Marriage For A Reason

Marriage For A Reason
Bab 56


__ADS_3

Wajah om Andri langsung berubah ketika mendengar ucapanku, mukanya menjadi merah padam seperti menahan sebuah kemarahan.


"Apa maksud ucapan kamu barusan Alex?" tanya om Andri seketika.


"Haruskah aku mengulanginya kembali om, ucapanku barusan? Seharusnya om bisa mengembalikan perusahaan itu dengan sukarela kepada Siera atau aku akan mengirim om Andri ke penjara untuk menemani istri om tercinta?" ucapku sambil menatap wajah om Andri.


"Aku memegang semua bukti tentang kejahatan yang om Andri lakukan terhadap kedua orang tua istriku." Ucapku sambil memeluk Siera, namun mendengar ucapanku barusan membuat istriku langsung menatap wajahku penuh tanya.


"Jaga ucapanmu Alex! Emangnya apa yang sudah aku buat sampai kamu menuduhku?" sahut om Andri setengah membentak.


"Kalau om belum paham maksudku, baiklah aku akan menyerahkan semua bukti yang aku punya ke tangan polisi nanti biar om menjawabnya di sana dan kita bertemu di pengadilan saja," jawabku santai.


"Kamu tidak perlu menggertak aku Alex, aku kesini hanya untuk memohon kamu mengampuni istriku. Kenapa tiba-tiba kamu membahas hal yang lain?" sahut om Andri.


"Aku bukan untuk menggertak tetapi aku sudah memegang semua bukti kejahatan om Andri terhadap keluarga istriku. Namun kemarin aku masih berpikir untuk bertindak lebih lanjut menunggu kelahiran istriku terlebih dahulu. Tapi sepertinya Tuhan berkata lain kasus ini harus di buka secepatnya supaya istri om Andri tidak membusuk sendirian di penjara. Memang kalian pasangan yang cocok, sama-sama jahat dan sama-sama busuk." Kataku sambil tersenyum sinis melihat wajah om Andri yang sudah ketakutan.


"Kamu jangan gila Alex aku melakukan semuanya demi Monika, untuk bisa menikah dengannya dengan syarat aku harus menjadi orang yang sukses dan kaya," balas om Andri dengan suara gemetar.


"Kaya dengan menghalalkan segala cara? Termasuk membunuh saudara sendiri? Manusia seperti apa kalian berdua, manusia berhati iblis!" Kataku sinis.


Siera yang mendengar percakapan kami berdua hanya diam tanpa suara, sepertinya dia meminta penjelasan dariku. Aku pasti akan menjelaskan semua ini kepadanya setelah kepulangan om Andri dari rumah kami.


"Aku berjanji akan mengembalikan semua ini asal kamu tidak membawa kasus ini di jalur hukum." Ucap om Andri terbata-bata.


"Kalau untuk hal itu aku tidak bisa berjanji, aku akan membicarakan semua ini kepada Siera terlebih dahulu," balasku.


"Emang apa yang sudah om Andri lakukan kepada keluargaku?" tanya Siera tiba-tiba.

__ADS_1


"Om sendiri yang akan bicara pada Siera atau aku yang akan menceritakan semuanya nanti?" tanyaku pada om Andri.


"Siera, om minta maaf karena om orang tua kamu harus mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Semua om lakukan karena dibutakan oleh cinta, om terlalu mencintai Monika dan ingin menikahi wanita itu sehingga semua cara om lakukan untuk memperoleh kedudukan dan harta. Tanpa itu Monika tidak akan pernah mau menikah dengan om." Ucap om Andri sambil menangis penuh penyesalan.


"Om Andri kok tega melakukan semua ini terhadap keluarga kami?" tangis siera pecah.


"Om minta maaf Siera, om benar-benar menyesal, kamu boleh menghukum om dengan cara apapun asalkan kamu mau memaafkan semua kesalahan yang sudah om buat." Lagi-lagi om Andri memohon di hadapan Siera.


"Aku gak nyangka perbuatan om sekeji itu kepada keluarga aku, dengan sengaja om menghilangkan nyawa ayah dan ibuku. Om Andri Jahat dan aku tidak akan pernah memaafkan orang yang sudah membunuh orang tuaku, ingat itu om!!" Teriak Siera dengan berapi-api.


"Tenang sayang kamu tidak boleh terlalu emosi, kamu harus tenang. Ingat kamu sedang mengandung, aku tidak ingin ini akan membuat kamu dan anak kita ada masalah." Kataku menenangkan Siera sambil membawanya dalam pelukanku.


Aku melihat istriku sedikit agak tertekan dan sangat sedih ketika ia mengetahui semua kebenaran tentang keluarganya.


"Sekarang om pergi dari hadapan Siera dan jangan menampakkan lagi muka om di hadapanku. Aku bersumpah tidak akan pernah mau lagi melihat om, aku benci, aku muak, om Andri manusia paling jahat yang pernah aku kenal." Teriakan siera sambil menangis meraung-raung, membuat aku sedikit kesulitan untuk menenangkannya.


"Sekarang om pergi!" perintah Siera sambil menunjuk pintu keluar.


Om Andri segera meninggalkan rumah kami dengan membawa sejuta rasa bersalahnya kepada Siera.


Siera melangkah dengan langkah garang menuju keatas kamar kami, dia mendiamkan aku dan langsung pergi begitu saja.


Aku segera menyusul keatas dengan langkah cepat, aku tau sepertinya Siera marah dan kecewa kepadaku karena aku menyembunyikan masalah ini.


"Sayang tunggu dulu, dengarkan aku!" Kataku sambil mengejarnya naik.


Seolah tidak mendengarkan aku dan tidak mau mempedulikan aku Siera terus melangkah menaiki tangga sambil menangis.

__ADS_1


Aku langsung menyusul secepat mungkin untuk menenangkannya dan memberi penjelasan supaya ia mengerti maksud aku belum membuka semua ini kepada dirinya.


Aku tidak ingin ia menjadi salah paham dan mengira aku punya maksud yang lain dalam hal ini.


Setengah berlari aku menyusulnya, sampai di kamar ia menangis di pinggir ranjang sambil terisak-isak.


Aku duduk di samping Siera kutarik dia dalam pelukanku, walaupun awalnya ia sedikit memberontak dan menolak.


Aku mengerti kekecewaan dalam hatinya dan kesedihan yang ia rasakan, terlebih setelah Siera tau bahwa orang tuanya itu meninggal karena di bunuh secara sengaja oleh saudara kandung ayahnya sendiri.


"Sayang aku minta maaf, bukan maksudku untuk menyembunyikan semua ini dari kamu. Sebenarnya aku mengetahui semua ini juga belum terlalu lama, tetapi aku tidak bisa menyampaikannya langsung kepadamu karena aku mempertimbangkan kesehatan kamu dan anak kita.


Aku berencana akan menceritakan dan mendiskusikan semua ini denganmu setelah nanti kamu selesai melahirkan.


Tetapi ternyata kasus ini ada rentetannya dengan kasus yang terjadi di perusahaanku saat ini. Monika dan Devi bekerjasama dengan melakukan manipulasi data keuangan perusahaan dan membobol uang perusahaanku." Kataku memberi penjelasan panjang dan lebar supaya Siera bisa memahami alasanku melakukan semua ini.


"Aku tidak marah sayang tetapi aku sedikit kecewa dengan sikap dan keputusanmu yang tidak membicarakan hal sepenting ini denganku. Aku istrimu jadi aku berhak tau masalah dan kesulitan yang kamu alami, tapi sekarang aku merasakan kamu hanya mengganggap aku seorang istri yang bodoh." Sahut Siera dengan wajah kecewa kepadaku.


"Aku minta maaf untuk semuanya, kamu berhak marah dan kecewa kepadaku tapi hargai sedikit saja sikapku. Aku hanya ingin menjaga kamu dan anak kita," balasku.


Hari ini sesungguhnya aku sedih melihat Siera yang merasa kecewa dan marah terhadap semua yang terjadi. Aku hanya tidak mau melihat Siera seperti dulu yang hidupnya penuh dengan kepahitan sehingga dia menjadi pribadi yang pendiam.


Aku ingin ia seperti saat ini menjadi wanita yang periang dan suka becanda.


🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾


Jangan lupa membudayakan memberi komen dan like setiap selesai membaca karena gratis tidak bayar.

__ADS_1


Kalau suka kalian bisa kasih vote dengan cara itu berarti kalian memberi semangat para author untuk terus berkarya... happy reading.


__ADS_2