
Orang-orang mulai jengah dan langsung membubarkan perkumpulan mereka sejak tadi, dan apakah ada yang bertanya di mana juru kamera? ... Ternyata ia justru tertawa ngakak sekaligus masih bertahan memegang kamera di handphone-nya untuk merekam jelas kejadian aneh ini.
Ia mungkin akan mengupload-nya untuk menaikkan popularitas konten yang dibuatnya. Benar-benar ajib bin ajaib.
Dewi tak kalah sama, ia justru tertawa ngakak seraya duduk di trotoar tanpa peduli keadaan dan kebersihan. Nanda dan Guna masih saja waspada, keduanya justru berpelukan layaknya pasangan yang tengah ketakutan dan saling melindungi.
Dewi benar tak menyangka bahwa Nanda juga takut pada kecoa kecil yang tadi ditangkapnya. Hahaha, ... .
“Hahaha, ... ini video dipiralin bisa dapat like banyak dah gua! Wes makasih yoo, aku tak lungo disek,” ucap orang yang tadi merekam perkelahian Nanda dan Guna.
Dewi menoleh dan melambaikan tangannya, “ogheee, besok-besok kalau ada yang beginian jangan lupa bawa makanan ya Mba, jadi saya bisa sante-sante sambil duduk-duduk sini.”
“Emoh,” jawab wanita tadi dan langsung pergi seraya berulang-ulang menonton rekaman perkelahian lucu tadi.
__ADS_1
Dewi hanya berekspresi cemberut saat mendengar respons dari orang yang baru saja pergi itu. Namun hal itu tak berselang lama karena Dewi kembali berfokus pada Nanda dan Guna, “woy, udah ngelesbinya. Saya mau pulang tau!”
Ucapan Dewi membuat Nanda dan juga Guna menjadi tersentak kaget. Keduanya refleks melepaskan pelukan mereka yang begitu erat, dengan gaya saling merasa jijik keduanya mengibas jas mereka yang tadi bersentuhan.
“Cih, bisa-bisanya kau mengenal pria benc*ng sepertinya.” Guna meremehkan Nanda di depan Dewi.
“Dia calon suamiku, tidak perlu sok menjadi yang terbaik sementara kau sendiri tidak baik.” Dengan telak Dewi menjawab ejekan Guna.
“Ke—”
“Kata siapa?” Nanda memotong saat Dewi hendak bicara, “kalau sudah berjodoh pasti akan bersama. Aku itu mas N.A milik Dewi, aku kekasihnya hingga kini–selamanya.
Mendengar ucapan Nanda, Dewi dan Guna dibuat terkejut dan tak percaya. Apa maksudnya semua ini, menurut Dewi Nanda sudah berlebihan. Sangat tidak masuk akal bukan? Untuk apa dia berkata seperti ini, toh Nanda sendiri tidak tau siapa itu mas N.A bahkan ia sendiri saja tidak pernah tau.
__ADS_1
“Bohong, kau itu penipu kelas teri juga rupanya.” balas Guna tersenyum sinis.
“Ck, terserahmu. Tidak penting membicarakan ini semua pada pria sepertimu, mantan kekasih gelap.” Nanda tak kalah jauh memojokkan Guna.
Dewi yang tidak suka Nanda mengaku sebagai kekasihnya, langsung berkata “mas Nanda ga perlu ampe gini juga ah Mas! Keterlaluan tau, gausah ngomong bohong. Bohong dosa, masuk Neraka–mau?”
Nanda menggeleng kepala, “terserah deh. Intinya saya kekasih Dewi. No debat! Dah, saya cape mau balek. Yuk, kamu mau pulang ga? Atau mau saya tinggal sama bujangan tua ini.”
Guna yang kesal dikatakan bujangan tua, mengepalkan tangannya geram. Ia sudah lelah untuk kembali berkelahi dengan Nanda yang diakuinya handal dalam bertarung. Playboy sepertinya tidak mau mengorbankan wajah sok tampannya hanya untuk seorang wanita yang sebentar lagi akan menikah.
Nanda dan Dewi masuk ke dalam mobil dan segera melesat pergi meninggalkan Guna yang juga kembali ke dalam restoran tadi. Di perjalanan Dewi menatap intens Nanda, bukan karena khawatir dengan luka lebam bekas bertarung melainkan akan ucapan Nanda pada Guna tadi.
“Kenapa?”
__ADS_1