langsung paham bahwa ada hubungan istimewa di antara keduanya. Ya, laki-laki itu tak pernah tampak seposesif itu dalam memperlakukan seorang wanita.


"Maaf, aku telah merusakkan pintu toiletmu," ucap Endo lagi.


Sekali lagi, Lisa langsung bisa menerka apa yang sebenarnya telah terjadi.


"Baiklah, hati-hati. Akan kusampaikan salam darimu untuk Delon."


Endo mengangguk, kemudian segera melangkah ke luar menuju mobil yang telah terparkir menantinya malam itu.


Masih terdengar jelas olehnya percakapan Lisa di dalam sambungan telepon. "Segera periksa keadaan di toilet."


Mobil segera melesat pergi setelah Endo dan Echa masuk.


"Are you ok?" tanya Endo setelah beberapa saat kesunyian menghinggapi keduanya di kursi belakang.


Echa menunduk diam. Sesaat kemudian pundaknya bergetar. Gadis itu menangis.


"Hei, kau kenapa?" tanya Endo bingung. "Ada apa denganmu?"


"Dia," sahut Echa di antara isak tangisnya. "Laki-laki brengsek itu telah menciumku," lanjutnya, masih dengan wajah tertunduk. Ditutupnya wajah sayunya itu dengan kedua telapak tangan.


Mendengar jawaban itu, Endo menggeram menahan emosi. Rahang tegasnya mengeras dengan kedua tangan terkepal erat. Namun mati-matian ia berusaha menahan agar tak menyuruh Ringgo putar balik dan kembali menghajar laki-laki yang sempat menjadi bulan-bulanannya tadi.


Sedetik kemudian Endo beringsut dari duduknya, hingga saling berhadapan dengan wajah Echa. Kedua tangannya terulur, menangkup kedua pipi gadis cantik itu dengan lembut. Perlahan didongakkannya wajah itu hingga tatapan mereka saling bertemu. Cukup lama kedua pasang manik mata itu saling beradu. Bagi Endo, tak sedikit pun kecantikan gadis itu berkurang, meskipun dalam penglihatan Endo wajah cantik itu tampak kacau dan sayu penuh air mata.


"Dimana dia menciummu?" tanya Endo parau.


Tak ada kata-kata yang meluncur dari bibir mungil Echa. Hanya air mata yang terus berlinang di kedua pipinya.


"Di sini?" tanya Endo sembari mengusap bibir Echa dengan ibu jarinya.


Echa mengangguk samar, yang disambut dengan reaksi rahang mengeras dari Endo.


"Dimana lagi?" tanya Endo.


Echa menggelang samar.


"Hanya di sini?" Endo kembali bertanya.


Echa pun kembali mengangguk samar.


"Aku akan membersihkannya," bisik Endo tepat di telinga Echa. "Aku janji tak akan ada sisa ciuman laki-laki itu lagi di sana. Tidak akan pernah ada jejak ciuman laki-laki lain di sana."


Ringgo melirik sekilas ke arah kaca depan. Tampak jelas apa yang tengah bosnya lakukan melalui pantulan kaca itu. Namun ia lebih memilih kembali konsentrasi pada roda setir yang digenggamnya.


"Kau tahu kenapa?" Kembali terdengar suara parau milik Endo.


Echa bergeming. Diam-diam dinikmatinya aroma maskulin laki-laki yang tengah menangkup kedua pipinya itu. Ia baru menyadari bahwa ternyata aroma yang dimiliki laki-laki di hadapannya itu mampu memberi efek menenangkan serta mendamaikan di dalam hatinya, dan dia menyukainya.


"Karena tidak boleh ada satu pun laki-laki yang boleh menciummu, selain diriku." Endo menjawab pertanyaannya sendiri tepat di telinga Echa.


Malam itu, di dalam mobil yang melaju tenang dengan kecepatana sedang, hanya berteman suara mesin mobil yang menderu, Endo memberikan ciuman yang lembut dan dalam pada gadis bermata bulat itu. Ciuman yang tidak akan mungkin bisa mereka lupakan selamanya.


"Merasa lebih baik?" tanya Endo sesaat setelah menyudahi ciumannya.


Endo memandang lekat wajah Echa yang mengangguk pelan. Diusapnya jejak air mata di kedua pipi gadis itu dengan lembut.


"Good girl," ucap Endo dengan senyum menghias bibir.


Endo menyandarkan punggungnya di sandaran jok mobil. Echa turut beringsut, merebahkan kepalanya di dada bidang laki-laki yang pernah mengisi ruang hatinya itu.


"Terimakasih, Kak Endo ...." Echa kembali berucap lirih.


Bukan menjawab, Endo justru mengecup kening Echa dengan lembut, dan entah mengapa gadis itu justru sangat menyukainya.


"Tidurlah," ucap Endo.


Tangan kirinya sengaja bergerak pelan membelai kepala gadis itu agar segera tertidur. Tak berapa lama, mata gadis itu terpejam tenang dengan nafas teratur terhembus dari hidung mancungnya.


Sepuluh menit kemudian, "Kita antar ke apartemennya?" tanya Ringgo.


Endo melirik ke arah Echa yang tampak telah tertidur pulas di dada bidangnya dengan wajah lelah. Namun entah mengapa ia tetap saja menggerakkan tangannya, ia ingin terus membelai lembut kepala gadis itu. Sesuatu yang tak pernah dilakukannya sejak lima tahun yang lalu.


"Tidak, Ringgo. Ke apartemenku saja," sahut Endo sembari menatap lekat bulu mata lentik yang terpejam damai itu.


Mendengar jawaban Endo, Ringgo segera mengambil lampu sein kanan dan berbelok ke arah barat pada perempatan jalan di depannya.

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2