
Setelah kami bertiga duduk di sofa, Monika masih menangis meraung-raung.
Entah beban apa yang sedang ia hadapi aku belum mengerti, tetapi bagiku kedatangan Monika padaku di saat yang salah.
Bukan aku seorang yang tidak care melihat wanita menangis hanya diam saja, tetapi bagaimana pun tetap salah jika aku memeluknya.
Akhirnya aku memanggil seorang karyawan wanita untuk menenangkan Monika, tidak mungkin aku meminta Yudha untuk memeluk wanita itu.
Setelah cukup tenang akhirnya aku memulai pembicaraan dengan Monika.
"Monika bisa kita bicara, ada apa kamu datang kesini? Katakan sekarang aku akan mendengarkannya!" kataku dengan suara pelan.
"Aku kesini ingin menemuimu, aku sedang ada masalah dengan suamiku, dan aku butuh support kamu untuk menyelesaikannya," ucap Monika.
"Kalau kamu ingin bertemu, kamu bisa ikutin semua prosedur di kantor bukan dengan seenaknya kamu masuk dan keluar.
Jika kamu punya masalah dengan suamimu, kamu harus menyelesaikan dengan suamimu bukan datang kepadaku, kamu salah alamat.
Aku bukan seorang pengacara untukmu, dengan kedatanganmu malah kamu menjerumuskan aku menjadi orang ketiga dalam keluargamu dan akan memperkeruh hubunganmu dengan suamimu," kataku menjelaskan kepada Monika.
"Hanya kamu yang bisa membantu aku, jauhkan aku dari suamiku yang ternyata lelaki kejam dan tukang selingkuh," kata Monika lagi.
"Maaf ... tapi caramu salah Monika dalam menyelesaikan masalah.
Kamu tidak seharusnya datang padaku dan aku tidak akan melibatkan diri dalam urusan kamu dan suamimu.
Bicarakan masalah ini baik-baik dengan suamimu, keluarga terutama orang tuamu atau kamu bisa berkonsultasi dengan ahli hukum bukan kepadaku," balasku.
__ADS_1
"Tapi aku mohon bantu aku sayang," kata Monika setengah memohon.
"Monika berhenti memanggilku sayang !! Karena sebutan sayang itu hanya untuk satu orang yaitu istriku tersayang.
Aku tegaskan aku tidak bisa membantumu, segala permasalahan yang kamu hadapi sekarang adalah akibat keputusan yang kamu buat.
Jadilah wanita dewasa karena kamu sudah menjadi seorang istri, bicarakan rumah tanggamu dengan suamimu.
Pulanglah dan tenangkan dirimu !!" Pintaku pada Monika.
"Lex, sekali lagi aku mohon bantu aku dan beri kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku dulu," rengek Monika.
"Monika dengar baik-baik sekali lagi aku tegaskan, aku tidak akan masuk dalam lingkaran persoalan keluargamu !!
Kesempatan kedua dalam hidupmu ada di tangan suamimu bukan denganku.
Aku sudah bahagia dengan keluargaku dan jangan menjadi wanita benalu dalam keluarga orang lain !!" balasku.
"Monika kita punya masa lalu tetapi kita tidak hidup untuk masa lalu, kamu masa lalu dalam hidupku dan aku tidak bisa mengubah cerita yang sudah terjadi.
Tetapi kita hidup untuk masa depan dan masa depan aku adalah istriku juga anak-anakku nanti.
Masa depanmu adalah suamimu dan anak-anakmu kelak, jadilah istri yang baik untuk suamimu.
Jika suamimu hari ini tersesat maka tugasmu untuk menuntun ia kembali," kataku sedikit memberi nasehat untuk Monika.
Bagaimana pun dia pernah mengisi hidupku di masa lalu, tetapi aku tidak berhak dan berkewajiban lagi atas hidupnya sekarang.
__ADS_1
Dia adalah orang asing dalam hidupku saat aku memutuskan menikah, masa lalu hanya menjadi bagian kisah hidupku tetapi aku tidak harus terhanyut di dalamnya.
"Sekarang pulanglah dan jangan kembali lagi !!
Jangan merendahkan dirimu untuk hal seperti ini, dan aku permisi harus kembali bekerja," pintaku sambil berlalu pergi.
Saat aku hendak kembali melangkah menuju ruangan kerjaku tiba-tiba Siera keluar dari lift dan menghampiriku.
"Kenapa kamu turun sayang? Apa kamu bosan di ruangan sendirian?" tanyaku pada Siera.
"Aku menunggumu lama sekali belum kembali, perasaanku menjadi kuatir dan memutuskan untuk turun," jawab Siera sedikit manja.
"Kenapa kamu mulai takut kalau suamimu di bawa kabur pelakor," bisikku di telinga Siera.
Siera hanya menatapku sambil tersenyum seperti biasa mukanya pasti berubah merah karena sifat seorang pemalu yang melekat dalam dirinya ketika mendengar godaan dariku.
Lalu aku memeluk istriku dan mencium keningnya, Monika hanya memandang aku dan Siera dari kejauhan sambil berlalu pergi.
"Ayo kita kembali keatas, jangan kuatir terlalu berlebihan bisa mengganggu kehamilan kamu," kataku.
Lalu aku menggandeng tangan istriku sambil menunggu lift naik keatas untuk kembali ke ruangan kerjaku.
Aku fokus menyelesaikan pekerjaanku secepatnya dan kami kembali ke mansion setelah semuanya selesai.
Bahagiaku di mulai dari hal yang sederhana di temani istri bekerja saja sudah membuat hatiku senang.
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak dong dengan cara like, komen, tekan tombol ❤️ buat menjadikan novel ini favorit untuk info terbaru.
Bantu vote juga ya dan kalau kamu suka boleh bantu share dong supaya yang lain juga ikut membaca...makasih buat dukungannya.