
Pagi yang cerah. Matahari menyapa dengan kilauan hangat yang menerpa titik-titik sisa air hujan semalam, berpendar ke seluruh alam semesta. Membias membawa aura penuh warna, menebarkan kasih sayang ke seluruh jagad raya.
Endo menggeliat pelan di atas tempat tidur. Kaki panjangnya terhentak pelan, menghempas selimut lembut yang menggulung tubuh tegapnya semalaman. Kain tebal putih polos itu kini teronggok tepat di sebelah kaki tempat tidur tanpa daya. Memangnya apa yang bisa dilakukannya jika sang pemilik sudah memutuskan untuk mencampakkan dirinya yang lemah dan lunglai itu? Eh?
Perlahan kedua mata biru itu terbuka, memandang ke arah jam dinding. Pukul enam lewat tigapuluh menit. Masih pagi. Namun entah mengapa laki-laki berusia 28 tahun itu sudah ingin segera beranjak dari peraduannya.
Kaki kokoh dan panjang itu mulai terayun di atas lantai granit kamar menuju pintu balkon. Begitu pintu terbuka, seketika tubuh tegap itu terasa hangat diterpa sinar mentari pagi yang tengah mengguyur seluruh jagad raya.
Dengan tangkas tangan Endo bergerak melepas piyama hitam yang melekat di tubuh hingga ia bertelanjang dada. Direntangkan kedua tanga ke udara, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
Seluruh kulit tubuh itu tampak keemasan berlapis sinar mentari. Setelah angin dan hujan deras memaksanya untuk bergelung di balik selimut semalaman, sinar matahari yang memancar sempurna pagi ini menjadikan udara terasa hangat dan segar.
Pandangan Endo beralih ke bawah, ke arah halaman rumah yang tak begitu luas. Kedua mata birunya menangkap keberadaan Rosella yang tengah memandang lekat ke arahnya di halaman rumah. Gadis itu tampak begitu cantik dengan setelan kaos dan celana olah raga serta sepatu sport serba putih. Sepertinya gadis berambut pirang itu memang sedang berolah raga, sebelum akhirnya terdiam karena mendapati Endo yang tengah menikmati udara paginya.
Tanpa berlama-lama, Endo segera berbalik, keluar dari kamar, turun dan menyusul Rosella yang masih berada di halaman depan.
"Baju baru, hem?" tanya Endo begitu tiba di samping Rosella.
"Ya, aku medapatkannya secara gratis dengan menggunakan uangmu," sahut gadis itu dengan wajah cemberut.
Endo melempar senyum manisnya, tahu bahwa gadis di hadapannya itu hanya bercanda.
"Mau kutemani?" Endo menawarkan diri. "Sepertinya aku butuh keringat di pagi yang cerah ini," lanjutnya sembari mulai mengayunkan kaki telanjangnya, berlari kecil meninggalkan Rosella yang kemudian turut berlari menyusul laki-laki yang hanya mengenakan celan tidur hitam itu.
"Hei, tunggu aku!" teriak Rosella. "Jangan cepat-cepat."
Endo menengok ke belakang sembari tertawa, terus berlari kecil mengitari bangunan rumahnya di dalam pagar setinggi dua meter yang cukup luas itu.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Rosella sembari terus berlari di samping Endo."
Endo menoleh, kemudian tertawa tanpa menjawab.
"Kau tertawa? Apanya yang lucu?" tanya Rosella bingung.
"Apakah aku pernah melarangmu?" tanya Endo setelah tawanya mereda. "Lagi pula apakah kemarin-kemarin aku menurunkan izin terlebih dahulu, baru kemudian kau boleh bertanya."
"Memang tidak," sahut Rosella. "Tapi kali ini aku takut akan menyinggungmu."
"Kalau begitu jangan kau tanyakan," sahut Endo di tengah acara lari-lari kecilnya.
"Tapi aku penasaran," ucap Rosella dengan wajah cemberutnya.
"Hah, kau ini merepotkan sekali," keluh Endo dengan senyum tetap tersungging di bibir. "Tanyakanlah," perintah Endo kemudian.
"Ini mengenai Disan," ucap Rosella. "Sejak kapan kau mempekerjakannya?"
"Belum lama, baru tujuh atau delapan tahun," jawab Endo
Dihentikannya ayunan ayunan kaki panjangnya tepat di halaman belakang rumah. Rosella turut berhenti berlari, kemudian berdiri di samping Endo.
"Kenapa?" tanya Endo kemudian sembari menoleh pada wanita cantik di sampingnya. "Kau suka padanya?" lanjutnya. "Ah,sial! Sepertinya aku akan patah hati!" ucap Endo di hadapan Rosella, sembari melemparkan senyum jahilnya.
Wajah tirus Rosella buru-buru menunduk, berharap bisa menyembunyikan semburat merah di kedua pipinya.
"Kau ini," hardik Rosella masih dengan menunduk. "Bisakah kau sedikit lebih serius kali in?"
"Hei, aku pun juga serius, Nona cantik," sahut Endo santai.
Telunjuk kanannya terulur menjentik dagu Rosella dengan lembut, agar wajah cantik itu kembali terlihat.
"Baiklah, katakan padaku ada apa dengan Disan!" perintah Endo akhirnya. "Apa dia telah bersikap kurang ajar padamu?" tanya Endo memastikan.
"Tidak, dia sangat sopan padaku," sanggah Rosella.
"Lantas?" Laki-laki bertubuh tegap itu tampak mengernyitkan dahi.
"Aku hanya ... merasa tidak nyaman saja," jawab Rosella sedikit ragu.
"Tidak nyaman? Kenapa?" Kening Endo kembali berkerut, sebagai pertanda bahwa ia tengah bingung dan tak mengerti apa yang dimaksud oleh gadis cantik di hadapannya itu.
"Dia selalu memandangku dengan tatapan tajam tak bersahabat. Seolah aku ini adalah musuhnya. Tatapannya itu seperti ingin mengulitiku saja," keluh Rosella dengan wajah tak suka.
Endo tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Rosella.
"Memangnya kau pernah berbuat apa padanya?" tanya Endo di sela tawanya.
"Tidak ada," jawab Rosella singkat
__ADS_1
"Kau pernah mencoba menggodanya, ya?" tanya Endo dengan kerlingan nakal di mata kirinya.
"Tidak! Enak saja!" sanggah Rosella cepat.
"Jika tidak, lantas untuk apa kau takut padanya?" ucap Endo. "Ayo!"
Endo kembali mengayunkan kaki panjangnya. Tanpa menunggu lama, Rosella segera menyusul Endo yang berlari semakin menjauh. Keduanya berhenti mengitari rumah setelah berkeliling empat kalin putaran.
"Kau lelah?" tanya Endo dengan kulit tubuh tampak berkilau diterpa sinar matahari sebab basah oleh keringat.
Rosella tak menyahut. Nafasnya yang ngos-ngosan sudah cukup memberi jawaban.
Endo menatap lekat wajah cantik di depannya itu. Rambut diikat ekor kuda dengan bandana putih melingkar di kepala. Membuat wajah mulus yang tak pernah tersentuh make up itu terlihat semakin segar. Setidaknya itu lah yang diketahui Endo selama mereka tinggal bersama. Gadis itu tak pernah sekali pun terlihat berdandan. Hah, dia lupa bahwa gadis di hadapannya itu masuk ke dalam rumah besar ini memang hanya dengan membawa pakaian yang melekat di tubuh saja, tidak lebih.
Butiran peluh membasahi wajah gadis cantik itu. Tampak berkilau keemasan di bawah sinar matahari pagi. Bibir penuhnya terlihat merekah akibat terkena pantulan sinar sang surya. Matahari pagi, kau telah membuat segala sesuatu pagi ini tampak semakin indah mempesona.
Tangan kanan Endo terulur, meraih handuk kecil yang tersampir pada leher Rosella. Diusapnya peluh yang membanjiri wajah dan leher gadis itu.
"Kau cantik, Rose," gumam Endo yang telah selesai dengan handuknya.
Wajah Rosella tertunduk, tersipu malu mendengar pujian dari laki-laki berwajah bule itu.
Kaki Endo bergerak maju satu langkah, mengikis jarak di antara keduanya. Diulurkannya jari telunjuk kanan perlahan, menjentik dagu Rosella dengan lembut, hingga wajah gadis itu terdongak menatap wajah Endo yang sedikit menunduk.
Tatapan Endo masih lekat pada wajah cantik di hadapannya. Perlahan bibirnya mendekat dengan wajah semakin tertunduk. Disapunya bibir merekah itu dengan lembut. Kedua mata birunya terpejam perlahan. Tanpa sadar kedua mata Rosella turut terpejam menikmati sentuhan lembut laki-laki di hadapannya itu.
Ringgo berjalan pelan menuju halaman depan. Namun langkahnya terhenti saat melihat keberadaan bosnya bersama Rosella di sana. Ia pun lebih memilih balik kanan, dan menjauh dari tempat itu.
"Maaf, Rose," ucap Endo setelah melepas Rosella dari kungkungannya. "Maaf, aku tak bermaksud kurang ajar padamu. Sekali lagi maaf."
Rosella mengangguk pelan, menanggapi ucapan Endo.
Tiba-tiba saja kecanggungan terasa sangat kentara di antara keduanya. Benar-benar membuat suasana menjadi tidak nyaman.
"Sepertinya kau mulai suntuk," ucap Endo akhirnya.
Ya, bagaimana tidak bosan jika selama dua bulan tinggal di rumah itu, hanya sekali saja Rosella pergi keluar bebedapa hari yang lalu. Itu pun harus dalam pengawalan Disan.
"Bagaimana jika nanti kita makan malam di luar?" ucap Endo lagi. "Kupikir tidak ada salahnya kita menikmati malam bersama. Setidaknya itu bisa mengurangi rasa bosanmu karena harus terkurung di sini."
"Baiklah, lanjutkan aktivitasmu. Aku akan naik ke atas untuk mandi dan bersiap-siap ke kantor."
"Iya." Lagi-lagi hanya jawaban singkat yang keluar dari mulut Rosella.
Tangan kanan Endo terulur. Dijentiknya dagu gadis itu hingga terdongak memandang wajahnya. Sedetik kemudian Endo tersenyum, lalu segera berbalik, bergegas masuk ke dalam rumah.
___
"Mau makan siang, Pak Endo?" Novera langsung berdiri dari kursi dan menghaturkan salam begitu melihat sang atasan keluar dari ruangannya.
"Iya, Nov," balas Endo. "Aku akan pergi dengan Disan."
"Semoga makan siangnya menyenangkan, Pak."
"Mau bergabung?" tawar Endo.
"Maaf, sepertinya tidak, Pak. Anthoni sedang dalam perjalanan kemari."
"Hmm ... baiklah. Semoga makan siang kalian menyenangkan," ucap Endo sembari mengedipkan matanya jahil.
Novera membalas dengan senyum manis di bibirnya. Membiarkan bosnya berlalu menuju lift bersama orang kepercayaannya di kantor itu.
Lima menit kemudian keduanya telah duduk satu meja bersama Rudi di sebuah restoran mewah tak jauh dari kantor.
"Dia adalah aset berharga milik Paola untuk saat ini," ucap Endo di sela kunyahannya. "Bahkan kau harus rela kehilangan dua bulan gajimu hanya untuk minum teh bersamanya," lanjutnya.
"Hah, benar-benar menyebalkan," komentar Rudi yang hanya ditanggapi dengan senyuman oleh Disan. "Memangnya secantik apa dia?"
"Lihat ke arah jam 3," sahut Endo.
Rudi melirik ke arah yang dimaksud Endo. Hanya dengan lirikan, agar tak menimbulkan kecurigaan.
"Seindah itu?" tanya Rudi memastikan, masih dengan pandangan kepada seorang wanita berbalut tunik merah yang tengah makan dengan tenang bersama seorang laki-laki yang tampak telah berumur. "Aku bahkan terancam akan meninggalkan Mia jika memiliki selingkuhan sebening itu," celoteh Rudi.
"Dan selanjutnya kau terancam akan kubunuh jika berani melakukannya," sahut Disan yang sedari tadi hanya diam menyimak.
"Hei, apa urusannya denganmu?" hardik Rudi.
__ADS_1
"Tentu saja itu menjadi urusanku, karena Endo tidak akan mungkin mau melakukannya sendiri," jawab Disan dengan penuh ketenangan. "Kalian hanya akan menambah daftar pekerjaanku saja," gerutu Disan setelah menuntaskan air putihnya.
"Ha-ha-ha. Lucu," ucap Rudi keki, tanpa senyuman di bibirnya. Sementara Endo hanya tersenyum sembari mengunyah suapan terakhirnya.
"Selamat siang, Tuan Endo." Tiba-tiba terdengar suara lembut dari balik punggung Endo.
Endo, pun menoleh. Sedetik kemudian senyum hangat pun merekah di antara kedua bibir, setelah mengetahui siapa yang telah menyapa.
"Hai, Gabby, apa kabar?" sapa Endo ramah.
Endo segera berdiri menyambut kecupan dari wanita itu di kedua pipinya.
"Seperti yang kau lihat, pesonaku tidak akan pernah pudar," sahut wanita berbalut tunik merah itu dengan senyum menawannya. "Ah, ada Tuan Disan juga rupanya," lanjutnya dengan sura lembut.
Gabby beralih pada Disan yang kemudian segera berdiri untuk berjabat tangan menyambut kedatangannya. Ya, Gabby paham betul bahwa Disan berbeda dengan Endo. Wanita itu tahu bahwa ia akan mendapat masalah jika memaksakan diri pada laki-laki yang satu ini, walaupun hanya sekedar mengecup pipi saja.
"Lantas, Tuan tampan yang satu ini siapa?" tanya Gabby sembari menatap manis pada Rudi.
"Temanku," sahut Endo. "Dia baru datang di kota ini beberapa hari yang lalu."
"Ah, pantas saja ... wajahnya terasa asing bagiku," komentar Gabby. "Senang bertemu denganmu Tuan ...,"
"Rudi," sahut Rudi sambil mengulurkan tangan kanannya.
"Klienmu tadi sudah pergi?" tanya Endo kemudian, sekedar berbasa-basi.
"Ya, begitulah," sahut Gabby. "Dia hanya memintaku menemaninya makan siang saja," lanjutnya. "Selebihnya akan kami lanjutkan nanti malam."
"Sepertinya kau sangat sibuk, ya," komentar Endo.
"Ya, seperti yang kau tahu," sahut Gabby. "Boleh aku bergabung duduk di sini?"
Gabby langsung menghenyakkan pantatanya pada kursi kosong di antara Endo dan Rudi tanpa menunggu oersetujuan dari ketiganya.
"Tapi aku tidak akan pernah sibuk jika itu untuk Aldo," ucap Gabby lagi. "Bagaimana kabar kakakmu itu? Ah, aku merindukannya. Dia tak pernah lagi mengunjungiku."
"Hei, sudahlah. Lupakan saja dia. Dia sudah punya istri sekarang," hardik Endo dengan senyum menyembul di bibir.
"Jika sudah punya istri, memangnya tidak boleh mengunjungiku lagi?"
"Bukan tidak boleh, tapi tidak bisa."
"Kenapa?" tany Gabby bingung.
"Istrinya jauh lebih galak dari pada granat," sahut Endo sekenanya.
"Jika istrinya memang galak, kenapa tidak tinggalkan saja dan datang padaku?" tanya Gabby dengan nada manja.
"Karena istrinya memiliki sesuatu yang tidak kau miliki untuk Aldo."
"Apa itu?"
"Cinta," sahut Rudi sekenanya, tak mau hanya dianggap sebagai batu.
"Aku punya," sahut Gabby cepat. "Aku mencaintai Aldo."
"Tapi cintamu kau berikan pada banyak lelaki," sahut Endo.
"Hei, bagaimana mungkin?" tukas Gabby cepat. "Cintaku ini tulus untuk kakakmu."
"Kau tahu bukan berapa banyak uangku?" tanya Endo yang dijawab dengan anggukan kepala Gabby. "Bagaimana jika nanti malam kau bersamaku."
"Baiklah, tidak masalah."
Gabby melempar senyum manisnya.
"Hah, dasar cinta mata duitan!" hardik Endo keki. "Baru saja kau bilang cintamu tulus pada kakakku, baru mendengar kata uang saja, kau langsung berpaling padaku."
Gabby tergelak mendengar makian Endo. Ya, dia paham betul apa yang Endo maksud. Tapi mau bagaimana lagi, jika tidak begitu, dia tidak akan memperoleh uang. Memang begitulah cara wanita cantik ini mendapatkan uang.
"Sudahlah, aku pergi saja. Masih ada hal yang harus kuselesaikan."
"Tapi aku serius dengan nanti malam," potong Endo cepat.
"Baiklah, akan kukosongkan jadwalku setelah pertemuan dengan tua bangka tadi," sahut Gabby sebari mengangguk pada kedua teman Endo dengan sopan, kemudian segera berlalu pergi.
BERSAMBUNG ...
__ADS_1