Marriage With Neighbour

Marriage With Neighbour
Tak Menyangka! —Part 2


__ADS_3

“Lain kali ga perlu ngaku-ngaku jadi pacar onlen saya! Saya gak suka,” ucap Dewi pada Nanda dan menghadap ke jendela. “Saya beneran ga suka ya,  situ ga kenal sama pacar saya.”


Nanda hanya menghembuskan napasnya, “Dewi tidak percaya, saya benar-benar mas N.A kamu. Kamu pikir pacar kamu itu siapa kalau bukan saya.”


Dewi menoleh menatap Nanda, “Kamu tu bener-bener ya. Saya sudah bilang juga kamu masih ga nurut!”


Nanda memilih diam daripada berdebat dengan Dewi yang keras kepala ini. Keduanya hanya terdiam sampai dengan memasuki komplek perumahan anggrek di mana rumah keduanya tinggal.


 


Saat tiba di rumah Dewi, mobil Nanda justru melaju tanpa berhenti. Dewi yang mengetahuinya langsung berkomentar, “loh kok kita malah lanjut aja sih, padahal kan ru—”


“Kita ke rumahku sebentar. Aku mau ambil sesuatu,” Nanda memotong Dewi yang terus mengomel.


“Hem,” Dewi hanya berdeham kesal.


Setibanya di rumah Nanda, Dewi hanya diminta untuk menunggu di mobil tanpa harus masuk ke dalamnya. Dewi tentu saja bertambah kesal karena Nanda, padahal dirinya ingin sekali masuk untuk kedua kalinya di rumah yang wow ini :v


Menunggu itu bosan bukan? ... Itulah yang dirasakan Dewi sekarang. Menunggu di dalam mobil lamborghini tidak membuatnya senang, sejak tadi dia hanya cemberut menatap ke luar.

__ADS_1


“Hih, mas Nanda mana sih! Lelet banget, udah cape panas-panasan gini malah haaaaa  kezelll!”


Tidak lama setelah Dewi mengoceh tentang perlakuan Nanda padanya orang yang dimaksud pun datang menghampirinya dengan membawa sebuah benda di tangannya. Memasuki mobil tanpa berkata dan kembali melaju pergi meninggalkan rumahnya. Tak berhenti dari itu Nanda kembali melajukan mobilnya melewati rumah Dewi untuk yang kedua kalinya. Dewi yang ingin berkomentar lagi memilih tuk mengurungkan niatnya itu. Bukankah diam lebih baik dari pada berbicara? Yah, Dewi merasa seperti itu.


Dewi masih kesal dan merasa tak suka karena masih mengingat ucapan Nanda yang mengaku-ngaku sebagai kekasihnya itu. “Berkata sesukanya dan seenaknya, dia pikir dia siapa?!” ucap Dewi menggerutu pelan seraya melihat ke jendela.


Nanda yang samar-samar mendengarnya menyadari hal ini, ia tetap membiarkan calon istrinya menggerutu sendiri. Bodo amat menurutnya, hahaha ...


Setelah beberapa menit mobil yang dikendarai keduanya berhenti di sebuah taman yang cukup sepi. “Ayo ikuti aku!” Nanda mengajak Dewi untuk keluar dari mobilnya.


Dewi terdiam seraya memandang keluar, ia bingung apa yang akan dilakukan Nanda. Sejenak akhirnya ia pun menurut dan keluar untuk melihat apa rencana Nanda membawanya ke sini.


“Ayo ke mari, duduklah. Biar mas beri tau apa yang tidak mau ketahui,” ucap Nanda yang mengajak Dewi duduk di bangku taman sama sepertinya.


“Emh, ...” Nanda tanpa berpikir, “Saya mau jujur sama kamu kalau sebenarnya—”


“Sebenarnya apa? Kalau ngomong ntar jangan ngadi-ngadi ya Mas. Saya nggak suka kalau kamu asal aja,” Dewi memotong ucapan Nanda sebelum menyelesaikan perkataannya.


“Hah ...”

__ADS_1


Nanda benar-benar bingung ingin mengatakannya dari mana, ia menarik rambutnya frustrasi. Dewi yang jenuh langsung berdiri dan meninggalkan Nanda.


Baru saja lima langkah ia berjalan Nanda kembali bicara, “Dewi saya itu Mas N.A!”


Dewi menghentikan langkahnya, “cih saya kan sudah bilang–jangan pernah mengaku sebagai kekasihku! Saya tau kamu calon suami saya, tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya mengoak apalagi mengaku sebagai orang yang saya suka dan hargai.”


“Tapi saya punya bukti agar kamu percaya, saya bisa membuktikan bahwa perkataan saya itu benar. Saya pacar online kamu selama ini Dewi,” Nanda menatap punggung Dewi dengan benda yang masih ada di tangannya.


“Bukti apa?!” Dewi membalikkan badannya, “apa! Apa buktinya, mana?”


Nanda segera menunjukkan benda yang sejak tadi berada di tangannya. Sebuah kotak ponsel model lama, ia membuka kotak tersebut dan nampak sebuah ponsel pintar di dalamnya. “Ke marilah biar mas tunjukkan sama kamu.”


Dengan langkah enggan Dewi akhirnya menurut dan melihat apa yang akan ditunjukkan oleh calon suaminya ini.


“Buka whatsapp kamu,” titah Nanda yang justru tengah mengotak atik benda di tangannya. Dewi menurut dan membuka aplikasi whatsapp seperti yang diperintahkan.


“Sekarang tunggu di sini dan jangan kamu sampai offline di whatsapp.” kembali Nanda memerintahkan Dewi, sementara ia pergi meninggalkan Dewi yang kini tengah kebingungan dan merasa kesal.


Dewi melengos atas tingkah Nanda padanya, namun ia tetap menurut dan memainkan ponsel miliknya sendiri. Tiba-tiba masuk sebuah chat di ponselnya itu.

__ADS_1


...----------------...


To be continued ...


__ADS_2