
“Mas, gimana?” Tanya Dewi lagi, “cocok nggak? Jelek ya, atau Dewi ganti lagi aja deh!”
“Eeeh, jangan! ...”
Nanda menghentikan Dewi yang membalikkan tubuhnya untuk kembali ke ruang ganti. Dewi yang mendapat panggilan dari Nanda, langsung menghentikan niatnya dan kembali ke posisi semula.
“Kenapa Mas?”
“Gaunnya yang itu.” Nanda berkata pada Dewi seraya menunjuk gaun yang dikenakan oleh Dewi, “cantik.”
“Eh,” Dewi tersenyum malu saat dipuji oleh tunangannya. “Makasih ya, Aku tau kalau Aku cantik.”
“Bukan Kamu, tapi gaunnya!” Nanda segera meluruskan ucapannya yang dikira memuji kecantikan Dewi, ya walaupun memang benar pujian itu untuk Dewi.
Dewi cemberut dan langsung membalikkan tubuhnya untuk segera berganti menjadi pakaian semulanya.
...----------------...
“Ayo Kita pulang,” ajak Nanda begitu Dewi keluar dari ruang ganti dengan pakaian yang dikenakannya dari rumah.
“Lah, Mas Nanda nggak pilih jas atau apa buat ntar akad?” Dewi bertanya heran saat Nanda mengajaknya pulang.
“Pasangan jas di setiap gaun pengantin pasti ada mba, ini gaunnya sudah Saya paketkan ’yah!” Pemilik toko tersebut menjelaskan pada Dewi, “untuk gaun yang lain akan menyusul beberapa hari lagi. Jadi mohon bersabar, terimakasih atas kerjasamanya.”
Dewi dan Nanda berterimakasih pada pemilik toko gaun pengantin tersebut, tak lama keduanya keluar dari tempat ini menuju mobil mereka.
“Loh Mas, kenapa justru ke mobil? Kan Mami sama yang laen masih pada di resto yang di sono,” Dewi heran pada Nanda yang justru membuka pintu mobil nya.
“Mami, bunda sama kak Bagas sudah pulang duluan. Kita ditinggal, ...” jawab Nanda yang membuat Dewi kesal.
“Ih kok ditinggal sih!”
“Kenapa? Lagian Kita bakal ke rumah juga,” ujar Nanda sekaligus bertanya alasan kekesalan Dewi.
“Mereka tega, masa tadi makan nggak ngajak-ngajak maen tetinggal. Sekarang ditinggal pulang!” Dewi menjawab kesal, “padahal Aku mau makan makanan korea juga.”
“Modus,” Nanda tersenyum samar dan menutup pintu mobil nya yang tadi dibukanya, kemudian dirinya memakai kacamata hitam yang diambilnya dari kursi belakang.
“Ayo!” Nanda mengajak Dewi untuk mengikutinya menuju restoran korea di mana kak Bagas, Mami El dan Bunda Fania makan.
“Ke mana?” tanya Dewi yang tidak mengetahui ke mana Nanda membawanya.
Nanda menggunakan kedua matanya untuk mengisyaratkan atau menunjukkan ke arah depan di mana restoran korea tersebut berada.
__ADS_1
Dewi yang mengetahuinya, langsung bersorak bahagia karena ia akan makan makanan korea selatan itu.
...----------------...
“Permisi! ... Apakah boleh Saya duduk di sini juga?” Tanya seorang pria pada Dewi dan Nanda yang tengah memakan makanan mereka.
Dewi yang memang tidak menghiraukan pertanyaan pria tersebut, lebih memilih melahap hidangan di depan netranya.
“Boleh, silahkan saja.” Balas Nanda yang mengizinkan pria tersebut untuk duduk di hadapannya.
Pria tersebut tidak memerhatikan wajah Dewi yang tengah makan, ia justru mengotak atik laptop yang dibawanya. Sepertinya ia tengah mengerjakan suatu pekerjaan yang amat penting, sampai-sampai makanan yang dipesannya hanya berfungsi sebagai pajangan.
“Mas, ambilkan makanan yang itu!” Dewi meminta seafood yang berada di dekat Nanda, “ambillah Mas ... .”
Deg
Jemari pria itu langsung berhenti bergerak begitu mendengar suara manja yang berasal dari mulut Dewi pada Nanda.
“Dewi, kaukah itu?” Pria tersebut bertanya dalam hatinya, ia bahkan masih belum berani menatap wajah Dewi.
“Ini?” Tanya Nanda yang memastikan keinginan Dewi.
“Iyaaa ... ,” jawab Dewi dengan nada panjang.
“Mas itu makananannya kenapa tidak dimakan? Mubazir loh,” Dewi berkata pada pria tersebut dengan kembali melanjutkan ucapannya pada Nanda, “bener kan Mas–mubazir?”
“Kamu nggak berubah ya Dew!”
Tiba-tiba pria tersebut menyebut nama Dewi yang langsung mendapatkan reaksi keterkejutan.
“Mas kenapa bisa tau namaku?” Dewi bertanya heran.
“Kamu tidak mengingatku dew? Ck, ...” ujar pria tersebut seraya melepaskan kacamata di kedua matanya.
Dewi menjatuhkan sumpitnya ke lantai, sakit! Kata sumpitnya begitu dijatuhkan. Ups ... 🙊🙈🏃♀🏃♀
Dewi meremas taplak meja menggunakan kedua tangannya. Nanda yang melihat interaksi keduanya, masih terdiam untuk tetap menyimak obrolan antara Dewi dan pria yang tak dikenalnya.
“Mas Guna?” Dewi menatap tajam ke arah orang di hadapannya, “waah. Tidak sangka kita ketemu di sini ‘yah! Setelah berabad-abad akhirnya Kamu muncul juga.”
“Ck, ... terserah.”
“Ayo Mas kita pulang! Males dah kalau ketemu setan siang-siang bolong gini.” Dewi langsung berdiri dan mengajak Nanda untuk pulang.
__ADS_1
“Hah?” Nanda mengerutkan alisnya karena bingung maksud ucapan Dewi.
“Wah, lu ngomong gue setan?!” Guna melotot pada Dewi yang langsung keluar dari restoran tersebut tanpa menunggu Nanda bersamanya.
Guna yang tak terima disebut setan, langsung berjalan mengikuti Dewi. Sementara itu, Nanda kembali dibuat bingung bercampur rasa kesal karena ditinggal begitu saja oleh Dewi.
“What? Aku ditinggal di sini, seorang CEO dari perusahaan terkenal dan terbesar ditinggalkan oleh wanitanya?!” Nanda geram seraya bermonolog pada dirinya sendiri, “apa yang sebenarnya terjadi. Yang pasti Aku harus membayar makanan ini dulu, barulah menyusul ragazza matta itu!”
“Mau apa hah?” Dewi murka terhadap pria di depannya yang tak lain adalah Gunadarma Ardian, mantan pacarnya itu dan lebih tepatnya selingkuhannya.
“Lu nggak berubah banget ’yah Dew, sama kek dulu. Hahaha ...”
Guna tertawa saat melihat kekesalan dan kemarahan Dewi padanya, bahkan saat ini semua orang tengah melihat perdebatan Dewi dan Guna.
“Nggak usah sotoy deh! Gue tau diriku sendiri, mending sono lu. Kaga usah ngurus hidup orang!” Balas Dewi dengan nada nyolot.
“Wow, dasar gadis. Pantaslah dulu kau menyelingkuhi mas N.A mu itu, wanita sepertimu tidak cocok untuk diajak bersama.” Hardik Guna, “dasar playgirl!”
“Kaga usah ngurus hidup orang! Tersera gue mau apa, lu kaga usah ngikut-ngkut, ngerti!” Sentak Dewi yang mengingatkan pada Guna untuk tidak mempedulikan kehidupan pribadinya.
“Haaaa benarkah? Aku ini kan mantanmu, sudah pasti Aku akan mengurusi hidupmu. Kau dan Aku pernah sehati bukan? Mungkin ke depannya Kita akan kembali bersama lagi,” ucap Guna tersenyum pada Dewi.
Dewi yang mendengar ucapan dari Guna, langsung meludah di trotoar. “Cih, orang sepertimu tidak pantas denganku! Orang sepertimu tidak pantas untuk memiliki cinta, orang sepertimu hanya bisa berkhianat!”
“Lalu apa bedanya denganmu?”
To be continued ... .
...----------------...
Holaaa jumpa lagi sama Author TinA, terimakasih karena tetap setia menunggu Mba Dewi update ‘yah! ... 🙏🙏😚😍😘
Minta like, komen, rate, gift, vote, dan dukungan lainnya! ... 🙏🙏🙏
Novel ini akan update kurang lebih pukul 22.00 malam! Jadi tunggu dan tetap setia ‘yah! Jangan pernah unfavoritkan okeh?! ... 😘
Novel ini akan update selang seling dengan novel Author yang satunya, dikarenakan otak Author yang ngelag jadi hanya bisa update 1 bab satu hari pull! ... 🤧🤧🤧🙏✌
Agar tidak ketinggalan informasi, novel ini mesti dimasukkan ke list menjadi salah satu novel favorit kalian ‘yah! ...
💖... Thanks All! ... 💖
See you later guys ... .
__ADS_1
Salam sayang
Authoreo~😚😚😘😘😘.