Marriage With Neighbour

Marriage With Neighbour
Bahasa Arab : Kemarau?


__ADS_3

Dewi benar-benar merasa malu bercampur kekesalan di hatinya. Ia memukul dada bidang Nanda dan juga menjambak atau menarik rambut Nanda kencang.


“Eh Dewi jangan mukul sama jambak rambut Mamas! Ntar Kita ja—”


“Eeeeh Mas pelan-pe—”


Bughhh ...


Nanda dan Dewi jatuh bersamaan saat jalan yang dilewati sedikit licin karena terkena embun malam. “Aduh, ... bokongku!” Rintih Dewi yang kesakitan seraya mengelus-elus bokongnya yang kesakitan dengan posisi terduduk.


“Aaa kakiku mati rasa, kenapa nggak bisa gerak!” Panik Dewi yang tidak bisa menggerakkan kakinya.


“Dew! ... Kamu nggak usah rapura bodoh, Kakimu di sini!” Kesal Nanda yang berada di bawah Dewi yang posisi kakinya ditekuk ke belakang sehingga hampir mengenai Nanda. Oleh karena itulah, saat Nanda berbicara, mulutnya ia jauhkan dari telapak kaki Dewi.


Dewi yang menyadari hal itu langsung menoleh kebelakangnya, tidak ada siapa-siapa ...


“Mas Nanda Kamu di mana?! Kenapa ada suaramu tapi wujudnya nggak ada, jangan bilang Kamu udah mati ya Mas! ...”


Dewi masih melihat ke sekelilingnya untuk mencari di mana Nanda berada. Cahaya lampu yang redup membuat suasana dan pengheliatan Dewi agak kabur.


“Nggak usah rapura buta Dew! ... Awas Kamu, jangan enak-enakan di atas Aku! ... ,” ucap Nanda yang meminta Dewi untuk awas karena kini tubuhnya berada di bawah Dewi.


Dewi yang menyadari bahwa Nanda berada di bawahnya langsung terkejut, selain hal itu ia juga menyadari bahwa kakinya dengan posisi menekuk ke belakang sehingga hampir mengenai wajah Nanda. Namun karena Nanda mendongakkan kepalanya ke atas kaki lebih tepatnya sepatu Dewi tidak mengenainya.


Dewi langsung terbangun dari tubuh Nanda, dan Nanda menyusulnya bangun seraya membersihkan jas dan celananya yang kotor. Dewi yang melihat Nanda juga ikut membantunya membersihkan jas Nanda dengan menepuk-nepuknya.


“Itu Mas Nanda kenapa bisa tidur-tiduran di bawah Aku?” Tanya Dewi yang menyebutkan Nanda tidur-tiduran.


Nanda menarik napasnya perlahan untuk menahan emosinya, dan saat menjawab pertanyaan Dewi sebelumnya ia tersenyum. “Dewiiii, ... Mas tadi ngantuk. Makanya Mas tidur di tanah,” jawab Nanda.


“Oooo ngantuk, ... tapi kenapa nggak tidur di kasur persis orgil aja hahaha ...” Dewi tertawa begitu mendengar jawaban Nanda.


Nanda yang terlanjur kesal langsung berkata dengan geram, “gimana nggak baring di tanah, kalau Kita tadi jatuh Dew! Ah sebel mau ngomong sama Kamu, dikasih tau bukan makin pinter justru nambah o’on!”


Dewi yang mengingatnya langsung ber‘o kembali, sementara Nanda meninggalkannya pergi. Dewi yang merasa ditinggal oleh Nanda langsung mengejarnya cepat.


Di perjalanan menuju restoran, seraya berjalan kaki Dewi terus mengucapkan banyak hal dan hanya disambut deheman oleh Nanda.


Dewi yang tidak kenal lelah mengajak Nanda berbicara, kini mulai mengajukan pertanyaan pada Nanda. “Apa yang punya kaki tapi nggak bisa jalan?”


Nanda yang mendengar pertanyaan Dewi langsung menjawab, “orang lumpuh ... .”


“Salah, coba pikir lagi.” Ucap Dewi yang mengalahkan jawaban Nanda.

__ADS_1


“Orang mati kali, kan nggak bisa jalan! Mungkin,” jawab Nanda yang meragukan ucapannya sendiri.


“Salah, udah ya. Jadi jawaban yang bener itu—”


“Kursi sama meja, ...” ucap Nanda datar dan yang pasti memotong ucapan Dewi. Dewi yang terkejut bahwa Nanda menjawabnya dengan benar.


“Kok Mas Nanda tau sih, padahal itu pertanyaannya susah lo.” Kesal Dewi yang mengomel di sepanjang jalan keduanya.


“Kalau ngasih pertanyaan itu yang ilmiah, jangan yang nggak masuk akal! Ck, ...”


Dewi yang tidak menggubris perkataan Nanda lebih memilih untuk memikirkan pertanyaan lain. “Emh, apa bahasa Arabnya kemarau?”


“Jafaf? ...” Jawab Nanda yang menggunakan bahasa arab.


“Salah, ...” Dewi cengar cengir saat Nanda mulai kebingungan bahkan langkahnya sesekali berhenti.


“Durre? ... ,” jawab Nanda kini yang beralih pada bahasa Jerman.


“Salah, coba pikirkan lagi. Haha, ...” balas Dewi lagi yang membuat Nanda kesal. Namun karena tidak mau kalah ia tetap memikirkan jawabannya.


“Siccita?” Jawab Nanda lagi yang kali ini menggunakan bahasa Italia. Namun lagi-lagi ia justru ditertawakan oleh Dewi karena jawabannya salah.


“Au ah Dew, pikir sendiri! ...” Kesal Nanda yang akhirnya menyerah dengan jawaban ilmiahnya.


“Wah berati nyerah nih? Mau tau jawabannya nggak?” Dewi bertanya pada Nanda yang dibalas dengan deheman.


“Wah berarti nggak mau tau jawabannya, nggak ngomong sih, ...” goda Dewi yang bermaksud untuk membuat Nanda kesal.


“Heh! Iya Aku mau tau jawabannya apa?! ...” Ucap Nanda dibuat kesal oleh Dewi.


“Ngomongnya yang lembut dan penuh dengan kehalusan dong, ...” Dewi tersenyum senang karena membuat Nanda kesal padanya.


“Kalau nggak niat nggak usah kasih tau!” Ketus Nanda yang lagi-lagi meninggalkan Dewi.


“Haish, ninggalin lagi! ...” Gerutu Dewi, “Mass ... tungguin Dewi dong!”


Dewi mengejar langkah Nanda yang terlalu cepat menurutnya. Bagaimana tidak jikalau ia berjalan dengan sangat pelan sehingga membuat orang lain jengah menunggunya.


“Ih kok ninggalin Dewi? Dewi cape tau nggak! Luka di kaki belum sembuh masih ditinggal, tadi di gendong sekarang nggak!” Gerutu Dewi yang telah berjalan berdampingan dengan Nanda.


Nanda meliriknya sinis, “luka segitu aja bawel! ... Minta gendong tapi lasaknya nggak ketolongan. Siapa juga yang mau gendong Kamu yang gendut selain Aku?!”


“Ada, waktu kecil Bunda sama Ayah yang suka gendong-gendong Aku. Haha, ...” jawab Dewi asal dan hanya disambut gelengan kepala.

__ADS_1


“Kembali ke teka teki Kita, ...” ucap Dewi yang kembali membicarakan tentang teka tekinya. “Bahasa Arab dari kemarau a—”


“Kasih jawaban aja, males Mas kalau disuruh jawab!” Seru Nanda pada Dewi yang tadi ucapannya dipotong.


“Bahasa Arabnya kemarau adalaah ...” ucap Dewi dan kembali melanjutkan perkataannya, “alhujannu lamma taq turunn. Hahaha ...”


Sementara Dewi yang tertawa keras, Nanda hanya memasang wajah juteknya karena tidak menyadari jawaban Dewi yang tak masuk akal.


“Ragazza matta!” Ucap Nanda pelan dengan menggunakan bahasa Italia, namun masih didengar oleh Dewi.


“Apa Mas? Rasanya maca eh maksudnya ragaka makka apaan?” Tanya Dewi yang tidak terlalu mendengar ucapan Nanda.


“Yang bener—ragazza matta!” Jelas Nanda yang membenarkan perkataan Dewi.


“Nah iya, apa artinya itu? Awas aja kalau nggak bener yah!” Selidik Dewi menyipitkan matanya.


“Artinya—Kamu cantik,” jawab Nanda yang berbohong pada Dewi. Sebenarnya ia mengatakan Dewi adalah gadis gila, namun karena dalam bahasa Italia Dewi menjadi tidak mengerti.


“Ah Aku emang cantik, bahkan Aku seperti bidadari surga!” Balas Dewi yang percaya diri dan narsis.


“Iya, maka dari itu Aku bilang Kamu ragazza matta. Aku jujurkan?”


“Iya, Mas Nanda emang the best! ...” Timpal Dewi yang setuju akan perkataan Nanda, bagaimana tidak jikalau Nanda berbohong padanya ... 😂😂😂


Author : Aish sih Dewi mah ada-ada aja, memberi pertanyaan yang tidak ilmiah ‘yah! Awok, ... eh iya buat yang pada nanya kok Author bisa bahasa Arab, Italia ama Jerman—itu Author modal translate yak! ... Kalau real tanpa translate, Author nggak akan bisa. Jangankan bahasa Italia, bahasa inggris juga Author cuma tau iyes ama eno doang ... 🌚🌚🌚🙏🙏🙏🙏


To be continued ...


...----------------...


Holaaa jumpa lagi sama Author TinA, terimakasih karena tetap setia menunggu Mba Dewi update ‘yah! ... 🙏🙏😚😍😘


Minta like, komen, rate, gift, vote, dan dukungan lainnya! ... 🙏🙏🙏


Novel ini akan update kurang lebih pukul 22.00 malam! Jadi tunggu dan tetap setia ‘yah! Jangan pernah unfavoritkan okeh?! ... 😘


Novel ini akan update selang seling dengan novel Author yang satunya, dikarenakan otak Author yang ngelag jadi hanya bisa udate 1 bab satu hari pull! ... 🤧🤧🤧🙏✌


Agar tidak ketinggalan informasi, novel ini mesti dimasukkan ke list menjadi salah satu novel favorit kalian ‘yah! ...


💖... Thanks All! ... 💖


See you later guys ... .

__ADS_1


Salam sayang


Authoreo~😚😚😘😘😘.


__ADS_2