Marriage For A Reason

Marriage For A Reason
Bab 9


__ADS_3

Setelah membalas pesan dari Jack ada kepuasan di hatiku, aku ingin lelaki brengs*k itu mengerti bagaimana rasanya sakit hatiku.


Aku tidak Sudi melihat sikap pura-pura peduli yang ia tunjukkan kepadaku.


Mengingat wajahnya saja sudah membuat aku jijik, apalagi untuk bertemu dengannya aku tidak sudi.


Tiba-tiba saja pintu kamarku diketuk, ternyata istri mang Ujang memintaku untuk makan siang.


Ku lirik jam dinding ternyata memang sudah seharusnya waktu makan siang tiba.


Aku keluar kamar berjalan beriringan dengan istri mang Ujang menuju meja makan dan aku meminta si teteh untuk menemani aku makan siang ini.


Biasanya Alex yang selalu menemani aku makan dan ia selalu mengambil makan duluan untukku.


Dengan sikap Alex yang selalu manis, aku merasa ia memperlakukan sebagai seorang putri yang selalu dilayani.


Aku merasa ada yang menyayangi aku dan kesepianku setelah ditinggal kedua orang tuaku kini sedikit demi sedikit mulai hilang.


Tetapi tetap saja aku tidak boleh terlalu banyak berharap banyak dari Alex, dia hanya orang asing yang baru aku kenal.


Aku tidak ingin termakan janji manis darinya karena aku tidak ingin merasakan pengkhianatan cinta kedua kalinya seperti Jack berikan kepadaku.


Aku meminta si teteh untuk menemani aku makan, awalnya ia agak sungkan tetapi setelah aku bujuk akhirnya si teteh mau juga makan bersamaku.


Makanan yang dimasak sama istri mang Ujang memang cuma masakan sederhana tetapi cukup menggugah selera makanku.


Rasanya pas di lidahku sebagai orang Indonesia walaupun cuma tumisan biasa tapi aku suka.


Setelah makan aku membantu si teteh merapikan peralatan makan kami, sambil kami berbincang-bincang.


"Teteh, ntar sore temenin aku jalan-jalan keliling Villa ya," ajakku


"Si Eneng pengen jalan-jalan sore gitu ?" tanya si teteh.


"Iya teh, temenin ya," sahutku.


"Sok atuh neng, entar teteh temenin si Eneng jalan-jalan mangga atuh," balas si teteh.


"hatur nuhun teteh" kataku.


Setelah semuanya selesai aku kembali ke kamar untuk beristirahat.


Di villa ini aku mendapat ketenangan, tempat yang sepi jauh dari penduduk dan hawa yang sejuk membuat aku ingin berlama-lama di sini.


Aku baringkan tubuhku di atas kasur dan aku mencoba untuk memejamkan mataku.


Tetapi sulit untuk aku terlelap, banyak pertanyaan yang melintas di pikiranku saat ini.

__ADS_1


Bagaimana kisah hidupku nanti setelah pernikahanku dengan Alex?


Apakah ia bisa menerima aku dan anakku seperti yang ia ucapkan akan menjaga kami sampai akhir hidupnya?


Kami akan menikah bukan karena cinta tapi hanya sebuah alasan karena kehamilanku di luar nikah ini.


Sebenarnya aku bukan wanita yang tega ingin meninggalkan anakku, aku masih punya hati dan perasaan.


Aku pun tidak akan bisa melihat anak yang sudah kulahirkan terpisah jauh dariku.


Lama aku bermain dengan pikiranku sendiri dan sampai akhirnya aku mendapat satu kemantapan di hati.


Apapun yang akan terjadi nanti itu adalah suatu takdir Tuhan yang harus aku jalani.


Tanpa sadar aku lelah dan mataku mulai sulit untuk terbuka akhirnya aku terlelap dalam tidurku siang ini.


Sampai menjelang sore aku baru terbangun lagi, aku langsung membersihkan diri di kamar mandi dan bersiap jalan-jalan sore berdua dengan si teteh.


Ku pakai celana panjang dan baju sweater panjang karena menjelang sore cuaca di sini sudah mulai dingin dan berkabut.


Aku dan teteh mulai berkeliling villa melihat pepohonan, taman bunga yang indah dan terawat, mang Ujang memang rajin untuk membersihkannya.


Ada beberapa tanaman sayur-sayuran yang ditanam secara organik untuk bisa digunakan sebagai kebutuhan memasak mang Ujang dan istrinya sehari-hari.


Aku senang bisa berada di sini dan rasanya aku ingin berlama-lama tinggal di sini.


Aku harus selesaikan secepatnya sebelum perutku membuncit dan melahirkan karena kalau hal itu terjadi pasti aku akan mendapat kesulitan.


Ternyata hari sudah menjelang petang tanpa terasa kami sudah lama berkeliling villa, aku dan teteh segera kembali karena sebentar lagi tiba saatnya menunaikan sholat maghrib.


Teteh dan mang Ujang adalah orang yang sangat taat menjalankan ibadah.


Kami segera turun dan melangkah kembali menuju ke villa, dari kejauhan aku melihat sebuah mobil telah terparkir di depan villa.


Dan aku mengenal mobil itu tidak lain adalah mobil milik Alex.


Kenapa tiba-tiba lelaki itu sudah berada kembali ke villa?


Bukankah ia baru saja tadi pagi pergi dan sekarang sudah kembali lagi.


Aku dan teteh terus melangkah mendekati villa dan kami harus berpisah ketika sampai depan villa.


Aku masuk melalui lewat pintu depan dan teteh masuk lewat pintu belakang villa.


Alex sudah menungguku duduk di sofa kayu yang panjang sambil mengotak-atik telepon di tangannya.


"Siera ... kamu dari mana?" tanya Alex.

__ADS_1


"Cuma jalan-jalan sore keliling villa, melihat indahnya pemandangan di sini," jawabku sambil memberikan salam kepada Alex.


"Kamu suka berada di sini?" tanya Alex lagi.


"Suka ... aku suka dengan tempat ini," jawabku.


"Kamu masih ingin lama di sini Siera?" lagi-lagi Alex bertanya kepadaku.


"Entahlah ... sebenarnya aku masih ingin lama di sini tetapi tugas skripsiku sudah menanti," jawabku.


"Jadi kapan rencananya kamu akan kembali ke apartemen lagi? Atau kamu bisa kembali ke mansion tinggal bersamaku, di sana juga banyak kamar kosong dan banyak pelayan yang bisa membantu mengurus segala keperluanmu," kata Alex antusias.


"Kenapa kamu kembali kesini lagi secepat ini ? Bukankah baru tadi pagi berangkat kerja dan aku belum telepon untuk jemput lagi," tanyaku.


"Aku tidak bisa konsentrasi bekerja dan terlalu mengkuatirkanmu, karena itu aku ingin besok pagi kita berdua kembali lagi ke kota biar aku mudah mengawasimu Siera," ucap Alex.


Mendengar ucapan Alex membuat mukaku memerah, apakah benar ia mulai memikirkan aku dan mengkuatirkanku?


Apakah Alex mulai memiliki rasa yang sama


seperti aku miliki saat ini?


"Seharusnya kamu tidak perlu kuatir berlebihan, aku bisa menjaga diriku sendiri" kataku.


"Seharusnya memang begitu, tetapi entah mengapa aku terus memikirkanmu.


Semakin aku ingin membuang perasaan kuatirku tetapi semakin ia datang menghantui aku setiap waktu," balas Alex.


"Apa kamu tidak senang aku di sini Siera? Aku berpikir kamu akan senang melihat aku datang untukmu," kata Alex dengan senyum menggodanya.


Mendengar perkataan Alex yang selalu menggoda dan manis lama-lama pertahananku bisa runtuh.


Aku mulai tidak kuat mendengar rayuan mautnya itu, apakah ia seorang lelaki yang pandai merayu.


Aku masih berusaha supaya tidak terlihat tergoda rayuannya.


Sekalipun mukaku sudah merah dan tertunduk malu.


Rayuan apa lagi yang akan Alex berikan untukku? Mungkin sedikit lagi tembok di hatiku akan hancur.


Bersambung dulu...


🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾


Jangan lupa buat kasih dukunganmu dengan cara like, komen dan tekan tombol ❀️ untuk menjadikan novel ini favorit dan mendapatkan info terbaru.


Makasih ya yang sudah mampir πŸ™

__ADS_1


__ADS_2