
Aku langsung meminta Yudha untuk menyelidiki hubungan Devi dan Monika secepatnya.
Aku sudah tidak sabar lagi untuk menghabisi orang yang berkhianat bekerja di perusahaanku.
Apalagi kalau semua ini berhubungan dengan Monika, seketika ini juga rasanya aku ingin segera menghabisinya.
Bisa melewati waktu bersama dengan Siera seharian penuh adalah sebuah kebahagian bagiku.
Aku dan Siera menghabiskan satu hari dengan belanja, makan dan terakhir aku membawa dia ke sebuah taman karena aku tau istriku sangat menyukai semua jenis bunga.
Siera senang sekali dari wajahnya aku tau dia sangat menyukai tempat ini.
"Sayang kamu mengajakku ke sini, aku jadi ingat mang Ujang dan istrinya. Dua orang yang sudah mulai lanjut usianya tetapi masih semangat untuk bekerja," ucap Siera.
Sepertinya Siera memang menyukai pasutri ini karena selama di Villa istriku selalu memperlakukan mereka dengan baik.
"Kamu kangen sama mereka?" tanyaku.
Siera menganggukan kepalanya sambil berkata "Aku sudah menganggap mereka seperti keluargaku dan aku kangen mereka."
"Kalau gitu kita bisa ke sana besok," ucapku.
"Benarkah sayang, aku senang bisa bertemu mereka kembali," balas Siera dengan muka senang.
"Ya besok kita berangkat tapi kita hanya bisa menginap satu malam karena lusa aku harus bekerja kembali," kataku pada Siera.
"Baiklah tidak masalah sayang, asalkan aku bisa bertemu dan melihat keadaan mereka aku sudah sangat senang," jawab Siera.
Siera dan aku menghabiskan sore hari di sebuah taman yang ada di kota ini, kami duduk di kursi taman sambil memandang sebuah danau buatan.
Banyak warga yang membawa keluarganya dan anak-anaknya datang ke tempat ini sekedar menikmati waktu bersama keluarga.
Pepohonan rindang yang memberi kesejukan dan beberapa orang sedang memancing ikan di pinggir danau.
Mereka seperti menikmati apa yang mereka lakukan walaupun setengah jam kami duduk di sini aku tidak melihat mereka mendapatkan apapun.
Tetapi para pemancing itu terus bersabar memegang pancingan sambil menunggu para ikan menyantap umpan di kail mereka.
__ADS_1
Aku seperti mendapat satu pembelajaran hidup disaat memandang pemancing itu, apapun yang terjadi di dalam hidup ini kita harus selalu bersabar untuk menghadapinya.
Aku menemani Siera yang seperti betah berlama-lama di sini, istriku sangat menyukai suasana di alam bebas.
Ada beberapa pedagang yang menawarkan jajanan, Siera minta dibelikan batagor yang dijual di gerobak pinggir taman.
Walaupun awalnya aku melarang karena aku takut kurang higienis tetapi tetap saja ia merengek minta dibelikan, layaknya seorang anak kecil yang sedang meminta jajan.
Mendengar rengekannya dan manjanya membuat aku tertawa dan gemas melihat sikapnya.
Kadang ia bisa seperti seorang yang sangat dewasa tetapi terkadang ia seperti anak kecil yang suka merengek dan ngambek.
Akhirnya aku terpaksa menuruti kemauannya dan membelikan batagor kesukaan Siera dengan alasan ia sedang mengidam.
Sampai sore hari aku dan Siera berada di taman, hari sudah mulai gelap aku memutuskan untuk segera kembali ke mansion.
Turun dari mobil aku membantu membawakan belanjaan istriku dan langsung masuk menuju kamar kami.
Siera sibuk membereskan semua belanjaannya dan aku memilih tiduran di atas sofa panjang sekedar meluruskan tubuhku setelah seharian kami keluar rumah.
Aku mengeluarkan telepon genggam dari saku celanaku dan mencoba mengirim pesan kepada Yudha untuk melakukan misi penyelidikan secepatnya.
"Sayang jangan terlalu capek, kamu bisa meminta bantuan bi Surti atau maid yang lain untuk membantumu membereskan itu semua," kataku mengingatkan Siera.
"Tidak perlu tinggal sedikit lagi selesai," sahut Siera sambil terus merapikan belanjaannya.
"Besok kita akan berangkat ke Villa, jaga kesehatan kamu sayang!" kataku lagi.
"Tenang sayang aku bisa jaga diri," sahut Siera.
"Kalau kamu sakit kita batal berangkat, makanya istirahat aja dulu," aku mengancam supaya Siera menghentikan aktivitasnya.
"Sebentar lagi beres aku akan mandi dan istirahat sayang. Kamu cerewet seperti kakek-kakek," ledek Siera sambil terkekeh.
Mendengar ledekan Siera aku langsung bangun dan menghampirinya, langsung saja ia aku peluk.
"Kamu mau bilang suami tampanmu ini sudah tua?" tanyaku sambil menggelitiki Siera.
__ADS_1
"Ampun sayang, aku enggak ngomong seperti itu. kamu itu suami aku yang paling tampan dan paling aku cinta," ucap Siera sambil menahan geli.
"Serius paling kamu cinta?" tanyaku sambil tertawa dan mencium keningnya.
"Benar dong masa aku bohong," jawab Siera sambil tertawa.
"Aku bangga dapat pengakuan dari kamu sayang," balasku.
Setelah selesai membereskan semua belanjaannya, Siera langsung mandi dan istirahat.
*****
Keesokan harinya aku dan Siera segera berangkat ke Villa untuk menemui mang Ujang dan istrinya.
Kami berangkat pagi-pagi sekali supaya bisa sampai cepat di sana karena aku hanya bisa menginap satu malam saja besok pagi kami harus kembali dan aku harus langsung berangkat ke kantor kembali.
Siera sangat bersemangat di sepanjang perjalanan ia bersenandung sambil mendengarkan nyanyian dari radio di mobilku.
"Kamu sepertinya sedang bahagia sayang," kataku sambil tertawa.
"Bahagia dong bisa jalan bareng suami tampan aku," ledek Siera.
Sepertinya sekarang Siera lebih suka becanda dan sering melemparkan candaan tidak seperti dulu pendiam dan kaku.
Aku melajukan mobilku dengan kecepatan sedang jalanan saat ini sedang lengang tidak terlalu padat, tetapi ketika kami sudah memasuki wilayah perbukitan menuju ke villa ternyata jalanan sudah sangat padat dan merayap.
"Kamu capek sayang?" tanyaku tidak tega melihat istriku yang hamil duduk kelamaan di dalam mobil.
"Tenang aku baik-baik saja, don't worry honey," sahut Siera.
Akhirnya setelah mengantri di jalanan cukup lama aku dan Siera sampai juga di villa, kami kaget melihat suasana villa aku begitu ramai penuh dengan orang datang silih berganti.
"Ada apa ini?" tanyaku dalam hati.
Siera juga kelihatan kebingungan, biasanya villa ini sepi kenapa sekarang bisa ramai dengan orang-orang.
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾
__ADS_1
Jangan lupa buat like, komen dan vote ... happy reading.