
Dewi, Sasa dan Lea terus bergosip sembari menyantap makanan mereka, Dewi yang makanannya sudah habis sejak tadi akhirnya tidak tahan untuk menambah makanannya alhasil dirinya kini memesan menu lagi yaitu bakso yang super pedas—nikmat menurutnya.
“Eh,Dew,Kamu udah tunangan ya?”tanya Lea begitu melihat cincin yang berada di jari Dewi. “Perasaan kemaren-kemaren kayaknya belum ada itu cincin,baru tunangan ‘yah?”
“Yup,baru tunangan kemaren.” Jawab Dewi kembali melahap baksonya tanpa rasa belas kasihan.
“Wah selamat ‘yah, ntar kalo pas hari-H undang Kami berdua ya!” sorak Sasa bahagia dan penuh antusias. “Lumayan kan ntar Kami bantu-bantu gitu, kalau nggak salah orang dulu ngomongnya ‘rewang ’ ya nggak sih! ”
“Jieleh, modus Lo–Sa, bukannya bantu masak atau apalah di sana yang ada Lo bantu ngabisin makanan.” Ejek Lea dengan seringai di bibirnya.
“Ish, nggak papa juga keles. Ntar juga Lo bakal senang juga di sana—banyak cogan berkeliaran,” ejek Sasa balik. “Aji mumpung, mumpung si Aji lagi baik hate.” Sasa tertawa sendiri dengan kata-katanya begitu juga Lea yang akhirnya ikut tertawa terbahak-bahak.
“Baru kali ini Aku ketemu... ,” ucap Dewi yang membuat Sasa dan Lea berhenti tertawa dan menoleh ke arahnya untuk mendengar kelanjutan ucapan Dewi.
“Baru kali ini Aku ketemu—ketemu sama orang-orang yang ternyata lebih aneh dari Aku,hahahaha... ” tak lama setelah mengatakan itu dan tertawa kencang tiba-tiba, “uhuk-uhuk…uhuk-uhuk…” Dewi segera meraih gelas yang berisi air dan meminumnya sampai tandas karena dirinya tersedak kuah bakso yang tadi disantapnya.
Lea dan Sasa kompak tertawa karena Dewi yang tersedak kuah bakso, “makanya kalo ngomong jangan sambil makan, kesedak to!” seru Lea.
“Kami akui,Kami itu aneh. Tapi jangan heran, karena ternyata ada juga orang yang lebih konyol dan blo‘on dari Kami berdua.Hahaha…” Tambah Sasa yang menggoda Dewi.
Dewi cemberut karena Sasa dan Lea yang terus mengejek dan menggodanya tapi hal itu justru membuat dirinya mengeluarkan sifat aslinya yang memang mudah bergaul dan terkesan blak-blakan atau yang biasa Kita sebut ceplas-ceplos.
Ditengah candaan yang dilakukan antara Dewi, Sasa dan Lea, Nanda kini datang bersama sekretarisnya Elvin yang memang selalu berada di sampingnya.
Lea dan Sasa terdiam dan kagum akan ketampanan Bosnya,sementara Dewi yang memang belum menyadari hal itu masih terus melanjutkan melahap habis bakso di mangkuknya.
Ketika melewati meja makan yang digunakan Dewi dan keduanya,Nanda melirik ke arah Dewi yang asik dengan makanannya. Sekilas Nanda tersenyum melihatnya, lalu kembali melangkah ke tempat lain.
“Ah ya ampun, itu manusia apa setrum sih!” riuh Sasa yang sangat terpana dengan ketampanan Nanda, “kenapa bisa selalu bikin jantung deg-degan gini! Aku tersiksa.”
“Idih eneg Gue ama Elo,centilnya kagak keruan!” sinis Lea, “belum tau aja calonnya Si Bos cantiknya nauzhubilah.”
“Yang bener Masya Allah bukan nauzhubilah,” Sasa memperbaiki perkataan Lea. “Alah sama lah itu.”
__ADS_1
Dewi yang tadinya tidak mempedulikan obrolan Sasa dan Lea,kini menatapnya penuh tanya. “calon? Bos?” sejenak Dewi berfikir bahwa dirinya sudah ketahuan sebagai calon istri Bosnya itu.
“Hu'um, jadi udah lama banget tuh ada isu-isu bahwasanya Bos Kita itu deket sama mba Flenci cucu—temen kakeknya pak Nanda.”
Dewi yang mendengar penjelasan dari Lea mengangguk-angguk tanda mengerti, “gosip baru, bisa nih buat cara untuk ngebatalin ikatan Aku.Hahaha... ,” batin Dewi di dalam hati sembari tersenyum-senyum.
“Woy! sinting Kamu ‘yah?” tegur Sasa, “nggak ada angin nggak ada ujan. Senyam-senyum sendiri.”
Dewi kesal dan terus menimpali perkataan Sasa, sementara Lea menengahi keduanya. Tidak lama setelah candaan yang dilakukan, mereka kembali memasuki ruangan divisi karena jam istirahat yang telah habis.
Dewi dan yang lainnya langsung kembali mengerjakan pekerjaan mereka secepat mungkin agar mereka dapat pulang secepatnya.
Waktu telah menunjukkan pukul 05.00 sore dan Dewi segera pulang ke rumahnya. Di saat Dewi sudah sampai di lobi, Nanda datang dan segera menarik tangan Dewi tiba-tiba.
Dewi yang terkejut langsung berusaha melepaskan pegangan tangan Nanda secara tiba-tiba,namun usahanya gagal karena genggaman Nanda sangat kuat di tangannya.
“Aku antar Kamu pulang!” seru Nanda pada Dewi.
“Nggak mau! Aku bisa pulang sendiri, lagipula Mas Nanda ngapain sih pake narik-narik tangan segala?!” sentak Dewi menatap tajam ke arah Nanda.
Nanda melihat jamnya, “sebentar lagi karyawan mau pada pulang, Aku pikir dengan Kamu di sini terus—bertujuan untuk memberitahu semuanya kalau Kita ada hubungan.”
Dewi menghentakkan kakinya dan masuk ke dalam mobil Nanda, tak ambil lama Nanda segera ikut masuk ke mobilnya.
Mobil melesat pergi meninggalkan kantornya menyisakan karyawan-karyawan yang lainnya untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Di tempat tidak jauh dari Nanda dan Dewi tadi berdiri, ternyata ada seseorang yang memperhatikan mereka dari jauh, “Shi*t,ngapain Dewi sama pak Nanda di sana?! mana ngga kedengaran ngomong apa.Huh!” umpat seorang wanita yang ternyata Silpi.
...----------------...
“Ih lagunya jangan yang kek gini napa la!” protes Dewi saat Nanda menyetel lagu shalawat di mobilnya. “Ganti lagu bahasa inggris kek apa kek!”
“Kenapa? panas Kamu denger lagu shalawat!” goda Nanda. “Jadi curiga Kamu itu jelmaan setan, ck... ”
“Ih,tau ah!” marah Dewi yang mulai mengerucutkan bibirnya. Dirinya sudah menghadap ke jendela sembari melipat tangannya di dada.
__ADS_1
“Idih, baru gitu aja dah ngambek.” Ucap Nanda, “Mau lagu apa?” tanya Nanda melirik sebentar ke arah Dewi karena dirinya fokus ke arah jalan.
“Tau!” sinis Dewi yang masih menghadap jendela mobil tepatnya arah jalan. Mobil keduanya berhenti saat lampu merah menyala, Nanda melirik ke arah Dewi dan mulai mengusap rambutnya perlahan.
Dewi yang pertama kali diusap rambutnya oleh Nanda langsung membalikkan badannya dengan jantung berdebar. Ditatapnya wajah Nanda begitupula dengan sebaliknya, keduanya sama-sama terhipnotis oleh keadaan.
Wajah Nanda mendekat ke wajah Dewi dan membuatnya terdesak,semakin lama semakin mendekat dan membuat Dewi menutup matanya takut untuk melihat hal yang tak terduga.
Semakin lama semakin mendekat, semakin lama semakin mendekat dan...
“Mata Kamu ada tai matanya tuh.Ih jorok banget!” tutur Nanda dan kembali ke posisi awalnya.
“Ih sebel! Mas Nanda jahat,” ucap Dewi dengan tidak menghadap kembali ke jendela seperti tadi, kini dirinya memukul lengan Nanda yang tengah menyupir.
“Eh jangan mukul-mukul! Aku lagi nyupir, bahaya!” seru Nanda, “Kamu juga ngomong Aku jahat, padahal baik udah ngasih tau ada tai mata di mata Kamu” goda Nanda lagi.
Dewi berhenti memukul Nanda dan hanya mengerucutkan bibirnya ke depan dengan wajah cemberut.
Nanda kembali berkata, “eh tadi waktu Aku dekat ke wajah Kamu kok Kamunya merem gitu?” tanya Nanda dan menoleh, “atau jangan-jangan Kamu...”
“Ih tau ah!,” balas Dewi merajuk.
“Hahaha... gitu aja marah.” Tawa Nanda senang karena sudah berhasil menggoda Dewi yang kini berwajah cemberut.
To be continued... .
...----------------...
Hay-hay,apa kabar semua? kangen nggak sih sama Author yang imyut ini ( ngaku-ngaku 🤣🤣🤣),buat semua yang sudah mendukung dan hadir di novel Author makasih ‘yah.
Dewi sama Nanda seru banget ya romantisnya tiada tandingannya hehehe...cie-cie yang lagi pulangnya barengan berdua lagi,bikin kita semua ngiri. Silpi emang bener sikil sapi kerjaannya nguping ya kan?!
Oke sampai jumpa di next eps ‘yah! bye-bye 🙋♀🙋♀🙋♀
__ADS_1
Salam Sayang
Author~😘😘😘.