
Aku memutuskan kembali ke kamar setelah kesal dengan sikap Alex yang usil dan terus menggodaku, sialnya kenapa juga aku harus tergoda dan selalu menuruti semua kemauannya.
Aku sadar dengan status aku sekarang yang sudah menjadi istri memang tidak seharusnya aku menolak dan sudah kewajibanku untuk melayani Alex.
Karena aku memiliki sifat pendiam dan sedikit pemalu, aku suka susah untuk mengungkapkan perasaanku dan lebih banyak memilih diam, lebih baik menuruti kemauan Alex selama dalam tahap wajar.
Sepertinya Alex bisa membaca sifatku yang kurang suka untuk berdebat.
Tetapi aku kurang menyukai sifat Alex yang usil dan menurutku dia menjadi sedikit genit sekarang.
Alex terus menggandeng tanganku menuju ke kamar, sedangkan aku hanya memilih diam dan tidak ingin berbicara.
"Kenapa kamu marah sayang?" tanya Alex padaku.
"Tidak," jawabku singkat.
"Kenapa diam saja," tanya Alex lagi.
"Lagi malas aja bicara, gak ada yang perlu di bahas," sahutku.
"Kamu malas bicara denganku?" tanyanya.
"Mungkin," jawabku.
"Alasannya," tanya Alex.
"Haruskah aku menjelaskannya?" aku bertanya balik.
Alex mengangguk dan menunggu aku untuk bicara, tetapi aku malas untuk membahas hal ini, aku lebih suka menyimpan semuanya dalam hati.
"Udah gak usah membahas hal yang tidak penting dan tidak berguna, aku hanya malas untuk bicara aja," jawabku.
"Kalau aku punya salah atau ada hal yang kamu gak suka coba kasih tau aku, gak baik kamu pendam sendiri," ucap Alex.
"Udah gak apa-apa, mungkin hormon kehamilanku yang membuat aku menjadi mood swing," sahutku.
"Bisa jadi, tapi kalau aku punya salah minta maaf ya," kata Alex sambil mengacak-acak rambutku.
Aku hanya tersenyum menanggapi perkataannya.
Setelah kami sampai di kamar aku langsung merebahkan tubuhku di atas kasur.
"Kamu lelah honey?" tanya Alex.
"Iya lelah banget," jawabku sambil menarik napas panjang.
Alex merebahkan tubuhnya di samping tubuhku.
Aku ingat udah beberapa hari aku tidak membuka telepon milikku, aku mengambil benda pipih itu di dalam tasku.
Ternyata telepon milikku sedang mati karena kehabisan baterai, dan aku segera mengambil kabel charger untuk melakukan pengisian baterai kembali.
Setelah beberapa menit kemudian aku menyalakan kembali telepon milikku, ternyata ada beberapa pesan yang masuk.
Salah satunya dari Jennie yang memberi kabar tentang jadwal pertemuanku dengan dosen pembimbing untuk membahas tentang skripsiku yang sudah berjalan setengah jalan.
Dan mataku kaget di bawahnya ada beberapa pesan dari Jack yang selalu menggangguku.
Aku takut Alex membaca pesan dari Jack dengan cepat pesan tersebut aku hapus.
__ADS_1
Sekalipun teleponku sudah aku beri sandi untuk membukanya tetapi aku menjaga suatu saat ada keteledoran.
Lebih baik aku menghapus pesan dari lelaki gila itu, dan aku langsung memblokir nomornya.
Aku ingin terbuka dan menceritakan Jack kepada Alex, tetapi aku rasa ini bukan saat yang tepat.
Aku tidak ingin suatu saat terjadi kesalahpahaman di antara kami berdua.
Aku berbaring di sudut ranjang sambil memainkan telepon yang sedang aku isi baterainya.
Alex mendekatiku sambil memelukku dan aku tidak menolak atau pun merespon.
"Siera ada yang mau kau ceritakan atau tanyakan padaku," kata Alex.
"Eh...aku ingin dengar cerita masa lalu kamu.
Aku sekarang adalah istrimu tidak lucu aku tidak mengenal suamiku," kataku.
"Masa laluku bukan sesuatu yang indah untuk di kenang.
Aku lahir dari seorang perempuan yang tidak aku kenal mukanya sampai saat ini, ibuku pergi meninggalkan aku sejak aku bayi.
Ia pergi entah kemana sampai saat ini dan ayahku yang mengurus aku sampai aku dewasa.
Dan ayahku tidak pernah memberi tau alasan kepergian ibuku sampai ia meninggal.
Kadang aku suka iri melihat kalau dulu sekolah semua orang di antar jemput oleh ibu mereka, sedangkan aku hanya di antar jemput oleh ayahku," ucap Alex dengan wajah sedih.
"Maafkan aku kalau pertanyaan aku membuat kamu sedih mengingat masa lalu kamu" sahutku.
"Kamu sudah mendapat berita terbaru tentang perusahaan ayahmu," tanya Alex.
"Bagaimana dengan kandunganmu saat ini? Apakah dia merepotkan kamu? tanya Alex sambil mengelus perutku yang masih datar ini.
Kami menghabiskan waktu berdua di kamar siang ini untuk saling tukar cerita.
Karena terlalu singkat perkenalan kami dan pernikahan yang terkesan dadakan ini membuat kami belum saling mengenal satu dengan yang lain.
Mungkin ini saat yang tepat untuk kami berbagi cerita dan saling mengenal satu dengan yang lain.
"Tidak, selama beberapa hari ini di apartemen aku hanya merasa mual saat pagi hari dan itu pun hanya sebentar," jawabku.
"Syukurlah kalau begitu, aku kuatir kalau melihatmu seperti waktu itu," kata Alex.
"Kamu mengkuatirkan aku?" tanyaku.
"Iya ... aku begitu mengkuatirkan kamu sayang, ada yang salah dengan perasaanku?" tanya Alex masih dalam memelukku.
Aku terharu ternyata Alex memikirkan aku dan mengkuatirkan juga.
"Boleh aku bertanya lagi?" kataku.
"Silakan apa pun yang kamu tanya aku akan menjawab semampu aku," sahut Alex.
"Apa kamu mencintaiku saat ini?" tanyaku.
"Kenapa kamu bertanya begitu? Apakah kamu belum percaya dan meragukan aku?" tanya balik Alex.
"Entahlah, aku hanya ingin memastikan saja.
__ADS_1
Aku takut kamu menikahi aku hanya karena kasihan karena aku mengandung anakmu.
Mungkin suatu saat kamu akan meninggalkan aku," kataku.
"Bukankah itu katamu bukan kataku Siera, aku sama sekali tidak pernah berpikir tentang hal itu.
Justru kamu yang berpikir seperti itu," balas Alex.
"Aku takut jika suatu hari cinta masa lalu kamu datang kembali kamu akan meninggalkan aku," ucapku.
"Dia tidak akan kembali padaku dan seandainya dia mau kembali aku tidak akan menerimanya karena ia sudah memberi luka dan malu kepadaku," jawab Alex tegas.
"Kamu punya masa lalu Siera," lanjut Alex.
"Ehm ..." aku mengangguk.
"Seandainya kalau kamu tau dia masih menggangguku, apa yang akan kamu lakukan? tanyaku.
"Apakah dia masih mengganggumu?" tanya Alex sambil menatap wajahku.
Sulit rasanya aku berbohong pasti lelaki ini akan mengetahuinya.
Aduh...aku mesti menjawab apa?
"Kadang" jawabku singkat.
"Apa kamu masih mencintai dia?" selidik Alex.
"Sama sekali tidak, membayangkan wajahnya pun aku tidak mau," jawabku.
"Biarkan dia akan menjadi urusanku," sahut Alex.
"Apakah kamu akan bermasalah dengan dia?" tanyaku takut sesuatu yang buruk terjadi antara Jack dan Alex.
"Tidak usah terlalu kuatir, aku hanya ingin memberi peringatan saja kepadanya," ucap Alex.
"Ingat, aku tidak ingin kau membuat masalah kepadanya," kataku kepada Alex.
"Kenapa kamu takut mantanmu terluka?" ledek Alex.
"Salah, aku takut kamu yang terluka bukan dia.
Kalau dia terluka aku tidak akan memikirkannya tetapi kalau kamu terluka pasti aku yang akan kerepotan," balasku.
"Berarti kamu sudah mencintai aku dan mengkuatirkan aku sayang? tanya Alex.
Mukaku memerah ternyata aku keceplosan mengungkapkan perasaanku secara tidak sengaja.
Bersambung...
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾
Berikan like, komen, tekan tombol ❤️ jadikan novel ini favorit untuk info terbit terbaru.
Jangan lupa di bagi vote ya.
Mulai besok aku usahakan untuk rutin up tiap hari satu sampai dua bab.
makasih buat dukungan kalian.
__ADS_1