Marriage With Neighbour

Marriage With Neighbour
Dijenguk Mertua?


__ADS_3

Dewi saat ini tengah memakan bubur ayam dengan disuapi Bunda Fania, tubuhnya terasa lemah. Satu alasan yang menyebabkan dirinya jatuh sakit, drama Snowdrop! Yups benar sekali, akibat menonton serial itu Dewi akhirnya sakit.


Terkadang Dewi mual sehingga memuntahkan isi makanan yang berada di perutnya. Walaupun sudah pergi ke rumah sakit dirinya masih belum merasa baik. Ia berjanji untuk mengurangi aktivitasnya menonton drakor sampai larut malam, tetapi menontonnya dari pukul 03.00 pagi hingga waktu subuh datang.


‘Yah setidaknya itu lebih baik daripada yang sebelumnya! Begitu menurutnya.


Di depan rumahnya, saat ini Nanda dan Maminya tengah berbincang sebentar dengan Ayah Farhan dan Bagas. Dan jangan dilupakan, sang idola Kita! Siapa lagi kalau bukan, Getra.


Tanpa aba-aba, Ia langsung memasuki rumah Dewi dengan sekantong plastik buah jeruk menggunakan kedua tangannya karena merasa keberatan.


Tak hanya itu, sesekali Ia berhenti untuk mengambil nafas kecilnya. Walaupun rumah Dewi tidak terlalu besar, tetapi bagi anak usia 4 tahun itu sangatlah besar apalagi ditambah dengan beban yang lumayan berat menurutnya.


Mami El masih belum menyadari kepergian anaknya yang telah mendahului dirinya, begitu juga dengan Mas Nanda yang sama tidak taunya. Padahal sejak tadi adiknya itu berada di sampingnya, bahkan genggaman tangan adiknya tidak terasa lepas dari tangannya.


Apabila kalian bertanya, mengapa Ayah Farhan atau Kak Bagas tidak tau? Jawabannya hanya satu, keduanya terlarut dalam perbincangan dengan keluarga calon pria.


“Huft, tapek juga bawa buah jeluk inih! Mana kakak tantik ‘yah?” Tanya Getra pada dirinya sendiri sembari mengusap dahinya yang berkeringat. Tidak hanya itu, Ia melihat atau mencari keberadaan Dewi di seluruh ruangan melalui pandangan matanya.


Bibirnya tersenyum begitu pandangannya berhenti tepat pada sofa di ruang tamu di mana Dewi tengah dikerok oleh Bunda Fania.


“Eegh,” Dewi bersendawa sembari menangkup bantal guling di tubuhnya untuk menutupi belahan dada yang lumayan—eh lumayan apa ‘yah?🙈


“Kakak tantik! Aku datang Kak,” teriakan kecil dari Getra mengejutkan anak dan ibu itu. Dewi yang memang merasa tidak perlu memakai pakaian atasnya lagi, hanya memeluk erat gulingnya.


“Loh Getra, Kamu ke sini sama siapa Nak?” Tanya Bunda yang belum mengetahui kedatangan calon besannya itu.


“Sama Mami. Kata Ma-mat Kakak tantik lagi takit, makanya Kami beltiga ke sini mau jenguk!” Jawab Getra masih dengan suara cadelnya, sesekali Ia melirik ke arah pintu untuk kedatangan Kakak dan Maminya itu.


“Hah ... , bertiga sama siapa? Papi Kamu atau—” pertanyaan Dewi terhenti dengan sebuah suara berat seorang lelaki dari arah pintu. Siapa lagi kalau bukan Mas Nanda.

__ADS_1


“Getra, Ma-mas cari Kamu kemana-mana ternyata dah masuk duluan.” Ujar Nanda lega setelah menemukan keberadaan adik laki-lakinya. Bahkan karena tadi Ia tidak menyadari kepergian Getra, dirinya justru menggenggam ranting pemberian Getra yang membuatnya berfikir bahwa itu adalah tangan Getra.


“Assalamualaikum,” Salam Mami El begitu memasuki pintu dengan membawa parsel buah di tangannya.


“Waalaikumsalam,” sahut Dewi dan Bunda bersamaan dengan masuknya Bagas dan Ayah Farhan.


“Eh, duduk-duduk El! Getra sama Nanda duduk juga,” seru Bunda menyuruh ketiga tamunya duduk di sofa.


Dewi masih belum menyadari bahwa Ia masih belum memakai pakaian atasnya atau baju, kecuali bra yang terbuka namun menempel di dadanya.


“Gimana Dewi! Sudah enakkan belum badannya?” Tanya Mami El seraya memegang dahi Dewi.


“Masih suka pusing sama mual gitu Tan, pengin muntah.” Jawab Dewi masih dengan suara lemasnya.


Bunda Fania menghentikan aktivitasnya mengerok Dewi dan berjalan menuju dapur untuk mengambilkan minum dan camilan untuk tamunya.


Nanda sesekali mencuri pandang ke arah Dewi yang memang masih belum menyadari posisinya, menurutnya Aji mumpung. Hahaha … .


“Astagfirullah, merem semuanya! Ah,” pekik Dewi yang sadar dengan penampilannya saat ini. Ia segera mencari bajunya yang sampai terlupa di mana Ia meletakkannya.


Nanda, Kakak dan Ayahnya segera menutup mata mereka. Baik keduanya memang sama-sama tidak peduli dengan tampilan Dewi bagaimana pun, tetapi Nanda? Dia hanya merasa agak canggung dibuatnya karena selama ini Ia tidak pernah melihat siaran langsung belahan dada seorang wanita. Meskipun tidak terlihat sepenuhnya, namun hal itu sudah membuat anu di tubuhnya memanas.


Akhirnya Dewi menemukan bajunya yang berada di bawah sofa dan segera memakainya. Bunda Fania datang dari arah dapur sembari membawa apa yang ingin dibawanya tadi.


Getra yang diacungkan segelas jus mangga langsung menyambutnya dengan antusias, bahkan biskuit yang diberikan langsung dimakannya dengan lahap.


“Ya ampun Getra, nanti biskuitnya Mba Dewi habis karena Kamu makan!” Gerundel Mami El karena keserakahan Getra.


“Nggak papa Mi, kata Ma-mat kalau ada makanan atau lejeki jangan ditolak. Pamali katanya!” Sahut Getra tidak peduli dan terus memakan biskuit dan camilan lain yang disuguhkan oleh Bunda Fania.

__ADS_1


“Ngikutin kok ngikutin kata Ma-masmu, Kamu juga Nan!” Gerutu Mami El sedangkan Nanda hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Dewi dan keluarganya tertawa karena kepolosan Getra yang berbicara apa adanya, bukan seperti orang kebanyakan yang berbicara ada apanya ( nggak ngerti ‘yah? Wkwkwk ... .)


Bunda Fania berbicara terus-menerus bersama calon menantunya Nanda, sedangkan Dewi hanya menjawab banyak pertanyaan dari calon mertuanya.


Dan Getra, jangan ditanya! Sejak tadi Ia terus menghabiskan makanan yang berada di depan matanya. Bahkan sesekali Ia memakan buah jeruk yang tadi dibawanya sendiri.


Kak Bagas dan Ayah Farhan tak tinggal diam dengan hal itu, keduanya ikut membantu Getra untuk menghabiskan makanan dan camilan ‘yah setidaknya itu mengurangi rasa bosan dengan perbincangan antara calon menantu dan mertua.


Sungguh ini adalah pertama kali Dewi merasakan bagaimana calon mertua yang mengunjungi rumahnya. Terlebih lagi Ia akan mempunyai adik ipar yang sangat mengemaskan, memiliki pipi seperti bakpao yang rasanya ingin Ia makan dan gigit.


Perbincangan terus berlanjut tanpa ada yang menghentikan, baik Getra maupun Bagas hanya diam sembari memakan apa yang ada dan yang pasti halal! Sementara Ayah Farhan sudah mulai berbicara dan berbincang-bincang ditemani dengan kopi yang sepertinya sudah dingin itu.


To be continued … .


...----------------...


Halo, apa kabarnya semua? Bagaimana puasanya, lancarkah? Ayo 💪😚 jangan lemes! Ayo dong tahankan laparnya, jang kek dedek Getra wkwkwk … . Untung aja gemas, kalau nggak udah kita ngap! Hahaha … .


Minta dukungan dari kalian ‘yah?! Lewat komentar, like, favorit, rate, gift dan masih banyak lagi.


Oh iya sembari nunggu Dewi update lagi, temen-temen semua bisa mampir di karya teman Author ‘yah!




Mangga mampir! Karyanya kak Bucin keren loh! Karyanya bisa membuat kita baper tujuh keliling, wkwkwk … . Selamat menjalankan ibadah puasanya! Tetap strong ‘yah! 💪😘

__ADS_1


Salam sayang


Author~😘😘😘.?


__ADS_2