Marriage For A Reason

Marriage For A Reason
Bab 53


__ADS_3

Aku dan Siera saling memandang tidak percaya, melihat villa ramai dengan orang-orang yang berlalu lalang.


Kami pun berdua segera turun dari mobil dan segera masuk ke dalam villa.


Ternyata si teteh sedang panik karena mang Ujang sakit tiba-tiba seperti mengalami gejala stroke dan meminta pertolongan warga sekitar.


Dengan segera aku meminta bantuan beberapa warga untuk menggotong mang Ujang masuk ke mobilku dan segera kami melarikannya ke rumah sakit terdekat untuk mendapat pertolongan.


Aku melihat muka Siera sangat sedih setelah mengetahui keadaan mang Ujang seperti saat ini, karena mang Ujang dan si teteh sudah dianggap seperti keluarganya sendiri.


Aku melajukan mobil secepat mungkin supaya bisa sampai di rumah sakit dengan segera, sampai aku harus menyalakan lampu tanda bahaya sudah cepat sampai tujuan.


Tidak terlalu lama akhirnya mobil kami sampai di sebuah rumah sakit dan mang Ujang langsung di bawa menuju ruang UGD untuk mendapatkan tindakan.


Sedangkan aku dan Siera membantu mengurus segala administrasinya.


Cukup lama mendapat pemeriksaan dari tim medis akhirnya mang Ujang harus menjalani rawat inap dan pindahakan ke ruang perawatan.


Seira nampak sedih dan aku berusaha untuk menghiburnya.


Aku meminta ia kembali ke villa untuk beristirahat dan aku berjanji untuk menanggung segala biaya pengobatannya, supaya Siera merasa sedikit tenang, istriku memang punya kepribadian mudah mengasihi orang lemah.


Akhirnya aku dan Siera kembali ke villa untuk beristirahat, aku tidak ingin ia kelelahan.


Suasana villa terasa sepi karena penjaganya sedang di rawat di rumah sakit.


Sampai di villa aku dan Seira masuk membawa tas pakaian kami dan langsung saja Siera berjalan menuju kamar sebelah yang biasa ia gunakan sebelumnya.


"Hey sayang, kamu mau kemana? Ini kamar kita, itu kamar tamu.Pertama kali kamu kesini bersamaku waktu kita belum menikah, kedua kalinya kamu kesini lagi waktu sedang marahan sekarang kamu kesini bersama suamimu yang tampan.


Kamu itu nyonya di villa ini bukan tamu, mengerti !" Ucapku mengingatkan Siera.


"Aku lupa sayang, ingatanku setiap kali kesini aku selalu menggunakan kamar ini," sahut Siera sambil terkekeh.


"Kamu mau tidur sendirian lagi di kamar itu?" tanyaku.


"Tidak masalah siapa takut, dengan senang hati" jawab Siera.


"Aku yang takut tidur sendirian di sini dingin tiada selimut penghangat buat aku menghangatkan tubuh ," jawabku sambil terkekeh.

__ADS_1


"Modus terus kamu," balas Siera sambil mencubit lenganku.


Setelah merapikan barang-barang kami, Seira ke dapur untuk membuat secangkir kopi hangat dan secangkir teh hangat untuknya.


Lumayan untuk menghangatkan tubuh karena cuaca di sini sangat dingin.


Ternyata sambil membahas tentang kesehatan mang Ujang minum di dalam cangkir kami sudah tidak bersisa.


Siera mengajak aku keluar ke taman samping untuk menikmati suasana villa milikku tapi yang jarang aku nikmati, kesibukan pekerjaan membuat aku jarang sekali datang kesini.


Kami berdua melangkah menuju taman di sana, di mana ada sebuah kursi yang menjadi saksi bagaimana sulitnya aku menaklukkan hati Siera kalah itu untuk menjadi istriku.


"Kursi ini saksi bagaimana kerasnya hati kamu kala itu waktu aku meminta kamu menjadi istriku," kataku sambil menatap Siera.


"Aku belum yakin akan keseriusan kamu kala itu dan aku masih takut jatuh cinta karena luka yang Jack berikan sayang," balas Siera sambil terkekeh.


"Kamu masih mengingatnya sayang, aku bahkan sudah melupakannya," lanjut Siera.


"Mana mungkin aku lupa dua kali perjuangan terberat aku meyakinkan kamu di sini," sahutku sambil terkekeh.


"Seperti judul lagu jangan sampai tiga kali sayang," ledek Siera.


Siera yang mendengar ucapanku ikut tertawa, wajahnya semakin manis bila tertawa seperti itu.


"Ayo kita masuk sayang, semakin sore cuacanya semakin dingin nanti kamu masuk angin," ajakku.


Aku menggenggam tangan Siera dan membawanya masuk kembali ke dalam villa.


"Kamu istirahat aja dulu nanti aku akan mengorder makanan untuk kita," ucapku.


"Siap suami tampanku," sahut Siera sambil tersenyum berjalan menuju kamar.


Aku masih duduk di ruang tamu, sambil mengambil telepon dari sakuku untuk memesan makanan untuk aku dan Siera.


Ternyata ada sebuah pesan dari Yudha yang mengabarkan bahwa Devi sudah dalam pengamanan pihak kepolisian berdasarkan semua bukti dan data bahwa ia terbukti menggelapkan uang perusahaan.


Hatiku tidak sabar menunggu pengembangan selanjutnya kasus ini apakah Monika terlibat di dalam hal ini.


Membaca pesan Yudha hampir saja membuat aku melupakan tugasku untuk memesan makanan untuk aku dan Siera.

__ADS_1


Akhirnya aku membuka sebuah aplikasi online untuk memesan beberapa menu makan untuk kami.


Aku masuk ke kamar melihat Siera sedang tiduran di bawah selimut tebal sambil memainkan ponsel di tangannya.


"Aku pasti tau apa yang sedang kamu lakukan sekarang," kataku


"Apa coba tebak?" sahut Siera.


"Membuka aplikasi novel online, pasti membaca novel romantis lagi," aku mencoba menebak apa yang di lakukan Siera saat ini.


"Betul sekali, sepertinya kamu sangat mengenalku sayang," ledek Siera.


"Aku sudah sangat mengenalmu, apa saja yang menjadi kesenanganmu aku sudah sangat mengerti," balasku.


"Kamu memang suami idaman buat aku sayang, aku tambah cinta dan tambah sayang banget sama kamu," ucap Siera sambil bangun dan memelukku.


"Jangan menggodaku, ingat di sini udara cukup dingin aku menjadi mudah tergoda dan kamu harus bertanggung jawab!" kataku lagi.


"Di sini bebas mau melakukan apapun hanya ada kita berdua sayang," goda Siera.


"Kamu yang mulai menggoda aku? Baiklah kalau memang kamu menginginkannya dengan senang hati aku akan melakukannya. Aku paling tidak kuat menahan hasrat jika sudah tergoda seperti ini," balasku dengan segera aku langsung naik di atas tempat tidur dan melucuti semua pakaianku.


Siera malah tertawa melihat sikapku, "aku hanya bercanda tetapi kamu menanggapinya dengan sangat serius," ucap Siera di iringi tawanya.


"Kamu harus bertanggung jawab sudah membangunkan singa tidur," balasku sambil terkekeh.


Aku sudah sangat siap melakukannya dengan berdiri dengan kedua lutut aku hendak membuka resleting celanaku, sedangkan di balik celanaku tongkat ajaibku sudah menegang tiba-tiba ketukan pintu berbunyi.


"Shiiiit" hatiku mulai mengumpat kesal, siapa yang datang tidak tau waktu mengganggu kesenangan orang saja makiku dalam hati.


Melihat aku sudah hampir telanjang, akhirnya Siera memutuskan untuk keluar dan melihat siapa yang datang, ia keluar sambil tersenyum meledek ke arahku.


Sedangkan aku terbaring lemas menahan hasrat yang sudah terlanjur menjalar ke seluruh tubuh.


Tidak lama Siera kembali dengan membawa dua tentengan makanan yang aku pesan tadi. "Sial" umpatku abang ojek online yang tidak bersahabat datang di waktu yang kurang tepat.


Jarang sekali istriku menggodaku, sekalinya ia menggoda si pengacau datang membuat kekacauan hatiku terus mengumpat sambil menahan napsu yang sudah memuncak sampai ke ubun-ubun.


🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾

__ADS_1


Jangan lupa buat like, komen, dan vote dan terima kasih sudah sabar menunggu jadwal up yang agak terlambat karena ada kesibukan ... happy reading.


__ADS_2