
Alex dan Siera masih berada di villa, rencananya mereka akan kembali hari ini ke kota tetapi sebelumnya Siera ingin ke rumah sakit terlebih dahulu untuk memastikan keadaaan kesehatan mang Ujang.
Siera tengah sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk kami, setelah berjalan pagi berkeliling villa di pagi hari, ia mengambil
beberapa sayuran untuk di masak.
Tangan mungilnya sibuk memotong sayur-sayuran lalu memasaknya di atas kompor.
"Heem ... sepertinya harum," ucapku sambil menghampiri Siera yang masih di depan kompor dengan memegang spatula.
"Jangan terlalu dekat ini panas sayang," balas Siera sambil asik memasak.
Aku bukanya menjauh tetapi terus mendekat bahkan memeluk pinggangnya dari belakang sambil menggesek-gesekkan badanku di dekatnya.
"Sayang jangan seperti ini, malu kalau di lihat orang dan aku menjadi susah untuk bergerak," kata Siera sambil terkekeh.
"Malu sama siapa? Cuma kita berdua doang, kepala aku pusing dari kemarin karena kamu yang menggoda aku. Kalau hasrat tertahan itu bikin kepala atas bawah cenat cenut," kataku sambil terkekeh.
"Lepasin sayang, biarkan aku selesaikan memasak untuk kita dulu setelah itu aku janji akan memandikanmu," balas Siera.
"Janji ya," sahutku cepat.
"Heem" Seira mengangguk.
Dengan cepat ia memasak dan membereskan semua perabotan yang kotor, lalu menyiapkan makanan di atas meja untuk kami berdua sarapan pagi ini.
Sebenarnya otak mesumku ini sudah tidak memikirkan sarapan lagi aku cuma ingin sarapan yang lain, namun aku harus menghargai Siera yang sudah lelah menyiapkan semuanya.
Aku ingin segera menghabiskan semua makan yang ada di meja supaya aku bisa menagih janji Siera secepatnya, memandikan aku.
Membayangkan ia dan aku bisa berdua di kamar mandi sudah membuat naluri kelelakianku muncul seketika.
"Uhuk ... uhuk" tiba-tiba aku sedikit terdesak.
"Makannya pelan-pelan aja sayang, ini bukan lomba makan cepat," kata Seira sambil menyodorkan air minum ke arahku.
"Aku ingin buru-buru mandi udah lengket badanku," sahutku memberi alasan palsu.
"Lengket bagaimana? Cuaca dingin begini?" balas Siera sambil terkekeh.
__ADS_1
Mungkin alasan yang aku berikan kurang masuk akal karena itu cuma modal dusta doang dari aku untuk mengungkapkan keinginan terselebung.
"Tapi beneran aku ingin segera mandi, abis jalan tadi keringetan dan menemani kamu depan kompor tambah keringetan lagi," aku masih berusaha memberi alasan supaya lebih meyakinkan.
"Modus kamu, aku yang masak aja gak keringetan bilang aja otak kamu itu dari tadi udah di penuhi pikiran mesum," ledek Siera.
"Udah makannya di habisin dulu kalau tidak habis aku akan membatalkan memandikanmu bayi tua," lanjut Siera.
"Kok bayi tua sih sayang?" tanyaku sambil terkekeh.
"Terus apa? Hanya bayi dan anak kecil yang masih minta di mandikan tapi kamu udah tua masih saja manja minta di mandikan, terus apa namanya kalau bukan bayi tua?" tanya Siera.
"Suami manja," jawabku cepat.
"Udah makannya suami manjaku?" tanya Siera sambil meledekku.
Aku mengangguk dan layaknya anak kecil aku sengaja menempeli istriku supaya ia mengerti keinginanku saat ini.
Bodo amat kalau aku di tertawai Siera karena hal itu tidak penting bagiku yang penting keinginanku tercapai saat ini.
Siera membereskan semua peralatan makan kami, ia sadar si empu penjaganya tidak ada jadi untuk menjaga kebersihan villa ini, Seira melakukannya sendiri saat ini.
Setelah selesai membersihkan semua perkakas masak dan makan ia berjalan ke arah kamar kami dan aku tetap mengikutinya dari belakang, seperti anak ayam takut kehilangan induknya.
Kali ini tidak ada lagi alasan Siera untuk menolak keinginanku.
"Buka bajumu !" Perintah Siera.
"Bukain dong," sahutku manja.
"Dasar suami manja," balas Siera sambil membuka pakaianku.
Dia suka menyiapkan air hangat di bathtub dan aku langsung saja masuk berendam di dalamnya.
Aku pikir Siera akan masuk dan berendam bersamaku di dalam.
"Sini beri punggungmu aku akan menggosoknya !" Lagi-lagi perintah Siera.
Aku hanya menurut saja membiarkan dia menggosok punggungku.
__ADS_1
"Kamu gak mandi bareng aku sayang, ayo berendam bersama," aku mengajak penuh harap.
"Udah jangan berisik aku akan memandikanmu sampai selesai," sahut Siera seperti ibu-ibu yang lagi mengomel anaknya.
"Terus gimana sama adik kecil aku sayang, kamu kok tega sih," aku merengek layaknya anak kecil, sekali-kali manja sama istri sendiri ini pikirku.
"Tenang aku akan membantumu dengan bermain sabun, sekali-kali aku akan memberi rasa berbeda untukmu sayang," kata Siera sambil terkekeh.
Aku hanya mengernyitkan dahi mendengar kata Siera, dari mana istri kecilku ini mengerti cara-cara begituan dengan bermain sabun segala.
OMG ... lemas seketika aku mendengar ucapan Siera, kalau bermain sabun aku tidak memerlukan Siera aku bisa bermain solo di kamar mandi.
Kepala atas dan bawahku semuanya tambah sakit rasanya, ide gila dari mana yang Siera miliki saat ini.
Tanpa menunggu persetujuan dariku Siera langsung saja menyabuni adek kecilku, sekalipun aku menikmatinya namun memikirkan betapa malangnya nasib diri ini, punya istri cantik dan muda kenapa harus berakhir dengan sabun di kamar mandi?
Seperti nasib para jomblo habis nonton blue film berakhir bermain solo di kamar mandi.
Melihat sikapku seperti itu membuat Siera tertawa terbahak-bahak, sepertinya ia sedang mengerjai aku.
Awalnya aku hanya menurut saja apa yang ia perintahkan namun akhirnya aku tidak tahan juga melihat ia hanya senyum-senyum sendiri, lebih baik aku menghukumnya sekarang juga karena kenakalan dan kejahilan yang ia buat.
Aku langsung bangun menggendong ia masuk ke dalam bathtub dan segera ku lepas semua pakaiannya, Siera hanya tertawa melihat kelakuanku.
"Siap-siap kamu terima hukuman dariku karena keisengan yang kamu buat," kataku sambil terkekeh.
Siera hanya tertawa, ternyata sekarang Siera yang pemalu berubah menjadi seorang istri yang iseng dan nakal.
Seperti biasa akhirnya aksi mandi dan memandikan kami harus berakhir panas, bukan bunyi gemericik air yang keluar tetapi bunyi erangan kenikmatan dan mulut kami berdua.
Sampai jeritan panjang dari mulut kami berdua setelah melakukan pelepasan bersama, aku dan Seira benar-benar lemas terkulai dan saling masih dalam posisi berpelukan di dalam bathtub.
Setelah sejenak mengumpulkan tenaga dan kekuatan sekarang giliran aku yang memandikan siera karena ku lihat istriku seperti tidak berdaya dan lemas.
Beres semuanya baru mengangkat Siera untuk segera bersiap ke rumah sakit menjenguk mang Ujang sebentar lalu kembali lagi ke kota.
Aku dan Siera menuju rumah sakit, di tengah perjalanan aku mendapat telepon dari Yudha yang meminta aku segera kembali karena ada sesuatu yang penting yang harus aku selesaikan.
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾
__ADS_1
Jangan lupa untuk budayakan dengan memberi like, komen, dan vote setelah membaca, dengan cara itu kamu memberi dukungan para author untuk tetap berkarya.
Happy Reading.