
Nanda dengan kesal keluar dari bath room dan menutup pintunya keras. Getra yang terkejut langsung memejamkan matanya, takut jikalau ketahuan oleh Kakaknya.
Nanda dengan raut menyeramkannya berjalan mendekati Getra. “Ouh, ternyata adik kesayangan Mamas masih tertidur pulas ‘yah! Baiklah, mana mungkin adik tampanku ini yang sudah mencoret-coret wajahku.”
Nanda yang telah berada di dekat adiknya, berpura-pura tidak mengetahui hal yang sebenarnya.
“Jikalau begitu siapa yang mencoretnya, kalau bukan adikku?”
“Kuting Mat,” celetuk Getra yang tanpa sadar berbicara. Karena menyadari apa yang dilakukan Getra langsung menutup mulutnya.
“Siapa yang berbicara barusan ‘yah? Apakah adikku,” ucap Nanda lagi yang sebenarnya ingin tertawa. “Apakah adikku ini sudah bangun tidur?”
“Belumlah,” jawab Getra lagi tanpa sadar dari kepura-puraannya.
“Sudah, bangunlah Getra. Jangan bercanda lagi dengan Mamas!” Seru Nanda yang ingin mengakhiri lelucon yang satu ini.
Getra yang telah ketahuan oleh kakaknya, langsung terbangun dengan raut wajah cemberut.
“Mas akan kembali menemui teman bisnis Mas, tapi di mana Elvin sekarang? Sampai saat ini belum terlihat lubang hidungnya!” Kesal Nanda yang bertanya pada dirinya serta adiknya yang tidak mengetahui apa-apa.
“Udah Getla bilangin dali tadi juga, om Elin lagi telponan ama adeknya!” Getra memberitahukan pada kakaknya lagi di mana Elvin berada.
“Iyaa, tapi nggak mungkin dia teleponan sampai selama ini. Yang diajak bicara bisa-bisa mulutnya sampai berbusa karena lelah menjawab perkataan Elvin, hih!”
“Ah iya juga ya, ya udah ntal om Elin kalau ketini Mat malah aja!” Ucap Getra yang mengerti maksud kakaknya.
“iya, ntar Mas potong gaji dia. Seenak pantatnya saja, meninggalkan apa yang sudah Mas perintahkan!” Timpal Nanda yang sudah merasa kesal.
Nanda berulang kali menelepon sekretarismya yang satu itu untuk menjawab panggilannya. Namun, hanya suara operator yang justru berkata.
“Maaf pulsa anda tidak cukup, silahkan ...”
“Sh*t, Aku lupa membeli pulsa di ponsel murah ini!” Umpat Nanda pada handphone yang memiliki merek gambar apel tergigit di belakangnya.
Nanda yang geram sampai-sampai melupakan bahwa di ruangannya juga terdapat ponsel dan telepon yang bisa ia gunakan.
__ADS_1
...----------------...
Sementara itu, di tempat yang jauh dari perusahaan Nanda berada. Seorang pria dengan jas hitamnya tengah menunggu seseorang di bandara, siapa lagi kalau bukan Elvin.
Ternyata setelah selesai menelepon adiknya, Elvin langsung pergi meninggalkan kantor Nanda tanpa izin terlebih dahulu. Saat ini ia berada di bandara karena sang adik yang memintanya untuk dijemput olehnya.
Tentu saja Elvin terkejut karena kedatangan sang adik yang datang secara tiba-tiba, tanpa mengabarinya terlebih dahulu. Karena hal itulah ia terburu-buru, sampai-sampai ia sendiri melupakan tugasnya untuk mengasuh Getra.
“Kakak ... ?!” Panggil seorang gadis yang baru saja keluar dari pesawat yang digunakannnya.
Elvin berdiri dari kursinya dan segera menghampiri gadis yang merupakan adiknya. Adiknya baru saja lulus dari kuliah dan karena ingin mencari pengalaman sendiri, ia memutuskan untuk mencari pekerjaan di kota yang ditempati kakaknya.
Elvin dan adiknya saling berhadapan satu sama lain, tak lama keduanya berpelukan karena sudah lama tidak bertemu ‘yah bisa dikatakan keduanya tengah melepas rindu.
“How are you, adikku sayang?” Elvin tersenyum dan bertanya pada sang adik setelah melepaskan pelukan mereka.
“Yah begitulah, masih seperti biasanya. Bagaimana dengan keadaanmu sekarang?” Jawab dan tanya balik sang adik.
“Yah begitulah, masih sama denganmu.” Jawab Elvin yang mengendikkan bahunya.
“Aish, Kau kan tau sendiri Wan! kakak iparmu itu seperti apa?!” Kesal Elvin pada Wana, yang merupakan nama sang adik.
“Haha ... , yeah i know that. Lagipula siapa suruh Kakak menikahi wanita seperti itu, sudah namanya sama denganku! Hih, Aku jadi curiga kalau Kau mencintaiku.” Goda sang adik yang langsung mendapatkan jeweran dari kakaknya.
“Ish jangan menarik telingaku seperti ini!” Kesal Wana seraya mengusap telinganya yang kesakitan.
“Sudahlah, yang terlewat biarkan berlalu. Memang takdirnya Aku menikah dengan kakak iparmu.” Elvin menghembuskan napasnya dan kembali berkata, “ouh ya bagaimana dengan keadaan papa dan mamamu?”
“Alhamdulillah keduanya baik dan sehat, lalu bagaimana dengan papa mama Kita di rumah?” Wana tersenyum menjawab pertanyaan sang Kakak.
“Alhamdulillah keduanya juga baik dan sehat,” jawab Elvin yang lagi-lagi meniru jawaban sang adik.
“Aish, Kau ini copy paste sekali rupanya!”
“Aku sangat merindukan papa dan mama Kita,” lanjut sang adik yang terharu sampai ingin meneteskan air matanya karena semua hal yang telah dilaluinya.
__ADS_1
Elvin mengelus kepala sang adik, “sudahlah, Kau ini tidak perlu terbawa suasana. Lebih baik Kau siapkan mentalmu untuk bertemu mereka, ayo Kita pulang ke rumah keluarga Kita!”
Wana lagi-lagi tersenyum haru akan hal ini, sudah lama sekali ia tidak bertemu dengan keluarganya. Dengan langkah pasti keduanya pergi meninggalkan bandara dan melesat pergi menuju rumahnya.
...----------------...
Waktu yang telah menunjukkan pukul 16.00 WIB, membuat Dewi bersiap-siap untuk pulang ke rumahnya.
Hari ini pulang lebih awal karena semua pekerjaan telah usai di perusahaan Nanda. Bagi sebagian orang yang belum menyelesaikan pekerjaan mereka, bisa membawanya pulang ke rumah masing-masing.
Setelah semua penghuni kantor pergi, Dewi sudah bisa untuk kembali pulang bersama Nanda dan adiknya.
“Kakak tantik, ayo Kita pulang!” Seru Getra dari dalam mobil Nanda. Dewi tersenyum dan ingin menghampiri Getra yang duduk di kursi belakang.
Baru saja ia akan membuka pintu mobil tersebut, Nanda menghentikan gerakannya dengan memegang tangannya. “Kamu duduk di depan, tadi pagi kan sudah di belakang!” Ucap Nanda yang meminta Dewi untuk duduk di sampingnya.
“Loh, kok di depan? Getla maunya Kakak Dewi duduk tama Getla kalau Kak Dewi di depan, Getla juga duduk di depan!” Getra menatap tajam sang Kakak yang dibalas sama oleh Nanda.
“Kamu kalau mau duduk di depan siapa yang nyupir? Enak duduk di belakang, bisa main hp Mamas.” Tanya Nanda yang juga mengiming adiknya dengan handphone nya.
“Hp Mamat kan udah lutak kepelindet obil ton ton, hp dari mana?” Tanya Getra yang langsung dijawab oleh Nanda.
“Heloo, ... hp Mamas Kau pikir cuma satu? Mau beli secounter juga sanggup Mas,” ucap Nanda yang menyombongkan dirinya.
“Iya tapi ngutang,” balas Dewi yang akhirnya berbicara setelah diam menyaksikan perseturuan antara adik dan kakak.
“Dew!” Ketus Nanda yang tidak suka akan perkataan Dewi yang mengatainya.
“Au ah gelap! ... ” Dewi memasuki mobil Nanda dan duduk di kursi belakang bersama Getra yang girang.
Nanda yang melihatnya hanya melengos lalu duduk di depan dan menyupir mobilnya. Perjalanan hanya diiringi oleh ocehan dari Getra, sementara Nanda hanya fokus menatap jalan seraya menatap sinis adiknya dari kaca spion.
Mungkinkah ini adalah cemburu yang dirasakan oleh Nanda pada sang adik? Apakah memang benar begitu adanya, yang pasti simak terus, ogheee! ...
To be continued ... .
__ADS_1