Marriage For A Reason

Marriage For A Reason
Bab 21


__ADS_3

Pagi ini aku meminta izin Alex untuk pergi ke kampus dengan membawa mobilku sendiri.


Sejak menikah aku belum pernah pergi ke kampus dengan mengendarai mobil sendiri, aku ingin sehari saja bisa jalan sendiri dan pergi bersama Jennie.


Setiap aku meminta izin kepada Alex pasti ia tidak mengizinkanku pergi sendiri.


Setelah aku berganti pakaian dan membantu Alex memasangkan dasinya, aku berpikir ini saatnya yang tepat aku untuk minta izin.


"Sayang hari ini aku bawa mobil sendiri ya ke kampus, aku ingin pergi jalan berdua dengan Jennie," kataku.


"Siera, jangan meminta hal yang aku tidak suka ... please, kamu sedang hamil dan terlalu beresiko membawa mobil sendiri.


Kalau kamu mau jalan bareng Jennie aku tidak melarang tapi kamu bisa gunakan sopir untuk mengantarkan kemana aja kamu pergi," sahut Alex.


Sebenarnya aku sedikit kecewa mendengar jawaban Alex, mungkin pandanganku dengan Alex sedikit berbeda.


Mungkin faktor umur membuat aku dan Alex beda pemikiran, tetapi aku berusaha mengikuti saja semua aturan yang sudah Alex buat.


"Jadi kamu dan Jennie akan pergi kemana hari ini sayang? Aku akan meminta sopirku untuk mengantarkan kalian pergi," tanya Alex.


"Aku hanya ingin mengajak Jennie ke mall untuk makan dan belanja keperluanku," sahutku.


"Baiklah, aku akan mengantarmu ke kampus dan nanti siang sopirku akan mengantarkan kalian pergi," balas Alex.


Aku hanya mengangguk tanda setuju dari pada harus berdebat dengan Alex untuk hal yang tidak terlalu prinsip.


Kami berdua turun ke bawah, sebelum berangkat aku dan Alex menyempatkan untuk sarapan berdua baru berangkat bersama.


Alex mengantar aku sampai depan kampus seperti biasa aku memberi salam dan memberi sebuah ciuman sebelum Alex pergi meninggalkan aku.


Sebenarnya sekarang aku hanya sedang sibuk menyusun skripsiku dan setelah semua beres maka aku akan segera wisuda.


Aku mengayunkan langkahku masuk gerbang kampus dan di sana sudah ada Jennie yang dengan setia menunggu kedatanganku.


Sahabat yang tidak pernah meninggalkan aku walaupun di saat masa sulit ia selalu memberi semangat kepadaku.


Di saat semua orang pergi dan menjauh dariku karena keterpurukan aku saat itu tetapi Jennie selalu memberi support kepadaku untuk bangkit.


"Pagi Jennie, udah lama menunggu?" aku menyapa.


"Pagi Siera, aku baru nyampe dan menunggumu di sini," sahut Jennie.


"Kita masuk kelas yuuuk," ajakku.


"Ayo Siera kita masuk," balas Jennie.


Ketika aku dan Jennie hendak berjalan masuk di kelas tiba-tiba seseorang menghampiri kami, siapa lagi kalau bukan Jack yang selalu menyusul aku ke kampus.

__ADS_1


Entah untuk apalagi ia datang mencari ku setelah semuanya terjadi dan pembicaraan kami waktu itu.


"Siera, aku minta waktu untuk bicara," ucap Jack.


"Bicara apa lagi Jack? Aku capek dan aku rasa cukup tidak ada yang harus kita bicarakan lagi," sahutku.


Jennie hanya diam melihat keberadaan Jack di tengah kami.


"Sebentar Siera aku minta waktu sebentar saja untuk bicara," kata Jack.


"Udah sekarang kamu mau ngomong apa sampaikan saja, aku siap mendengar," balasku.


"Di sana Siera kita ngomong berdua," pinta Jack sambil menunjuk ke sudut kampus.


"Temani aku Jen," pintaku untuk ditemani Jennie.


Jennie dan aku mengikuti langkah Jack menuju ke tempat yang agak sepi di sudut kampus.


"Cepetan Jack kamu mau ngomong apa, aku dan Jennie harus masuk kelas," kataku.


"Siera beri aku kesempatan untuk kembali dan kita mulai hubungan kita dari awal lagi," ucap Jack sambil memegang tanganku.


"Siera sedang apa kamu di sini?"


Belum sempat aku membalas ucapan Jack tiba-tiba aku mendengar seseorang bertanya kepadaku, suara yang tidak asing di telingaku dan suara yang sangat aku kenal.


Mukanya seperti menahan amarah melihat Jack yang sedang memegang tanganku.


Aku langsung menarik tanganku dari tangan Jack dan Alex langsung mendekat menarik tanganku kasar.


"Jangan sekali-kali kamu dekati istriku lagi, kalau masih mau panjang usiamu," ucap Alex sambil melayangkan bogem mentah di muka Jack.


"Ingat dia milikku dan aku tidak akan membiarkan satu orang pun mendekatinya," lanjut Alex sambil melayangkan bogem mentah yang kedua ke perut Jack.


Alex menarik tanganku dengan napas yang bergemuruh menahan marah dan kami meninggalkan Jennie yang masih mematung.


Jack yang masih menahan kesakitan akibat tonjokan dari Alex.


Aku berjalan mengikuti langkah Alex tanpa berani bersuara sepatah kata pun, aku tau pasti Alex akan marah besar karena kesalahpahaman ini.


Alex membuka pintu mobil dan memintaku masuk ke dalam, lalu ia menutup pintu mobil dengan sangat kencang.


Alex masuk ke pintu pengemudi lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi tanpa ada suara dan pembicaraan apapun.


Beberapa kali aku hampir terlempar ke depan karena pijakan rem mendadak yang hampir membuat kami celaka, beruntung aku sudah menggunakan safety belt.


Aku tidak tau kemana ia akan membawa aku saat ini dan aku tidak berani bertanya, hanya pasrah saja.

__ADS_1


Ternyata mobil Alex menuju kembali ke mansion, setelah sampai di mansion Alex hanya menyerahkan dompetku yang ternyata ketinggalan di mobilnya tanpa perkataan apa pun.


"Udah kamu turun," ucapnya.


Aku segera turun dan masuk kembali ke mansion, kacau jadwal kuliah aku hari ini.


Alex memutarkan mobilnya kembali meninggalkan mansion tanpa pamit.


Aku masuk dan memilih langsung naik ke atas kamar kami, aku rebahkan tubuhku sambil merenungi apa yang terjadi tadi.


Lelaki sialan itu selalu saja membawa masalah dalam hidupku, sekarang gara-gara dia, aku dan Alex harus jadi salah paham.


"Sial ... sial," umpatku dalam hati.


Tidak tau lagi harus bagaimana memberi penjelasan kepada Alex nanti.


Lelah dan capek hatiku memikirkan semua ini, sampai aku tertidur di dalam kamar.


Setengah hari sudah berlalu, ku lirik telepon genggam milikku tidak ada kabar sama sekali dari Alex.


Sampai selera makanku hilang dan aku tidak punya gairah memikirkan kesalahpahaman ini.


Tidak tau harus mulai dari mana menceritakan masalah ini nanti dengan Alex.


Sampai sore hari mulai gelap aku belum makan apapun hari ini dan aku malas untuk keluar kamar.


Aku membersihkan diri di kamar mandi berharap nanti Alex pulang dari kantor aku akan memberi penjelasan kepadanya.


Sampai jam sepuluh malam ku lirik jam dinding Alex belum juga pulang ke rumah, hatiku semakin tidak menentu.


Seharian ia tanpa kabar berita dan sampai sekarang larut malam belum kembali tanpa berita apa pun.


Aku mencoba memejamkan mata tetapi mataku enggan terpejam, pikiranku berkelana entah kemana.


Hari ini membuat aku gila jika aku mengingatnya.


Sampai jam dua belas malam Alex belum juga kembali, rasa marah dan kecewa menjadi satu bersarang di dadaku.


Aku merasakan sakit hati dengan semua ini tetapi aku mencoba menahan diri.


Tidak lama aku mendengar suara mobil Alex kembali ke garasi mobil.


Tidak tau apa yang harus aku katakan pada lelaki itu ketika bertemu nanti.


🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾


Jangan lupa untuk selalu dukung terus penulis dengan cara like, komen, tekan tombol ❤️ jadikan novel ini favorit untuk mendapatkan info terbaru.

__ADS_1


Jangan lupa buat vote juga dan terima kasih buat dukungan kalian semua.


__ADS_2