LOCK DOWN

LOCK DOWN
Part 44. Bagaimana Bisa Dia?


__ADS_3

Endo mematut diri di depan kaca. Setelan jas dan dasi navy dipadu dengan kemeja marun membuatnya tampak begitu menawan pagi ini. Jam tangan rolex model terbaru melingkar gagah di pergelangan tangan kirinya. Dimasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kerja yang dikenakan. Setelah memastikan bahwa penampilannya telah benar-benar sempurna, laki-laki berwajah bule itu segera berjalan pelan keluar dari walk in closet.


'Glaciers melting in the dead of night


And the superstars sucked into the super massive (you set my soul alight)


Glaciers melting in the dead of night


And the superstars sucked into the super massive (you set my soul)'


Perhatian Endo tertuju ke arah nakas saat benda pipih di atasnya bergetar lembut dengan diiringi suara merdu milik Matthew Bellamy yang membawakan bagian choruss The Supermasivve Black Hole milik Muse. Tanpa menunggu lama, diayunkan kaki panjangnya agar dapat segera meraih gawai pintar itu.


"Iya, sayang," sapa Endo sambil menghenyakkan pantatnya di bibir tempat tidur. Tampak seorang gadis cantik tengah tersenyum ceria di seberang sana.


"Masih di rumah?" tanya gadis itu keheranan.


"Iya, sayang," jawabEndo singkat.


"Echa pikir sudah di kantor," ucap gadis itu sembari memeriksa arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Ya, hari ini aku memang sengaja berangkat ke kantor agak siangan."


Endo betingsut membetulkan posisi duduknya.


"Sudah sarapan?" tanya Echa penuh perhatian.


Tangan kanan Echa terulur meraih satu tusuk sate ayam dari atas meja di sebelah kanan.


"Mmm ... anggap saja sudah," jawab Endo sekenanya.


"Hei ...!" hardik Echa spontan.


"Baiklah ... baiklah, aku akan mampir ke kantin dulu begitu sampai di kantor." Endo mengambil jalan tengah sebelum mendengar omelan tajam kekasihnya.


"Eh, jangan di kantin," cegah Echa cepat.


"Kenapa?" tanya Endo tak mengerti.


"Biasanya banyak juga karyawati yang sarapan pagi di kantin." Echa memberikan alasan.


"Lalu?" Endo mengernyitkan kening tak mengerti.


"Bagaimana jika mereka melihat Kak Endo?" Echa balik bertanya.


"Apa masalahnya jika mereka melihatku?" Wajah Endo terlihat semakin bingung. "Aku bukan hantu, jika kau lupa."


"Mereka bisa saja menyukai Kakak, kan?" tanya Echa konyol.


"Apa masalahnya jika mereka menyukaiku? Bukankah lebih baik punya banyak teman, dari pada banyak musuh?"


"Ih, Kak Endo ...! Menyebalkan! Kenapa sama sekali tidak peka?!" sungut Echa kesal sembari mengerucutkan bibir mungilnya, yang justru malah terlihat lucu di mata Endo. "Ya Tuhan, kemana harus kucari laki-laki hebat, mandiri, pengertian, serta sangat peka terhadap perasaan dan keinginan hamba sebagai pasangannya ini?"


"Hahaha ...." Endo tertawa renyah mendengar rutukan gadis di dalam layar ponsel itu. "Kau sendiri sudah sarapan?" Gantian Endo bertanya.


"Iya. Tentu saja," sahut Echa cepat, dengan senyum arogan menghias bibir.


"Kali ini siapa yang memaksamu untuk makan?" kejar Endo.


"Kak Dicky," sahut Echa singkat.


"Pasti minta disuap," tebak Endo.


"Hehehe ...." Echa nyengir kuda sembari memamerkan dagu belahnya.


"Dasar gadis manja," komentar Endo gemas. "Kenapa kau bisa jadi semanja itu jika di rumah?"


Echa diam tak menjawab, sibuk menjilati bibir, telunjuk, dan ibu jarinya yang terkena lelehan saus kacang. Sementara Endo juga turut diam menikmati tayangan di hadapannya itu.


"Echa rindu," ucap Echa kemudian.


Endo diam tak menjawab.


"Kak, Echa rindu pada Kak Endo." Echa mengulang ucapannya saat Endo tak juga menanggapi.


"Oh ...," sahut Endo yang masih sibuk dengan pikirannya tentang Echa yang asyik menjilati saus kacang di bibir dan jarinya beberapa saat yang lalu.

__ADS_1


"Hanya oh saja?" protes Echa tak suka.


"Memangnya harus bagaimana?" tanya Endo tol*l.


"Ya Kak Endo katakan sesuatu lah."


"Apa?"


"Ya apa saja."


"Iya, apa?"


"Ucapkan saja Kak Endo juga rindu pada Echa."


"Begitu?"


"Iya."


"Baiklah."


"Mana?"


"Apanya?"


"Ucapannya."


"Ucapan? Ucapan apa? Kau berulang tahun hari ini?"


"Ih, Kak Endo nyebelin ...!"


Echa langsung memutus panggilannya, menyisakan Endo yang tertawa sembari menggeleng-geleng gemas mendapati tingkah konyol kekasihnya itu. Entah kenapa, semenjak berpisah dengannya kemarin siang, gadis itu menjadi begitu manja dan kolokan. Lebih parahnya lagi, si pemilik dagu belah itu pun juga menjadi sangat posesif. Namun sejauh ini, hal itu tidak menjadi masalah bagi Endo. Ia justru senang dan semakin gemas dengan calon istrinya itu.


"Hah, ternyata begitu menyenangkan juga memiliki kekasih manja dan posesif ...."


Walaupun Endo merasa senang dengan sikap manja gadis itu, namun sepertinya ia merasa lebih menyenangkan untuk membuat gadis itu kesal dan marah.


Setelah selesai dengan urusan teleponnya, Endo segera bangkit dan pergi meninggalkan kamar. Tiba-tiba saja langkah kakinya terhenti tepat di depan pintu kamar Rosella. Ia terdiam untuk beberapa detik sebelum memutuskan untuk membawa kedua kakinya ke dalam kamar Rosella. Diputarnya handle pintu dengan hati-hati, kemudian dibukanya sedikit daun pintu untuk mencuri lihat ke dalam kamar.


"Aku mengendap-endap seperti pencuri di rumahku sendiri. Hah, sialan!" Endo tersenyum kesal bercampur geli, menertawai dirinya sendiri.


Kedua kaki panjang Endo terayun tenang menuju nakas di sisi kanan tempat tidur. Diraihnya gawai yang tergeletak di atas nakas. Smart phone yang dibelikan oleh Disan atas perintahnya untuk penghuni kamar ini beberapa bulan yang lalu. Diutak-atiknya gawai itu selama beberapa detik, kemudian dikembalikan pada posisi semula. Setelah selesai urusan dengan benda pipih itu, kembali dimasukkan kedua tangan ke dalam saku celana bahan yang dikenakannya. Ia pun segera berbalik dan melangkah tenang meninggalkan kamar itu.


"Sayang ...."


Tiba-tiba terdengar suara Rosella dari arah belakang Endo, yang membuat laki-laki itu terpaksa harus menghentikan langkahnya.


"Kau mencariku?" tanya Rosella.


Mendengar pertanyaan Rosella, Endo membalikkan badan dengan kedua tangan tetap tersimpan di dalam saku celana. Tampak oleh kedua matanya, wanita cantik yang hanya mengenakan handuk terlilit menutup bagian dada hingga paha. Rambutnya tampak basah terurai, pertanda bahwa wanita itu baru saja membersihkan diri sekaligus mencuci rambut ikalnya.


Rosella berjalan perlahan menuju ke arah Endo yang sudah hampir mencapai daun pintu dengan senyum menggoda.


"Kau membutuhkanku?" tanya Rosella lembut tepat di telinga Endo, sembari menempelkan bagian dadanya di lengan kanan laki-laki berambut hitam itu. Kedua tangannya asyik melingkar di pinggang Endo.


Endo diam tak menjawab. Namun wajahnya terlihat begitu tenang.


"Setidaknya katakanlah bahwa kau mengkhawatirkanku." Rosella kembali berucap setelah lama menunggu tak satu kata pun terucap dari bibir Endo.


"Ya, kau benar. Aku memang ingin memastikan," sahut Endo kemudian.


Endo melempar seulas senyum yang dibalas dengan senyum cerah oleh Rosella.


"Memastikan bahwa kau tidak akan terlalu bersedih jika aku melemparmu ke luar dari rumah ini."


Endo melanjutkan ucapannya yang membuat Rosella menghentikan wajah penuh senyum bahagianya berubah menjadi masam penuh kekesalan.


"Aku tahu kau mencintaiku. Entah itu benar-benar cinta tulus atau hanya sesaat, yang jelas kau pun tahu betul bagaimana perasaanku pada gadis itu."


Endo berbicara dengan wajah tenang tanpa emosi.


"Mungkin kau bersedia menjadi yang kedua, tapi sepertinya gadisku tipe wanita tamak dalam hal asmara. Dia ingin menjadi satu-satunya dan tak mau berbagi. Apa pun yang ada padaku harus menjadi miliknya seorang. Hah, benar-benar serakah, bukan?"


Endo menerawang ke sembarang arah, dengan senyum di bibir, seolah tengah membayangkan gadis pujaan yang sedang ia bicarakan, mengabaikan keberadaan Rosella yang kini berdiri tepat di hadapannya.


"Karena ulahmu tempo hari kekasihku merajuk, bahkan mengancam untuk membatalkan pernikahan kami. Hingga terpaksa kemarin aku datang menemuinya dengan penerbangan pertama. Dia ingin aku membereskanmu dalam waktu satu minggu. Tapi kurasa itu terlalu lama. Aku berencana untuk menghabisimu hari ini juga."

__ADS_1


Setelah menyelesaikan ucapannya, Endo menoleh. Pandangannya tertuju pada wajah Rosella yang kini mulai tampak tegang dengan sedikit gurat kecemasan. Namun sesaat kemudian wajah itu telah kembali terlihat tenang. Ya, siapa sangka bahwa ternyata wanita secantik itu memang pandai bermain peran.


Endo sedikit membungkuk untuk menyamakan tinggi wajahnya dengan Rosella, hingga kedua bola mata mereka saling berhadapan hanya dalam jarak lima centimeter.


"Untuk terakhir kali," bisik Endo serius. "Pergilah baik-baik dari sini dan keluarlah dari kehidupanku untuk selama-lamanya."


Setelah mengakhiri ucapannya, Endo kembali menegakkan tubuh, kemudian langsung beranjak ke luar kamar meninggalkan Rosella yang masih terdiam di tempat. Ditutupnya kembali pintu kamar bertepatan dengan kemunculan Anna di ujung anak tangga.


Melihat Endo yang baru keluar dari kamar Rosella, Anna segera mendekat.


"Maaf, Tuan. Nona Rosella meminta saya mengantarkan susunya ke kamar."


"Lakukan tugasmu," sahut Endo dengan senyum di bibir.


___


Di tepi jalan tak jauh dari pintu gerbang hitam setinggi dua meter, Endo duduk tenang di balik kemudi sembari menikmati sebatang rokok di jemari kiri. Pandangannya terfokus pada satu titik, pada saat terlihat sebuah taksi online berhenti tepat di depan pintu gerbang yang tertutup rapat itu.


Tak lama berselang, tampak Rosella muncul dari balik pintu dengan minidress putih dan handbag warna senada. Taksi segera meluncur pergi meninggalkan tempat itu setelah Rosella masuk dan duduk di jok penumpang.


Dengan kecepatan sedang, Endo mengemudikan mobil sesuai dengan kecepatan taksi yang melaju tepat di depannya. Perjalanan yang cukup jauh menurutnya, karena taksi baru berhenti di depan sebuah pintu gerbang setelah satu jam kemudian.


Seorang penjaga membukakan pintu setelah Rosella menekan bel. Wanita itu terlihat buru-buru masuk dan melewati pintu gerbang sebelum kembali tertutup rapat.


"Hari ini aku tidak pergi ke kantor. Katakan pada Disan agar menggantikanku dalam rapat direksi siang nanti."


"Baik, Pak."


Endo langsung memutuskan panggilan setelah mendapat jawaban patuh dari sekretaris pribadinya, Novera.


Endo turun dari mobil, kemudian langsung memanjat pagar dinding setelah memastikan keadaan aman di sekitarnya. Hanya dalam satu lompatan, laki-laki itu telah berhasil mendarat di balik pagar dengan selamat. Masih dalam keadaan berjongkok, diedarkan pandangannya ke seluruh penjuru untuk memeriksa keadaan sekitar. Ia pun segera menegakkan tubuhnya setelah yakin bahwa situasi benar-benar aman.


Dengan mengendap-endap, Endo segera melangkah melewati taman kecil menuju pintu gerbang. Dilumpuhkannya satu orang penjaga dengan pukulan keras pada bagian tengkuk.


Kaki panjang Endo berlanjut melangkah masuk ke dalam bangunan rumah mencoba mencari keberadaan Rosella.


"Hei, siapa kau?"


Tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki dari arah belakang. Seketika Endo menghentikan gerakannya. Langkah kaki laki-laki itu terdengar semakin mendekat. Sementara Endo lebih memilih tetap diam, masih ragu untuk menoleh.


"Sedang apa di sini?"


Laki-laki itu bertanya lagi, kemudian berhenti tepat di samping Endo, membuat laki-laki berwajah bule itu terpaksa harus menoleh.


"Beliau menyuruhku memeriksa keamanan seluruh lantai bawah," sahut Endo tanpa ekspresi.


"Apa kau orang baru? Sepertinya aku belum pernah melihatmu."


Laki-laki berkepala plontos itu mengamati Endo dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Iya. Baru tadi malam."


"Ya sudah, lanjutkan tugasmu."


Endo mengangguk, kemudian segera beranjak meninggalkan laki-laki bersetelan jas serba hitam itu. Namun di luar dugaan, laki-laki itu kembali menghampiri Endo sembari melayangkan satu pukulan kencang dari arah belakang. Beruntung, Endo masih sempat menghindar.


"Aku tak yakin bosku merekrut bule sepertimu!" seru laki-laki itu kembali melancarkan serangannya. "Katakan, siapa kau?!"


Endo tak menjawab, namun tangannya dengan gesit menangkap kaki kanan lawan yang terayun hampir mengenai bagian perut. Ditariknya kaki itu hingga pemiliknya jatuh terjengkang. Tak menyia-nyiakan kesempatan, dipukulnya laki-laki itu beberapa kali hingga jatuh pingsan.


Setelah berhasil menyeret tubuh tak berdaya itu ke dalam salah satu ruangan kosong, Endo kembali melangkah menyusuri lorong rumah dalam diam. Netra birunya berhasil menangkap keberadaan Rosella. Wanita itu tengah masuk ke dalam salah satu ruangan. Namun Endo tak dapat mengikutinya karena ada seorang penjaga bersetelan jas serba hitam di depan pintu.


Endo kembali mendekat dengan cara mengendap-endap, mengambil posisi agar bisa menyerang orang itu dari arah belakang. Saat dirasa targetnya sedang lengah, Endo segera memukul tengkuk orang itu dengan keras. Endo segera merapat ke daun pintu setelah menyembunyikan tubuh pingsan itu di bawah kolong meja.


Endo memutar handle pintu nyaris tanpa suara, kemudian sedikit mendorong daun pintu agar mendapat celah untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam ruangan itu. Tampak Rosella tengah berdiri sambil membicarakan sesuatu dengan lawan bicaranya.


Endo menyelinap masuk ke dalam ruangan tempat dimana Rosella berada. Kedua netra biru lautnya terus fokus mencari tahu siapa lawan bicara wanita itu. Pelan-pelan Endo kembali menyelinap dan lebih mendekati posisi kedua orang buruannya itu.


"Rendi ...," gumam Endo tak percaya saat mendapati raut wajah seorang laki-laki bersama Rosella di dalam ruangan itu.


Hanya sedikit celah, namun cukup membuat Endo tahu siapa laki-laki yang tengah ditemui oleh Rosella pagi ini.


"Bagaimana bisa? Dia ... sama sekali tak terpikirkan olehku," gumam Endo dalam hati.


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2