Marriage With Neighbour

Marriage With Neighbour
Kembali bekerja!


__ADS_3

Keesokan harinya Dewi sudah bisa beraktivitas seperti biasanya, Ia telah bersiap untuk pergi ke perusahaan tunangannya.


Dewi duduk di meja makan bersama yang lainnya, Bunda telah menyiapkan hidangan yang lezat untuk disantap keluarganya.


“Udah sehat Kamu Dew?” Tanya Bunda sembari mengisi nasi di piring untuk disajikan kepada Ayah Farhan.


“Udah kok Bunda, udah segar bugar seperti sedia kala.” Jawab Dewi, “ini juga Aku mau berangkat ke kantor.”


“Oh iya kalau begitu, ntar kalau masih pusing mending pulang aja!” Pesan Bunda mengingatkan.


“Huum,” sahut Dewi seraya mengunyah makanannya. “Oh iya, Dewi hari ini mau bawa motor.”


“Emangnya bisa? Kamu nggak nyadar Kamu pakai rok sekecil itu,” ucap Bunda yang kini duduk di kursi.


“Nggak papa sih Bun, sekali-sekali menggoda kaum adam,” timpal Dewi yamg kemudian mendapatkan lemparan timun dari Kakaknya. “Auwh, sakit ih!”


Dewi melotot ke arah Kakaknya seraya mengusap kepalanya yang sedikit sakit. Bagas juga tak kalah melotot ke arah adiknya, “Kamu itu udah besar nggak ada niat buat tutup aurat. Malu loh Dek, Kamu itu islam! Seorang muslimah loh,” nasihat yang terlontar dari Kak Bagas.


“Heh, emangnya Aku Wana yang muslimah idaman waktu Kamu SMA dulu! Gaya aja hijab tapi akhlaknya? Cih,” ceplos Dewi yang membuat Bagas seketika terdiam dan meletakkan sendoknya.


Bunda dan Ayah melotot atau menatap tajam Dewi yang telah membuat Bagas kembali bersedih karena mengingat masa lalunya kembali.


“Dewi Wulandari, stop?!” Panggil Bunda yang telah menggunakan nama panjang atau nama lengkap Dewi.


“Maaf Bun, Dewi keceplosan.” Dewi menundukkan kepalanya karena menyadari kesalahan yang telah dilakukannya.


“Semestinya Kamu minta maaf sama Kakak Kamu bukan sama Bunda, lagipun apa yang diomongin Kakak Kamu bener Dew!” Ucap Ayah Farhan menambahkan, “Kamu nggak kasihan sama Ayah, dosa atau perbuatan Kamu masih Ayah yang nanggung loh Dew!”


“Iya deh, maaf ‘yah Kak! Dewi nggak maksud begitu.” Ucap Dewi meminta maaf pada Bagas yang hanya tersenyum.


“Tapi Yah … ,” elak Dewi. “Dewi masih belum siap pakai hijab, Dewi masih belum ada keinginan.”


“Hah, itu terserah Kamu Dew! Ayah bisa apa kalau Kamu maunya begitu,” pasrah Ayah Farhan dan kembali memakan makanannya.


“Assalamualaikum,” salam dari arah pintu yang ternyata adalah Mas Nanda. “Pagi Bunda, Ayah, Kak!”


“Waalaikumsalam,” jawab semua.


Dewi bertanya dalam hatinya, “sejak kapan Mas Nanda manggil Mereka pake Bunda, Ayah sama Kakak?”


“Eh Nanda! Pagi juga Nak, tumben pagi-pagi sudah ke sini.” Jawab Bunda yang terkejut dengan kedatangan Nanda.


“Duduk dulu Nan, sini makan bareng Kita!” Titah Ayah Farhan yang dilakukan Nanda.

__ADS_1


“Iya, soalnya tadi Mami nyuruh buat jemput Dewi biar berangkat kerja bareng, gitu Bunda.” Terang Nanda.


“Lah, Aku mau bawa motor! Mas Nanda nggak perlu repot Aku bisa sendiri,” tolak Dewi yang tidak ingin pergi bersama Nanda.


Nanda yang mendengar ucapan Dewi reflek melihat Dewi dari atas sampai bawah. Ia berkata, “Kamu mau berangkat naik motor pakai baju kerja itu? Naik motor? Mending nggak usah kerja kalau begitu!”


“Heh, mentang-mentang CEO ngatur aja!” Gerutu Dewi yang tidak didengar semuanya. “Iya Aku berangkat bareng Mas Nanda, puas!”


“Ya sudah ayo Kita berangkat! Sudah terlambat lebih dari 3 menit,” ajak Nanda seraya melihat jam tangannya.


“Iya, Bunda ... Dewi berangkat ‘yah!” Pamit Dewi.


“Nanda pamit ‘yah Bunda, Ayah, Kak!” Ucap Nanda yang juga ikut berpamitan.


Sebelum pergi, Dewi sekilas melihat Kakaknya yang pergi ke lantai atas seraya menghapus sedikit air matanya.


Dewi menyesal karena telah membuat Kakaknya kembali mengingat wanita itu, “hah maafin Dewi Kak, abisnya ngeselin sih.” Batin Dewi seraya berjalan keluar rumah bersama Nanda.


...----------------...


Dewi dan Nanda hampir tiba di kantornya, namun belum sampai di tujuan Dewi memaksa Nanda untuk menghentikan mobilnya.


“Stop! Berhenti Mas,” seru Dewi yang langsung membuat Nanda menghentikan laju kendaraannya.


“Nggak bukan begitu, Aku turun di sini aja. Ntar karyawan yang lain lihat Kita berdua,” jawab Dewi yang kembali mendapatkan tatapan tanya dari Nanda.


“Heh, ntar kalau mereka pada lihat pasti akan menimbulkan fitnah. Kek nggak tau pemikiran karyawanmu!” Terang Dewi dengan nada ketus.


“Loh, buat apa mikirin mereka! Lagipula Kamu calon istriku,” ujar Nanda yang tidak setuju dengan perkataan Dewi.


“Heh, pokoknya Aku turun di sini! Aku belum siap terbongkar bahwasanya Aku itu istri CEO,” kekeh Dewi yang segera mendapat tarikkan di rambutnya. “Aduh sakit tau?! Seneng banget narik rambut orang!”


“Ouh sakit ‘yah? maaf Aku nggak sengaja,” ucap Nanda tersenyum tanpa dosa. Dewi yang kesal langsung memukul kepala Nanda dengan tas kerjanya.


“Aduh sakit Dew! Ampun agh, Aku nariknya seberapa dibalas sama Kamu berjuta-juta.” Ringis Nanda yang akhirnya menyerah untuk berkelahi bersama Dewi.


“Rasakan! Tau deh, Aku mau ke kantor! Masa istri CEO berangkatnya siang,” ucap Dewi yang melengang pergi meninggalkan Nanda yang tersenyum.


Tak lama Nanda berteriak ke arah Dewi, “nikah juga belum sudah ngayal jadi istri!”


“Ah sebodo, yang penting ujungnya kelakon juga! Jadi istri CEO yang berduit,” gerutu Dewi yang terus mengomel sepanjang jalan menuju kantor.


Sesampainya di ruangan divisi, ternyata Sasa dan Lea telah berada di sana. Dewi menyapa keduanya dengan sopan dan senyuman termanisnya.

__ADS_1


“Hai! Who are you?” Sapa Dewi asal yang menggunakan bahasa inggris pada kedua rekannya. Sasa dan Lea kembali dibuat tepuk jidat yang disebabkan kebodohan Dewi.


“Yang benar itu, how are you Dew! Sok bicara pake bahasa inggris tapi salah dan tak tau maknanya. Haish heran Aku sama Kamu,” ujar Sasa yang memperbaiki perkataan Dewi sembari menggelengkan kepalanya.


“Cuma beda dikit aja loh, lagipula ya Kamu jangan heran Kalau Aku salah ngomong bahasa inggris! Heranlah kalau Aku pinter bahasa Amerika atau Italia. Hahaha … ,” tutur Dewi tertawa kencang dengan diikuti oleh tawa Lea.


“Bener itu Sa—apa yang dibilang sama Dewi! Kamu mesti heran kalau orang kek Dewi bisa bahasa Amerika.” Sahut Lea yang kembali berkata, “soalnya mustahil orang seaneh Dewi bisa bahasa Amerika apalagi Italia hahaha… .”


Sasa pun mengerti dan ikut tertawa seraya kembali mengerjakan pekerjaannya. “Ouh iya Dew! Kemarin kenapa nggak berangkat kerja?”


“Iya tuh, kenapa emangnya?” Tanya Lea juga yang ingin mengetahui alasan Dewi tidak berangkat ke kantor kemarin.


“Kemaren Aku sakit, makanya nggak berangkat. Begitu,” jawab Dewi dan gantian bertanya, “Sikil sapi kemana? Pekerjaannya masih belum selesai ‘kah?”


“Hah? Sikil sapi?” tanya Lea dan Sasa kompak.


“Aih Kalian pelupa banget sih, mba Silpi loh!” Ketus Dewi menjelaskan pada keduanya.


“Ouh, belum—kan masih beberapa hari lagi kalau nggak salah.” Balas Lea yang mendapatkan anggukan Dewi.


Mereka memulai pekerjaannya yang sempat tertunda dengan percakapan yang tidak terlalu penting. Nanda yang berada di ruangan CEO–nya, hampir dibuat tertawa karena Dewi yang berani mengubah atau mengejek nama seseorang.


“Bwahahaha … , dasar wanita aneh!” Ucap Nanda yang terus tertawa sampai memekakkan telinga Elvin, sekretarisnya.


“Bos sudah gila ternyata, lebih baik Aku kembali ke ruanganku sahaja daripada harus meladeni dan mendengar tawanya itu!” Batin Elvin kesal karena tawa Nanda dan memilih untuk segera meninggalkan Bosnya.


To be continued... .


...----------------...


Halooo! Jumpa lagi sama Authoreo yang genit tapi cantik ini hahahaha… . Bagaimana puasanya? Lancarkan! Pastilah ‘yah, mesti itu hehehe ... .


Seraya menunggu novel Dewi resmi kontrak, Author lanjut nulis aja ‘yah! Semoga ke depannya akan lebih bagus lagi. Aamiin!


Minta dukungan dari Kalian melalui like, komentar, gift, vote, rate dan masih banyak lagi! Sampai jumpa ‘yah!


Semangat puasanyaaaaa 🤭🤭🤭💪💪💪💪


Salam sayang


Author yang cantik~😘😘😘.


Kembalibekerjakembalibekerjakembalibekerja.

__ADS_1


__ADS_2