Marriage With Neighbour

Marriage With Neighbour
Panggil Mami El!


__ADS_3

Nanda,Getra dan Mami El masih berada di rumah Dewi. Mereka memutuskan untuk pulang sore karena masih ingin berkunjung ke rumah Dewi.


Sudah sejak tadi Dewi belum makan siang karena tidak ingin kembali memuntahkan makanan yang telah masuk ke perutnya.


“Dewi, Kamu makan dulu terus minum obatnya!” Seru Bunda mengingatkan Dewi untuk makan.


“Nggak mau Bun! Malas agh Dewi kalau makan ntar muntah-muntah lagi,” tolak Dewi pada Bunda.


“Dewi makanlah! Bunda suapin ‘yah?” bujuk Bunda meyakinkan Dewi untuk makan.


“Iya deh iya,” jawab Dewi cemberut karena menuruti paksaan Bundanya.


Akhirnya Dewi menyerah dan mau menyantap bubur yang disuapi Bundanya. Ditengah aktivitasnya itu, suara panggilan telepon berdering yang berasal dari hp Mami El.


“Mami mau angkat telepon dulu,” ucapnya pada putra sulungnya Nanda.


Mami El keluar dari rumahnya dan mencari tempat yang pas untuk berbicara dengan orang yang menghubunginya.


Bunda Fania menyuapi Dewi dengan sangat telaten sampai dengan suara hujan yang turun membuatnya seketika panik. Bagaimana tak panik jikalau jamuran pakaian yang masih terpampang nyata di halaman depan rumahnya.


“Aduh pakaian Bunda, pake acara hujan segala!” Pekik Bunda, “Ntar Bunda suap lagi ‘yah Dew!”


Setelah mengatakan hal itu Bunda Fania pergi keluar untuk mengangkat pakaian yang dijemurnya. Bunda tidak bisa memerintahkan pada Bagas atau Ayah Farhan karena keduanya tadi pergi bersama Getra untuk berjalan-jalan dengan mobilnya.


Hujan turun dengan derasnya, Mami El yang selesai dengan pembicaraannya di telepon memilih untuk membantu Bunda Fania mengangkat pakaian dalam jumlah banyak.


Sementara itu di dalam ruang tamu lebih tepatnya di sofa, Dewi menahan rasa hausnya. Dia sangat gengsi untuk meminta langsung pada Nanda, sebab air yang diinginkannya tidak bisa dicapainya di meja dan letaknya lebih dekat dengan Nanda.


Dewi hanya memberi kode untuk Nanda dengan suara batuk atau tersedak yang dibuat seolah-olah sangat membutuhkan air minum.


“Uhuk-uhuk... . Ekhem-ekhem, haus kali lah! Mana airnya jauh lagi,” ucapnya keras pada diri sendiri agar Nanda menyadari saat ini Dewi tengah membutuhkan bantuannya.


Nanda yang memang tau Dewi membutuhkan sesuatu hanya berpura-pura tidak tahu dan lebih memilih memainkan gawai—nya. Dewi yang mendapatkan hal itu sangat kesal dan lebih memilih untuk mengambilnya sendiri.


Baru beberapa langkah berjalan, dirinya merasakan tubuhnya melayang di udara. Ternyata eh ternyata, Nanda menggendong tubuhnya yang lumayan berat dan kembali menaruh pelan dirinya di tempat semula.


Setelah mendapat perlakuan manis tersebut, pipi Dewi mendadak berubah menjadi tomat matang. “Aghh, malu banget,” batin Dewi meronta.


“Mau apa?” Tanya Nanda pada Dewi. “Biar Aku ambilkan.”


“Mau minum! Aku haus,” jawab Dewi pelan sembari menunjuk meja dapur.


“Tunggu sebentar, jangan gerak!” Seru Nanda memperingati Dewi agar tidak pergi dari tempatnya. Nanda mengambilkan segelas air untuk diminum oleh Dewi.


“Ini,” ucap Nanda sembari menyodorkan segelas air untuk Dewi. Dewi yang memang merasa sangat kehausan langsung meraih dan meminumnya sampai tandas tak bersisa ( kecuali gelasnya ‘yah readers, kan tidak mungkin kalau dilahap ama Dewi🤭 ).

__ADS_1


Nanda mengisi kembali gelas kosong yang telah dihabiskan Dewi dan segera kembali ke ruang tamu. Hanya saja, bukannya ke tempat duduk semula melainkan di samping Dewi berada.


“Eh kok malah duduk di sini, sono agh! Malas banget duduk deketan sama orang kek Kamu,” ketus Dewi yang merasa tidak suka duduk bersanding dengan Nanda.


“Berisik,” timpal Nanda tak peduli dengan penolakan Dewi justru dirinya meraih mangkuk yang berisi bubur ayam yang tadi dilahap Dewi.


“Dihabisin makanannya,” titah Nanda memberikan mangkuk tersebut pada Dewi. Dewi yang kalah untuk menolak dengan terpaksa mengambilnya dari tangan Nanda, namun karena fisiknya yang masih lemah Ia tak sanggup untuk menahan mangkuk itu di tangannya.


“Eh, pelan-pelan sih megangnya. Sini biar Aku suapi!” Ucap Nanda yang segera mengambil alih mangkuk makanan Dewi.


“Aaa’—buka mulutnya!” Seru Nanda yang membuat Dewi membuka mulutnya.


“Aku malu ‘tau,” ucap Dewi setelah selesai pada suapan pertamanya.


“Eleh, orang seperti Kamu yang ada bukannya malu tapi malu-maluin. Pake acara malu-malu kambing,” ucap Nanda asal yang membuat Dewi cengengesan. Memang tak bisa dipungkiri perkataan Nanda sangatlah benar.


Dewi sebenarnya heran mengapa Bunda dan Tante El sangat lama di luar dan masih belum kembali. Alhasil karena tak mau menolak, dirinya rela disuapi oleh tunangan yang menurutnya menyebalkan ini.


“Mas, sekretaris Kamu itu ganteng banget sih! Kek oppa-oppa korea gitu gemes,” ucap Dewi sembari tersenyum tidak jelas memikirkan ketampanan sekretaris tunangannya, Elvin.


Senyum Dewi tak bertahan lama dan berganti dengan ringisan pada bagian lengannya karena dicubit oleh Nanda.


“Aduh! Sakit tau,” ringis Dewi seraya mengusap lengannya yang dicubit oleh Nanda. “Maksudnya Mas tuh apa?! Seneng banget nyakitin orang, belum nikah aja sudah begini apalagi entar bisa-bisa tiap hari KDRT mulu!”


“Sukurin! Lagipula Kamu aneh-aneh aja, dia itu sudah punya istri jangan Kamu kagumin apalagi jadi pelakor!” Penjelasan Nanda membuat Dewi terkejut sampai-sampai Ia tersedak makanannya, dan lagi-lagi tepat berada di wajah Nanda.


“Dew! Agh, kebiasaan banget sih. Untung tadi Aku cepet-cepet merem heh,” kesal Nanda membersihkan wajahnya.


“Ah sorry Mas, Aku kaget saja. Padahal rencana mau Aku jodohkan sama Tiara sepupu Aku,” ucap Dewi pada Nanda. “Tapi sudah punya istri ‘yah sudahlah hahaha ... .”


“Taulah Dew! Ini masih mau makan lagi nggak?” Tanya Nanda yang mengalihkan pembicaraan, “kalau nggak mau lagi mau Aku simpen sekalian Kamu minum obatnya.”


“Enggak Aku sudah kenyang, taruh aja sana!” Timpal Dewi.


Nanda segera berdiri dari sofa untuk mengembalikan mangkuk bekas makanan Dewi, namun baru beberapa langkah Ia berhenti karena Dewi memanggilnya.


“Mas!” Panggilnya.


“Iya kenapa?” Balas Nanda seraya membalikkan badannya.


“Kalau ke sini entar bawakan Aku toples yang isinya ada kerupuk udang ‘yah!” Seru Dewi tersenyum, menurutnya hari ini adalah hari kebebasan di mana Ia bisa memerintah atau menyuruh seorang CEO dari suatu perusahaan yang terkenal.


Nanda yang sedikit kesal hanya memjawab dengan deheman.


...----------------...

__ADS_1


Setelah Dewi meminum obatnya, Nanda masih menemani Dewi yang tengah memakan camilan seraya menonton televisi. Setelah lama, akhirnya Bunda dan Mami El datang dengan membawa keranjang yang berisi pakaian. Selain hal itu ternyata Keduanya tengah menenteng satu plastik besar buah mangga yang didapat entah dari mana.


“Wah, ada mangga. Aku mau!” Pinta Dewi yang antusias.


“Kamu masih sakit, buat Aku sama Getra aja.” Ucap Nanda yang mendapatkan tatapan tajam dari ketiganya.


“Enak Kamu ngomong, sudah cape Kami ngambilnya mau Kamu makan sendiri sama adik Kamu!” Ketus Mami El.


Nanda hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Mami El memang begitu selalu julid kalau dengannya entah memiliki dendam apa.


“Mami, Aku pulang!” Ucap Getra yang datang sembari menenteng satu plastik mangga yang membuat mereka ternganga kecuali Bagas dan Ayah Farhan.


“Lah itu mangga dari mana?” Tanya Dewi yang mendapat anggukan yang lain tanda setuju dengan pertanyaan Dewi.


“Minta sama kampung sebelah,” jawab Bagas seraya memainkan ponselnya.


“Lah ini juga Kami ada mangga,” ucap Bunda Fania menunjukkan mangga yang berada di dalam plastik.


“Yah sudah makan aja, buat jus atau apalah terserah. Aku mau ke kamar!” Ucap Bagas tak peduli dan menuju ke kamarnya.


Karena tak ada hal yang perlu dibahas dari buah mangga, akhirnya masing-masing mendapatkan mangga dalam jumlah sama rata.


Waktu yang telah menunjukkan pukul 17.00 WIB, membuat Getra, Nanda dan Mami El untuk kembali ke rumahnya. Mereka berpamitan pada Dewi dan yang lainnya.


“Tante hati-hati di jalan ‘yah,” ucap Dewi pada Mami El.


“Loh kok masih manggil Tante sih,” ujar Mami El. “Panggil Mami El ’yah! Nggak nurut ntar Mami ngambek sama Kamu!”


“I-iya Tan—eh Mami,” ucap Dewi gugup.


“Nah gitu dong, ya sudah Kami pamit ‘yah?” Pamit Mami El juga yang lain.


“Iya hati-hati yah!” Balas mereka.


Mobil akhirnya melesat pergi meninggalkan rumah Dewi. Huft, cukup untuk hari ini akan ada hari esok hari yang baru.


To be continued ... .


...----------------...


Halo salam sayang~ gimana ini kabarnya? sehat ‘kah? Pastilah ya, semangat menjalankan aktivitas dan ibadah puasanya.


Minta dukungannya melalui like, komentar, rate, gift, vote, dan masih banyak lagi. Dadahhh ... .


Salam sayang

__ADS_1


Authoreo~😘😘😘.


__ADS_2