
Aku ingin segera pergi dan meninggalkan Jack, tetapi lagi-lagi ia menarik tanganku dan tidak membiarkan aku pergi begitu saja.
"Ada apa lagi Jack, biarkan aku pergi jangan menghalangi langkahku," kataku.
"Maafkan aku Siera, beri aku satu kesempatan untuk memperbaiki semuanya dan kita mulai dari awal," ucap Jack.
"Maaf Jack aku harus pergi, jangan membuat jadwal kuliahku berantakan hari ini.
Aku malas untuk membahas masalah ini, kamu sudah tau aku sudah menikah dan aku bahagia.
Tolong jangan coba menghalangi langkahku dan aku akan segera mengikuti jadwal bimbingan skripsi," sahutku sambil melepaskan tangan Jack.
Lalu aku pergi meninggalkan Jack seorang diri yang masih tertunduk lesu.
Aku langsung melangkah menuju ke ruang dosen untuk menemui dosen pembimbingku untuk mendapatkan bimbingan skripsi yang sedang ku susun.
Setelah beberapa lama aku masuk ke ruang dosen dan mendapatkan bimbingan skripsi, sekarang adalah waktunya aku keluar dan bertemu dengan Jennie.
Aku sudah janjian dengan Jennie kami akan bertemu hari ini.
Aku sudah kangen ingin bertemu dengan Jennie karena udah beberapa Minggu ini kami jarang bertemu.
Dari jauh aku sudah melihat Jennie sedang menungguku dan aku melangkah untuk menghampirinya.
"Jen ... udah lama kamu menunggu?" tanyaku sambil menepuk pundak Jennie.
"Barusan aku nyampe, apa kabar Siera? Aku kangen banget sama kamu," kata Jennie sambil memelukku.
"Sama aku juga kangen sama kamu Jen," sahutku.
"Kita mau ngobrol di mana?" tanya Jennie.
"Di kantin aja yuk," aku mengajak Jennie.
"Ayo, udah lama kita gak nongkrong di kantin," balas Jennie.
Aku dan Jennie berjalan bersama menuju ke kantin, lalu kita berdua memesan makanan dan minuman.
Sambil menikmati makan siang kami hari ini, aku dan Jennie bercerita tentang banyak hal.
"Bagaimana dengan pernikahan kamu Siera? Apa kamu bahagia menikah dengan suamimu?" tanya Jennie.
"Pernikahanku baik aja Jen, sejauh ini Alex memperlakukanku dengan baik dan aku cukup bahagia," jawabku.
"Kamu udah wik wik dong?" tanya Jennie sambil tertawa.
"Pertanyaan yang gak perlu aku jawab Jen," sahutku sambil malu-malu.
Jennie temanku ini emang baik orangnya tetapi memang sedikit kepo.
"Ceritain dong Siera, bagaimana kalian pertama melakukannya?" tanya Jennie lagi.
"Aku gak mau kamu tanya-tanya begitu Jen, aku malu buat cerita hal seperti itu," jawabku sambil malu-malu.
"Aaah ... aku sebel kamu pelit amat sih gak mau cerita," kata Jennie.
Aku lagi asik ngobrol bareng Jennie tiba-tiba teleponku berdering, ternyata Alex yang menelepon.
__ADS_1
Buru-buru aku mengangkat telepon dari Alex dan aku memberi kode kepada Jennie untuk menunggu sebentar.
"Hallo," sapaku.
"Hallo sayang, kamu sudah selesai jadwal bimbingannya? tanya Alex.
"Sudah, aku lagi di kantin bareng Jennie," sahutku.
"Aku sudah menunggumu di depan" ucap Alex.
"Haah ... kamu menjemputku sayang?" tanyaku.
"Iya, kenapa kamu kaget? Aku sudah menunggu di tempat tadi pagi waktu kamu turun," kata Alex.
"Baiklah, tunggu sebentar aku segera kesana" jawabku sambil mengakhiri percakapan kami.
Setelah itu aku pamit untuk meninggalkan Jennie dan segera menuju ke tempat Alex menunggu.
Dari kejauhan sudah kulihat mobil Alex terparkir di pinggir jalan depan kampus, tetapi lelaki itu masih di dalam mobil.
Aku melangkahkan kakiku menuju mobil Alex, aku tidak ingin ia menunggu terlalu lama.
"Kok...kamu yang jemput aku sayang?" tanyaku sambil masuk ke dalam mobil.
"Emang kenapa gak boleh aku jemput istri sendiri?" tanya balik Alex.
"Bukan gak boleh, tetapi kamu kan lagi kerja?" jawabku.
"Aku kangen kamu sayang, temenin aku di kantor hari ini ya," kata Alex.
"Baru juga sebentar berpisah udah kangen-kangenan," cibirku.
"Narsis kamu mulai kumat," jawabku sambil terkekeh.
Sekarang aku lebih memahami dengan karakter Alex yang suka menggoda dan sedikit narsis.
"Tapi kenyataan kan?" ledeknya.
"Heem ... suka-suka kamu mau ngomong apa aja sayang," sahutku sambil tertawa.
Alex segera melajukan mobilnya meninggalkan kampus menuju ke kantornya.
"Kamu udah makan sayang?" tanya Alex.
"Udah, tadi di kantin bareng Jennie," jawabku.
"Baiklah kalau begitu kita langsung ke kantor saja temani aku makan siang," sahut Alex.
Aku mengangguk dan kami langsung menuju ke kantor Alex.
Ini adalah pertama kali aku akan menginjakan kakiku ke kantor suamiku.
Alex memarkirkan mobilnya tepat di depan halaman kantor yang bertuliskan parkir khusus untuk direksi, dari sini aku tau Alex bukan orang yang sembarangan.
Kami berjalan masuk ke dalam gedung perkantoran yang menjulang tinggi, entah berapa lantai jumlahnya sampai ke atas.
Semua karyawan yang bertemu memberi hormat, dan Alex semakin erat menggandeng tanganku.
__ADS_1
Kami berjalan menuju lift yang hanya di gunakan oleh direksi dan aku melihat Alex menekan angka 15, berarti kantor Alex di lantai 15.
Aku jadi ingat kantor ayahku dulu, sayang sekarang aku tidak tau lagi bagaimana keadaannya.
Setelah lift terbuka aku dan Alex segera keluar, tidak ada jauh ada satu ruangan yang semua sisinya di kelilingi kaca.
Aku dan Alex berhenti di depan pintu ruangan tersebut, di depannya ada sebuah meja kerja dan seorang wanita yang sedang bekerja di depan laptopnya.
Dan aku yakin ia adalah sekretaris Alex, wajahnya cukupnya cantik dan menarik.
Dengan body yang cukup sexy dan rambut panjang terurai.
Wanita itu memandang ke arahku dan tersenyum, aku membalas senyumnya dengan tersenyum balik.
Alex masih menggandeng tanganku untuk segera masuk ke dalam ruangan kerjanya.
Setelah pintu ruangan terbuka aku terkesima sebuah ruangan kerja yang cukup besar dan design yang rapi.
Ada sebuah pintu di belakang ruangan kerjanya dan aku tau pasti itu adalah ruangan yang di pakai untuk beristirahat di kalah lelah.
Dulu ayahku pun memiliki perusahaan seperti ini walaupun mungkin tidak semegah dan sebesar perusahaan Alex saat ini.
Entah mengapa aku jadi merindukan ayahku, aku sedikit tercengang melihat ruangan kerja Alex dan aku tanpa sadar melamun sejenak.
"Hei ... kenapa kamu melamun sayang?" tanya Alex
"Maaf ...aku jadi mengingat bayangan ayahku," jawabku.
"Aku suamimu Siera bukan ayahmu," canda Alex sambil tersenyum dan mengacak-ngacak rambutku.
"Suami tampan dan kaya," lanjut Alex.
"Suami narsis," sahutku.
"Kamu mau minum apa? Aku akan minta Devi membuatnya," tanya Alex.
"Siapa Devi?" tanyaku karena aku masih asing dengan tempat ini dan tidak ada yang aku kenal.
"Devi adalah sekretaris aku yang duduk di depan tadi," jawab Alex.
Berarti dugaan aku benar kalau tadi yang duduk di depan adalah sekretaris Alex.
"Aku minta teh manis panas aja," jawabku.
Alex menghubungi Devi untuk membuatkan dan mengantar minuman untukku.
Sekarang kami berdua duduk di sofa panjang yang ada di ruangan kerja Alex.
Alex memelukku dan seperti biasa kalau berdekatan dengannya pasti akhirnya ia meminta jatah kiss dariku, seperti sudah menjadi candu buat Alex.
Di saat kami sedang berciuman mesra, tiba-tiba pintu kantor Alex terbuka.
Sebuah tatapan mata tajam memandang kami berdua.
Bersambung....
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾
__ADS_1
Berikan dukunganmu dengan cara like, komen, dan tekan tombol ❤️ jadikan novel ini daftar favorit untuk mendapatkan info terbaru.
Jangan lupa vote juga ya supaya yang menulis menjadi semangat.