Marriage With Neighbour

Marriage With Neighbour
Seperti Dejavu!


__ADS_3

“Ini terakhir kalinya Kamu bertingkah jelek Nak! Mami nggak mau Kamu jadi anak nakal. Denger Getra?!” Ucap Mami El tegas pada Getra.


“Iya Mi, ... ” jawab Getra lirih.


“Oh ya, Kamu bilang mau foto sama cewek cantik, pake apa memangnya?” Tanya Mami El pada anaknya, Getra.


“Ya pake hp dong Mi! ... emangnya ada olang kalo poto pake lemali?” Jawab Getra asal seperti biasanya, Ia sudah tak lagi takut mengingat kejadian tadi yang hampir menewaskannya.


“Maksud Mami mau foto pakai hp siapa? Bukannya foto pakai lemari! Kalau itu mah cuma orang gila yang ngelakuin, Kamu gimana sih!” Terang Mami El yang mulai kesal terhadap putra bungsunya.


“Oooo, ... ” Getra ber‘O. “Getla pake hp punya ma–mat Nanda, kalau pake hp Getla sendili nggak bita.”


“Haish ini anak! Gimana nggak bisa buat foto kalau hp punya Dia hp maenan?! ... Bahkan buat makanan ikan nggak akan dimakan!” Gerutu Mami El terhadap Getra yang memang masih polos bahkan sampai membuatnya geleng kepala.


“Terus hp mamas Kamu taruh mana? Udah dikembalikan?” Tanya Mami El lagi pada sang anak.


Getra yang mendengar pertanyaan Maminya langsung terdiam, seperti memikirkan sesuatu dalam benaknya ... .


Setelah berpikir selama tiga menitan, Getra mulai berkata secara tiba-tiba dan mengejutkan Mami El.


“Attaga Mi! ... ” Getra beristigfar sambil menepuk dahinya menggunakan tangan kecilnya.


“Ya ampun Getra, ... jangan ngagetin Mami dong! Memangnya kenapa?!” Tanya Mami El yang sudah kesal jika berbicara dengan anak ini.


“Hp nya ma–mat Getla tinggalin di jalan, kayaknya hp ma–mat udah kepelindet obil ton-ton! Gimana nih Mi, ... nanti Getla dimalah ma-mat, huaaa ... ”


Tangisan Getra kembali menggema di restoran milik keluarganya sendiri. Mami El yang pusing akan tangisan Getra, lebih memilih untuk memasang handset di telinganya.


...----------------...


Di bawah sebuah pohon mangga di dekat toko apotek yang masih dibuka, Nanda saat ini tengah mengobati luka pada bagian mata kaki Dewi dengan perlahan.


Ketahuilah bahwa yang terluka adalah mata kaki, bukanlah mata hati seperti yang biasa dirasakan oleh seseorang yang telah ditinggal menikah oleh kekasihnya. Selain itu bukanlah luka atau sakit hati yang kini setiap hari dirasakan para emak-emak yang hanya dapat menyaksikan harga minyak yang semakin tinggi mengalahkan roket buatan NICA.


“Auwh, perih ah Mas. Kalau nggak bisa ngobatin mending Aku sendiri aja! ... ” Ketus Dewi pada Nanda karena merasa perih pada lukanya—seperti perih yang dirasakan Author ketika pembaca yang tidak pernah menunjukkan jejaknya pada novel Author ... . 🌚🌚🌚


“Ih, ... ini sudah pelan juga! Udah untung Aku obatin kalau ngga pas—”


“Kalau nggak kenapa, hah?! Ceritanya nggak ikhlas ngobatin luka di kakiku, ...” ketus Dewi yang memotong ucapan Nanda yang belum diselesaikannya.

__ADS_1


“Ih ini orang kebiasaan suka motong pembicaraan, maksud Mas itu—”


“Apa?! ... ,”.tanya Dewi yang lagi-lagi memotong ucapan Nanda.


Pletak ...


Nanda yang terlanjur kesal karena ucapannya dipotong oleh Dewi, langsung menjitak dahi atau kening Dewi yang hanya bisa mengaduh dan melotot pada Nanda.


“Dari tadi dibilang jangan motong pembicaraan masih aja! ... ” Kesal Nanda yang cemberut terhadap calon istrinya.


“Ish, ... iya-iya mangaplah. Emangnya mau ngomong apa?” Ucap dan tanya Dewi yang telah menyadari kesalahannya.


“Nggak tau tadi mau ngomong apa, Aku lupa.” Jawab Nanda datar terhadap Dewi.


“Aih, Mas Nanda mah gitu. Kebanyakan micin makanya lupa!” Ucap Dewi yang kesal karena dengan mudahnya Nanda melupakan perkataannya sendiri.


“Habisnya dari tadi Kamu motong terus, jadinya Aku lupa. Jugaan bukan ngaruh micin tapi gen,” balas Nanda asal setelah selesai mengobati Dewi.


“Au ah gelap! ... ”


Dewi berdiri perlahan untuk mencoba berjalan dan segera pergi dari tempat tersebut. Nanda yang melihat Dewi berjalan kesulitan, langsung menawarkan agar ia menggendongnya.


“Mau Mas gendong? Biar cepet sembuh lukanya,” tawar Nanda sembari mengikuti Dewi yang berjalan pelan.


“Ouh ya udah. Alhamdulillah kalau gitu pinggangku nggak jadi encok gegara ngangkut gentong,” balas Nanda yang berniat menggoda Dewi agar ia kesal.


“Au ah gelap! ... suami sesat! ... ,” gerutu Dewi yang sudah terlanjur kesal pada Nanda, bahkan ia sampai tak sadar memanggil Nanda sebagai suami sesatnya.


Nanda tersenyum samar mendengar gerutuan Dewi. Dengan posisi awal yang berada di belakang Dewi, kini ia beralih di depan langkah Dewi berada.


Nanda yang berada di depan Dewi sehingga menghalangi langkahnya, membuat Dewi refleks berhenti dengan terdiam karena masih merasa kesal.


Nanda lagi-lagi tersenyum menghadap Dewi yang mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tak lama setelah Nanda berjongkok ia berkata pada Dewi, “cepet naik! ... posisi gendong aja ‘yah? Ntar posisi bopong kalau pas Kita MP ... ”


Dewi yang mendengar ucapan Nanda langsung menoleh ke arahnya. Hanya terlihat punggung beserta Nanda yang tengah berjongkok. Ia tak melihat wajah Nanda, karena Nanda menghadap ke arah depan dan bukan ke arah Dewi.


“MP apaan? Itu yang biasa di game kan ya?” Tanya Dewi yang tidak mengetahui arti singkatan dari perkataan Nanda.


“Udah naik dulu, ntar pas di jalan Mas bilang.” Jawab Nanda yang justru meminta Dewi untuk segera naik dalam gendongannya.

__ADS_1


Dewi menurut dan mulai naik di punggung Nanda yang tampak gagah dengan setelan jas nya. Jantung Dewi mulai berdebar saat berada dalam gendongan Nanda, saat ini perasaan dan jiwanya seperti dejavu yang tidak diketahuinya selama ini karena belum pernah merasakannya.


“Emh, ... jadi MP apaan?” Tanya Dewi yang bertujuan menghilangkan debaran di jantungnya dan juga menghilangkan kecanggungan dalam dirinya.


“Malam pertama ... ,” jawab Nanda datar. Namun jawabannya seketika membuat Dewi merasa kesal bercampur malu.


“Jadi maksudnya bopong pas MP berarti ... ”


“Iya, pas Kita lagi mau ninu-ninu.” Jelas Nanda yang melanjutkan perkataan Dewi.


Dewi yang malu hanya bisa memukul Nanda seraya tersenyum malu.


“Ah, Mas Nanda mesum! ... ” Kesal Dewi yang bercampur rasa malu.


“Hahaha ... , mesum-mesum gini Kamu suka kan?” Gelak tawa Nanda yang juga menggoda Dewi lagi.


Dewi benar-benar merasa malu bercampur kekesalan di hatinya. Ia memukul dada bidang Nanda dan juga menjambak atau menarik rambut Nanda kencang.


“Eh Dewi jangan mukul sama jambak rambut Mamas! Ntar Kita ja—”


“Eeeeh Mas pelan-pe—”


To be continued ... .


...----------------...


Holaaa jumpa lagi sama Author TinA, terimakasih karena tetap setia menunggu Mba Dewi update ‘yah! ... 🙏🙏😚😍😘


Minta like, komen, rate, gift, vote, dan dukungan lainnya! ... 🙏🙏🙏


Novel ini akan update kurang lebih pukul 22.00 malam! Jadi tunggu dan tetap setia ‘yah! Jangan pernah unfavoritkan okeh?! ... 😘


Novel ini akan update selang seling dengan novel Author yang satunya, dikarenakan otak Author yang ngelag jadi hanya bisa udate 1 bab satu hari pull! ... 🤧🤧🤧🙏✌


Agar tidak ketinggalan informasi, novel ini mesti dimasukkan ke list menjadi salah satu novel favorit kalian ‘yah! ...


💖... Thanks All! ... 💖


See you later guys ... .

__ADS_1


Salam sayang


Authoreo~😚😚😘😘😘.


__ADS_2