
Aku dan Alex masih berada di tengah taman, malam semakin larut dan dinginnya malam semakin menusuk tulang.
Kami berdua masih dalam perdebatan dan pikirannya masing-masing.
Aku masih bersikukuh dengan keputusaku untuk mengaborsi kandunganku dan Alex tetap menginginkan aku mempertahankan kandunganku
"Aku minta tolong Siera jika kamu tidak menginginkan anak ini, tetapi tolong lahirkan dia untukku" Alex memohon.
Lama aku terdiam dan tertunduk hanya isak tangis yang terdengar di tengah keheningan malam.
"Baiklah... aku akan menerima permintaanmu untuk tetap mempertahankan anak ini dan melahirkannya untukmu," kataku tiba-tiba.
"Kamu bicara apa?? Coba ulangi sekali lagi Siera aku takut salah mendengar," sahut Alex.
"Aku akan mempertahankan dan melahirkan anak ini untukmu," aku mengulangi kata-kataku sekali lagi.
"Terima kasih Siera, akhirnya kamu mau mempertahankan anak kita dan aku sangat bahagia," kata Alex sambil mencium tanganku.
"Tapi aku minta satu hal," ucapku.
"Katakan Siera, aku janji akan memenuhinya semampuku," balas Alex.
"Aku minta kamu tetap menikahi aku sampai anak ini lahir, mungkin setelah itu aku akan pergi dari hidup kalian," kataku lagi.
"Aku akan tetap menikah denganmu, bukan sampai anak ini lahir tetapi aku akan menjaga kalian berdua sampai sampai akhir hidupku.
Aku terlahir dari seorang wanita yang sampai hari ini aku tidak tau keberadaannya, aku di besarkan oleh ayahku seorang diri sampai ia meninggal dunia.
Apa kamu tega Siera meninggalkan anak ini nanti?
Kalau kamu lakukan itu maka nasib anak kita akan sama seperti nasibku besar tanpa kasih sayang seorang ibu," Alex berbicara panjang dan lebar.
Aku terdiam mendengar perkataan Alex, selama ini aku merasa hidupku paling menderita, aku perlu di kasihani dan aku adalah orang yang paling tertekan ternyata Alex tidak jauh beda dengan denganku.
Dia hidup tanpa kasih sayang ibu dari lahir, tapi dia tetap tidak pernah mengeluh.
Tapi aku selalu mengeluh dan kurang mengucap syukur kepada Tuhan.
Perkataan Alex menyadarkan aku agar tidak egois, aku jadi berpikir sejenak apakah aku harus membiarkan anakku tumbuh tanpa kasih sayang dari aku ibunya.
Aku menarik nafas dalam-dalam melepaskan sedikit sesak di dada dan aku coba untuk berbicara sedikit tenang dengan Alex.
"Aku menerima tawaranmu untuk menikah, kamu atur semuanya.
Aku tidak ingin anak ini terlahir tanpa status yang jelas.
Aku akan belajar menerima keadaanku dan berdamai dengan diriku sendiri, I Will try," kataku
"Terima kasih Siera, aku akan mengatur pernikahan kita secepatnya," ucap Alex ada kebahagian yang terpancar di wajahnya.
"Terima kasih kamu sudah mau mencoba dan memberi kesempatan untuk aku menebus kesalahanku," lanjutnya.
Aku hanya mengangguk kepalaku dan badan seperti merasakan dingin yang teramat sangat.
__ADS_1
Bibirku sedikit membiru dan badan sedikit menggigil, jaket yang aku kenakan tidak sanggup mengalahkan dinginnya malam.
Alex melihatku seperti dia mengerti saat ini aku sedang kedinginan.
"Ayo kita kembali ke dalam villa" ucapnya.
Aku berdiri dan Alex memeluk sebentar dan memberi sebuah kecupan kebahagian di keningku.
Dia menggenggam tanganku dan kami melangkah kembali ke dalam villa.
Aku segera memasuki kamarku dan Alex mengantarku sampai di depan pintu kamar.
"Selamat malam Siera dan selamat beristirahat tidur yang nyenyak," ucap Alex sebelum kami berpisah masuk kamar kami masing-masing.
"Selamat malam dan selamat beristirahat mimpi yang indah," balasku sambil tersenyum.
Alex membalas senyumku, tidak dapat ku pungkiri lelaki yang berdiri di depanku saat ini sangat tampan.
Ia memiliki senyuman yang menggoda bagi setiap kaum hawa yang memandangnya.
"Boleh aku peluk kamu sebentar Siera?" tanya Alex.
Aku sempat terkejut mendengar permintaan bodoh dari Alex, akhirnya aku mengangguk.
Alex langsung memelukku dan tiba-tiba bibirnya sudah menyatu dengan bibirku tetapi aku justru menikmati ciuman darinya.
Aksi kami terhenti ketika kami sama-sama sudah kekurangan oksigen dan Alex melepaskan bibirnya dari bibirku lalu aku mendorong dadanya untuk menjauh dariku.
Aku langsung masuk kedalam kamar dan mengunci pintu.
"Kenapa aku jadi merespon ciuman Alex?" tanyaku dalam hati.
Membayangkan kejadian yang barusan terjadi membuat aku malu, kami baru saja saling menerima tetapi kenapa dekat dengannya membuat aku merasa nyaman.
Aku melangkah ke arah ranjang dengan segera aku merebahkan tubuhku di atas kasur dan menarik selimut untuk menutupi tubuhku untuk mengurangi rasa dinginnya saat ini.
ku pejamkan mataku sampai tidak sadar aku sudah memasuki dunia mimpiku.
Sinar mentari menembus di sela-sela jendela kamarku.
Ku bukakan mataku melirik jam yang yang terpasang di dinding kamar ternyata pagi sudah datang menyapa.
Aku bangun dan segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum aku keluar dan bertemu dengan penghuni villa yang lain.
Setelah rapi aku membuka pintu kamar dan melangkah keluar nampak sepi sekeliling villa.
Aku langkahkan kakiku untuk keluar ke halaman villa ternyata di sana Alex sedang berlari pagi menggunakan celana training dan baju kaos berwarna putih.
Ternyata lelaki itu selalu menjaga kebugarannya di sela-sela kesibukannya bekerja.
Alex melihatku dari kejauhan dan tersenyum ke arahku.
Lalu ia langsung berlari mendekat menghampiriku yang masih diam terpaku.
__ADS_1
"Pagi Siera... Kamu sudah bangun? Bagaimana tidurmu semalam ?" sapa Alex padaku.
"Pagi tuan... Tidurku pulas dan aku bisa bermimpi indah," balasku.
"Siera, berhenti untuk memanggilku dengan sebutan tuan.
Sebentar lagi aku akan menjadi suamimu kamu bisa memanggilku dengan nama atau panggilan yang lain," ucap Alex.
"Baiklah, tapi aku belum terbiasa," sahutku.
"Kamu bisa mencoba dan membiasakan diri untuk itu," kata Alex kepadaku.
"Kamu suka tempat ini?" tanya Alex lagi.
"Heem, aku suka di sini tenang jauh dari kebisingan," jawabku.
"Hari ini kamu masih mau di sini atau kembali ke apartemen?" tanya Alex.
"Aku masih ingin di sini beberapa hari lagi, kamu bisa pulang duluan tinggalkan aku sendiri, biarkan aku menenangkan diri di sini," ucapku.
"Baiklah kalau begitu, aku akan kembali ke kota hari ini, karena ada beberapa hal yang harus aku urus dan aku akan segera menjemputmu kembali," kata Alex.
Aku mengangguk tanda setuju dengan rencana Alex.
"Aku akan kembali menjemputmu di sini, jaga dirimu baik-baik Siera.
Aku akan mengurus pernikahan kita dengan segera dan aku tidak ingin orang melihat perutmu buncit tanpa suami," ucap Alex.
"Iya," jawabku singkat.
"Baiklah, aku akan bersiap-siap dulu dan sekarang mari aku temani kamu sarapan lebih dulu" kata Alex sambil menggandeng tanganku menuju meja makan.
Aku dan Alex sarapan bersama pagi ini, ia sibuk mengambil makanan untukku dan aku merasa di perhatikan dan sayang tulus darinya.
Walaupun aku belum berani berharap sesuatu yang lebih dari Alex.
Setelah selesai sarapan Alex pun bersiap untuk kembali ke kota mengurus pekerjaannya dan aku memilih di villa sendiri untuk menenangkan pikiranku.
Alex keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi ia sudah bersiap untuk kembali.
"Aku pamit dulu ya, jaga dirimu baik-baik di sini" pamit Alex.
"Hati-hati di jalan" balasku.
Lelaki itu berjalan menuju mobilnya dan aku hanya melambaikan tanganku mengucapkan selamat tinggal.
Setelah mobil Alex meninggalkan villa dan berlalu dari pandanganku entah mengapa perasaanku merasa kesepian.
Perasaan apakah ini?
Bersambung dulu...
********
__ADS_1
Bantu aku buat dukung novel ini dengan cara like, komen dan kalau pembaca suka bisa tekan tombol favorit ❤️ pembaca mendapatkan info terbaru.