
Dewi telah menyelesaikan pekerjaannya pukul 18.05 WIB, lebih terlambat dari biasanya. Saat ini dirinya tengah berdiri di pinggir jalan untuk menunggu taksi atau kendaraan umum yang lewat untuk bersedia ditumpanginya.
Sasa dan Lea sudah pulang sejak tadi sedangkan Silpi dan Ayahnya pak Hendri, saat ini berada di luar kota selama satu pekan untuk menyelesaikan pekerjaan yang telah diberikan Nanda. Dewi merasa lega karena akan terhindar dari omelan dua manusia itu, hal itulah yang juga dirasakan Sasa beserta Lea.
Dewi merasa lelah bercampur kesal karena sudah selama 15 menit ini, belum ada satupun kendaraan yang mau berhenti karenanya.
“Heh! Mulai besok keknya Aku kudu bawa motor sendiri. Naik kendaraan umum nggak guna emang, sebal kali bah!” Ucap Dewi pada dirinya sendiri seraya menggaruk betisnya yang terasa gatal.
Disaat dirinya masih menggaruk betisnya, tiba-tiba klakson mobil mengejutkan sekaligus memekakkan telinganya.
Tinnn...
“Setan eh klakson tan tin tan tin,eh setan eh klakson!” Pekik Dewi yang terkejut karena suara klakson di samping telinganya. Bahkan dalam keterkejutan Dewi sampai latah dalam berbicara, dan lebih sial dirinya sampai terjungkal karena tidak kuat menopang berat tubuhnya dikarenakan posisi sebelumnya di mana Ia tengah menggaruk betisnya.
Nanda keluar dari mobilnya dan segera membantu Dewi untuk berdiri, tidak terpikir olehnya Dewi akan terjatuh sebab ulahnya mengejutkan dengan suara klakson.
Dewi yang memang tidak dapat mengontrol amarah lagi, langsung menjambak Nanda yang telah mengejutkannya.
“Aduh, auw... sakit Dew! Apaan sih?!” Ringis Nanda, melepaskan tarikkan tangan Dewi di rambutnya.
“Rasakan! Siapa suruh Mas Nanda ngagetin orang!” Sungut Dewi mengibaskan tangannya dari rambut Nanda.
“Huh! Gitu aja kaget, punya riwayat jantung kali Kamu?!” Goda Nanda yang memang sengaja ingin membuat Dewi kesal.
Dewi yang memang sedang bad mood untuk bertarung alias berdebat, hanya melengos serta mengalihkan pandangannya.
“Ayo pulang! Kamu ikut Mas aja,” ajak Nanda yang lebih terkesan memaksa. “Jangan nolak! Daripada nggak dapat taksi sampe malam.”
Dewi merasa heran karena Nanda mengatakan kata “Mas” untuk dirinya sendiri, padahal sebelumnya Ia mengatakan tidak suka dan tak ingin dipanggil dengan sebutan itu oleh Dewi.
“Mas Nanda lagi kesambet apa? Tumben-tumben mau dipanggil “Mas”—sama Aku!” tanya Dewi terheran.
“Kamu jangan heran kalau Aku dipanggil Mas, kecuali kalau Aku dipanggil Nenek atau Kakek baru Kamu heran.” Timpal Nanda yang tengah membuka pintu mobilnya untuk Dewi.
“Cepet masuk! Udah mau magrib ini,” perintah Nanda lagi dan membuat Dewi masuk ke dalamnya dan duduk secantik yang Ia bisa.
...----------------...
Di rumah setelah Dewi sampai pukul 18.45 WIB, Ia segera memasuki kamarnya untuk membersihkan tubuhnya. Nanda tidak mampir karena dirinya ingin pergi untuk melakukan pertemuan dengan kolega bisnisnya.
__ADS_1
Dewi keluar kamarnya dan menuju meja makan di mana Kakak, Ayah dan Bundanya tengah menunggu untuk makan bersama.
“Duduk Dew! Makan dulu,” seru Bunda padanya dan segera dilaksanakan.
Semua memakan makanan yang memang disajikan selagi panas atau hangat, Bunda hari ini memasak ayam yang dibumbui kecap atau biasa disebut ayam kecap. Selain itu Bunda memasak ikan laut yang dibelinya di pasar swalayan.
Sodappp! Hal itulah yang dirasakan keluarga Dewi saat melahap santapannya, baik itu Dewi maupun kakaknya sampai berebutan memakan makanan yang berada di atas meja.
“Ih Kak, itu ayamnya punya Aku! Jangan dimakan,” seru Dewi setelah berhasil menelan makanan di mulutnya.
“Siapa cepat dia dapat, hmmmm...” balas Bagas dan segera memakan paha ayam terakhir di meja.
Dewi yang tidak terima paha ayam miliknya dimakan Bagas, langsung menarik ayam tersebut dari tangan Kakaknya dan menaruh nya di mangkuk berisi air cuci tangan.
Bagas yang merasa kesal bercampur geram langsung menyiram makanan di piring Dewi dengan segelas air minum.
“Ih Kakak?! Jahat banget sih,” murka Dewi hingga matanya berkaca-kaca. “Awas Kakak!”
Dewi berdiri dari kursinya dan berlari menuju kamarnya.
“Ya ampun Gas, keterlaluan Kamu! Adik Kamu masih laper lo Gas.” Ucap Ayah Farhan sembari menggelengkan kepalanya melihat pertengkaran anak-anaknya.
Di kamar, Dewi saat ini tengah memakan camilan yang memang selalu berada di kamarnya. Ia saat ini tengah menonton drama korea “Snowdrop” menggunakan projektor miliknya.
Kemarin, teman online—nya memberi rekomendasi untuk menonton drakor yang diperankan oleh salahsatu anggota blackpink yang menjadi idolanya.
Dengan alasan itu, akhirnya hari ini Ia mulai menonton drama snowdrop pada episode pertama. Dewi sampai dibuat tersenyum-senyum karena menonton drama korea ini.
Hal itu terus berlanjut hingga larut malam sampai Dewi benar-benar tertidur dengan nyenyak karena oppa-oppa tampan yang masuk ke dalam mimpinya.
...----------------...
Kringgg ... .
Suara alarm yang sejak tadi menggema di kamar Dewi membuat seisi rumah terbangun kecuali satu orang, siapa lagi kalau bukan—Dewi.
Bunda memasuki kamarnya dan segera membangunkan Dewi yang masih tidur dibalik selimut.
“Dewi, bangun Nak!” Seru Bunda sembari menepuk pundak Dewi.
__ADS_1
Dewi terbangun masih dengan mata pandanya sehingga membuat Bunda Fania terkejut. “Ya ampun Dew! Itu mata Kamu kenapa?”
“Dewi masih ngantuk Bun! Badan Dewi juga lemas semua mana pusing lagi,” keluh Dewi yang membuat Bunda khawatir dan langsung mengeceknya dengan memegang dahi Dewi.
“Loh, Kamu kenapa Dew! Kenapa badan Kamu panas begini, Kamu sakit?” Cemas atau panik Bunda, “Kita ke dokter ya? Kamu jangan kerja dulu!”
Dewi tidak cukup tenaga untuk membalas perkataan Bundanya, dirinya hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Dewi dan Bundanya bersiap-siap pergi untuk mendapatkan resep obat untuk Dewi dari dokter.
Bagas mengantar keduanya menggunakan mobil miliknya yang didapatkan dari hasil pekerjaannya.
Sementara itu, di ruang CEO Nanda sampai dibuat kesal bercampur khawatir karena calon istrinya belum datang ke kantornya.
Elvin sampai dibuat bingung karena bosnya yang berjalan mondar mandir dari sisi ujung ke sisi lainnya.
“Ish, kemana lagi si Dewi itu? Sudah sejak tadi belum datang juga!” Tanya Nanda mengarah pada Elvin sekretarisnya.
“Saya tahu apa Tuan? Saya kan bukan pengawal atau suaminya!” Jawab Elvin asal dan membuat Nanda menatap tajam dirinya.
“Aku tidak bilang Kamu suaminya! Aku hanya bertanya?!” Sungut Nanda pada Elvin yang terkadang menatap layar CCTV di ruangannya.
“Eh Tuan jangan marah-marah nanti cepat tua, daripada bertanya pada Saya lebih baik Anda bertanya pada orang tuanya!” Seru Elvin memberi saran.
“Ish, mengapa nggak kepikiran dari tadi sih!” Gumam Nanda yang masih terdengar oleh Elvin.
Nanda pun menghubungi nomor Ayah Farhan dan akhirnya mengetahui—apa alasan Dewi tidak berangkat ke kantornya.
Nanda akhirnya memutuskan untuk menjenguk Dewi yang tengah sakit bersama Maminya walaupun pekerjaannya belum selesai.
To Be Continued ... .
Halo semua! Selamat menunaikan ibadah puasa ‘yah! Ayo semangat, jangan lemas apalagi sakit kayak Dewi. Kalau Dewi sih ada yang jenguk, lah kalau Kita siapa?
Semangat-semangat! Puasa Ramadan membawa berkah. Puasa tahun ini harus menjadi bermakna bagi Kita semua, semoga amalan Kita diterima oleh Allah SWT. Amin ya Rabb!
Pokoknya strong 💪 buat semuanya ‘yah, sembari menjalankan puasa Kita sambil baca novel Dewi ‘yah!
Salam sayang
__ADS_1
Author~😘😘😘.!