
Sepanjang perjalanan dari kantor sampai ke rumah aku tidak mengeluarkan suara sedikitpun, mataku fokus menatap ke depan setelah lelah aku menyandarkan kepalaku di jok mobil dan ku tutup mataku untuk menghindari percakapan dengan Alex.
Sepertinya Alex juga menghindari perselisihan dan memilih diam, mungkin dia bingung kenapa aku tiba-tiba diam.
Sampai mobil kami berhenti dan masuk ke garasi mobil, dengan cepat aku membuka pintu tanpa menunggu Alex turun aku sudah duluan masuk ke dalam mansion.
Dengan langkah cepat aku melangkah menuju lantai dua dimana kamar kami berada.
Dadaku sakit saat mengingat bagaimana Devi dekat dengan Alex sambil merapikan baju suamiku.
Ku lempar tasku di atas sofa dan aku langsung merebahkan tubuhku di atas kasur, dan ku ambil bantal untuk menutupi wajahku sebelum Alex masuk.
Tidak lama aku mendengar pintu kamar terbuka dan Alex masuk, dari suara yang ku tangkap di telingaku ia meletakkan tas kerjanya lalu duduk di sofa di kamar kami membuka sepatu dan kaos kaki lalu ke kamar mandi.
Aku berusaha tidak mau menatap Alex karena itu aku memilih memalingkan mukaku dan tidak lama ia keluar dan mendekat kepadaku dengan duduk di samping ranjang tempat aku berbaring.
"Siera kamu kenapa? Dari tadi diam tanpa suara. Apa aku berbuat salah sama kamu? Kalau kamu gak bicara aku mana tau kesalahanku," Ucap Alex sambil menarik napas panjang.
Aku memilih diam dan terus menyembunyikan mukaku, aku malas harus berdebat tetapi aku tidak bisa menyembunyikan rasa tidak suka dengan sikap Devi tadi.
"Siera, mau sampai kapan kamu diam begini?Mau sampai kapan kamu mendiamkan aku?" tanya Alex.
Alex berjalan ke pantry kecil di sebelah kamar kami untuk mengambil air minum.
Entah kenapa perasaanku jadi sensi begini, tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri kalau aku cemburu dengan Devi.
Mumpung Alex lagi di pantry segera aku bangun dan segera aku turun ke bawah.
Aku keluar mansion untuk menghirup udara segar menuju ke taman belakang di sana ada sebuah Gazebo buat aku santai sejenak.
Aku senang bisa melihat beberapa bunga yang sedang bermekaran di sana, salah satunya bunga mawar merah.
Ku petik setangkai bunga mawar yang sedang mekar tanpa sengaja durinya melukai jariku.
Aku sedikit meringis ternyata sedikit perih dan jariku berdarah.
Baru saja aku hendak menghisap darah yang ada di jariku ternyata dengan cepat tangan Alex mengambil jariku dan membalutnya dengan sapu tangannya.
Entah dari kapan ia ada di sini aku tidak sadar, mataku terlalu fokus memandang bunga-bunga yang ada di sini.
"Udah sini aku bersihkan lukamu, apa masih sakit?" tanya Alex.
Aku hanya menggelengkan kepalaku tanpa menjawab pertanyaannya.
Setelah itu aku langsung duduk di gazebo sambil menikmati angin sore yang membawa kedamaian di hatiku, melihat bunga-bunga yang bergoyang tertiup angin seperti sedang menari kian kemari.
__ADS_1
Mataku fokus menatap tanaman yang yang ada di sini.
"Kamu kenapa Siera? Kamu membuat aku bingung, jangan suruh aku membaca hatimu karena aku tidak akan paham," tanya Alex.
"Aku baik-baik saja jangan kuatir, aku hanya ingin sendiri saat ini," sahutku.
"Kamu yakin baik-baik saja? Jadilah orang yang terbuka dan belajarlah untuk mengungkapkan perasaan kamu.
Jika kamu tidak suka sesuatu cobalah untuk mengungkapkan jangan hanya diam saja.
Aku bukan malaikat yang bisa membaca apa yang ada di hatimu," kata Alex.
Aku mendengar setiap perkataan Alex tapi aku terlalu malas untuk bicara saat ini, apalagi mengungkapan isi hatiku.
Aku hanya berharap esok pagi semuanya sudah baik-baik saja, aku sudah bisa mengendalikan hati dan perasaanku.
"Jika kamu tidak suka dengan sikap Devi tadi aku minta maaf, kamu harus tau aku dan Devi tidak ada hubungan apa pun.
Ia hanya membantu membersihkan bajuku setelah ketumpahan air minum tadi.
Jika kamu tidak suka kepadanya untuk menjadi sekretarisku, besok aku akan memindahkannya kebagian yang lain," ucap Alex memberi penjelasan.
Aku hanya diam tanpa memberi komentar apa pun.
Aku menarik napas panjang tanpa ingin membalas sepatah kata pun.
Alex terus mengikuti langkahku dari belakang.
Sampai senja datang matahari mulai menyembunyikan wajahnya di balik awan, Alex memegang tanganku.
"Ayo kita masuk sekarang, hari mulai gelap tidak baik kita masih di luar rumah," katanya sambil menarik tanganku untuk masuk kembali ke dalam mansion.
Kami masuk ke dalam mansion dan aku mampir ke dapur untuk mengambil segelas air putih.
Aku ingin minum untuk mengusir dahagaku dan kering di tenggorokanku.
"Kamu mau minum?" tanyaku
"Boleh, aku minta air dingin," jawab Alex.
Lalu aku mengambil air minum yang dingin yang ada di dalam kulkas dan menuangkannya ke dalam gelas lalu aku memberikan kepada Alex.
"Kamu masih marah sayang?" tanya Alex.
Aku tidak menjawab hanya menggelengkan kepalaku, bagiku itu sudah cukup untuk menyatakan perasaanku.
__ADS_1
"Terima kasih sayang, jangan mendiamkan aku dan membuat aku bingung," lanjut Alex.
Setelah aku menghabiskan segelas air putih dingin, aku ingin segera kembali ke kamar dan mandi karena setelah dari luar badanku terasa lengket.
"Kamu mau kemana sayang?" tanya Alex.
"Aku mau balik ke kamar untuk mandi, badanku lengket," sahutku.
"Tunggu aku kita naik bareng," pinta Alex.
Akhirnya aku menunggu Alex sebentar untuk kembali ke kamar bersama.
Alex memegang tanganku menaiki tangga untuk sampai ke kamar kami.
"Hati-hati jalannya, ingat di perut kamu itu ada Alex junior," kata Alex.
"Aku ingat, gak usah tiap hari di omongin terus aku masih muda belum pikun," sahutku.
"Takut kamu lupa kalau habis marah," ledek Alex.
"Siapa yang marah? Aku gak marah cuma lagi malas ngomong," balasku.
"Muka kamu sudah berlipat dua belas tadi, masih aja gak mau ngaku marah," kata Alex sambil mencibirkan bibirnya.
Aku pura-pura tidak mendengar saja, sampai akhirnya kami berdua berada di dalam kamar dan aku ingin segera membersihkan diri di kamar mandi.
"Kamu mau mandi sayang?" tanya Alex.
"Heem ... badanku sudah lengket dan aku ingin mandi sekarang," jawabku.
"Baiklah aku akan memandikanmu," kata Alex.
"Aku bisa mandi sendiri, nanti setelah aku selesai baru kamu yang mandi," sahutku.
"Aku tidak menerima penolakan dan anggap ini sebagai permintaan maafku untukmu," balas Alex.
Mataku langsung membulat bagaimana mungkin aku menolak, sedangkan kami baru saja berbaikan.
Dan aku tau pasti ini hanya akal-akalan Alex saja, dia selalu punya cara untuk menggoda aku.
Sudah bisa aku bayangkan apa yang akan di lakukan nanti setelah di dalam, lelaki genit ini selalu punya akal bulus buat mesum.
πΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎ
Jangan lupa buat kasih like, komen, dan tombol favorit β€οΈ di tekan buat mendapatkan info terbaru dari novel ini.
__ADS_1
Kasih dong vote kalian buat semangat aku menulis ya.
Makasih banget buat semua dukungannya ππ