LOCK DOWN

LOCK DOWN
Part 23. Terjebak dalam Permainan Sendiri


__ADS_3

Hari semakin gelap dan semakin melelahkan saat Endo dan Echa ke luar dari restoran yang mereka kunjungi beberapa saat yang lalu. Ya, ini memang hari yang sangat menguras tenaga bagi Echa. Setelah lama berputar-putar di baby shop untuk mendapatkan semua yang dibutuhkan, mereka bertolak menuju toko buku. Ada beberapa buku bisnis yang Endo perlukan.


Echa? Tentu saja komik dan novel yang menjadi serbuannya. Beralih dari rak satu ke rak yang lain, dari meja satu ke meja yang lain. Hingga tak terasa dua keranjang penuh buku telah tertenteng di kedua tangannya.


"Kau akan membaca semua itu?" Mata Endo terpicing melihat begitu banyak buku yang Echa bawa.


"Hanya saat berada di apartemen Kak Endo saja."


"Ambillah dua atau tiga keranjang lagi," perintah Endo dengan wajah serius.


"Kenapa begitu?"


"Agar kau lebih lama berada di apartemenku."


Saat itu Echa memutar kedua bola matanya jengah mendengar rayuan kelas receh yang Endo ucapkan


"Lebay." Echa meletakkan keranjang belanjaannya di meja kasir. "Dan norak." Gadis itu masih melanjutkan ucapannya yang ditanggapi senyum geli di bibir Endo.


Kini keduanya telah tiba kembali di apartemen. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya Echa membuka pintu, kemudian memaksakan diri melangkah menuju ruang tengah.


"Hah, lelahnya ...," keluh Echa sembari menjatuhkan tubuh lunglainya ke sofa ruang tengah.


"Di mana Ringgo?" tanya Endo yang masih berada di ruang tamu.


Anna buru-buru datang mendekat.


"Ringgo sedang menjalankan tugas dari Anda, Tuan." Anna menjawab seperlunya.


"Suruh Doni mengambil semua barang-barangku di mobil. Nanti paperbag warna merah diantar langsung ke kamar Echa." Endo memberi perintah, kemudian beranjak menuju kamarnya.


"Baik, Tuan." Anna menyahut seperlunya.


Baru tiga langkah jalan, tiba-tiba langkah kaki Endo berhenti.


"Kau saja yang mengantarkan ke kamar Echa."


Endo meralat perintahnya. Ya, sejujurnya dia memang tak ingin ada laki-laki lain yang melihat apa pun yang Echa lakukan di dalam kamarnya.


Saat melewati ruang tengah, langkah Endo terhenti melihat tubuh Echa yang terbaring sembarangan di sofa dengan kedua mata terpejam.


"Hei, naiklah ke kamarmu jika ingin tidur. Jangan tidur di sini," hardik Endo.


"Echa lelah, Kak ... benar-benar lelah ... lelah selelah-lelahnya," sahut Echa lemah dengan kedua mata terpejam.


"Hah, kau merepotkan sekali." Endo pura-pura mengeluh.


Kaki panjangnya terayun pelan menghampiri Echa yang sebenarnya hampir hanyut ke alam mimpi. Ditatapnya sejenak wajah mungil itu sembari tersenyum gemas sebelum kedua tangan kokohnya terulur untuk menggendong gadis di hadapannya itu ala bridal.


Mata Echa terpicing merasakan sentuhan dan pergerakan di tubuhnya. Namun sedetik kemudian mata lelahnya kembali terpejam setelah mengetahui bahwa Endo lah yang telah mengangkat tubuhnya. Segera dikalungkan kedua tangannya ke leher Endo agar laki-laki itu lebih mudah memindahkan tubuhnya menuju kamarnya di lantai atas.


Setiba di dalam kamar, Endo segera merebahkan tubuh lelah gadis dalam gendongannya itu ke atas tempat tidur. Echa langsung beringsut memeluk guling untuk membuat tubuhnya berada dalam posisi senyaman mungkin.


Tangan Endo terulur, mengusap lembut sebelah pipi Echa. "Tidurlah."


Mata Echa sedikit terpicing merasakan sentuhan lembut di pipi. Namun sedetik kemudian kembali terpejam. Tak butuh waktu lama, terdengar hembusan nafas teratur dari hidung mancung gadis itu.


Seulas senyuman terbentuk di antara kedua bibir Endo. Untuk beberapa saat ia hanya diam menatap wajah ayu gadis di hadapannya itu. Wajah itu begitu kuyu bagai tanpa daya. Tampak jelas bahwa ia memang sangat kelelahan. Namun berbeda halnya dengan Endo, wajah laki-laki itu justru berseri memancarkan rasa senang dan bahagia yang teramat sangat.


Endo menyalakan AC kamar sebelum menutupi tubuh Echa dengan selimut lembut berwarna hitam. Dikecupnya kening gadis manis itu, kemudian segera pergi agar bisa beristirahat dengan tenang.


Endo melangkah pelan dari kamar Echa menuju kamarnya sendiri. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Endo terkejut mendapati Disan tengah duduk tenang di sudut sofa ruang tengah sembari menikmati secangkir teh susu buatan Anna.


"Kau ada di sini?"


Disan mendongak, memandang datar ke arah Endo yang masih berada di ujung anak tangga paling atas. Laki-laki berkaca mata itu mengangguk samar sebelum meletakkan cangkir teh susunya ke atas meja.


"Sejak kapan?" tanya Endo begitu sampai di hadapan Disan.


Disan melirik arloji di pergelangan tangan kanan. Baru kemudian menjawab, "Sejak dua jam yang lalu."


Mata Endo memicing mendengar jawaban Disan.


"Jadi kau ...," ucap Endo pelan. Bahkan ia tak kuasa menyelesaikan kalimatnya.


"Iya," sahut Disan tenang. "Aku melihat kau tersenyum gemas padanya. Aku pun melihat kau menggendongnya ke atas. Kurasa kau juga mengambil kesempatan untuk menciumnya di dalam kamar. Dan mengingat betapa lamanya kau di dalam sana, bisa kupastikan kau pun telah berlama-lama menikmati wajah cantiknya yang tampak begitu polos bagai malaikat saat sedang tertidur pulas," lanjut Disan panjang lebar masih tanpa ekspresi.


Endo membuang muka, memandang ke sembarang arah. Tak tahu harus berkata apa pada tangan kanannya yang benar-benar kritis dan jenius itu. Mendadak wajah tegas itu bersemburat merah. Apakah laki-laki itu tengah tersipu malu? Ya Tuhan, Endo ... kau konyol! Seperti perawan saja. Eh?


"Apa yang kau lakukan di apartemenku selarut ini?" Endo mencoba mengalihkan pembicaraan dengan mencari-cari kesalahan Disan. "Mencoba memata-mataiku?" Sungguh usaha yang membuatnya benar-benar tampak semakin konyol dalam pandangan Disan.


"Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu."


"Kenapa tidak menelepon?"


"Nomormu tidak aktif sejak empat jam yang lalu."


Endo baru ingat. Memang benar, ponselnya mati karena baterai yang terlalu terforsir untuk sesi pemotretan Echa bersama keluarga Hello Kitty tadi sore.

__ADS_1


"Tentang apa?" Kini Endo turut duduk di berhadapan dengan Disan.


"Rosella."


Endo menghela nafas kasar mendengar jawaban singkat Disan. Sepertinya ia mulai bosan membicarakan segala hal mengenai gadis itu.


"Katakan," ucap Endo akhirnya.


"Dugaan kita selama ini benar."


"Begitu?"


"Apa yang akan kau lakukan?" Disan balik bertanya.


"Mengikuti permainannya," jawab Endo pasti.


"Kau yakin? Menurutku itu terlalu beresiko," tukas Disan cepat.


"Dia tidak secerdas kelihatannya. Bahkan tujuan dan langkahnya pun telah terbaca oleh kita semenjak awal," sanggah Endo.


"Ya, aku tahu. Tapi saat ini ada Echa." Disan mencoba ikut menyanggah.


"Apa maksudmu?" Endo mulai penasaran atas ucapan Disan yang membawa-bawa nama Echa.


"Kau sedang dekat dengan Echa." Hanya jawaban singkat yang keluar dari mulut Disan, justru membuat Endo semakin penasaran.


"Lantas?"


"Aku khawatir kau akan kehilangan gadis itu jika benar-benar terjebak dalam permainan Rosella."


"Dia tak secerdas itu untuk bisa mengelabuhiku," sahut Endo cepat. "Lagi pula aku hanya ingin bersenang-senang saja dengan milik Lucas itu. Aku akan segera melepaskan setelah puas bermain-main dengannya. Seperti yang kukatakan padamu dulu."


"Benarkah?" tanya Disan tak yakin. Benar-benar tak yakin.


"Tentu saja," sahut Endo cepat.


Tanpa Endo sadari, sudut bibir Disan terangkat ke atas, walau hanya hanya dalam dua detik.


"Lebih baik kau lepaskan dia sekarang. Biar aku saja yang berusaha mendekatinya. Mulai sekarang dia menjadi tanggung jawabku," ucap Disan datar.


"Apa maksud dari ucapanmu?!" Sontak Endo berdiri dari duduknya. "Berani kau macam-macam denganku?" Tangan Endo terulur mencengkeram kerah kemeja Disan dengan mata nyalang menatap tajam penuh emosi hingga laki-laki berlesung pipi itu tertarik ke atas turut berdiri.


Namun ternyata Disan hanya menyeringai santai dengan kedua tangan masuk ke dalam kantong celana. Sorot mata di balik kaca mata minusnya menunjukkan tatapan mengejek.


Emosi Endo semakin meninggi melihat seringai meremehkan yang terbit di kedua bibir Disan. Baru kali ini laki-laki sedingin es itu menunjukkan seringainya secara terang-terangan di hadapan orang lain, dan orang itu ialah Endo yang notabene adalah sosok yang diseganinya.


"Kau bahkan telah terjebak di dalam permainanmu sendiri," ucap Disan di tengah seringainya.


"Apa maksudmu?" Endo masih menatap nyalang, meskipun kini kerah kemeja Disan telah terlepas dari cengkeraman tangan kokohnya.


"Kau tidak akan semarah ini jika memang tidak cemburu." Disan merapikan kerah kemejanya kemudian segera beranjak pergi. "Dasar konyol, bisa-bisanya kau cemburu padaku," ucapnya sembari berjalan menjauh. "Terlihat jelas bagaimana perasaanmu padanya."


Endo menatap penuh emosi ke arah udara, tempat dimana wajah Disan berada beberapa detik yang lalu sebelum beranjak pergi.


"Aku pergi," pamit Disan sebelum benar-benar menghilang di balik pintu.


"Apa-apaan ini? Menggelikan!" rutuk Endo seketika dengan kedua tangan terkepal erat.


Endo langsung naik ke lantai atas dengan langkah cepat. Kaki panjangnya terus terayun dan menghilang di balik pintu kamar tamu. Ya di situlah ia tidur semalam. Ia lebih memilih tidur di kamar tamu dan membiarkan Echa tidur di kamar pribadinya selama gadis itu berada di sini.


Setiba di kamar, Endo langsung menyusup masuk ke dalam kamar mandi. Sebenarnya tubuh tegapnya itu juga terasa penat setelah seharian menghabiskan waktu dengan sang mantan kekasih. Namun entah mengapa, penat dan lelah itu tak dirasakannya. Yang ada hanya senang dan bahagia sepanjang hari, hingga ucapan menusuk dari mulut Disan tadi terdengar di telinganya.


Endo merebahkan diri di bathup, menikmati sensasi sentuhan air hangat pada kulit yang kini tampak sedikit kecoklatan. Dipejamkan kedua mata sipitnya, berharap air itu bisa menghilangkan kepenatan dan rasa lelah pada tubuh.


"Lebih baik kau lepaskan dia sekarang. Biar aku saja yang berusaha mendekatinya. Mulai sekarang dia menjadi tanggung jawabku." Tiba-tiba suara Disan kembali terngiang jelas di telinga Endo.


Seketika itu kedua mata Endo langsung terbuka.


"Brengsek!" umpatnya lagi. "Sejelas itu kah rasa cemburuku terlihat?" Endo bertanya kesal pada dirinya sendiri.


Lima belas menit kemudian Endo telah tampak keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah cukup segar. Dikenakannya setelan celana dan kaos lengan panjang warna abu dari lemari di dalam walk in closet.


Setelah menyalakan AC kamar dan menyesuaikan suhu, Endo segera merebahkan diri di atas tempat tidur. Berharap bisa segera terlelap dan bangun pagi dalam keadaan segar bugar.


Namun setelah satu jam berlalu, kedua mata laki-laki itu belum juga bisa terpejam. Meskipun ia telah mencoba berbagai macam posisi tidur. Mulai dari terlentang, tengkurap, menyamping, menyampir, menggelinding, hingga nyungsep di kolong tempat tidur yang sempit itu. Eh? Tapi tetap saja nihil. Ucapan Disan beberapa waktu lalu benar-benar telah mengganggu pikirannya.


"Terlihat jelas bagaimana perasaanmu padanya." Suara Disan kembali terngiang di telinga.


"Benarkah aku telah jatuh cinta lagi padanya?"


Endo bangkit dari tempat tidur. Ia benar-benar tak dapat memejamkan mata barang sekejab akibat ucapan-ucapan Disan beberapa jam yang lalu. Sialnya lagi, wajah gadis yang dimaksud Disan justru terus melintasi pikiran. Membuatnya ingin segera merengkuh tubuh mungil itu ke dalam dekapan hangatnya.


"Shit!" Endo hanya bisa mengumpat, tanpa tahu harus berbuat apa.


Sementara itu, di kamar terpisah, Echa tampak keluar dari walk in closet dengan setelan panjang berbahan kaos warna pink. Kini tubuh lelahnya terasa lebih segar setelah berendam air hangat beberapa saat yang lalu. Diambilnya sikat rambut milik Endo dari dalam laci nakas. Gadis itu hanya menyisir rambut ala kadarnya saja, mengingat di dalam ruangan itu tidak ada meja rias, dan ia terlalu malas untuk kembali masuk ke dalam walk in closet hanya untuk menyisir rambut sambil bercermin.


Tangan kanan Echa meraih salah satu paperbag terkecil yang tadi diantar oleh Anna ke dalam kamar. Sesaat kemudian tangan mungilnya sibuk menyibak-nyibak mencari sesuatu. Gadis itu tersenyum lega saat ditemukannya sebuah bandana hitam dengan aksen menyerupai telinga kucing di dua sisinya. Ia pun segera mengenakan bandana itu sebagai sentuhan terakhir untuk rambutnya malam ini.

__ADS_1


Encha bermaksud hendak melangkah ke luar kamar untuk mengambil air dingin saat samar-samar ia mendengar suara Endo tak jauh dari pintu kamarnya.


"Maaf, Rose ... malam ini aku tak pulang."


" ... "


"Ya, masih belum selesai."


" ... "


"Ya baiklah, besok aku akan pulang."


" ... "


"Aku tahu."


Suara Endo tak terdengar lagi. Mungkin ia telah mengakhiri percakapannya dengan Rose.


"Rose ...," gumam Echa dari balik pintu kamar. "Sebenarnya siapa dia?"


Entah mengapa tiba-tiba ada rasa tak suka merayapi hati gadis cantik itu.


"Kenapa Kak Endo bilang tak pulang?" tanya Echa dengan tubuh bersandar pada pintu kamar. "Pulang ke mana?" Echa kembali bergumam. "Ke rumah Rose? Tapi siapa dia? Kenapa Kak Endo harus pulang ke rumahnya?"


Echa kembali berdiri tegak. Berjalan beberapa langkah dengan kening terkernyit.


"Kekasihnya?"


Echa mencoba menebak.


"Istrinya?"


Echa kembali menebak diikuti dengan mulut dan kedua mata membulat tak percaya.


Saat bersamaan, Endo membuka pintu kamar perlahan.


"Echa," sapa Endo saat dilihatnya Echa berdiri tak jauh dari pintu, bahkan hampir terjatuh karena tersenggol daun pintu.


"Eh, Kak Endo." Echa tampak terkejut.


"Sedang apa di sini?" tanya Endo.


"Echa sedang ... mmm ... sedang .... Echa sedang mengejar nyamuk. Iya mengejar nyamuk. Tadi terbang ke arah sini," jawab Echa gugup.


Dasar Echa, seharusnya dia yang bertanya kenapa Endo ada di sini. Bukan malah pertanyaan Endo yang membuatnya salah tingkah.


"Kau baik-baik saja?" tanya Endo yang menangkap adanya keanehan pada gerak gerik gadis cantik itu.


Endo melangkah pelan, menghampiri Echa yang telah beringsut menjauh.


"Hei, kau kenapa?"


Kedua tangan Endo terulur hendak mengusap pipi halus Echa, sama seperti beberapa jam yang lalu. Namun Endo terkejut saat gadis itu beringsut menghindari sentuhan yang akan diberikannya.


"Ada apa?" Endo yakin, pasti ada sesuatu yang terjadi. Sesuatu yang mengganggu pikiran gadis itu. Seatu yang berkaitan dengan dirinya dan gadis di hadapannya itu.


"Besok pagi Echa pulang, Kak."


"Pulang?"


"Iya. Echa merasa sudah jauh lebih baik.


"Tapi kupikir kau akan ...,"


"Echa harus kembali ke apartemen, kembali ke rutinitas harian seperti biasanya lagi," potong Echa cepat. "Bukan hanya bersantai dan merepotkan Kak Endo seperti ini."


"Aku tidak merasa kau repotkan. Justru aku pun akan merasa senang jika kau memang bisa membuatku merasa kerepotan." Endo mencoba memancing senyum Echa, namun gagal.


Endo menggamit pergelangan kanan Echa, menariknya perlahan untuk duduk di bibir tempat tidur.


"Sekarang katakan padaku, ada apa?" Endo menatap kedua netra Echa penuh perhatian.


Seketika jantung Echa berdegup kencang. Merasakan kehadiran Kak Endo-nya yang telah menghilang lima tahun yang lalu. Perlakuan Endo yang lembut dan tenang barusan, telah mengingatkannya pada sosok Endo yang pernah dicintainya sepenuh hati.


"Tidak ada apa-apa, Kak." Echa berusaha mengelak dengan wajah tertunduk menahan debaran aneh di hatinya.


"Tidak. Kau tidak akan mungkin mengambil keputusan mendadak seperti ini jika tidak terjadi apa-apa," sanggah Endo dengan suara lembutnya.


Wajah Echa kembali terdongak. Tak percaya bahwa Kak Endo, sang pemilik hati kini telah berada di hadapannya.


"Katakan, sayang. Ada apa?" Endo melempar senyum hangatnya sembari mengusap pipi Echa dengan sayang.


"Echa ... Echa tidak mau berada di antara kalian," ucap Echa akhirnya. "Kak Endo bahkan mengesampingkan dia karena ada Echa di sini."


"Dia?" ulang Endo sembari memicingkan mata.


"Rose ...," gumam Echa ragu.

__ADS_1


Seketika senyum di wajah Endo memudar, wajahnya memucat. Sentuhan pada pipi Echa pun turut melemah. Lidahnya kelu tak tahu harus bersikap dan menjawab bagaimana.


BERSAMBUNG ...


__ADS_2