
Aku melirik Siera yang duduk di kursi penumpang seolah aku ingin mendengar tanggapan darinya, apakah ia mengizinkan aku untuk langsung putar arah kembali ke kota karena ada urusan yang harus aku selesaikan dengan segera.
"Kamu ada pekerjaan penting sekarang sayang?" tanya Siera padaku.
"Heem" aku mengangguk.
"Maaf kalau kita putar arah untuk segera kembali, apakah kamu keberatan?" tanyaku pada Siera.
"Baiklah sekarang sebaiknya kita kembali saja, pekerjaanmu kelihatan sangat penting sampai Yudha harus meminta kamu kembali secepatnya," ucap Siera.
"Kamu tidak marah atau kecewa kan? Maafkan aku yang sudah membuat semua batal," sahutku.
"Tidak mungkin aku marah, kita bisa kembali nanti setelah semua urusan kamu selesai," balas Seira sambil tersenyum.
Aku segera membalik arah kendaraanku dan menuju ke kota, aku memacu jalannya mobil dengan kecepatan sedikit cepat supaya aku bisa sampai dengan segera ke kantor.
Sampai entah berapa kali Siera harus mengingatkan aku untuk sedikit hati-hati di jalan demi keselamatan kami berdua.
Setelah menghabiskan sedikit waktu akhirnya aku sampai di mansion untuk mengantarkan Siera terlebih dahulu dan berganti pakaian kerja, aku siap berangkat ke kantor sekarang.
Aku meminta Siera untuk beristirahat di kamar dan menunggu aku kembali setelah semua urusanku beres.
Dengan segera aku melajukan kembali mobilku menuju kantor sebab di sana Yudha sudah menungguku.
Kurang dari satu jam aku sudah tiba di dalam ruangan kerjaku.
Yudha datang dengan muka tersenyum, orang yang sudah membuat aku seperti orang gila mengendarai mobil supaya bisa sampai di kantor secepatnya.
"Cepat katakan secepatnya kenapa kamu memintaku untuk segera ke kantor? Sampai aku harus mengorbankan keinginan istriku !" tanyaku pada Yudha.
"Sabar pak Alex ... saya punya berita baik buat bapak. Devi dan Monika sudah di amankan oleh pihak kepolisian pak, satu lagi berita baik dari saya perusahaan kita menang tender dan bapak harus segera menandatangani berkas kerjasama ini secepatnya.
Pihak klien akan memberikan pembayaran lima puluh persen di muka, jadi bapak tidak perlu pusing dengan cash flow perusahaan sekarang.
Polisi juga akan menyita beberapa aset yang di miliki Devi dan Monika sebagai barang bukti tindak kejahatan mereka dan mengembalikannya kepada kita nanti," kata Yudha panjang lebar.
Berita baik yang aku dengar dari Yudha, jujur aku sangat puas dengan cara kerjanya.
"Wah berita baik buat kita Yudha, aku janji akan menambah bonus kamu," ucapku penuh semangat.
__ADS_1
"Sekarang tanda tangani semua berkas yang sudah saya buat dan sebelumnya jangan lupa di baca !" Perintah Yudha padaku.
"Kamu sudah seperti seorang bos berani memberi perintah kepada saya Yudha, lama-lama kamu jadi kurang ajar," sahutku sambil terkekeh.
Yudha yang mendengar celotehanku menjadi tertawa.
"Ini saya lakukan demi kebaikan kita semua pak," jawabnya.
"Terima kasih kamu sudah membantu aku sekuat tenaga dan aku sangat menghargai hasil kerja kerasmu," ucapku pada Yudha sambil menepuk bahunya.
Setelah selesai aku membaca tiap lembar kesepakatan kerjasama dan aku mulai menandatanganinya setiap lembarnya, semua selesai aku menyerahkan kembali kepada Yudha untuk segera di proses lebih lanjut.
Hatiku sangat bersyukur satu persoalan terselesaikan dengan baik.
Hari hampir gelap aku segera merapikan meja kerjaku dan akan segera kembali ke rumah.
Aku ingat pasti Seira sedang menunggu aku datang, setelah semua rapi aku langsung melangkah meninggalkan kantor dan kembali ke mansion.
Sampai di mansion aku melihat sebuah mobil terparkir di halaman, sepertinya ada tamu yang sedang bertandang ke mansion kami.
Aku tidak mengenal kendaraan siapa yang sedang terparkir di depanku saat ini.
Aku belum pernah melihat mobil tersebut datang ke tempatku sebelumnya, membuat rasa penasaranku bertambah besar.
Aku melangkah masuk ke dalam mansion, di sana ada seorang lelaki separuh baya yang sedang bersujud di depan Siera.
Siapa dia? Sepertinya aku belum pernah bertemu secara langsung dengannya.
Aku terus masuk dan bergabung dengan mereka di ruang tamu, aku melihat mata Siera sudah sembab seperti habis menangis.
Siera melangkah ke arahku dan memelukku, aku membalas pelukan istriku tanpa tau sebab kenapa ia sampai menangis.
Pria itu bangkit dan memberikan salam kepadaku.
"Kamu pasti suami Seira, perkenalkan aku Andri om dari istrimu," ucap pria itu sambil memberikan telapak tangannya.
"Alex suami Siera, silahkan duduk," sahutku sambil bersalaman dan mempersilakan om Andri untuk duduk kembali.
Ini pertemuan pertama kali aku bertatap muka dengan Andri om dari istriku dan sekaligus suami dari mantan kekasihku.
__ADS_1
Aku sudah mengetahui namanya dan latar belakangnya bahkan keburukannya aku sudah tau dari seorang Andri, hanya saja aku belum tau wajahnya seperti apa baru hari ini aku berkesempatan untuk menemuinya.
Siera duduk di sampingku dan aku masih berusaha untuk membuatnya tenang dan berhenti menangis.
Ia bersandar di pundakku dan aku masih memeluknya dengan sebelah tanganku.
"Maaf ... ada apa om Andri datang kesini?" aku mulai bertanya.
"Sebelumnya om mau minta maaf sama nak Alex atas perbuatan Monika istri om.
Om minta kebesaran hati nak Alex untuk melepaskannya dari jerat hukum, atas nama Monika saya minta maaf," ucap om Andri padaku.
Aku tidak menyangka maksud kedatangan om Andri di kediaman kami hanya ingin aku menarik status hukum untuk Monika.
Belum juga genap satu hari Monika mendekam di penjara suaminya sudah mengemis maaf.
Kalau aku melepaskannya secepat ini pasti tidak ada efek jera untuknya, pasti perbuatan yang sama akan ia ulang kembali.
Aku menarik napas panjang, sulit aku menjelaskan persoalan ini di depan Siera, bahkan istriku belum mengetahui apa pun dari mulutku tentang masalah yang terjadi hari ini.
"Aku sudah memaafkan Monika sebelum hal ini terjadi, tetapi aku minta maaf untuk proses hukumnya akan tetap berjalan.
Aku tidak bisa mencabut laporan kepolisian begitu saja dan aku hanya ingin memberi sedikit pelajaran bagi istri om," jawabku dengan tegas.
"Alex, saya minta kamu bermurah hati sedikit saja mohon lepaskan Monika dari jerat hukum. Om memohon sama kamu kalau perlu saya akan menggantikan semua kerugian yang kamu derita," om Andri masih setengah memohon.
"Dengan apa om Andri akan menggantinya? Karena sebentar lagi polisi akan melakukan penyitaan aset milik Monika," tanyaku sambil menatap om Andri.
"Kamu bisa mengambil alih perusahaan yang om punya, asalkan kamu melepaskan Monika demi saya," jawab om Andri memelas belas kasihan dariku.
Setelah om Andri mengucapkan kalimat tersebut aku menjadi tertantang untuk mengungkapkan sedikit kebusukannya selama ini sedikit demi sedikit.
"Maaf om Andri bukan aku ingin mengambil alih perusahaan yang om miliki saat ini, seharusnya om menyerahkan semua itu dengan sukarela kepada Siera yang sepantasnya menjadi ahli warisnya.
Atau aku harus mengirim om Andri untuk menemani Monika di penjara dulu supaya om mengakui dosa om terhadap istriku?" tanyaku sambil menatap wajah om Andri sambil tersenyum sinis.
Mendengar ucapan dari mulutku otomatis membuat mata om Andri membulat karena kaget.
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾
__ADS_1
Jangan lupa untuk budayakan dengan memberi like, komen, dan vote setelah membaca, dengan cara itu kamu memberi dukungan para author untuk tetap berkarya.
Happy Reading.