LOCK DOWN

LOCK DOWN
Part 42. Kehilanganmu 2


__ADS_3

"Kita akhiri sampai di sini, Kak. Kita jalani hidup masing-masing. Echa tanpa Kak Endo, dan Kak Endo tanpa Echa."


Dengan kasar Echa mengurai dan menghempas dekapan kedua tangan kokoh Endo, kemudian beranjak meninggalkan laki-laki yang berdiri kaku di tempatnya. Gadis itu pun berlalu tanpa menoleh sedikit pun.


Tiba-tiba saja kedua kaki Endo terayun lebar. Secepat kilat tangan kanannya terulur untuk meraih sosok gadis yang sangat dicintainya itu.


Seketika langkah kaki Echa terhenti saat dirasakannya genggaman hangat pada pergelangan tangan kiri. Belum sempat menoleh, tiba-tiba saja sebuah tarikan kasar pada pergelangan tangan membuat ia tersentak dan ambruk di dada bidang laki-laki bernetra sebiru laut itu.


Tanpa memberi kesempatan untuk kembali menguasai diri, Endo langsung meraih tubuh rapuh itu ke dalam dekapan eratnya.


"Lepas, Kak Endo! Lepas!" Sontak Echa meronta-ronta, berusaha melepaskan diri dari kungkungan tubuh tegap Endo yang bergeming tak tergerak sedikit pun, dan pada akhirnya ia tahu itu adalah usaha yang sia-sia.


"Aku tidak akan pernah melepaskanmu, sayang," bisik Endo di sela dekapan eratnya.


"Kak Endo jahat! Jahat!" teriak Echa sembari memukul-mukul dada bidang Endo bertubi-tubi. "Jahat! Kakak Jahat! Jahat!"


Setelah cukup puas meronta-ronta, Echa pun menghentikan aksinya. Dayanya pun juga terasa melemah. Mungkin ia memang telah benar-benar kehabisan tenaga.


"Kenapa Kak Endo melakukan semua ini? Kenapa Kak Endo tega? Sampai hati Kakak menyakiti Echa ... kenapa?" ratap gadis itu di sela isak tangisnya.


Endo tak menjawab ucapan-ucapan Echa, hanya dekapan tangan kokohnya yang kini menjadi semakin erat.


"Jahat ...! Kak Endo jahat! Jahat ...!" Echa menenggelamkan kepalanya ke dalam dekapan hangat laki-laki yang dicintainya itu, hingga membuat suaranya berdengung tak jelas. Namun Endo paham betul dengan apa yang telah diucapkan oleh sang kekasih hati. Dikecupnya puncak kepala gadis itu dengan penuh kelembutan, berharap bisa sedikit memberikan ketenangan.


Perlahan kedua tangan halus itu terulur, melingkar di pinggang Endo dengan erat. Sontak semakin tumpah ruahlah butir air mata bening yang menyertai isak tangis dari gadis dalam dekapan itu.


"Aku sangat mencintaimu." Endo kembali berbisik sembari mempererat dekapannya.


"Lepaskan Echa, Kak," gumam gadis itu di sela isakannya.


"Tidak, sayang. Tidak. Aku tak mau kehilangan dirimu untuk kedua kalinya. Kau adalah nafasku, kau adalah jantungku, kau adalah jiwaku. Tak akan kubiarkan kau meninggalkanku," ucap Endo bertepatan dengan Marni yang datang dengan nampan berisi makanan di kedua tangan.


Wanita paruh baya itu bergeming, terpaku di tempatnya berdiri. Ia mulai menyimpulkan bahwa permasalahan yang tengah dihadapi oleh putri majikannya adalah sesuatu yang sangat pelik, meskipun ia tak tahu masalah apa itu.


Endo yang tengah berdiri menghadap pintu dengan kedua tangan memeluk Echa pun mengangguk kecil, memberi isyarat agar Marni masuk dan meletakkan makanan itu di atas meja.


"Tapi Echa tidak bisa hidup seperti ini, Kak. Echa tidak bisa berada di tengah-tengah kalian," ucap Echa yang tak menyadari kehadiran Marni.


Tangan kanan Endo bergerak pelan membelai lembut kepala Echa yang masih tenggelam di dalam kehangatan.


"Tidak, sayang. Tidak ada istilah kau di tengah-tengah kami. Yang ada hanyalah kita, yaitu kau dan aku."


Endo kembali berucap, mencoba menenangkan kekasih hatinya. Sesaat kemudian arah pandangannya tertuju pada Marni yang telah selesai dengan tugasnya. Endo membetikan isyarat agar wanita itu segera ke luar.


"Percayalah, sayang ... akan ada jalan ke luar untuk permasalahan ini. Semuanya tidak seperti yang kau pikir ... dan semua ini juga tidak serumit yang kau kira."


"Apakah Echa harus percaya? Janin itulah buktinya, Kak."


Echa buru-buru melepas lingkaran kedua tangannya dari pinggang Endo. Ia kembali mengurai kedua tangan Endo yang sejujurnya dalam hati pun ia mengakui bahwa dekapan itu masih sehangat biasanya. Dekapan itu masih senyaman biasanya. Ia merasa aman berada di sana. Tak ada satu hal pun yang berubah dari sosok kekasihnya itu.


"Katakan padaku, apa kau mencintaiku?" tanya Endo dengan kedua telapak tangan menangkup pipi milik gadis bermata bulat itu dengan lembut. Pandangan keduanya saling beradu untuk beberapa saat.


"Hentikan, Kak. Jika Kakak bicara tentang cinta ...."

__ADS_1


Gadis cantik bermata sembab itu sengaja menggantung kalimatnya di udara. Netra beningnya kini tampak nanar menatap wajah tegas di hadapannya yang terlihat sama menyedihkan dengan dirinya. Perlahan kedua tangannya terangkat. Diuraikannya telapak tangan kokoh itu dari kedua pipi.


"Maka Echa akui bahwa masih ada cinta di sini." Echa melanjutkan ucapannya. "Cinta yang tidak akan berubah sampai kapanpun. Tidak ada laki-laki yang Echa cintai selain Kak Endo."


Echa menelungkupkan telapak tangan kanannya di dada dengan kedua bahu bergetar menahan isakan.


"Tapi keadaan telah berubah, Kak. Semuanya sudah berubah. Kini Echa sudah tidak berhak untuk mencintai Kakak lagi," ucap Echa sembari membalikkan badannya dari pandangan Endo.


Dari balik punggung gadis berpiyama pink itu tampak jelas oleh Endo bahwa ia memang tengah mati-matian menahan suara pecahan tangisnya, hingga membuat tubuh lemah itu bergetar memprihatinkan.


"Tidak, Cha. Kau selalu dan akan selalu menjadi satu-satunya wanita yang boleh mencintaiku."


Tangan kanan Endo terulur, menarik bahu Echa, membuat gadis itu berbalik menghadap ke arah semula.


"Begitu juga denganku. Hanya aku yang boleh mencintai dan memilikimu. Tidak akan kubiarkan laki-laki lain merebutmu dariku," lanjut Endo tegas.


"Kenapa Kak Endo begitu egois? Di saat Kakak bisa bersenang-senang dengan wanita lain, kenapa Kakak tidak bisa melepaskan Echa saja ...?" gumam Echa sembari menghapus air mata dari kedua pipi.


"Tidak, Cha. Bukan seperti itu," sanggah Endo cepat. "Sumpah demi apa pun, aku tak pernah menghianatimu."


Dua tangan Endo terulur, mencengkeram frustasi kedua pundak yang tertutup oleh piyama tidur.


"Kalian berdua telah begitu lama tinggal bersama di bawah naungan satu atap yang sama. Apa pun yang kalian lakukan setiap hari dan setiap malam, Echa tidak pernah tahu. Haruskah Echa percaya dengan kata-kata Kak Endo barusan?"


Kedua kaki Echa terayun pelan, berjalan menuju jendela kaca, tempat di mana ia berdiri beberapa waktu yang lalu.


"Baiklah ... kuakui, aku pernah menciumnya."


Endo berseru mulai frustasi. Kedua kakinya tetap bergeming tak nergeser sedikit pun dari tempat ia berdiri. Sementara tubuh Echa menegang, memberikan respon atas ucapan Endo yang baru saja ia dengar.


"Tapi sekarang kenyataan berbicara lain, Kak. Dia hamil!"


Tanpa sadar Echa berseru dengan suara keras yang meninggi. Bahkan kedua tangan turut terkepal erat di kedua sisi tubuhnya.


"Dan apakah Kakak tahu bagaimana sakitnya hati ini mendapati penghianatan Kakak?"


Pandangan Echa menatap tajam bayangan sayu dirinya sendiri yang terpantul pada kaca jendela. Tampak jelas pantulan seorang gadis tengah berdiri dalam penampilan yang begitu kacau dan menyedihkan.


"Sungguh luar biasa sakit, Kak. Bahkan hanya untuk sekedar bernafas saja terasa begitu sulit bagi Echa."


Echa menoleh, menatap nanar ke arah Endo yang juga tengah memandang ke arahnya.


"Ya Tuhan, sayang ... iya, aku tahu. Sangat sakit tentunya. Aku sangat mengerti bahwa saat ini hatimu begitu hancur dan hanya rasa sakit juga benci yang kau miliki untuk diriku. Tapi percayalah, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Rosella, sayang. Ini semua hanya jebakan." Endo terus berusaha meyakinkan kekasihnya sembari mati-matian menahan emosi.


"Baiklah," ucap Echa setelah mengusap air matanya dengan kasar. "Sekarang Kak Endo jujur pada Echa. Katakan, apakah Kakak tidur dengannya?"


Mendengar pertanyaan itu, dalam sekejap mata pandangan Endo berubah menjadi sendu. Perlahan wajah tegasnya tenggelam, tertunduk dalam. Bagai tanpa daya, wajah itu benar-benar tertunduk lunglai dan begitu dalam.


"Tidak bisa menjawab, bukan?" tanya Echa dengan nada sinis. Sebuah seringai mengejek tercetak samar di sana.


"Maaf, aku tak bisa berkata tidak, sayang," sahut Endo lemah.


Tubuh lelah Echa kembali menegang mendengar jawaban yang begitu menyakitkan dari mulut laki-laki yang dicintainya. Sebab hingga saat ini ia masih tetap berharap bahwa kekasihnya itu tak pernah menyentuh wanita lain selain dirinya.

__ADS_1


"Apakah Kakak tahu? Sejak kemarin Echa tersiksa dengan pikiran yang tidak-tidak. Echa takut akan mendengar kalimat seperti itu dari mulut Kak Endo. Lalu ternyata ... kata-kata itu benar-benar harus Echa dengar hari ini." Echa berusaha menahan gejolak di dalam hatinya.


"Aku ... aku tidak tahu. Aku tidak bisa mengingatnya." Endo kembali bergumam lemah masih dengan kepala tertunduk ke bawah. "Maafkan aku, sayang."


Echa tak menyahut, hanya memperlihatkan senyum sinis tak kentara di sudut bibirnya.


"Waktu itu ... pagi-pagi." Endo mendongak pelan, menatap nanar ke sembarang arah. Tak kuasa melihat wajah terluka milik kekasihnya. "Pagi itu tiba-tiba saja aku terbangun dengan dia berada di balik selimut bersamaku," lanjutnya. "Aku sama sekali tak bisa mengingat apa yang terjadi di malam harinya. Maaf ...."


Pandangan Endo mengabur. Wajah piasnya kembali bergerak tertunduk turut merasakan kepedihan yang menusuk di dalam hati sang kekasih setelah mendengar apa yang baru saja diucapkannya itu.


"Malam itu dia kembali datang ke rumahku. Meminta maaf dan berpamitan padaku. Dia sempat membuatkan teh manis untukku. Kami minum teh bersama. Lalu aku naik ke kamarku dan ... aku tak ingat apa-apa lagi."


"Ya, memang sebaiknya Kakak lupa hingga tak perlu menceritakan detil malam panas kalian kepada siapapun," sahut Echa kasar.


Seketika wajah tegas Endo terdongak mendengar ucapan kasar hang terlontar dari mulut gadis yang dicintainya itu.


"Sayang ...," panggil Endo dengan rahang mengeras menahan emosi.


"Sudahlah, Kak. Semuanya sudah jelas," potong Echa cepat.


"Ya Tuhan, sayang .... Kau tahu betul bagaimana perasaanku padamu. Aku sangat mencintaimu dari dulu hingga sekarang, dan selamanya tak akan terganti oleh wanita lain."


Endo memandang wajah sinis Echa yang terbingkai dengan guratan kesedihan dan kehancuran.


"Bahkan karena sayang dan cintaku padamu, aku pernah dengan bodohnya melepaskanmu dan mempercayakanmu pada laki-laki lain demi kebahagiaanmu," ucap Endo. "Dan demi mempertahankanmu agar tetap berada di sisiku, kebodohan itu tidak akan mungkin kuulangi untuk kedua kalinya," lanjutnya.


Echa berusaha menghindar saat tangan kokoh itu kembali terulur untuk memeluknya. Bukan karena marah ataupun jijik. Melainkan, ia tahu betul bahwa pelukan hangat laki-laki itu pasti akan bisa meluluhkan hatinya. Karena memang selalu begitulah adanya. Semakin ia menikmati pelukan itu, maka semakin sulit baginya untuk melepaskan laki-laki itu.


"Kau adalah milikku. Satu-satunya yang kucintai. Satu-satunya yang memiliki hatiku. Satu-satunya ratu di dalam hati dan pikiranku," gumam Endo.


Wajah Echa tertunduk. Ia bisa merasakan betapa tulusnya kalimat yang baru saja meluncur dari mulut kekasihnya itu. Ia tahu betul memang tak ada wanita lain yang mampu mengisi ruang hati laki-laki itu selain dirinya.


Namun ia tak sanggup mengabaikan kenyataan akan keberadaan janin tak bersalah, darah daging laki-laki yang sangat dicintainya itu. Maka ia harus rela berkorban dan melepaskan apa yang sangat diinginkan untuk menjadi miliknya itu. Tak terasa, pundak Echa kembali bergetar menahan gejolak tangis yang memaksa ingin terlampiaskan.


"Seyakin itu kah?" tanya Echa akhirnya dengan tetap menampilkan wajah sinis. "Baiklah, anggap saja cinta Kak Endo pada Echa tidak berubah. Tapi setelah apa yang terjadi, bukankah terlalu naif jika Kakak juga menganggap cinta Echa masih sama seperti dulu?"


"Aku bisa tahu dari tatapanmu," jawab Endo pelan. "Cintamu padaku masih sama, meskipun tertutup luka dan perih ... dan aku lah yang akan mengobati luka dan perih itu," janji tulus Endo.


"Kak Endo ... Kakak benar-benar naif," sahut Echa singkat.


"Bukan naif, sayang. Aku hanya mengatakan yang sesungguhnya. Aku tahu bahwa kau adalah bidadari yang dikirimkan Tuhan untuk menjadi jodohku selamanya," sahut Endo.


"Bidadari hanya ada dalam cerita dongeng, Kak," sahut Echa cepat. "Bangunlah! Bangunlah dari mimpi dan hayalan tak masuk akal itu!" lanjutnya. "Mungkin ini adalah sebagai titik pertanda bahwa kita memang tidak berjodoh. Ini adalah titik di mana kita harus bisa saling melepaskan. Titik dimana kita harus berpisah."


"Tidak, sayang. Jangan bicara seperti itu," sahut Endo lirih. "Aku memiliki semangat untuk menghadapi ini semua karenamu. Aku bisa bertahan dari semua ini pun juga karenamu."


"Maaf, Kak Endo. Echa tidak mau menghabiskan sisa hidup dalam kenangan penghianatan, Kak. Terlebih, Echa tidak mau menyesal di kemudian hari karena telah merebut ayah dari seorang anak tidak berdosa."


Intonasi bicara gadis itu melemah. Ia tahu, sebesar apa pun cinta yang dimiliki untuk sang kekasih, ia tak akan mungkin sanggup memisahkan seorang anak dari ayah kandung hanya demi kebahagiaan pribadinya semata. Meskipun ia sendiri tak yakin bisa tetap berdiri tanpa kasih sayang dan kehangatan laki-laki itu sebagai penopangnya.


"Apa yang harus kulakukan agar kau tetap berada di sisiku, sayang?" tanya Endo lemah.


"Tidak ada," jawab Echa singkat.

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2