
Pagi ini seperti biasa Siera sudah bangun, ia menyiapkan sarapan untuk kami dan menyiapkan pakaian kerjaku.
Tetapi Siera memilih banyak diam, tidak banyak bicara tetapi ia tetap melakukan aktivitas seperti biasanya.
"Pagi sayang." aku menyapa lebih dulu setelah keluar dari kamar mandi.
"Pagi" jawabnya datar.
"Kamu masih marah sama aku?" tanyaku pada Siera.
Siera hanya diam tanpa menjawab apapun dan memilih turun ke bawah meninggalkan aku sendiri di kamar yang sedang mengganti pakaian kerja.
Tidak seperti biasanya ia seperti itu, rutinitas di pagi yang biasa ia lakukan adalah membantu aku memasangkan kancing kemejaku dan memakaikan dasi untukku.
Setelah selesai aku langsung menyusul Seira ke dapur untuk sarapan sebelum aku berangkat ke kantor.
Siera sibuk menyiapkan semua sarapan di meja makan, aku tau ia sengaja menyibukkan diri untuk menghindariku.
"Ayo kita sarapan sayang, aku harus buru-buru ke kantor," aku mengajak Siera.
"Kamu aja sarapan duluan nanti aku menyusul, aku mau mandi dulu," sahutnya.
"Tidak ada alasan!! Aku ingin sarapan bersama seperti yang kita lakukan setiap hari." kataku sambil menarik tangan Siera untuk duduk di depanku.
Aku membuatkan segelas susu hamil hangat dan mengambil vitamin yang harus rutin dia minum setiap pagi lalu meletakkannya di atas meja makan, dan mengambil sepotong roti panggang dan menyodorkannya ke arah mulutnya.
"Ayo kita sarapan bersama, kalau kamu tidak sarapan denganku maka aku pun akan langsung berangkat kerja sekarang!!" Ancamku supaya Siera menuruti keinginanku saat ini.
Siera malah menangis mendengar ancaman dariku membuat aku tambah pusing untuk mencari cara menenangkan dia kembali.
"Kenapa kamu menangis sayang? Aku tidak memarahimu tapi aku memintamu untuk sarapan bersamaku, terus apa yang membuat kamu menangis?" Tanyaku sambil berjalan mendekati istriku dan memeluknya.
"Aku ... aku hanya ingin ke kuburan ayah dan ibu," ucap Siera di sela tangisnya.
__ADS_1
"Baiklah aku akan mengantarmu kesana, kita akan pergi bersama tapi sekarang kamu harus berhenti untuk menangis," pintaku sambil memeluk Siera.
"Minum susunya dan makan rotinya lalu minum vitamin kamu supaya anak kita sehat, ayo setelah itu bersiaplah kita akan ke kuburan orang tuamu," lanjutku.
Aku menelepon Yudha untuk menghandle semua pekerjaan kantor hari ini karena aku harus mengantar Siera ke kuburan orang tuanya.
Tidak berapa lama Siera turun dari kamar kami dan sudah berganti pakaian rapi, ia memakai dress terusan yang sedikit lebar karena perutnya yang sudah mulai membuncit.
"Kamu sudah siap? Ayo kita berangkat!" kataku.
Siera mengangguk dan melangkah keluar mansion menuju mobil.
Kami langsung berangkat menuju pemakaman umum di mana tempat mertuaku di baringkan terakhir kalinya dalam tidurnya yang panjang.
Sebelum sampai di kuburan Siera memintaku untuk mampir membeli bunga untuk di tabur di atas kuburan.
"Sekalian beli bunga untuk kuburan ayahku juga, nanti aku akan mengajakmu ziarah ke kuburan ayahku sekalian," kataku.
Siera turun dan membeli beberapa bungkus bunga tabur dan tiga buket bunga segar untuk di letakkan di kuburan orang tua kami berdua.
Di sana ada seorang lelaki yang sedang jongkok di antara dua kuburan sambil menangis memegangi dua batu nisan mertuaku, dia adalah om Andri.
Melihat kedatangan kami, om Andri segera meninggalkan makam.
Melihat tatapan Siera memandang kepergian om Andri dengan pandangan penuh kebencian, entah apa yang ada di pikiran istriku saat ini sepertinya Siera sangat kecewa dengan perbuatan om Andri selama ini.
Siera dengan posisi jongkok berada di antara makam mertuaku memegangi batu nisan kedua orangtuanya.
"Ayah, ibu, aku datang kesini bersama suamiku dan lihat sebentar lagi kalian akan menjadi oma dan opa, Siera lagi mengandung cucu kalian. Maaf kalau Siera mengecewakan ayah dan ibu tidak bisa menjaga diri dengan baik tapi Siera berjanji akan menebus semuanya." Ucap istriku sambil terisak.
"Ayah dan ibu jangan kuatir Alex akan berusaha menjaga Siera dengan baik, kami berjanji akan menjadi orang tua yang baik untuk anak kami kelak." ucapku di depan makam mertuaku.
"Ayah ... ibu, aku kecewa dan marah setelah tau bahwa om Andri yang menyebabkan kematian kalian. Aku harus bertindak bagaimana? Haruskah aku menghukum adik ayah sendiri? Atau aku harus mengampuni ia begitu saja? Aku bingung dan aku tidak tau harus berbuat apa lagi." Ucap Siera di sela tangisnya masih memegang nisan kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Sayang udah jangan menangis lagi, nanti kita diskusikan lagi tentang hal ini. Ayo kita kembali, ayah dan ibu sudah bahagia di surga jangan lagi merusak kebahagian mereka dengan tangisanmu," kataku sambil membantu Siera untuk bangun.
Lalu kami menaburkan bunga di atas makam kedua orang tua Siera dan menaruh masing-masing seikat bunga Sekar di bawah nisan.
Aku dan Siera meninggalkan kuburan mertuaku dan melanjutkan ziarah ke makam ayahku yang letaknya tidak terlalu jauh dari sini.
Setelah mobilku memasuki area pemakaman ayahku, aku mengajak Siera untuk segera turun.
Dengan seikat bunga segar di tangannya dan sekantong bunga mawar untuk taburan di atas kuburan ayahku kami menghampiri makam ayahku tercinta.
Aku meminta Siera untuk tetap berdiri karena tadi ia sudah cukup lama jongkok si kuburan mertuaku, aku kuatir kurang baik untuk kandungannya nanti, biar aku saja yang jongkok sambil memegang nisan ayahku.
"Aku yakin ayah sudah berkumpul bersama kedua mertuaku di surga, kalian pasti bahagia melihat kami berdua sebentar lagi akan menjadi orang tua.
Aku datang bersama istriku dan calon anakku, ayah pasti bisa mengerti bagaimana perasaan aku saat ini.
Aku bahagia bisa menjadi calon ayah dan aku bahagia bisa menjadi suami bagi istriku yang cantik yang berdiri di sampingku." Ucapku sambil memegang nisan ayahku.
"Seperti ayah bahagia memiliki aku dan menyayangi aku dengan sepenuh hati demikian nanti aku akan menyayangi anak kami. Terima kasih buat semua kasih sayang ayah dan semua didikan ayah buat aku tidak akan aku lupa untuk selamanya.
Ayah adalah orang tua terbaik buat aku, sekalipun aku tidak punya ibu tetapi ayah membuat aku tidak merasakan kekurangan kasih sayangnya." Ucapku lirih ingat akan semua yang sudah ayahku lakukan untukku.
"Sampai bertemu nanti kita di surga, aku selalu merindukan ayah. you are good father for me, I always love you dad." Kataku sambil berdiri dan menaburkan bunga di kuburan ayahku.
Aku dan Siera meninggalkan makam ayahku dan memutuskan untuk kembali ke mansion.
Di tengah perjalanan aku memberanikan diri bertanya kepada istriku bagaimana pendapatnya tentang kasus hukum om Andri.
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾
Jangan lupa buat kasih like dan komen setelah membaca supaya penulisnya lebih bersemangat untuk up lagi.
Kalau kamu suka bisa kasih vote ... happy reading.
__ADS_1
Selama menunggu up kalian readers bisa juga membaca ceritaku yang lain, udah up dan banyak bab di sana...mampir ya.